: Menjaga Niat dalam Berdakwah

Oleh Hj Yuyu Yuhanah


Niat adalah hal fundamental bagi setiap Muslim ketika mengerjakan sesuatu. Segala sesuatunya sangat bergantung pada niatnya. Manusia yang mendirikan masjid tapi niatnya untuk pamer, maka hal itu tidak akan bernilai ibadah. Tapi, sedekah seratus rupiah, jika dilandaskan pada niat ikhlas dan keridhaan Allah, niscaya akan bernilai ibadah di sisi Allah.

Hal ini perlu ditegaskan, karena kini semakin banyak yang melakukan kebajikan namun tujuannya bukan untuk mendapatkan ridha Allah SWT, melainkan pujian manusia, karena gengsi, jabatan, dan ingin menunjukkan eksistensi bahwa dirinya orang baik.

"Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia diniatkan. (HR Bukhari).

Dalam hadis lain, Rasul SAW bersabda, "Seandainya dunia ini ditimbang, maka nilainya di sisi Allah sama seperti salah satu sayap nyamuk. Allah tidak akan memberikan di dunia ini, walaupun seteguk air, untuk orang-orang yang ingkar." (HR Tirmidzi, no 2242, shahih gharib).

Rasulullah SAW menceritakan pengalaman generasi sebelumnya dalam berdakwah. Mereka ada yang digergaji, tetapi mereka tetap sabar. Mereka rela mengorbankan kehidupannya demi tegaknya dakwah Islam, bukan untuk pamer. Ini semua dikisahkan Rasul SAW, untuk meneguhkan hati umat Islam agar tabah dan ikhlas dalam beramal. Keikhlasan mereka harus dilandasi dengan niat yang suci dan tawakal kepada Allah.

Apa yang membuat para sahabat bisa tangguh di jalur dakwah Islam? Husnu tsiqah dan bersandar terus kepada Allahlah yang memberikan ketenangan kepada mereka semua untuk terus maju melangkah. Seorang tabi'in berkata, "Ayahku bercerita kepadaku, 'Aku melihat Romawi menjatuhkan Persia, kemudian aku melihat pula Persia menjatuhkan Romawi. Dan, akhirnya aku melihat Islam meruntuhkan kedua-duanya hanya dalam waktu 15 tahun'."

Begitulah capaian dakwah yang diusung oleh dai-dai yang ikhlas, teguh dalam memegang perjanjiannya dengan Allah, dan beramal secara kontinu tiada henti. Itulah buah dari kekuatan iman. "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kekhawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya." (HR Bukhari).

Penghapusan dosa itu lebih baik daripada sekadar mendapat jabatan dunia yang sifatnya sementara. Khairun min ad-dunya wa maa fiiha (lebih baik dari dunia dan seisinya). Semoga kita semua, senantiasa mampu menjaga niat dalam menegakkan agama Allah.

0 komentar:

Poskan Komentar