Memerkarakan Ka’bah

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

Kian mendekati hari wuquf di Arafah, Ka'bah pun kian ramai menjadi perbincangan, dari padatnya pelaksaan thawaf hingga banyaknya orang yang wafat saat mengitari Ka'bah. Tulisan ini tidak sedang membicarakan hal ihwal penyebab kepadatan dan banyaknya yang wafat saat mengitari Ka'bah. Juga, tulisan ini bukan memberikan solusi atas problematika di atas. Tulisan ini lebih mengarah, kepada mengajak bersama-sama memerkarakan Ka'bah lebih dekat. Karena menurut para psikolog, semakin kenal dengan sesuatu akan membuat semakin dekat dengannya. Malah, apalagi jika bisa meresapi pesan perkenalan dan kedekatan tersebut.

Dalam bahasa Arab, kata Ka'bah terdiri dari tiga huruf dasar, yaitu kaf, 'ain dan ba. Dari sisi arti bahasa, ia memiliki beragam makna, di antaranya: tinggi, menyendiri, persegi empat dll. Namun, Ibnu Mandzur menjustifikasi, bahwa makna dasar Ka'bah adalah sesuatu yang agung yang ditempatkan di atas kaki manusia (Mukhtar Shihhah jilid 1 hal. 27). Berbeda dengan apa yang termuat di kamus lisanul Arab, "setiap rumah yang berbentuk persegi empat disebut Ka'bah." Meskipun demikian, kata ka'bah secara bahasa tersebut tetap tepat, baik dari segi bentuk, Ka'bah memang bersegi empat maupun dari segi bangunan, Ka'bah memang bangunan yang tinggi. Sedangkan menurut istilah, Ka'bah adalah rumah Allah (baitullah).

Adalah hal yang tak kalah penting dari nilai beribadah di sekitar ka'bah, yaitu mengetauhi bagaimana histori pembangunan Ka'bah. Karena di balik pembangunannya terdapat pesan penting, dan bahkan melahirkan hasrat besar dalam pemantapan beribadah kepada Allah SWT. Dalam buku Tarikh Makkata, diungkapkan cukup banyak riwayat yang memberikan informasi perihal sejarah pembangunan Ka'bah, baik secara tersurat maupun tersirat. Setidaknya, ada tiga pendapat yang mengemuka: Pertama, dibangun oleh Malaikat. Sumber data yang menguatkan bahwa Malaikat yang pertama kali membangun adalah surat Ali Imran [3]: 96-97. Dalam ayat ini, diterangkan oleh para ulama sebagai bantahan Allah SWT. kepada kaum Ahlul Kitab yang mengatakan bahwa awal mula rumah ibadah yang diciptakan adalah Baitul Maqdis atau Aqsha. 

Selain itu, surat al-Baqarah [2]: 30 juga menguatkan bahwa Malaikat yang membangun Ka'bah. Tatkala Malaikat bertanya kepada Allah, apakah akan menciptakan orang-orang yang merusak dan menumpahkan darah di muka bumi, maka Allah menjawab pertanyaan mereka dengan mengatakan, "Aku lebih tahu dari apa yang kamu ketauhi". Setelah mendengar respon Allah seperti itu, maka para Malaikat pun meminta ampunan kepada Allah sembari mendatangi 'arsy Allah dan mengelilinginya sebanyak tujuh kali sebagaimana mengelilingi Ka'bah. Setelah itu, Allah memerintahkan kepada para malaikat agar membangun sebuah rumah yag nantinya akan diperintahkan kepada mahluk-Nya melakukan ritual sebagaimana yang dilakukan malaikat di 'Asry Allah, yang lebih dikenal dengan Baitul Ma'mur. Para ulama yang berpegang pada pendapat ini adalah al-Azraqy, Qatada dan Abu Rabbah.

Kedua, dibangun oleh Nabi Adam as. dan putranya, nabi Syits as. Sumber data yang mensyalir bahwa Adam as. yang membangun ka'bah adalah surat al-Baqarah 35-37. Dalam ayat ini, ditermaktub kisah Adam as. dan Hawa yang tertipu oleh tipu daya setan dengan melanggar ketentuan yang telah diperintahkan Allah kepada mereka berdua untuk tidak mendekati sebuah pohon. Namun nabi Adam as. melakukannya, dan Allah marah sehingga memutasikannya ke bumi. Kala Adam as. bertaubat dan mengakui kesalahannya yang tergoda oleh setan serta meyakini betapa beruntungnya mereka mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Lalu, Allah berkata kepada Adam as, "Buatlah untuk-Ku rumah dan beribadahlah padanya sebagaimana engkau lihat para malaikat beribadah di langit".

Malah, Imam Mawardi menambahkan bahwa Adam as. membangun ka'bah seperti ia lihat di 'Arsy dengan dibantu oleh Malaikat Jibril untuk memindahkan bebatuannya yang sangat berat. Adam as. adalah orang yang pertama melakukan shalat dan thawaf di sana. Hal ini dilakukan terus menerus hingga Allah SWT. mendatangkan angin topan yang menyebabkan luluhlantahnya Ka'bah, yang tersisa hanyalah fondasinya. Lalu, menurut Ibnu Qutaibah, yang memakmurkan dan membangun Ka'bah kembali adalah putranya, Nabi Syits as. Bahkan, Wahab bin Munabbih meyakini bahwa Nabi Syits as. yang pertama kali membangun Ka'bah dengan tanah. Para ulama yang memagang pendapat ini adalah Ibnu Qutaibah, Mawardi, Ibnu Luhay'ah dan al-Umary.

Ketiga, dibangun oleh Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. Dalil yang cukup otentik hal ihwal pembangunan Ka'bah, yaitu sejak Allah mengutus Ibrahim as. dan Ismail as. untuk meninggikan kembali fondasi bangunan Ka'bah. Artinya, pendapat ini yang didukung sepenuhnya oleh sebagian besar para ulama. Sebab Ka'bah yang dibangun oleh Ibrahim as. identik dengan Ka'bah yang ada sekarang. Di samping itu, sejarah pembangunan Ka'bah tidak ada yang lebih detail dari apa yang dilakukan Ibrahim as.

Historinya berawal dari migrasi Ibrahim as. dari Irak, yang merupakan tanah kelahirannya. Pernikahannya dengan Sarah tidak dikaruniai seorang anak, hingga akhirnya ia dihadiahi seorang budak, bernama Hajar. Dari hajar, ia melahirkan seorang anak yang bernama Ismail as. Lalu, Sarah memerintahkan mereka untuk hijrah, hingga kemudian sampai di suatu tempat yang gersang dan kering. Setelah beberapa lama tinggal bersama keduanya, lalu Ibrahim as. meninggalkan mereka untuk kembali ke Palestina menemui Sarah dan putraya, Ishaq as. 

Tiba saatnya Hajar dan Ismail berada dalam kekhawatiran, karena makin menipisnya persediaan makanan mereka. Padahal, Mekkah adalah tempat yang bisa diharapkan untuk mendatangkan makanan dan minum. Ia meninggalkan tempat itu untuk jalan-jalan kecil, dari Shafa ke Marwa, yang belakangan dijadikan sebagai ritual sa'i. Setelah menyelesaikan tujuh keliling, ia mendapatkan kaki Ismail. menerjang-nerjang tanah hingga akhirnya dari tanah tersebut menyemburkan air. Ia senang tiada kepalang. Sumber air itu disebut dengan air zamzam. 

Saat Ismail as. usianya mencapai 30 tahun dan ibunya Hajar mencapai 90 tahun, Ibrahim as. datang ke Mekkah. Misi kedatangannya untuk melaksanakan perintah Allah, yaitu mendirikan Ka'bah. Ia pun menceritakan perihal misinya tersebut kepada Ismail, hingga keduanya memulai langkah-langkah yang diperlukan untuk pembangunan Ka'bah. (Zuhairi Misrawi: 2009)

Setelah usai memerkarakan histori Ka'bah, laik untuk menangkap pesan-pesan yang tersirat. Hemat penulis, ada tiga pesan. Pertama, Ka'bah merupakan tanda bahwa di situ terletak Baitullah, sehingga tidak tepat dikatakan bahwa Ka'bah adalah al-baitul haram. (QS. Al-Baqarah [2]: 127). Kedua, Ka'bah menjadi tempat yang paling tepat untuk memohon ampunan Allah, karena para Malaikat dan Adam as. telah mengajarkannya. Maka tak perlu heran kenapa banyak orang menangis kala mengitari Ka'bah. Jawabannya, karena saat itu tengah mencairnya rasa sombong dan angkuh yang selama ini menyertai kehidupannya. Ketiga, Ka'bah menjadi simbol positif dalam membangun apapun sangat diperlukan semangat kebersamaan. Termasuk, dalam membangun keluarga, negara, dan bahkan kala memberantas kemaksiatan.

Oleh karena itu, dengan semangat mengenal dan memerkarakan Ka'bah diharapkan mampu menjadi fondasi bagi siapa pun untuk segera menepis rasa kesombongan dan keangkuhan. Tak hanya itu, mari merajut kebersamaan yang pernah diajarkan Ibrahim as. dan Ismail as., Adam as. dan Syits as. dan para Malaikat Allah.

0 komentar:

Posting Komentar