Ibrahim 'Alaihissalam

Oleh Abdullah Hakam Shah

Bulan Dzulhijjah selalu mengingatkan kita kepada seorang manusia pilihan, Ibrahim 'Alaihissalam. Dua ritual monumental di bulan ini, Idul Kurban dan ibadah haji, berhulu dari nabi yang disebut Allah SWT sebagai hamba kesayangan-Nya tersebut.

Nabi Ibrahim adalah salah satu model terbaik perihal eksperimen keimanan. Beliau membangun keimanannya dengan memadukan kebersihan fitrah dan kejernihan logika. Dalam kegalauannya mencari Tuhan, beliau pernah mengira bintanglah Sang Mahakuasa.

Namun, beliau kecewa, ketika bintang itu akhirnya terbenam.
Nabi Ibrahim pernah pula mengira bahwa bulan dan mataharilah pemelihara jagat raya ini, namun lagi-lagi beliau kecewa ketika keduanya terbenam. Akhirnya, dengan kebersihan fitrah dan kejernihan logikanya, Nabi Ibrahim sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan tentulah Zat yang telah menciptakan bintang, bulan, matahari, langit, dan bumi beserta isinya.

Soal ketegaran menghadapi kezaliman, Nabi Ibrahim juga merupakan referensi penting yang akan terus dikenang. Kisah beliau yang tak bergeming sedikit pun saat akan dibakar Raja Namrud, menginspirasi banyak orang. Daripada mengemis belas-kasihan raja yang zalim, beliau ternyata memilih bersandar kepada Allah SWT semata, ''Dan Ibrahim berkata, Sesungguhnya aku akan pergi (memohon) kepada Tuhanku, (dan) Dia akan memberi petunjuk kepadaku.'' (QS Ash-Shaffaat [37]: 99).

Dari ketegaran Nabi Ibrahim tersebut, kita bisa memetik pelajaran bahwa saat ditimpa suatu kezaliman, hendaklah memohon pertolongan kepada Allah SWT. Sebab, bila mengharap pertolongan manusia, betapapun berkuasanya seseorang, tentu ada batasnya. Betapapun baiknya seseorang, terkadang masih ada kepentingan yang terselip. Tapi, Allah Yang Mahakuasa tidak terbatas kekuasaan-Nya; Allah Yang Mahakaya tidak pernah punya kepentingan dalam menolong hamba-hamba-Nya.

Nabi Ibrahim juga merupakan suhu yang mempesona dalam hal menyikapi cobaan Allah SWT. Beliau tidak pernah putus asa dan selalu berpikir positif terhadap ketentuan Zat Yang Maha Pemurah. Selama puluhan tahun berumah tangga dengan Sayyidah Sarah, Nabi Ibrahim diuji tidak dikaruniai keturunan. Tapi, beliau tidak pernah pesimistis. Beliau tiada hentinya berdoa: ''Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.'' (QS. Ash-Shaffaat [37]: 100).

Sampai usia beliau menginjak senja, doa ini belum terkabul. Baru setelah beliau menikah dengan Sayyidah Hajar, Allah SWT mengaruniainya seorang anak, ''Maka Kami beri Ibrahim kabar gembira berupa seorang anak yang sangat sabar.'' (QS. Ash-Shaffaat [37]: 101).

0 komentar:

Posting Komentar