BOLEH PUASA SUNNAH SYAWWAL TIDAK BERURUTAN

BOLEH PUASA SUNNAH SYAWWAL TIDAK BERURUTAN

Catatan 'Ahmad Milady'


Sekedar berbagi catatan sederhana seputar puasa 6 hari dibulan syawwal, semoga ada manfa'atnya…

- Puasa sunnah 6 hari di bulan syawwal adalah amalan yang sangat efektif dalam usaha kita memaintance dan menjaga konsistensi amal serta nilai nilai ibadah ramadhan. Karena biasanya dibulan syawwal itu banyak sekali perkara yang terkadang membuat kita lengah dan lupa diri, sehingga saat itulah syeithan yang baru terbebas dari belenggunya mulai masuk kedalam diri manusia yang sebenarnya baru saja kembali kepada kesuciannya.

- Nilai ibadah puasa sunnah inipun sangat tinggi dalam pandangan Nabi, dimana Beliau bersabda dalam hadits shohihnya :
مََنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ ِشتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup'." [Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At-Tirmidzi 1164]


Beberapa hal yang menjadi catatan mengenai puasa sunnah 6 hari bulan syawwal a.l. adalah :

- Puasa ini boleh dikerjakan dengan tidak berurutan sebagaimana yang diterangkan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah :
"Shahabat shahabat kami berkata : adalah mustahab untuk berpuasa 6 hari Syawal. Dari hadits ini mereka berkata: Sunnah mustahabah melakukannya secara berurutan pada awal-awal Syawal, tapi jika seseorang memisahkannya atau menunda pelaksanaannya hingga akhir Syawal, ini juga diperbolehkan, karena dia masih berada pada makna umum dari hadits tersebut. Kami tidak berbeda pendapat mengenai masalah ini dan inilah juga pendapat Ahmad dan Abu Dawud." (Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab)


- Harus mendahulukuan puasa qodlo' bagi yang memiliki hutang puasa ramadhan, jadi tidak boleh dilakukan jika masih ada puasa yang tertinggal dalam Ramadhan, karena yang sunnah tidak bisa mengalahkan pekerjaan wajib.
Hadits tersebut diatas menunjukkan bahwa diwajibkannya menyempurnakan puasa Ramadhan yang merupakan puasa wajib baru kemudian ditambah dengan puasa enam hari di bulan Syawal yang merupakan puasa sunnah. Artinya adalah jika telah sempurna puasa wajib ramadhan barulah diikuti dengan puasa sunnah 6 hari tersebut.

- Dalam hadits lain disebutkan (yang artinya) : "Puasa Ramadhan sama dengan sepuluh
bulan dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan dua bulan" Yang berarti bahwa satu kebaikan mendapat sepuluh kebaikan, maka berdasarkan hadits ini barangsiapa yang tidak menyempurnakan puasa Ramadhan dikarenakan sakit, atau karena perjalanan atau karena haidh, atau karena nifas maka hendaknya ia menyempurnakan puasa Ramadhan itu dengan mengqadhanya. Jika telah menyempurnakan qadha puasa Ramadhan, baru disyariatkan untuk melaksanakan puasa enam hari Syawal agar bisa mendapatkan pahala atau kebaikan yang dimaksud. Andaikata setelah kita mengqodlo puasa wajib lalu bulan syawwal hampir selesai atau mungkin sudah berakhir maka insyaallaah kita akan tetap mendapatkan nilai dari niat puasa sunnah syawwal itu, walaupun kita tidak mengerjakannya…

- Puasa sunnah adalah salah satu sarana menggapai cinta Allah sebagaimana yang Allah firmankan dalam hadits Qudsi:
وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
"Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya." (HR. Bukhari)
Oleh karena itu, untuk mendapatkan kecintaan Allah ta'ala, maka lakukanlah puasa sunnah setelah melakukan yang wajib.
Bahkan ada keterangan bahwa Apabila seseorang memiliki udzur (halangan) seperti sakit, dalam keadaan nifas, sebagai musafir, sehingga tidak berpuasa enam hari di bulan syawal, maka boleh orang seperti ini meng-qodho' (mengganti) puasa syawal tersebut di bulan Dzulqo'dah. Hal ini tidaklah mengapa. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 3/466)

Walloohu a'lam…

0 komentar:

Posting Komentar