Petunjuk Alquran

Petunjuk Alquran

Oleh A Ilyas Ismail

Kitab suci Alquran, kata Prof Fazlur Rahman, bersifat antropologis dalam arti diturunkan untuk kebaikan manusia sepenuhnya. Lihat saja, Alquran menyebut dirinya sebagai petunjuk bagi manusia (QS Albaqarah [2]: 186), petunjuk bagi orang-orang takwa (QS Albaqarah [2]: 2), sebagai hukum (QS Arra'd [13]: 37), peringatan (QS Alhijr [15]: 9), serta rahmat dan obat penawar bagi penyakit-penyakit hati (jiwa) manusia (QS Yunus [10]: 57).

Jika demikian, kita semestinya dekat dan membangun komunikasi yang intens dengan Alquran (al-ta'amul ma'a Alquran ). Namun, pada kenyataannya, sebagian dari kita jauh dan menjauh dari Alquran.Bahkan, menurut Sayyid Quthb, ada jarak dan kesenjangan yang teramat dalam ( fajwah 'amiqah ) antara kaum Muslim dan Alquran. Kesenjangan ini tentu tak boleh dibiarkan terus melebar, tetapi harus diatasi dengan kembali kepada Alquran dan membangun kehidupan sesuai bimbingan dan petunjuk Alquran.

Alquran pada pokoknya adalah kitab petunjuk ( hudan ). Petunjuk Alquran itu bersifat sempurna ( kamil ), bahkan paripurna ( mutakamil ). Karena, ia membimbing dan membawa manusia kepada jalan yang tepat dan kuat ( aqwam ).Penting dicatat, kata  aqwam di atas merupakan bentuk  tafdhil dari  qawim , yang bermakna lurus dan tegak. Kata  aqwamqama atau  qiyam , yang berarti berdiri.

Setiap orang tentu tahu bahwa berdiri ( qiyam ) mengandung makna kekuatan karena orang yang berdiri jelas lebih kuat ketimbang orang yang duduk. Ini berarti, petunjuk Alquran, bila dihayati dan diaplikasikan dengan benar, akan memberi kekuatan dan kemajuan bagi manusia. Kekuatan dan keunggulan petunjuk Alquran ini, menurut para pakar tafsir, dapat dipahami dalam beberapa makna. Pertama, petunjuk Alquran lebih sempurna daripada kitab-kitab terdahulu yang diturunkan kepada Bani Israil.

Kedua, petunjuk Alquran sesuai dengan naluri dan watak dasar manusia (fitrah) sehingga kekal dan abadi (QS Arrum [30]: 30). Ketiga, petunjuk Alquran bersifat komprehensif karena berbicara dan mengatur segala segi kehidupan manusia, tanpa ada sedikit pun yang terlewatkan (QS Al-An'am [6]: 38).

Ada satu lagi keunggulan petunjuk Alquran. Menurut Sayyid Quthb, petunjuk Alquran merupakan jalan tengah ( tawassuth ) yang memperlihatkan moderasi ( tawazun ) antara aspek materi dan spiritual; dunia dan akhirat; antara akidah, syariah, dan akhlak; serta antara kehidupan individu, pemerintah, dan masyarakat.

Inilah petunjuk yang merupakan hukum keseimbangan ( al-mizan ). Kita tak boleh melanggar hukum keseimbangan ini karena akan menimbulkan keguncangan ( dis-equilibrium ) dalam kehidupan (QS Arrahman [55]: 7-8).


0 komentar:

Posting Komentar