: Islam dan Peradaban Kota

Marwan Ja'far
(Ketua Fraksi PKB DPR RI)

Mengapa dewasa ini banyak kota-kota yang dihuni mayoritas Muslim di berbagai negeri Muslim terlihat semrawut dan kumuh? Di negeri kita yang mayoritas Muslim, tumpukan sampah yang menggunung di pinggir jalan sangat mudah ditemukan, bahkan di kota sebesar Jakarta. Inilah yang kerap menjadi lahan kritik berbagai kalangan yang arahnya bahwa kota-kota di negeri Muslim tidak atau kurang peduli terhadap lingkungan. 

Apalagi, saat ini telah tumbuh kesadaran lingkungan yang begitu tinggi ditengah gaung perubahan iklim. Sementara itu, kota-kota di negeri Barat, faktanya terlihat asri, nyaman, dan teratur. Amsterdam yang konon banyak warganya memilih ateis justru dikenal sebagai kota yang bersih dan indah. Ambil contoh Tokyo, sebuah kota megapolitan, tetapi dikenal dengan kebersihan dan keindahan kotanya. Masyarakat Barat dan Jepang tentu saja tak kenal konsep "kebersihan sebagian dari pada iman" sebagaimana dikenal dan dipahami oleh Muslim.
 
Dari sisi ajaran Islam, Nabi Muhammad dan para sahabat telah memberikan teladan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang begitu memesona dengan dasar tauhid dan keimanan. Tak heran, bila Sir Thomas Arnold pernah menyatakan bahwa Islam mengutamakan kebersihan sebagai standar lingkungan hidup.
 
Pusat peradaban
Dalam tinjauan sejarah, suasana perkotaan masyarakat Muslim tempo dulu pada masa kekhalifahan Islam ternyata begitu mencengangkan-indah, tertib, dan nyaman. Peradaban Islam dari masa Bani Abbasiyah hingga Dinasti Umayyah telah menyingkapkan betapa kota telah menjadi pusat peradaban sehingga kota harus ditata sedemikian rupa agar indah dan nyaman. Pada masa Dinasti Abbasiyah, kota yang terkenal adalah Baghdad. Kota ini-merujuk Ma'ruf Misbah (1996)-merupakan kota yang paling indah. Konstruksi kota ini dikerjakan oleh lebih dari 100 ribu pekerja. Di kota ini, terdapat istana di pusat kota, asrama pegawai, rumah kepala polisi, dan rumah keluarga khalifah. Di luar Kota Baghdad dibangun kota satelit, seperti Rushafah dan Karakh. Kedua kota tersebut dilengkapi dengan kantor, toko-toko, rumah, taman, kolam, dan sebagainya. Kala itu, kota Baghdad menjadi kota impian seluruh dunia.

Begitu pun kota Samarra yang letaknya di sebelah timur Sungai Tigris, kurang lebih 60 kilometer dari Baghdad. Kota tersebut sangat indah, nyaman, dan teratur. Nama Samarra diberikan oleh Khalifah Al-Manshur, dan berasal dari kata "Sarra Man Ra'a" yang berarti senang memandangnya. Banyak orang yang kesengsem dengan keindahannya. Kota ini menjadi contoh seni bangunan Islam di kota-kota lainnya.

Ada lagi Cordoba yang menjadi kota teladan di daratan Eropa. Saat itu, banyak kota, terutama di Eropa, yang masih sangat kotor dan gelap. Sementara itu, Cordoba sangat indah, terang-benderang, bersih, dan indah. Kebersihan dan keindahan Kota Cordoba menjadi standar pembangunan kota lain di Eropa.

Singkat kata, sejarah telah membuktikan bahwa pada masa keemasan Islam, kota-kota dibangun sedemikian indah, dengan jalan-jalan yang mulus dan bertaburkan cahaya. Kota-kota di negeri Muslim kala itu dikenal sangat bersih. Bahkan, hasil penelitian sejarah menunjukkan bahwa para insinyur Muslim waktu itu sudah mampu menciptakan sarana pengumpul sampah. 

Keterbukaan 
Berkembangnya Islam sejak 14 abad silam telah banyak diakui turut mewarnai sejarah peradaban dunia. Bahkan, pesatnya perkembangan agama Islam itu, baik di barat maupun timur, pada abad ke-8 sampai 13 Masehi, mampu menguasai berbagai peradaban yang ada sebelumnya.

Tak salah bila peradaban Islam dianggap sebagai salah satu peradaban yang paling besar pengaruhnya di dunia. Bahkan, hingga kini, berbagai jenis peradaban Islam itu masih dapat disaksikan di sejumlah negara bekas kekuasaan Islam dahulu, misalnya Baghdad (Irak), Andalusia (Spanyol), Fatimiyah (Mesir), Ottoman (Turki), Damaskus, Kufah, dan Syria. 

Perkembangan peradaban Islam yang dilandasi dengan semangat persatuan Islam telah ditanamkan Rasulullah sejak awal perkembangan Islam di Timur Tengah. Kemudian, dalam praktiknya, seiring dengan makin luasnya wilayah kekuasaan Islam, gesekan atau kebudayaan masyarakat setempat memengaruhi umat Islam untuk mengadopsi dan mewarnai peradaban lokal yang disesuaikan dengan ajaran Islam. Dari proses semacam inilah, peradaban Islam terus berkembang dari peradaban kebudayaan, bangunan, bahasa, adat istiadat, hingga pada ilmu pengetahuan. Jelaslah, peradaban Islam adalah peradaban ilmu.

Dari keyakinan itu pula, umat Islam mampu membentuk peradaban baru hingga menghasilkan berbagai macam peradaban di wilayah kekuasaan Islam tersebut. Penyebaran Islam ke berbagai wilayah telah terjadi pertukaran kebudayaan antara satu negeri dan negara lainnya.

Secara karakteristik, peradaban Islam sangat berbeda dengan Yunani, Romawi, dan Bizantium. Sebagai contoh, dalam hal memandang teknologi. Para cendekiawan Muslim di era kekhalifahan menganggap teknologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan yang sah. Di sini, tidak ada konflik antara sains dan agama, seperti yang terjadi pada negeri Barat di era Abad Pertengahan. Fakta tersebut terungkap berdasarkan pengamatan para sejarawan sains Barat di era modern terhadap sejarah sains pada masa emas peradaban Islam. "Para ilmuwan Muslim memberi perhatian pada semua jenis pengetahuan praktis dengan mengklasifikasi ilmu-ilmu terapan dan subyek-subyek teknologis berdampingan dengan telaah-telaah teoritis," ungkap Ahmad Y al-Hassan dan Donald R Hill dalam Islamic Technology: An Illustrated History.

Kini, tampaknya ghirah untuk itu terasa menipis dan yang menonjol justru umat Islam lebih menampilkan cara-cara berfikir dan bertindak yang sektarian, bahkan menumpu pada tindak puritan dan radikal hanya lantaran perbedaan faham yang sifatnya furu'iyyah. Padahal, Nabi Muhammad dalam membangun peradaban Islam senantiasa mengacukan pada persatuan. 

Ujung-ujungnya, dalam soal lingkungan hidup belum digarap serius sebagai bagian integral dari dakwah Islamiyah. Lingkungan hidup yang semakin rusak karena manusia telah gagal mengemban misinya sebagai khalifah di muka bumi untuk memelihara lingkungan hidup. Sebuah kenyataan dari no satiation rule yang telah merasuk dalam prinsip hidup sehari-hari. 

Karenanya, kini jangan heran bila kenyataan yang menyosok di negeri-negeri mayoritas Muslim terlihat semrawut dan warganya kurang disiplin. Apakah ini pertanda bahwa negara-negara masyarakat Muslim menjadi acuh terhadap proses perusakan lingkungan yang makin cepat dan meluas? Kita semua harus berkerja keras untuk menyelamatkan lingkungan kota, dan menjadikan kota bersih, asri, dan hijau untuk menjaga keberlangsungan kehidupan manusia dan melestarikan pesona peradaban. Wallahu a'lam.

0 komentar:

Posting Komentar