: Semangat Berkurban Rakyat Kecil

Oleh Ahmad Syafii Maarif
 
Saat publik Indonesia merasa jijik membaca berita tentang kunjungan anggota Dewan Kehormatan DPR untuk belajar etika ke Yunani, sebuah negara yang hampir gagal dengan tingkat korupsi dan praktik upeti yang marak, cerita di bawah ini barangkali dapat sedikit menyentuh nurani kita tentang bagaimana tingginya semangat berkurban rakyat kecil. 

Cerita ini saya peroleh dari seorang sopir taksi Primkopad (Primer Koperasi Angkatan Darat) bernama Daliman (46) yang mengantarkan saya ke Bandara Adisutjipto, Jogjakarta, pada 23 Oktober 2010. Ini untuk kedua kalinya saya bersamanya. Sekitar 30 menit dalam perjalanan, Bung Daliman terus saja bercerita, sesekali saya sela dengan pertanyaan. Bagi saya info yang disampaikan dengan cara yang sangat lugu itu sungguh mengharukan, teramat dalam pesan moral yang disimpannya.

 Adalah Desa Pentung, Seloharjo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Jogjakarta, desa asal Daliman. Sebagian besar penduduknya terdiri atas buruh tani dengan tingkat pendapatan yang serbaminim. Istri Bung Daliman adalah salah seorang dari penduduk dalam kategori itu, sosok pekerja keras, sedangkan Daliman sendiri, mantan penarik becak selama delapan tahun, sekarang naik pangkat sebagai sopir taksi. 

Penghasilannya berkisar Rp 1.000.000 s/d Rp. 1.500.000 per bulan yang diterimanya dengan penuh kepasrahan. Itu jika ia selalu sehat sepanjang bulan. Coba bayangkan, seorang Daliman harus menyopir  selama 10 tahun untuk menandingi besarnya uang saku anggota DPR yang sedang perlisir ke Yunani, hanya dalam beberapa hari.

Tetapi, Anda jangan memandang enteng rakyat Desa Pentung ini. Laki-laki dan perempuan punya adat menabung melalui arisan dalam menghadapi Idul Qurban. Saat Daliman mengatakan bahwa kaum perempuannya menabung  hanya sebesar Rp 2000 per bulan, batin saya menjerit, sedangkan kaum bapak sebesar Rp 15.000, demi menyongsong Idul Qurban. Melalui undian dalam bentuk arisan, maka muncullah pemenang untuk dibelikan sapi dan kambing. 

Adat ini bergulir setiap tahun. Untuk Idul Qurban 1431 H yang jatuh pada 17 November tahun ini sudah tersedia seekor sapi seharga Rp 9.000.000, kambing menyusul, biasanya bergerak antara delapan sampai 12 ekor. Saya kehabisan kosakata untuk mengomentari jumlah sebesar ini di desa miskin itu. 

Di desa saya Sumpur Kudus (Sumatra Barat), kerelaan berkurban ini barulah gejala abad ke-21, sebelumnya tak terdengar, padahal penduduknya sebagian besar masih punya sawah, sebagian bahkan punya kebun karet, coklat, kopi, dan lain-lain. 

Menimbang fenomena kerelaan berkurban rakyat kecil ini, terasa bahwa tingkat keimanan saya berada di bawah mereka. Dalam kemiskinan mereka melaksanakan kurban dengan cara bergantian, entah berapa lama seseorang harus menanti giliran. Allah Mahatahu apa yang bergolak di hati rakyat kecil itu, saya merasa malu. 

Pengetahuan agama mereka tentu tidak jauh, tidak sampai belajar ke Chicago atau ke Kairo, tetapi dalam hal berkurban, saya bertekuk lutut. Saya tidak bertanya tentang siapa yang berinisiatif pertama kali merancang praktik keagamaan yang teramat mulia ini. 

Desa lain yang jumlahnya ribuan di seluruh nusantara mungkin dapat mencontoh sikap keberagamaan umat Islam Desa Pentung ini. Dan siapa tahu pula, uang saku anggota DPR Muslim yang sedang melakukan "studi banding" ke Yunani sebagian akan disalurkan ke desa-desa miskin dalam suasana 'Idul Qurban 1431 H yang sebentar lagi kita rayakan.

3 komentar:

Herman Trallalla mengatakan...

subbhannallah....!

Herman Trallalla mengatakan...

subbhannallah....!

Ginny Laura mengatakan...

Artikel ini sangat bermanfaat.
Sambil baca artikel ini, Aku numpang promosi deh !
Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

Posting Komentar