: KEMULIAAN AKHLAQ

I. Definisi Akhlaq

Beberapa definisi akhlaq antara lain adalah :

1. Menurut Ibnu Abbas Ra ketika menafsirkan firman Alloh Subhanahu wa Ta'alaa dalam surat Al Qolam ayat 4 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut "Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlaq yang agung", akhlaq yang agung tersebut adalah dien yang agung (Islam).

Demikian pula pendapat Mujahid, Abu Malik, As Suddi, Rabi bin Anas, Ad Dhahak, dan Ibnu Zaid. Didalam Shohih Muslim, Aisyah ra pernah ditanya tentang akhlaq Nabi Saw, lalu beliau menjawab bahwa akhlaq Beliau Saw adalah Al Quran, karena segala perintah yang terdapat didalam Al Quran beliau laksanakan dan segala larangan yang terdapat didalamnya beliau tinggalkan. Syaikh Salim bin 'Ied Al Hilali berkata "Dengan ini menjadi jelas bahwa akhlaq yang agung dimana Nabi disifati dengannya adalah dien yang mencakup semua perintah-perintah Alloh Ta'alaa dan larangan-Nya, sehingga bersegera untuk melaksanakan segala yang dicintai Alloh dan di ridloi-Nya dan menjauhi segala yang dibenci dan dimurkai-Nya dengan sukarela dan lapang dada" (Makarimul Akhlaq/23) .

2. Ibnul Atsir menyebutkan dalam An Nihayah (2/70) tentang "al khuluqu" dan "al khulqu" yang berarti dien, tabiat dan sifat. Syaikh 'Utsaimin menerangkan tentang hakikatnya adalah potret batin manusia yaitu jiwa dan kepribadiannya (Makarimul Akhlaq, hal 9).

3. Al Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah menyebutkan beberapa pendapat tentang definisi akhlaq didalam bukunya Madarijus Saalikin antara lain akhlaq yang baik adalah berderma, tidak menyakiti orang lain dan tangguh menghadapi penderitaan. Pendapat lain menyebutkan bahwa akhlaq yang baik adalah berbuat kebaikan dan menahan diri dari keburukan. Ada lagi yang mengatakan, "membuang sifat-sifat yang hina dan menghiasinya dengan sifat-sifat mulia"

4. Imam Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Mukhtashor Minhajul Qoshidiin bahwa akhlaq merupakan ungkapan tentang kondisi jiwa, yang begitu mudah menghasilkan perbuatan tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan, jika perbuatan itu baik maka disebut akhlaq yang baik, dan jika buruk maka disebut akhlaq yang buruk.

II. Keutamaan akhlaq yang baik

Syaikh Salim bin 'Ied Al Hilali menyebutkan keutamaan-keutamaan akhlaq yang mulia yaitu :

1. Akhlaq yang mulia merupakan penyebab masuknya orang yang memiliki akhlaq yang mulia tersebut kedalam Jannah (surga)

Nabi Saw bersabda yang artinya "Saya adalah penjamin bagi orang yang meninggalkan mira (debat kusir) meskipun ia ada dipihak yang benar dengan mendapatkan rumah di jannah terendah dan bagi orang yang baik akhlaqnya akan mendapatkan rumah di jannah yang tertinggi" (hadits riwayat Abu Daud/4800, Al Mizzi dalam Tahdzibul Kamal, dengan sanad yang hasan)

Hadits lainnya yaitu dari Abu Huroiroh Rodliyallohu 'anhu bahwasannya Rosululloh Saw pernah ditanya tentang perbuatan yang menyebabkan banyak manusia yang masuk Jannah, maka beliau menjawab yang artinya "Takwa kepada Alloh dan akhlaq yang baik", beliau ditanya pula tentang penyebab yang menjadikan banyak manusia masuk neraka, maka beliau menjawab "mulut dan kemaluan" (diriwayatkan Tirmidzi (2003), Ibnu Majah (4246), Ahmad (2/291, 392, 442), Ibnu Hibban (Mawarid, 1923), Al Baghowi (Ma'alim At Tanziil, 4/377 dan Syarhu As Sunnah 13/79-80, Al Khoroithi (Makarimul Akhlaq hal. 10), dan Bukhori (Al Adab Al Mufrod, 442). Sanad hadits ini hasan

2. Akhlaq yang mulia merupakan penyebab seorang hamba dicintai Alloh

Rosululloh Saw bersabda yang artinya "Hamba-hamba Alloh yang paling dicintai-Nya adalah yang paling baik akhlaqnya diantara mereka" (hadits riwayat Thabrani (471) dan Hakim (4/399-401)

3. Akhlaq yang mulia merupakan penyebab seorang hamba dicintai

Rosululloh Saw. Beliau Saw bersabda yang artinya "Sesungguhnya yang paling aku cintai diantara kalian dan yang paling dekat dengan majelisnya dariku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaqnya diantara kalian" (hadits riwayat Tirmidzi (2018) dengan sanad yang hasan, dan memiliki penguat yang diriwayatkan Imam Ahmad (2/189) dengan sanad yang shohih, sehingga kesimpulannya hadits ini shohih lighoirihi)

4. Akhlaq yang mulia mendapatkan timbangan yang paling berat di hari kiamat.

Rosululloh Saw bersabda yang artinya "Sesuatu yang paling berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat adalah akhlaq yang baik" (hadits riwayat Abu Daud (4799), Ahmad (6/446-448), Ibnu Hibban (481) dan selain mereka)

5. Akhlaq yang mulia meninggikan derajat seseorang disisi Alloh

Rosululloh Saw bersabda yang artinya "Sesungguhnya seseorang itu dengan sebab akhlaqnya yang baik, sungguh akan mencapai derajat orang yang sholat malam dan shaum di siang hari" (hadits shohih riwayat Abu Daud (4798), Hakim (1/60) dan selainnya). Beliau Saw juga bersabda yang artinya "Sesungguhnya seorang muslim yang dibimbing lurus (oleh Alloh) benar-benar akan mencapai derajat ahli shaum dan ahli ibadah (sholat) yang selalu melantunkan ayat-ayat Alloh disebabkan karakternya yang mulia dan akhlaqnya yang baik" (hadits shohih riwayat Ahmad (2/17 dan 220)

6. Akhlaq yang mulia merupakan sebaik-baik amalan manusia

Rosululloh Saw bersabda yang artinya " Wahai Abu Dzar, maukah aku tunjukkan kepadamu dua hal ; keduanya itu sangat ringan dipikul dan sangat berat dalam timbangan dibandingkan selain keduanya?" Abu Dzar menjawab, "Tentu wahai Rosululloh.", beliau bersabda, "Engkau harus berakhlaq yang baik dan harus banyak diam, demi yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidak ada amalan manusia yang menyamai keduanya." (diriwatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam As Shamt (112 dan 554), Al Bazzar (Kasyful Atsar, 4/220) dan lain-lain. Hadits ini derajatnya hasan

7. Akhlaq yang mulia menambah umur

8. Akhlaq yang mulia menjadikan rumah makmur

Rosululloh Saw bersabda yang artinya "Akhlaq yang baik dan bertetangga yang baik, keduanya menjadikan rumah makmur dan menambah umur" (hadits shohih riwayat Ahmad, 6/159)

Dari uraian tentang definisi dan keutamaan akhlaq diatas, semoga menjadikan kita dapat mengerti tentang akhlaq menurut ahli 'ilmu yang benar-benar ahli dibidangnya yaitu 'ilmu syar'i yang mulia dan menjadikan kita tidak salah kaprah dalam memahaminya karena pada umumnya banyak orang yang memandang akhlaq hanya sebagai sesuatu yang berkaitan tentang hubungan manusia dengan sesama manusia saja, padahal akhlaq juga mencakup hubungan manusia dengan Yang Mahatingg, Yang ada di atas Arsy sana, Yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar, dan tidak ada yang serupa dengan-Nya yaitu Alloh Subhanahu wa Ta'alaa, Dialah Pencipta manusia, sehingga hanya Dialah yang Mahatahu tentang apa yang terbaik buat para hamba-Nya sehingga Dia memerintahkannya melalui KalamNya yang mulia yaitu Al Quran dan melalui lisan utusannya yang mulia yaitu Nabi Muhammad Saw. Wallahu a'lam… (TIM DA'WATUNA)

: Raja Henry VIII dan Tawarruq

Raja Henry VIII dan Tawarruq

Raja Henry VIII memang sosok kontroversial. Keinginannya untuk mempunyai istri lebih dari satu menjadi salah satu pemicu retaknya hubungan kerajaan Inggris dengan gereja Katolik Roma. 

Raja Henry VIII akhirnya menikah dengan enam orang istri yang mempunyai keunikan karakter masing-masing. Catherine of Aragon, mendapat julukan Sang Pengkhianat (the Betrayed Wife ), adalah istri pertamanya. Anne Boleyn, istri keduanya, dijuluki Sang Penggoda ( the Temptress ). 

Jane Seymour menjadi istri ketiga, dijuluki Wanita Baik ( the Good Woman ). Anna the Cleves adalah istri keempat yang dijuluki Si Buruk ( the Ugly Sister ). Katherine Howard, yang kelima, dijuluki Si Jahat ( the Bad Girl ). Akhirnya, Catherine Parr yang dijuluki Sosok Keibuan ( the Mother Figure ).

Pemicu lainnya mencuat ketika Raja Henry VIII pada 1545 membolehkan bunga uang meskipun tetap mengharamkan riba dengan syarat bunganya tidak boleh berlipat ganda, yaitu tidak lebih dari delapan persen. Pada 1547 John Calvin di Jenewa juga membolehkan bunga uang asalkan tidak lebih dari lima persen.  Padahal, ketika itu gereja Katolik Roma masih mengharamkan riba dan tidak membedakannya dengan bunga uang.

Baru ratusan tahun kemudian Vatikan menoleransi kebolehan bunga uang pada 1822-1836.  Ratusan tahun lagi untuk menoleransi bankir sebagai suatu profesi yang halal, tepatnya pada 1950 ketika Paus Pius XII menyetujui sistem perbankan.

Membolehkan suatu yang haram dengan suatu batasan dalam keadaan dan waktu tertentu memang dapat menjadi sikap bijaksana.  Dalam kaidah fikih pun dikenal ketika keadaan sempit hukum menjadi luas, ketika keadaan luas hukum menjadi sempit.  

Dalam keadaan tersempit yang dalam istilah fikihnya disebut darurat, memang suatu yang haram dapat dibolehkan. Namun, bila hal ini berlangsung lama maka suatu yang haram akan dianggap halal untuk seterusnya.

Murabahah yang dikenal dalam kitab fikih sebenarnya tidak lebih dari suatu transaksi menjual barang dengan si penjual menyebutkan besaran keuntungan yang diambilnya. Ribhi (untung) menjadi akar kata dari akad  murabahah . Apa yang sekarang diterapkan di perbankan syariah sebenarnya lebih dari sekadar murabahah yang dimaksud dalam kitab fikih.

Pembiayaan  murabahah di bank syariah adalah rangkaian transaksi yang diawali dengan bank membeli barang secara tunai, kemudian menjualnya secara cicilan kepada nasabah dengan menyebutkan besaran keuntungan yang diambil bank. Dalam praktiknya seringkali pembiayaan  murabahah di bank syariah dilengkapi pula dengan akad  wakalah , di mana bank syariah menunjuk nasabah sebagai wakil bank dalam membeli barang yang diperlukannya. Secara fikih rangkaian akad ini sesuai syariah meskipun tidak sama persis dengan  murabahah sederhana yang ada dalam kitab fikih.

Kitab fikih juga mengenal transaksi yang mirip dengan  murabahah , tetapi metode pembayarannya kebalikan  murabahah . Namanya  tawarruq .  

Dalam kitab fikih,  tawarruq tidak lebih dari suatu transaksi membeli barang secara cicilan dengan harga yang lebih mahal untuk kemudian menjualnya secara tunai kepada pihak ketiga dengan harga yang lebih murah. Sepintas tampak bertentangan dengan logika bisnis. 

Lazimnya orang membeli dengan harga murah untuk kemudian menjualnya dengan harga yang lebih mahal. Dari selisih itulah timbul keuntungan.

Dalam  tawarruq yang terjadi kebalikannya. Membeli dengan harga yang lebih mahal secara cicilan untuk kemudian menjualnya dengan harga yang lebih mahal secara tunai. 

Dalam logika bisnis  tawarruq meskipun harga jualnya lebih rendah daripada harga beli, si penjual dapat segera menerima pembayaran tunai.   Hampir semua kitab fikih membolehkan transaksi  tawarruq , kecuali Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim dari mazhab Hambali.

Apa yang sekarang diterapkan di bank syariah di luar negeri sebenarnya jauh lebih kompleks dari sekadar  tawarruq yang dikenal dalam kitab fikih. Bank syariah A membeli barang secara tunai (misalnya 100) untuk dijual kepada bank syariah B dengan harga yang lebih tinggi (misalnya 110) secara cicilan. Kemudian, bank syariah B akan menjual lagi kepada pihak lain dengan harga yang lebih murah (misalnya 100) secara tunai. Ini contoh penerapan  tawarruq yang paling sederhana di bank syariah di luar negeri.

Pembiayaan  tawarruq di bank syariah itu sebenarnya rangkaian transaksi. Pertama, transaksi bank syariah A membeli barang secara tunai.  Kedua, transaksi bank syariah B membeli secara cicilan dari bank syariah A (seharga 110) untuk kemudian menjualnya kepada pihak lain secara tunai (seharga 100). Dalam praktiknya seringkali pembiayaan  tawarruq di bank syariah dilengkapi pula dengan akad  wakalah , di mana bank syariah menjadi sebagai wakil nasabah dalam membeli barang yang diperlukannya.  

Dalam variasi lain, bank syariah menjadi wakil dalam menjual. Dalam variasi lain lagi, bank syariah menjadi wakil dalam membeli sekaligus wakil dalam menjual. Bahkan dalam praktiknya ada pula bank syariah yang memberikan kepastian keuntungan atas rangkaian transaksi jual beli tersebut.  

Pembiayaan  tawarruq yang populer di luar negeri ini belum masuk ke Indonesia karena tak mendapatkan persetujuan fatwa. Beberapa bank syariah yang berkeinginan menawarkan produk ini harus menunda rencananya.  

Tawarruq memang kontroversial. Bukan karena  tawarruq tidak sesuai dengan syariah, tetapi karena penerapannya belum sesuai dengan ruh  tawarruq yang dikenal di dalam kitab fikih.

Pendapat para ulama di Indonesia ini ternyata mendapat dukungan kuat dari para ulama di luar negeri. Setelah produk  tawarruq berjalan dan menjadi populer di luar negeri, akhirnya International Islamic Fiqh Academy, badan dunia bentukan Organisasi Konferensi Islam (OKI), pada April 2009 melarang lembaga keuangan syariah melakukan pembiayaan  tawarruq .

Kerancuan semacam ini pun terjadi antarekonom. Meskipun Adam Smith, Ricardo, Marshall, Wicksell, Keynes dengan jelas membedakan antara tingkat keuntungan ( rate of profit ) yang dihasilkan oleh sektor industri dan tingkat bunga ( rate of interest ) yang dihasilkan oleh sektor keuangan, kerancuan masih saja merebak.

: menajamkan naluri kasih sayang

Oleh KH Didin Hafidhuddin

Peristiwa bentrokan berdarah yang terjadi antara sebagian masyarakat dengan anggota Satpol PP di Koja Tanjung Priok Rabu (14/4) lalu merupakan sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan. Betapa tidak, setiap kelompok yang terlibat berlomba-lomba mencederai lawannya, tanpa sedikit pun terlihat rasa malu dan belas kasihan. Sebaliknya, justru tampak amarah dan kebencian yang sangat mendalam. Padahal, rakyat negeri ini merupakan masyarakat religius dan mayoritas beragama Islam.

Inti ajaran Islam adalah menebarkan kedamaian dan kasih sayang. Rasulullah SAW menyatakan, salah satu kunci untuk masuk ke dalam surga adalah menebarkan salam (kedamaian dan keselamatan). Dari Ibn Thabari dari Ibn Umar, Rasul SAW bersabda, ''Seutama-utamanya keimanan dan keislaman seseorang adalah apabila Muslim yang lain terselamatkan dari caci-maki lisannya dan kekerasan serta kekasaran tangannya.''

Rasulullah SAW juga menyatakan, kalau kita ingin meraih kasih sayang Allah SWT dan para malaikat-Nya, maka tebarkan kasih sayang dan kecintaan kepada seluruh umat manusia dan makhluk lainnya yang ada di muka bumi ini (irhamu man fil ardi, yarhamkum man fissamaa`).

Dari keterangan tersebut di atas, dapatlah diketahui bahwa tidak ada iman, Islam, dan agama tanpa menebarkan kasih sayang, cinta dan kedamaian kepada sesama. Karena itu, upaya untuk menajamkan naluri kasih sayang dan kecintaan ini harus dilakukan terus-menerus.  Pertama, komunikasi, dialog, dan musyawarah harus menjadi acuan utama dalam memecahkan berbagai macam persoalan, sehingga tidak terjadi miskomunikasi antarberbagai pihak yang sedang memiliki masalah.

Rasul SAW menyatakan, ''Tidak akan merugi orang suka istikharah (meminta yang terbaik kepada Allah SWT) dan tidak akan pernah bersedih orang yang mengedepankan musyawarah.''  Kedua, Penyelesaian dilakukan secara adil  (islah) atas dasar hukum dan undang-undang yang berlaku yang disertai dengan petunjuk dari Alquran dan sunah Rasul SAW (lihat QS Al-Hujurat: 8-9).

Ketiga, jauhkan sikap arogansi kekuasaan dan fanatisme kelompok yang melahirkan kekerasan tanpa dilandasi pemikiran-pemikiran yang jernih dan rasional.  Keempat, semua pihak yang bersengketa harus mengedepankan kejujuran dan keadilan dalam menyelesaikan berbagai macam masalah.

Di samping itu, bimbingan dan suri teladan dari para pejabat, para tokoh, dan pemimpin umat menjadi suatu keharusan, sekaligus suatu keniscayaan. Mudah-mudahan tragedi kemanusiaan seperti di Koja, Tanjung Priok, tidak akan berulang kembali dalam sejarah kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia yang religius.  Wa Allahu a'lam.

: Manuskrip Islam

Oman Fathurahman
(Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara)

Adakah hubungan manuskrip nusantara, khususnya yang bertemakan keislaman dengan diskursus tentang nasionalisme kita pada abad ke-21 ini? Soal ini menjadi salah satu topik diskusi dalam "Gus Dur Memorial Lecture ke-3", 20 Mei lalu, di The Wahid Institute (WI) bersama sejarawan senior Taufik Abdullah dan Direktur Eksekutif WI Ahmad Suaedy.

Manuskrip adalah peninggalan tertulis masa lalu yang tidak dimiliki semua negara. Beruntung Indonesia mewarisi khazanah manuskrip yang termasuk dalam salah satu terkaya di dunia dengan ragam bahasa dan aksara lokal yang menjadi identitas etnis masyarakat pemiliknya.

Dalam hal manuskrip, seiring dengan kemajuan teknologi digital, sejumlah lembaga, universitas, dan bahkan negara, kini banyak yang menjadikan kekayaan manuskrip kunonya sebagai sarana pencitraan kredit dan identitas. 

Perpustakaan Universitas Tokyo di Jepang, Harvard, Princeton, dan Michigan di Amerika, Uni Leipzig di Jerman, serta British Library di London, adalah beberapa contoh kampus atau lembaga yang mendapat keuntungan kredit dan identitas akademik berkat koleksi manuskripnya yang dirawat dengan baik serta membuka akses publik melalui perpustakaan digital online. Padahal, sebagian besar koleksi mereka justru berasal dari Timur, termasuk Indonesia.

Islam Nusantara

Kekayaan manuskrip nusantara pernah dilukiskan oleh Taufik Abdullah (2001: 14) sebagai buah dari 'kegelisahan intelektual' para cerdik cendekia masa lalu. Sebagian dari para penulisnya adalah dari kalangan ahli agama, guru sufi, kiai, dan para mubalig, selain para sastrawan tentunya, yang memiliki kepedulian menerjemahkan Islam dalam konteks dan bingkai budaya lokal.

Pun terjemah yang dimaksud di sini bukan semata alih bahasa satu teks menjadi teks baru dalam bahasa lain, melainkan lebih dari itu merupakan penerjemahan ide, gagasan, dan bahkan ideologi dari sumbernya yang dianggap 'asing' menjadi sumber yang diyakini sebagai 'milik sendiri' (lihat Chambert-Loir [peny] 2009: 11). 

Karena itu, khazanah manuskrip nusantara yang kini kita miliki dan terhubungkan dengan Islam, sedemikian dinamis dan merepresentasikan beragam 'tafsiran'-dari mereka yang oleh Taufik Abdullah disebut sebagai brokers of ideas (1987: 239)-terhadap ideologi-ideologi yang lahir dari konteks pemikiran dan budaya lain, seperti Arab, Persia, dan India.

Jaringan ingatan kolektif

Kemunculan manuskrip-manuskrip nusantara sebagai identitas kultural berbagai kelompok masyarakat etnik besar nusantara telah membentuk sebuah jaringan 'ingatan kolektif' yang menghubungkan satu dengan yang lain.

Manuskrip Sabil al-muhtadin karya Arsyad al-Banjari dari Banjar, misalnya, ditulis atas 'inspirasi' dari Sirat al-mustaqimnya Nuruddin al-Raniri dari Aceh, pun sebuah manuskrip berbahasa Maranao di Filipina menyebut 'berhutang budi' pada Mir'at al-tullab karangan Abdurrauf al-Fansuri di Aceh, Serat Menak dari etnis Jawa lahir sebagai resepsi atas Hikayat Amir Hamzah dari etnis Melayu, manuskrip dalam tradisi Bugis-Makassar 'mengingat' peranan tiga ulama Minangkabau, Minangkabau ingat pada Aceh, Ternate ingat pada Makassar dan Gresik, Patani ingat pada Banjarmasin dan Palembang, Palembang ingat pada Demak, dan demikian seterusnya pola kemunculan manuskrip nusantara ini terbentuk, transetnis dan transdaerah.

Dengan demikian, khazanah manuskrip nusantara layak dilihat sebagai cermin kesatuan dalam keragaman (unity in diversity) etnis masyarakat yang sebagian besar wilayahnya kini bernama Indonesia!

Tugas berat adalah bagaimana membangkitkan rasa kepemilikan dan kebanggaan masyarakat kini terhadap manuskrip nusantara itu. Perlu ada rumusan strategi kebudayaan secara utuh yang bisa menempatkan khazanah manuskrip sebagai salah satu artefak budaya pembentuk citra dan identitas kultural yang dapat dibanggakan, mulai dari strategi pelestariannya, advokasi nilai pentingnya sebagai benda cagar budaya, hingga strategi 'pemasarannya' agar dikenal oleh khalayak luas.

Teknologi digital bisa menjadi salah satu solusi. Masyarakat dan lembaga penyimpan naskah perlu didorong untuk melakukan preservasi digital dengan mengalihmediakan koleksi manuskripnya dan mengelolanya dalam sebuah perpustakaan manuskrip digital yang dapat diakses secara online: whenever, wherever. The World Digital Library (WDL) yang dicanangkan Unesco pada 2009 dapat menjadi ukuran betapa teknologi digital akan sangat berguna bagi upaya pertukaran antarbudaya.

Jadi, di satu sisi, khalayak luas dapat melihat dan mengenal kekayaan khazanah keilmuan yang pernah dihasilkan oleh bangsa ini. Dan, di sisi lain, kita bisa sedikit mendongakkan kepala karena mampu menunjukkan harga diri sebagai bangsa berperadaban tinggi yang turut memberikan kontribusi bagi dunia kebudayaan dan keilmuan, bukan semata menjadi 'pedagang artefak' untuk kepentingan sesaat!

Toh, sebagian manuskrip kuno kita itu juga masih banyak yang mengandung local wisdom dan mungkin berguna buat kemaslahatan khalayak. Manuskrip Takbir Gempa asal abad ke-18 yang ditemukan di Aceh atau Minangkabau misalnya, mengabarkan prakiraan-prakiraan akibat terjadinya gempa di wilayah yang memang rawan bencana ini.

Saat ini, akibat sejarah masa lalu, kita sudah kehilangan sejumlah besar khazanah manuskrip yang dibawa oleh orang-orang seperti Raffless yang begitu rakusnya memboyong berpeti-peti manuskrip nusantara, kendati akhirnya terbakar dan karam di lautan. 

Kita pun seolah 'tak berhak' memperoleh kredit atau kebanggaan atas ribuan manuskrip nusantara yang kini dikelola dengan sangat baik oleh lembaga-lembaga, semisal Perpustakan Universitas Leiden, sehingga mendongkrak citra lembaga itu di mata internasional. Berkat manuskrip kita!

Terlepas dari soal keuntungan masih terawatnya manuskrip-manuskrip itu karena keunggulan teknologi dan peradaban Eropa, kini mahasiswa-mahasiswa kita terpaksa harus merogoh dana besar sekadar untuk bisa membaca bahasa dan kebudayaan mereka sendiri!

: Undangan itu Pasti Tiba

Oleh Dr H Mujar Ibnu Syarif MAg

Inna lillahi wa inna ilaihi raji`un. Indonesia kembali berduka. Dalam satu minggu terakhir ini bangsa dan negara Indonesia kehilangan dua orang putra dan putri terbaiknya. Pertama, Gesang Martohartono, sang maestro atau komponis kawakan Indonesia pada Kamis (20/5). 

Kedua, mantan ibu negara, Ny Hasri Ainun Habibie, almarhumah istri tercinta mantan presiden ketiga RI, Bacharuddin Jusuf Habibie, yang wafat pada Sabtu (23/5).

Kematian merupakan suatu keniscayaan, yang pasti akan datang menjemput setiap makhluk yang bernyawa. Dan ketika jadwal kematian telah tiba, tidak ada seorang pun yang dapat menundanya. "Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian." (QS Ali Imran [3]: 183). "Maka apabila telah tiba ajal mereka (waktu yang telah ditentukan), tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya." (QS An-Nahl [16]: 61).

Kematian bukanlah cara Allah SWT untuk menimpakan sesesuatu yang menyakitkan kepada umat manusia. Tetapi, kematian adalah undangan Allah, agar hamba-hamba-Nya yang beriman untuk segera datang menjumpai-Nya.

Imam al-Ghazali menuturkan, ketika Malaikat Izrail datang hendak mencabut nyawanya, Nabi Musa AS, berkata, "Bagaimana mungkin Sang Kekasih akan tega menyakiti kekasih yang dicintai dan disayangi-Nya?"

Mendengar pertanyaan tersebut, Malaikat Izrail segera menghadap Allah guna memohon petunjuk-Nya untuk menjawab pertanyaan kritis Nabi Musa itu. Allah SWT memerintahkan Malaikat Izrail untuk kembali lagi menemui Nabi Musa. Ketika Nabi Musa mengajukan pertanyaan yang sama, malaikat Izrail menjawab, "Kekasih mana yang tidak sudi bertemu Kekasihnya, ketika Kekasihnya itu memintanya untuk segera menemuinya?" Mendengar jawaban itu, dengan penuh keceriaan, Nabi Musa mengikhlaskan nyawanya kembali ke hadirat-Nya.

Dari narasi tersebut jelas tergambar bahwa pada hakikatnya kematian merupakan undangan Allah, supaya orang-orang beriman yang dikasihi-Nya, segera datang menjumpai-Nya. Karena itu, pada suatu pagi, ketika dikunjungi Malaikat Izrail di saat sakit, Nabi Muhammad SAW dengan bertanya kepada Malaikat Izrail, "Maksud kedatanganmu ke rumahku pagi ini, hanya untuk berziarah ataukah untuk mencabut nyawaku?" 

"Aku datang untuk berziarah sekaligus juga untuk menjemputmu, bila engkau mengizinkannya. Tapi aku akan segera kembali, bila engkau keberatan kujemput hari ini. Ya, Rasul Allah, sampaikanlah kepadaku, apa yang kau ingin kulakukan untukmu hari ini," pinta Malaikat Izrail. "Pertemukanlah aku dengan Tuhanku sekarang juga!" jawab Nabi SAW tanpa ragu.

Orang yang bertakwa kepada Allah, tak perlu merasa takut dengan kematian. Sebab, saat itu pasti akan tiba. Dan saat kematian datang, maka mereka akan tersenyum bahagia, kendati ia akan dilepas dengan derai air mata oleh orang-orang yang menyayanginya.

Bagi orang yang bertakwa, kematian merupakan kesempatan terbaik untuk bertemu dengan Allah. Karena, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya. "Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu daripada dunia" (QS Al-Dhuha ;93]: 4).

: Kencing Sambil Berdiri?

Ada lima hadits yang membicarakan mengenai masalah ini. Tiga hadits adalah hadits yang shahih. Sedangkan dua hadits lainnya adalah dho'if (lemah).Hadits Pertama

Hadits pertama ini menceritakan bahwa istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu 'Aisyah radhiyallahu 'anha mengingkari kalau ada yang mengatakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi pernah kencing sambil berdiri.

'Aisyah –radhiyallahu 'anha- mengatakan,

مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَبُوْلُ قَائِمًا فَلاَ تُصَدِّقُوْهُ مَا كَانَ يَبُوْلُ إِلاَّ قَاعِدًا

"Barangsiapa yang mengatakan pada kalian bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah kencing sambil berdiri, maka janganlah kalian membenarkannya. (Yang benar) Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa kencing sambil duduk." (HR. At Tirmidzi dan An Nasa'i. Syaikh Al Albani mengatakan dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 201 bahwa hadits ini shahih). Abu Isa At Tirmidzi mengatakan, "Hadits ini adalah hadits yang lebih bagus dan lebih shahih dari hadits lainnya tatkala membicarakan masalah ini."

Hadits Kedua

Hadits ini menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah kencing sambil berdiri. Bukhari membawakan hadits ini dalam kitab shahihnya pada Bab "Kencing dalam Keadaan Berdiri dan Duduk."

Hudzaifah –radhiyallahu 'anhu- mengatakan,

أَتَى النَّبِىُّ ، ( صلى الله عليه وسلم ) ، سُبَاطَةَ قَوْمٍ ، فَبَالَ قَائِمًا ، فَدَعَا بِمَاءٍ ، فَجِئْتُهُ بِمَاءٍ ، فَتَوَضَّأَ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mendatangi tempat pembuangan sampah milik suatu kaum. Lalu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kencing sambil berdiri. Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wa sallam meminta diambilkan air. Aku pun mengambilkan beliau air, lalu beliau berwudhu dengannya." (HR. Bukhari no. 224 dan Muslim no. 273).

Hadits ini tentu saja adalah hadits yang shahih karena disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Ibnu Baththol tatkala menjelaskan hadits ini mengatakan, "Hadits ini merupakan dalil bolehnya kencing sambil berdiri."[1]

Hadits Ketiga

Hadits berikut menunjukkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah kencing sambil duduk.

'Abdurrahman bin Hasanah mengatakan,

خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ فِي يَدِهِ كَهَيْئَةِ الدَّرَقَةِ قَالَ : فَوَضَعَهَا ، ثُمَّ جَلَسَ فَبَالَ إِلَيْهَا

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah keluar bersama kami dan di tangannya terdapat sesuatu yang berbentuk perisai, lalu beliau meletakkannya kemudian beliau duduk lalu kencing menghadapnya." (HR. Abu Daud, An Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Hadits Keempat

Hadits berikut ini membicarakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melarang Umar kencing sambil berdiri, namun hadits ini adalah hadits yang dho'if (lemah).

'Umar –radhiyallahu 'anhu- berkata,

رَآنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَبُولُ قَائِمًا فَقَالَ :« يَا عُمَرُ لاَ تَبُلْ قَائِمًا ». قَالَ فَمَا بُلْتُ قَائِمًا بَعْدُ.

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihatku kencing sambil berdiri, kemudian beliau mengatakan, "Wahai 'Umar janganlah engkau kencing sambil berdiri." Umar pun setelah itu tidak pernah kencing lagi sambil berdiri." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Syaikh Al Huwainiy –ulama hadits saat ini- mengatakan, "Ibnul Mundzir berkata bahwa hadits ini tidak shahih. Adapun Asy Syaukani sebagaimana dalam As Sail Al Jaror mengatakan bahwa As Suyuthi telah menshohihkan hadits ini!! Boleh jadi As Suyuthi melihat pada riwayat Ibnu Hibban. Lalu beliau tidak menoleh sama sekali pada tadlis yang biasa dilakukan oleh Ibnu Juraij. Sebagaimana kita ketahui pula bahwa As Suyuthi bergampang-gampangan dalam menshohihkan hadits. Kemudian hadits ini dalam riwayat Ibnu Hibban dikatakan dari Ibnu 'Umar. Namun sudah diketahui bahwa hadits ini berasal dari 'Umar (ayah Ibnu 'Umar). Saya tidak mengetahui apakah di sini ada perbedaan sanad ataukah hal ini tidak disebutkan dalam riwayat Ibnu Hibban?!"[2]

Syaikh Al Albani –rahimahullah- mengatakan, "Hadits ini dho'if (lemah). Yang tepat, tidaklah mengapa seseorang kencing sambil berdiri asalkan aman dari percikan kencing. Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Al Fath mengatakan, "Tidak terdapat dalil yang shahih yang menunjukkan larangan kencing sambil berdiri." Dari Nafi', dari Ibnu 'Umar, dari 'Umar, beliau berkata, "Aku tidak pernah kencing sambil berdiri sejak aku masuk Islam". Sanad hadits ini shahih. Namun dari jalur lain, dari Zaid, beliau berkata, "Aku pernah melihat 'Umar kencing sambil berdiri". Sanad hadits ini juga shahih. Oleh karena itu, hal inilah yang dilakukan oleh 'Umar dan ini menunjukkan telah jelas bagi 'Umar bahwa tidak mengapa kencing sambil berdiri"."[3]

Hadits Kelima

Hadits berikut menunjukkan bahwa kencing sambil berdiri adalah termasuk perangai yang buruk, namun hadits ini juga adalah hadits yang dho'if (lemah).

Dari Buraidah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

ثلاثٌ مِنَ الجَفاءِ أنْ يَبُولَ الرَّجُلُ قائِماً أوْ يَمْسَحَ جَبْهَتَهُ قَبْلَ أنْ يَفْرَغَ مِنْ صَلاتِهِ أوْ يَنْفُخَ في سُجُودِهِ

"Tiga perkara yang menunjukkan perangai yang buruk: [1] kencing sambil berdiri, [2] mengusap dahi (dari debu) sebelum selesai shalat, atau [3] meniup (debu) di (tempat) sujud." (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam At Tarikh dan juga oleh Al Bazzar)

Syaikh Al Huwaini –hafizhahullah- mengatakan, "Yang benar, hadits ini adalah mauquf (cuma perkataan sahabat) dan bukan marfu' (perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam)." Di tempat sebelumnya, Syaikh Al Huwaini mengatakan bahwa hadits ini ghoiru mahfuzh artinya periwayatnya tsiqoh (terpercaya) namun menyelisihi periwayat tsiqoh yang banyak atau yang lebih tsiqoh.[4] Jika demikian, hadits ini adalah hadits yang lemah (dho'if).

Syaikh Al Albani –rahimahullah- mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits dho'if (lemah).[5]

Terdapat perkataan yang shahih sebagaimana hadits Buraidah di atas, namun bukansabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi perkataan Ibnu Mas'ud.

Ibnu Mas'ud –radhiyallahu 'anhu- mengatakan,

إِنَّ مِنَ الجَفَاءِ أَنْ تَبُوْلَ وَأَنْتَ قَائِمٌ

"Di antara perangai yang buruk adalah seseorang kencing sambil berdiri." (HR. Tirmidzi). Syaikh Al Huwaini mengatakan bahwa periwayat hadits ini adalah periwayat yang tsiqoh (terpercaya). Syaikh Al Albani –rahimahullah- mengatakan dalam Shahih wa Dha'if Sunan At Tirmidzi bahwa hadits ini shahih. Inilah pendapat Ibnu Mas'ud mengenai kencing sambil berdiri.

Menilik Perselisihan Para Ulama

Dari hadits-hadits di atas, para ulama akhirnya berselisih pendapat mengenai hukum kencing sambil berdiri menjadi tiga pendapat.

Pendapat pertama: dimakruhkan tanpa ada udzur. Inilah pendapat yang dipilih oleh 'Aisyah, Ibnu Mas'ud, 'Umar dalam salah satu riwayat (pendapat beliau terdahulu), Abu Musa, Asy Sya'bi, Ibnu 'Uyainah, Hanafiyah dan Syafi'iyah.

Pendapat kedua: diperbolehkan secara mutlak. Inilah pendapat yang dipilih oleh 'Umar dalam riwayat yang lain (pendapat beliau terakhir), Zaid bin Tsabit, Ibnu 'Umar, Sahl bin Sa'ad, Anas, Abu Hurairah, Hudzaifah, dan pendapat Hanabilah.

Pendapat ketigadiperbolehkan jika aman dari percikan, sedangkan jika tidak aman dari percikan, maka hal ini menjadi terlarang. Inilah madzhab Imam Malik dan inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir.[6]

Pendapat Terkuat

Pendapat terkuat dari pendapat yang ada adalah kencing sambil berdiri tidaklah terlarang selama aman dari percikan kencing. Hal ini berdasarkan beberapa alasan:

  1. Tidak ada hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kencing sambil berdiri selain dari hadits yang dho'if (lemah).
  2. Hadits yang menyebutkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kencing sambil duduk tidaklah bertentangan dengan hadits yang menyebutkan beliau kencing sambil berdiri, bahkan kedua-duanya diperbolehkan.
  3. Terdapat hadits yang shahih dari Hudzaifah bahkan hadits ini disepakati oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah kencing sambil berdiri.
  4. Sedangkan perkataan 'Aisyah yang mengingkari berita kalau Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam itu kencing sambil berdiri hanyalah sepengetahuan 'Aisyah saja ketika beliau berada di rumahnya. Belum tentu di luar rumah, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam tidak kencing sambil berdiri. Padahal jika seseorang tidak tahu belum tentu hal tersebut tidak ada. Mengenai masalah ini, Hudzaifah memiliki ilmu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah kencing sambil berdiri. Jadi, ilmu Hudzaifah ini adalah sanggahan untuk 'Aisyah yang tidak mengetahui hal ini.

Itulah sedikit ulasan mengenai kencing sambil berdiri. Semoga pembahasan ini bisa menjawab masalah dari beberapa pembaca yang belum menemukan titik terang mengenai permasalahan ini.

Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat. Allahumman fa'ana bimaa 'allamtana, wa 'alimna maa yanfa'una wa zidnaa 'ilmaa. Wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: www.muslim.or.id

 

: The New Asia

Sa'ad bin Abi Waqqas termasuk 10 orang pertama yang memeluk Islam. Ayahnya sepupu Aminah, ibunda Rasulullah SAW. Kurang dari 20 tahun setelah wafatnya Rasulullah, khalifah Ustman bin Affan RA mengutus Sa'ad dalam misi persahabatan kepada Kaisar Gaozong dari Dinasti Tang.  

Sa'ad disambut dengan tangan terbuka yang selanjutnya diikuti dengan dibangunnya masjid pertama di Kanton. Islam kemudian berkembang pesat di Cina. Sebagian dari mereka kemudian membawa Islam ke Indonesia.

Beberapa tahun sebelumnya, Khalifah Umar bin Khattab RA juga mengutus Sa'ad bin Abi Waqqas memimpin pasukan yang mengalahkan pasukan Persia dalam pertempuran Qadisiyyah. Akhirnya, Kerajaan Persia takluk dengan jatuhnya provinsi terbesarnya, Sistan.  

Di ujung timur Sistan terletak Kota Sindh yang merupakan kota pertama masuknya Islam ke India. Sejak itulah pantai barat dan selatan India, termasuk Surat di barat Gujarat dan Pantai Malabar di Kerala, menjadi jalur perdagangan pedagang Muslim. Sebagian dari mereka kemudian membawa Islam ke Indonesia.

Saat ini ketiga negara itu: Cina, India, Indonesia, merujuk pada prediksi pertumbuhan ekonomi yang dilakukan oleh IMF, berpeluang mengulang bangkitnya The Asian Tigers. Ketika Amerika Serikat masih bergulat menyelesaikan pekerjaan rumahnya membenahi dampak krisis yang baru berlalu, Eropa malah direpotkan dengan merebaknya dampak dari krisis yang terjadi di Yunani. Bangkitnya Asia diharapkan dapat menjadi lokomotif pulihnya perekonomian dunia.

IMF baru merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi Asia dari 6,9 persen menjadi 7,1 persen pada 2010 akibat prospek pertumbuhan bisnis yang lebih cerah dan besarnya perbedaan suku bunga dengan negara maju. Kedua faktor itu akan menarik lebih banyak dana mengalir ke kawasan Asia.

Prospek pertumbuhan bisnis masih didorong oleh ekspor barang-barang Asia yang berkualitas dan murah. Murahnya barang-barang Asia ini disebabkan murahnya tenaga kerja dan akibat kebijakan nilai tukar mata uang.

Murahnya tenaga kerja merupakan keunggulan yang sulit disamai negara-negara maju. Namun, kebijakan nilai tukar mata uang yang cenderung terlalu kaku malah dapat merugikan.

Pesatnya ekspor berarti dolar AS mengalir deras ke negara-negara Asia. Namun, dolar AS ini disterilisasi, tidak dimasukkan ke dalam peredaran uang. Cadangan devisa dalam dolar AS meningkat, tapi jumlah uang lokal yang beredar tidak bertambah. Akibatnya, nilai tukar mata uang lokal tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya.

Kebijakan nilai tukar ini sebenarnya merupakan reaksi dari masuknya dana-dana asing jangka pendek ke pasar modal negara-negara Asia. Derasnya arus dana ini menyebabkan harga saham meningkat dan selanjutnya pemilik dana asing itu akan mengambil untung dengan menjual saham dan menarik kembali dananya ke luar negeri. Keadaan inilah yang mendorong negara-negara Asia tidak ingin terburu-buru menyesuaikan nilai tukar mereka ke nilai yang sebenarnya karena mereka beranggapan derasnya aliran dana asing yang masuk juga tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

Mirip permainan catur, memang. Masing-masing negara dengan cermat mengawasi kebijakan negara lain untuk melindungi kepentingan dan keuntungan negara masing-masing.

Dalam permainan seperti ini, negara yang mempunyai populasi besar, seperti Cina, India, dan Indonesia mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki negara berpopulasi kecil. Populasi yang besar berarti permintaan domestik yang besar sehingga ketika ekspor menurun tajam akibat krisis di AS dan Eropa, negara-negara ini tidak terlalu terpukul. Itu juga yang terjadi dengan Rusia dan Brasil yang mempunyai populasi besar.

Pasar domestik besar inilah yang mendorong pemodal asing masuk membeli saham perusahaan-perusahaan dengan menyasar pasar yang menguasai hajat orang banyak. Kejelian bisnis negara-negara maju masuk ke pasar domestik dapat membuat negara berpopulasi kecil ikut menikmati pasar di negara berpopulasi besar. Cina merupakan contoh bagaimana populasi yang besar digabungkan dengan kejelian bisnis mereka menjadikan negara itu pemain utama dalam perekonomian dunia.

The New Asia adalah Asia yang bukan saja berpopulasi besar, tapi juga jeli dalam percaturan bisnis ekonomi dunia.  The New Asia sangat berpotensi mengembangkan perekonomian dunia berbasiskan sektor riil dan tidak terjebak pada pertumbuhan semu berbasiskan transaksi derivatif sektor keuangan.

Pada era 1980-an AS membatasi jumlah mobil Jepang yang masuk ke negeri itu. Jepang mengganti ekspor mobil bermesin kecil dengan mobil bermesin besar yang harganya lebih mahal. Meskipun jumlah ekspor mobil Jepang ke AS dibatasi, nilai ekspornya meningkat karena mobil yang diekspor nilai satuannya lebih mahal.

Lebih dari itu, mobil Jepang bermesin kecil yang ketika itu bukan menjadi pesaing mobil AS bermesin besar menjelma menjadi pesaing serius. Accura dari Honda, Lexus dari Toyota, dan Diamante dari Mitsubishi merupakan contoh mobil Jepang yang ketika itu disiapkan untuk pasar AS.

Kelihaian bisnis Cina telah menjadi legenda dunia, sementara keuletan India menjadikannya pusat intelektual industri informatika bagaikan Silicon Valley dunia. Dinamika dan kreativitas Indonesia akan mengantarkan bangsa ini menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Dinamika dan kreativitas ini pula yang membedakan perkembangan industri keuangan syariah Indonesia dengan negara-negara lain. Bila saat ini standar halal Majelis Ulama Indonesia telah diadopsi di berbagai negara, pada saatnya nanti standar syariah Majelis Ulama Indonesia akan diakui di berbagai negara. Setiap sesuatu ada saatnya. Kita hanya perlu terus memperjuangkannya. Selebihnya, serahkan pada Yang Maha Pengatur.

: Rahasia di Balik Amarah

oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Suatu waktu Ibnu Umar radhiya Allahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Apa yang bisa menjauhkan aku dari murka Allah 'Azza wa Jalla?'' Rasul langsung menjawab, ''Jangan marah!'' Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang menahan marah padahal dia sanggup melampiaskannya, akan dipanggil Allah di hadapan semua makhluk dan disuruh memilih bidadari yang mana saja dia suka.

Lain waktu, Rasulullah SAW sampai mengulang tiga kali sabdanya, ketika salah seorang sahabat meminta nasihat kepada beliau. ''Jangan marah!'' Bahkan, beliau menyampaikan kabar gembira bagi orang yang mampu menahan marah. ''Dan bagimu adalah surga!'' Subhanallah, karena kita bisa menahan marah ternyata surga dengan semua kenikmatan di dalamnya adalah balasan kita.

Marah adalah nyala api dari neraka. Seseorang pada saat marah, mempunyai kaitan erat dengan penghuni mutlak kehidupan neraka, yaitu setan saat ia mengatakan, ''Saya lebih baik darinya (Adam--Red); Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.'' (QS Al-A'raf: 12). Tabiat tanah adalah diam dan tenang, sementara tabiat api adalah bergejolak, menyala, bergerak, dan berguncang.

Marah berarti mendidih dan bergolaknya darah hati yang terlampiaskan. Oleh sebab itu, bila sedang marah, api amarah menyala dan mendidihkan darah hatinya lalu menyebar ke seluruh tubuh. Bahkan, hingga naik ke bagian atas seperti naiknya air yang mendidih di dalam bejana. Karena itulah, wajah, mata, dan kulit yang sedang marah tampak memerah. Semua itu menunjukkan warna sesuatu yang ada di baliknya seperti gelas yang menunjukkan warna sesuatu yang ada di dalamnya.

Jika seseorang marah, tapi tidak bisa dilampiaskan, karena tidak ada kemampuan, misalnya, kepada atasan atau pimpinan, maka darah justru akan menarik diri dari bagian luar kulit ke dalam rongga hati. Sehingga, ia berubah menjadi kesedihan. Karenanya, biasanya warnanya pun menguning dan muka pun berubah murung.

Manusia bila ditilik dari sifat marah ada empat kelompok. Pertama , cepat marah, cepat sadar (ini merupakan sesuatu yang buruk).  Kedua , lambat marah, lambat sadar (ini kurang terpuji).  Ketiga , cepat marah, lambat sadar (adalah sifat yang terburuk). Dan terakhir, lambat marah, cepat sadar (inilah yang baik).

Orang yang lambat marah tapi segera sadar adalah sosok Mukmin yang terpuji. Karena ia berusaha mencerna dan mengelolanya dengan baik, sehingga di akhir kemarahannya yang singkat itu ada proses mengingatkan dan pelajaran. Marah karena sayang. Nah, kira-kira di mana posisi kita saat marah?  Wa Allahu a'lam.

: Memperbaiki Citra Islam

Beberapa waktu lalu saya menghadiri ceramah Karen Armstrong, sarjana Inggris yang dikenal sangat simpatik terhadap Islam. Armstrong berbicara tentang tantangan agama pada abad ke-21. Tapi, dalam hampir seluruh uraiannya, dia berbicara tentang Islam dan berbagai persoalan yang dihadapi agama ini. Ceramah yang dihadiri hampir 1.000 orang di ballroom sebuah hotel di Singapura itu sangat menawan. Terutama bagi kaum muslim yang merasa mendapat teman dan dukungan atas iman mereka.

Sejak peristiwa 9/11, pengarang Sejarah Tuhan itu menjadi juru bicara Islam yang sangat simpatik. Dia diundang berbagai forum untuk menjelaskan sisi lain Islam yang kerap diabaikan pengamat dan media massa. Umum diketahui, sejak 9/11 citra Islam sangat erat dengan terorisme dan kekerasan. Tugas Arsmtrong ialah menerangkan bahwa pengaitan Islam dengan terorisme itu keliru. Islam adalah agama damai yang tidak mengajarkan umatnya menggunakan kekerasan dalam berdakwah, apalagi terorisme.

Sejauh menyangkut kampanye perbaikan terhadap citra Islam, Armstrong tidak sendiri. Di dunia akademi Barat, ada nama lain seperti Montgomery Watt, Edward Said, John Esposito, dan Robert W. Hefner. Para sarjana nonmuslim itu melihat ketidakadilan dalam sirkulasi informasi di dunia selama ini, yakni berupa penyuguhan citra Islam yang buruk. 

Berita seputar Islam yang dimuat media atau ditulis para sarjana, jika bukan tentang terorisme, pasti tentang tindak kekerasan. Islam seolah-olah identik dengan kekerasan.

Saya ingin menyebut sarjana Barat itu "Front Pembela Citra Islam (FPCI)". Bertolak belakang dari front lain yang kerap menggunakan cara-cara kekerasan, FPCI benar-benar mengadopsi cara yang dianjurkan Alquran, yakni dengan ilmu pengetahuan (bil hikmah), pesan yang baik (mau'izah hasanan), dan argumen yang kukuh (wa jadilhum billati hiya ahsan). Hal itu mereka lakukan bukan hanya dalam forum-forum ilmiah, tetapi juga dalam karya-karya tulis.

Armstrong telah menulis sejumlah buku tentang Islam. Di antaranya Islam: A Short History dan Muhammad: A Biography of the Prophet, yang menguraikan tentang Islam dan Nabi Muhammad dengan sangat menawan. Lewat penelitian yang mendalam terhadap sejarah Islam, Armstrong berusaha menjelaskan sisi-sisi manusiawi Nabi tanpa kelihatan berapologi, tapi juga tidak menohok seperti yang biasa dilakukan beberapa Orientalis. Armstrong tidak menafikan bahwa ada banyak peperangan dalam sejarah Nabi. Tapi, itu tidak boleh dipisahkan dari dinamika kehidupan yang dijalani Nabi.

Menurut Armstrong, seperti dalam the Battle for God, perang atas nama agama bukan unik pada Islam saja, tapi juga ada di semua agama. Fundamentalisme modern yang berpuncak pada aksi-aksi teror, baik dalam Yudaisme, Kristen, dan Islam, sesungguhnya merupakan ekspresi perlawanan terhadap dunia yang dianggap sekuler dan anti-Tuhan. 

Modernitas yang mengandalkan rasionalitas dianggap berbahaya bagi agama yang bersandar pada iman. Kaum beragama yang terus-menerus merasa terancam akan menyerang balik (backlash) terhadap simbol-simbol modernitas, termasuk gedung komersial, stasiun kereta api, dan kafe-kafe.

Para sarjana nonmuslim itu tentu tidak sendirian. Kaum intelektual muslim di dunia Barat juga berusaha memperbaiki citra Islam yang selama ini dikotori para teroris dan kelompok-kelompok yang mengklaim sedang membela Islam (padahal sedang merusaknya). Para sarjana seperti almarhum Fazlur Rahman, Abdullahi Ahmed al-Naim, Khaled Abu el-Fadl, Moqtader Khan, dan dalam tingkat tertentu Irshad Manji, bisa dimasukkan ke daftar FPCI sejati.

Hanya, berbeda dengan para sarjana Barat nonmuslim, mereka tak hanya berhenti pada pembelaan, tapi juga mengoreksi perilaku kaum muslim dan beberapa doktrin Islam yang dianggap keliru. Fazlur Rahman, misalnya, sambil mengkritik orientalis tetap kritis terhadap beberapa perilaku kaum muslim yang dianggap salah dalam memahami Islam. Lebih jauh lagi, Rahman bahkan mengkritik beberapa doktrin Islam yang dianggap tidak lagi relevan dengan kehidupan modern.

Di Indonesia, saya melihat makin banyak gerakan Islam yang dipelopori generasi muda. Mereka datang dari latar belakang santri dan punya kapasitas keilmuwan Islam yang mumpuni. Gerakan itu berusaha mengonter orang-orang yang sering me(nyalah)gunakan Islam untuk kepentingan politik dan ideologis mereka. Lewat pemikiran, mereka berusaha memperbaiki citra Islam yang bopeng akibat perilaku para teroris dan pendukungnya.

Islam yang dihadirkan apa yang kerap disebut gerakan pembaruan atau gerakan Islam liberal itu adalah Islam yang damai, toleran, prodemokrasi, dan mendukung kebebasan sipil. Berbeda dengan Islam kaum teroris dan pendukungnya, kaum muslim liberal meyakini bahwa ajaran-ajaran Islam cocok dengan tantangan dunia modern, bisa berinteraksi dengan Barat, dan mampu bekerja sama dengan dunia internasional. 

Tak ada cara lain untuk memperbaiki citra Islam kecuali lewat pengembangan wacana yang didukung kelompok-kelompok Islam liberal, baik di Muhammadiyah, NU, maupun organisasi-organisasi yang lain. Tema-tema pluralisme, liberalisme, hak-hak perempuan, dan kebebasan sipil dapat membantu perbaikan citra Islam yang selama ini terkait erat dengan kekerasan, bom bunuh diri, penculikan, dan perusakan kafe. 

Sudah saatnya kaum muslim memperbaiki citra Islam dengan mengubur dalam-dalam wacana primitif yang dikembagkan para teroris dan pendukungnya. (luthfi assyaukanie) dari Jawa Pos, 20 Juli 2007

: Bersikap Toleran

Oleh A Ilyas Ismail

Diceritakan, pada suatu hari ada orang Arab pedalaman kencing di masjid Nabi di Madinah. Terang saja para sahabat geram dan ingin memukul orang itu. Namun, Rasulullah SAW mencegahnya, dan kemudian menyuruh para sahabat 'kerja bakti' menyiram dan membersihkan air seni laki-laki tak kenal sopan santun itu. (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Menurut Ibn Hajar al-Asqalani, pengarang Kitab Fath al-Bari, riwayat ini memperlihatkan dengan jelas sikap toleransi Nabi SAW dan keluhuran budi pekertinya. Beberapa pelajaran penting, lanjut al-Asqalani, dapat pula dipetik dari kisah ini.

Pertama, kita harus bersikap kasih dan lembut (al-rifq) kepada orang yang melakukan kesalahan karena tidak tahu dan tidak sengaja (al-jahil). Kedua, kita wajib mendidik dan mengajarinya agar ia berbuat baik dan sopan sesuai akhlak Islam. Ketiga, kita tidak boleh kasar dalam mencegah perbuatan munkar, baik dengan kata-kata apalagi dengan perbuatan (tindakan).

Toleransi tak hanya dalam soal agama seperti contoh di atas, tapi juga dalam bidang sosial kemasyarakatan dan sosial ekonomi. Rasulullah SAW bersabda: "Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada seseorang yang bersikap toleran sewaktu ia menjual, membeli, dan sewaktu menagih utang." (HR Bukhari dari Jabir ibn Abdillah). Dalam riwayat lain, terdapat tambahan kata, "fa dakhala al-jannah" (kemudian orang itu masuk surga). (HR Ahmad dari Usman ibn Affan).

Dalam hadis ini, menurut Ibn Bathal, terkandung pesan agar umat Islam bersikap toleran dan menjunjung tinggi keluhuran budi pekerti dalam bisnis. Sikap seperti ini akan mendatangkan kebaikan (berkah) bagi para pelaku bisnis. Doa Nabi kepada orang yang toleran dalam hadis ini, lanjut Ibn Bathal, mengandung makna keberuntungan secara finansial (keuangan) di dunia, dan kemujuran secara spiritual di akhirat.

Dalam buku Syu`ab al-Iman, Imam Baihaqi memberikan penjelasan tambahan. Dikatakan, orang yang toleran adalah orang yang tidak menuntut banyak mengenai hak-haknya, tetapi membayar tunai apa yang menjadi kewajiban-kewajibannya. Dicontohkan, ketika sakit tak ada teman yang menjenguk, pulang dari luar negeri tak ada yang menyambut, saat berbicara tak ada yang mendengarkan, ia tidak lantas marah-marah dan memaki-maki. Ia tetap toleran, sabar, dan berbesar hati.

Sikap toleran, seperti semua sifat yang terpuji, menurut Baihaqi, dapat ditumbuhkan dan dikembangkan melalui pembelajaran dan pembiasaan (learning habits). Diakui, proses pembelajaran ini akan berjalan lebih cepat dan produktif bila didukung faktor bawaan dan lingkungan, yaitu keluarga dan pergaulan. Jadi, kalau mau, kita pun bisa menjadi toleran, baik sebagai individu maupun bangsa. Wa Allahu A`lam

: Manajemen Emosi

Oleh Hj Lily Musfirah Nurlaily



Dalam kompleksitas kehidupan, manusia sering kali dihadapkan pada suatu masalah yang memaksanya untuk memilih, apakah menghadapinya dengan penuh ketenangan atau menyikapinya dengan amarah dan penuh emosi.

Secara etimologis, kata 'emosi' adalah terjemahan dari bahasa Arab, al-ghadlab. Dalam Alquran, kata al-ghadlab, dengan perubahan bentuk kata, jumlahnya tak kurang dari 24 kali. Dari sekian banyak ayat tersebut, kata al-ghadlab lebih banyak dikaitkan kepada Allah sebagai Sang Khalik. Hanya sedikit ayat yang mengaitkan al-ghadlab dengan manusia. Itu pun bukan terhadap manusia biasa, tetapi terhadap Nabi Musa AS. "Dan, tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya, dengan marah dan sedih hati, ia pun berkata, 'Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku.'" (QS al-A'raf [7]: 150).

Dalam ayat itu, disebutkan pula bahwa Nabi Musa sempat menarik rambut saudaranya sendiri, Nabi Harun, karena saking marah dan emosinya. Tentang sikap marahnya Nabi Musa, juga dibadikan dalam surah Taha [20]: 86 dan tentang redanya emosi tersebut juga diabadikan dalam surah al-A'raf [7]: 154.

Diceritakan dalam sebuah hadis bahwa seorang sahabat datang tergopoh-gopoh menghadap Nabi SAW untuk meminta nasihat. Nabi menjawab, "La taghdlab", hindari sikap marah (emosi). Nabi SAW mengulangi nasihatnya sebanyak tiga kali.

Hadis ini cukup menjadi bukti bahwa manusia sering kali terjebak dalam keadaan emosi atau marah yang berkepanjangan hingga tidak ada peluang bagi orang lain untuk meminta maaf. Karena itu, wajar bila Nabi SAW mengulangi nasihatnya sebanyak tiga kali.

Bagaimana menguasai marah atau me-manage emosi? Nabi SAW pernah memberikan petunjuk. "Jika kamu marah dalam keadaan berdiri, duduklah. Jika kamu masih marah, padahal sudah dalam keadaan duduk, berbaringlah. Jika kamu masih marah, padahal sudah dalam keadaan berbaring, segera bangkit dan ambil air wudu untuk bersuci dan lakukan shalat sunah dua rakaat."

Betapa bijaknya nasihat Rasul SAW di atas. Sebab, ketika manusia sedang marah, ia mengalami dua hal. Pertama, ketegangan syaraf, terutama syaraf otak. Kedua, dirinya sedang bergelut dengan sebuah kekuatan hawa nafsu yang mahadahsyat. Dalam pandangan agama, hawa nafsu itu dipersonifikasikan dengan kekuatan setan.

Maka, ajaran Nabi SAW tentang perubahan gerakan fisik dari berdiri kepada duduk dan dari duduk kepada berbaring bertujuan untuk melenturkan dan meredakan (relaksasi) ketegangan syaraf otak dan syaraf-syaraf lainnya. Jika gerakan fisik juga tidak mampu meredakan emosi, Nabi SAW berpesan agar segera berwudu dan mendirikan shalat dua rakaat. Tujuannya, segera berlindung kepada kekuatan Allah untuk mengusir kekuatan setan yang terbungkus dalam bentuk sikap marah dan emosi. Wa Allahu A'lam.

: Senyum itu Sedekah

Oleh Wiyanto Suud

Rasulullah SAW bersabda bahwa anak keturunan Adam memiliki kewajiban untuk bersedekah setiap harinya sejak matahari mulai terbit. Seorang sahabat yang tidak memiliki apa pun untuk disedekahkan bertanya, "Jika kami ingin bersedekah, namun kami tidak memiliki apa pun, lantas apa yang bisa kami sedekahkan dan bagaimana kami menyedekahkannya?"

Rasulullah SAW bersabda, "Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, beramar makruf dan nahi mungkar yang kalian lakukan untuk saudaranya juga sedekah, dan kalian menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat juga sedekah." (HR Tirmizi dan Abu Dzar).

Dalam hadis lain disebutkan bahwa senyum itu ibadah, "Tersenyum ketika bertemu saudaramu adalah ibadah." (HR Trimidzi, Ibnu Hibban, dan Baihaqi).

Salah seorang sahabat, Abdullah bin Harits, pernah menuturkan tentang Rasulullah SAW, "Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah SAW." (HR Tirmidzi).

Meskipun ringan, senyum merupakan amal kebaikan yang tidak boleh diremehkan. Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, sekalipun itu hanya bermuka manis saat berjumpa saudaramu." (HR Muslim).

Mungkin kita sering berpikir bahwa sedekah itu berkaitan erat dengan harta benda seperti pemberian uang, pakaian, atau apa pun yang bisa langsung dinikmati penerima dalam bentuk materi. Hal itu juga mungkin yang ada dalam pikiran para sahabat Rasulullah SAW, sehingga mereka sangat gelisah kemudian mempertanyakannya. 

Karena itu, tidak semestinya seorang Muslim membiarkan satu hari pun berlalu tanpa dirinya terlibat dalam kegiatan bersedekah. Jika kita punya wawasan sempit mengenai pengertian bersedekah, tentulah hal itu menjadi mustahil.

Di antara keistimewaan sedekah adalah menolak bala (musibah). Dari Sayyid Ali Ar-Ridha, dari Sayyid Ja'far Ash-Shadiq, dari Sayyid Ali Zainal Abidin, dari Ali bin Abi Thalib Radiyallahu Anhum, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sedekah itu dapat menghindarkan diri dari kematian yang tidak baik, menjaga diri dari tujuh puluh macam bencana."

Imam Ibnul Qoyyim RA dalam bukunya al-Wabil ash-Shayyib berkata, "Sesungguhnya sedekah bisa memberikan pengaruh yang menakjubkan untuk menolak berbagai bencana, walaupun pelakunya orang yang Fajir (pendosa), zalim, atau bahkan orang kafir."

: Kesalehan Vs Kemungkaran

Said Aqiel Siradj

Belakangan ini, kita kerap disuguhi adegan penggerebekan dan penggusuran. Dua kata tersebut kini telah menjadi "momok" buat sebagian masyarakat terutama mereka yang terpinggirkan, baik secara ekonomi, sosial, maupun agama.

Para pedagang kali lima, gelandangan, pengemis, WTS, waria, serta sejumlah "identitas" masyarakat lainnya kerap jadi obyek tindakan "main undang-undang" dan juga "main hakim sendiri". Nasib mereka seolah-olah jadi bulan-bulanan pihak aparat ataupun kelompok-kelompok tertentu di negeri yang konon menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi ini. Menjamurlah fakta adanya perlakuan sekelompok masyarakat berpayung ormas keagamaan yang melarang kelompok lain untuk mengekspresikan diri.

Aksi main gerebek sekelompok umat Islam jelas bukan representasi sikap umat Islam secara keseluruhan. NU prihatin atas aksi main hakim sendiri. Organisasi apa pun di luar kepolisian tak berhak membubarkan kegiatan yang dinilai menyalahi aturan. Ormas keagamaan mestinya lebih bijaksana bersikap dan bertindak agar tak terjadi benturan, lebih-lebih penilaian negatif terhadap agama tertentu. Agaknya ada sesuatu yang "tidak beres" di negeri ini menyangkut jaminan keselamatan warga negara dan semangat tenggang rasa termasuk di lingkungan keagamaan. Tak heran, tindakan penggerebekan sering menggema atas nama agama sehingga massa mudah tersulut secara herois dan militan.

Dulu muncul gegeran akibat tesis Huntington tentang "benturan peradaban". Namun, benturan ternyata tak hanya seputar arena politik dan demokrasi. Seturut waktu, ia meluas pada soal kemanusiaan yang lebih kompleks, seperti perceraian, aborsi, persamaan jender, hak kaum homoseks, dan prostitusi. Terjadi garis pemisah yang menebal antara nilai modernitas dan globalisasi dengan sikap keagamaan. Ketegangan ini lazim dirumuskan sebagai musykilah al-ashalah wa al-hadatsah, ketegangan antara keotentikan dengan modernitas, yang terlimpah antara desa lawan kota, buta huruf lawan pendidikan, kepasrahan lawan ambisi, atau kesalehan lawan kemungkaran.

Versi kesalehan kemudian disifati dengan sikap selektif dan reaktif, didesain untuk memberlakukan kembali nilai dan norma yang dihubungkan dengan tradisi tak bercacat yang diyakini berlaku pada masa lalu. Mentalitas kesalehan ini adalah antipermisif dan memperhadapkan secara keras segala asusila. Ia terpancung untuk melakukan aksi sapu bersih dalam segala hal termasuk terhadap apa yang disebut penyakit sosial. Yang terjadi kemudian, tak ada pemisahan antara yang diny (ajaran keagamaan) dan mana yang tarikhi atau tsaqafi (historis-kultural). Diktum amar ma'ruf nahy munkar lebih ditafsir sebagai upaya mencari kebenaran dengan kekerasan. Suatu tindakan yang mengingatkan kembali pada kelompok Khawarij yang muncul pada awal-awal sejarah Islam.

Fikih penggerebekan

Apakah boleh menggerebek dan merusak lokasi-lokasi kemungkaran? Syeikh Ibrahim bin Amir al-Ruhaili dengan tandas mengatakan, tidak boleh! Bahkan ini termasuk kemungkaran tersendiri. Mengubah kemungkaran dengan kekuatan tangan merupakan hak waliyul amr (pemerintah). Tindakan melampaui batas yang dilakukan sebagian orang terhadap tempat maksiat dengan menghancurkan dan membakar, atau juga pemukulan, merupakan kemungkaran tersendiri, dan tidak boleh dilakukan.

Para ulama telah sepakat masalah mengingkari dengan kekuatan tangan merupakan hak penguasa. Sabda Nabi Muhammad, "Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya."

Makna kemampuan dalam hadits ini, bukan seperti yang dibayangkan kebanyakan orang, yaitu kemampuan fisik untuk memukul atau membunuh, tetapi kemampuan syar'iyah. Yang berhak melakukan, orang yang punya kemampuan syar'iyah. Yaitu, pengingkaran terhadap mereka tak akan menimbulkan kemungkaran lain. Orang yang melihat pelaku kemungkaran hendaknya lapor ke polisi, atau para ulama, atau dai, untuk selanjutnya diserahkan kepada yang memiliki wewenang. Dengan penyelidikan saksama akan dapat diatasi dengan cara yuridis.

Menurut Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa''l Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, kekerasan yang tak membuahkan kemaslahatan dan hanya melahirkan yang lebih buruk tak boleh digunakan karena yang harus dilakukan adalah dengan hikmah. Penghukuman hanya boleh dilakukan para penguasa. Manusia biasa hanya bertugas menjelaskan kebenaran dan mengingkari kemungkaran. Mengubah kemungkaran, lebih-lebih dengan tangan, ini dibebankan kepada para penguasa. Merekalah yang berkewajiban mengubah kemungkaran sejauh kemampuan karena mereka yang bertanggung jawab terhadap perkara ini.

Jika seseorang ingin mengubah kemungkaran dengan tangannya setiap kali melihat kemungkaran, ini akan melahirkan kerusakan. Yang tepat, harus mengikuti hikmah dalam perkara ini. Kata Syeikh Utsaimin, "Anda bisa mengubah kemungkaran di rumah yang di bawah kekuasaan Anda, tetapi mengubah kemungkaran di pasar dengan tangan, bisa menimbulkan hal yang lebih buruk daripada kemungkaran tersebut. Dalam kondisi seperti ini, hendaknya Anda menyampaikan kepada yang mempunyai kemampuan untuk mengubah kemungkaran di pasar."

Hukum yang benar—menyitir Muhammad al-Ghazali, tokoh Ikhwanul Muslimin Mesir—mesti jadi sarana dakwah Islam, bukan sebagai penopang fatwa-fatwa parsial yang justru membuat orang-orang Islam sendiri yang berbuat dosa dan maksiat lari dari tobat dan hidayah. Fatwa sebagai salah satu produk hukum sesungguhnya tidak mempunyai kekuatan yang mengikat (ghairu mulzimah). Apalagi, fatwa yang menyeru pada terorisme, kekerasan atau pula aksi gerebek dan main hakim sendiri jelas akan berbenturan dengan nilai-nilai universal Islam (al-mashalih al'ammah) yang menjadi tujuan ideal syariat Islam (maqashid al-syari'ah).

Walhasil, jelaslah hukum Islam telah mengatur segala tindakan secara bijak dan elok. Prinsipnya, Islam melarang sikap semena-mena. Pada zaman globalisasi ini, agama sudah sepatutnya mau hidup berdampingan dengan realitas lain, dan Islam bisa menjadi agama yang ikut menegakkan kemanusiaan di masa depan.

Said Aqiel Siradj Ketua Umum PBNU

: TUNTUNAN Menjauhi Sikap Malas



Yusuf Assidiq

Sikap lemah dan malas mendekatkan diri pada pintu amal setan.



''Seandainya...''  Kata ini begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari. Disadari atau tidak,  sebagian besar orang  boleh jadi biasa mengucapkannya, ''Seandainya aku melakukan begini, tentunya begini dan begini, tidak begini...''

Nabi Muhammad SAW ternyata tak menyukai umatnya mengumbar kata-kata ''seandainya''. Bahkan, dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya, kalimat lau (seandainya) membawa kepada perbuatan setan.''

Syekh Shaleh Ahmad asy-Syaami, menjelaskan, kata ''seandainya'' tidak membawa manfaat sama sekali. Menurutnya, meskipun seseorang mengucapkan ungkapan itu, ia tidak akan mampu mengembalikan apa yang telah berlalu, dan menggagalkan kekeliruan yang telah terjadi.

Dalam bukunya bertajuk Berakhlak dan Beradab Mulia, Syekh asy-Syaami mewanti-wanti bahwa ungkapan 'seandainya' bisa berkonotasi sebagai angan-angan semu, dan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. ''Sikap seperti ini adalah sikap yang lemah dan malas,'' ujarnya.

Bahkan, kata dia, Allah SWT pun membenci sikap lemah, tidak mampu, dan malas. Dalam hadis dinyatakan, ''Allah SWT mencela sikap lemah, tidak bersungguh-sungguh, tetapi kamu harus memiliki sikap cerdas dan cekatan, namun jika kamu tetap terkalahkan oleh suatu perkara, maka kamu berucap 'cukuplah Allah menjadi penolongku, dan Allah sebaik-baik pelindung.'' (HR Abu Dawud)

Sikap tangkas dan cerdas yang dimaksud, tutur dia, melakukan usaha dan tindakan-tindakan yang bisa membawa pada keberhasilan meraih sesuatu yang bermanfaat, baik di dunia maupun akhirat. Ini, sambung Syekh asy-Syaami,  merupakan bentuk aplikasi terhadap hukum kausalitas yang telah Allah tetapkan.

Keutaman dari sikap tangkas dan cerdas yakni bisa menjadi pembuka amal kebaikan.  Sebaliknya,  sikap lemah dan malas, seperti telah diingatkan Rasulullah SAW, hanya akan mendekatkan diri kepada setan.

''Sebab, jika seseorang tidak mampu atau malas melakukan sesuatu yang bermanfaat baginya dan masyarakat sekitar, maka ia akan selalu menjadi seseorang yang kerap berangan-angan,''  paparnya.

Perbuatan dan sikap semacam itu,  selain kontraproduktif serta tidak akan membawa pada keberhasilan, juga sama saja dengan membuka amal perbuatan setan karena pintu amal setan tidak lain adalah sikap malas dan lemah. Merekalah, tegas as-Syaami, adalah orang yang paling merugi.

Mengapa dikatakan orang yang paling merugi? Sebab, sifat malas dan lemah merupakan kunci segala bencana. Seperti misalnya, perbuatan maksiat sudah pasti terjadi karena lemahnya keimanan dan ketakwaan seseorang sehingga berani melanggar larangan agama.

Jadi, dia menambahkan, seorang hamba yang memiliki dua sifat tercela tadi, berarti ia tidak mampu melaksanakan amal perbuatan ketaatan serta tidak bisa melakukan hal-hal yang bisa membentengi dirinya dari godaan perbuatan jahat maupun maksiat.

Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Barri jilid XI menggarisbawahi, apabila penyakit hati  itu telah menjangkiti manusia, maka ia akan mulai mendekati larangan Allah. Dia pun menjadi enggan untuk bertobat.

Untuk itu,  Nabi SAW memberikan tuntunan doa bagi umatnya agar terhindar dari dua jenis sifat tercela tadi. Rasulullah SAW berdoa, ''Ya Allah, hamba meminta perlindungan kepada-Mu dari kecemasan dan kesedihan.''

Cemas dan sedih, keduanya juga bersumber dari malas dan lemah. Karena, apa yang telah terjadi, tidak mungkin diubah atau dihapus hanya dengan kesedihan, namun yang perlu dilakukan adalah menerimanya dengan kerelaan, sabar dan iman.

Demikian pula sesuatu yang mungkin terjadi di waktu mendatang, juga tidak mungkin dapat diubah atau dihapus hanya dengan kecemasan atau kekhawatiran. Maka itu, seseorang harus selalu siap membekali diri dengan sikap-sikap yang baik untuk menghadapi segala kemungkinan.

Oleh karenanya, Islam sangat menjunjung tinggi optimisme, kerja keras, dan berusaha sekuat tenaga. Jiwa seorang Muslim sejati adalah yang meyakini bahwa rezeki Allah SWT sangatlah berlimpah, dan disediakan bagi siapapun yang mampu menggapainya dengan semangat dan etos kuat.

''Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.'' (QS al Jumu'ah [62] : 10)

Ada perbedaan antara harapan dan angan-angan. Harapan selalu dibarengi dengan usaha, sementara angan-angan atau kemalasan hanyalah angan-angan kosong. Semoga kita dijauhkan dari sifat malas.