: mualaf: Syekh Hamza Yusuf, Menemukan Islam Lewat Makna Kematian


Beberapa hari setelah serangan terhadap menara kembar World Trade Center (WTC) di New York, seorang agen Biro Penyelidik Federal (FBI) Amerika Serikat menelepon rumah Syekh Hamza Yusuf dengan alasan yang hingga kini belum jelas. "Dia tidak di rumah," kata sang istri. "Saat ini, dia sedang bersama Presiden George W Bush."

Tapi, agen FBI tadi tidak begitu saja percaya. Maka, dia segera menghubungi Gedung Putih untuk mengonfirmasi. "Benar. Beliau berada di sini (Gedung Putih)," jawab petugas keamanan kepresidenan di ujung telepon sana. Setelah itu, sang agen tidak pernah lagi menelepon kediaman Syekh Hamza.

Ya, Syekh Hamza Yusuf memang bersama presiden Bush saat itu. Dia datang ke Gedung Putih sebagai perwakilan dari masyakarat Muslim AS bersama sejumlah tokoh lintas agama untuk memberikan masukan serta pemikiran kepada presiden terkait penyikapan terhadap insiden yang terjadi.

Seperti dilaporkan situs The Guardian, Syekh Hamza sempat mengingatkan Presiden Bush bahwa respons Pemerintah AS dengan menggelar pengamanan bertajuk Operation Infinite Justice --yang berterminologi militer-- sangat menyakiti hati umat Muslim. Presiden Bush mendengarkan masukan ini.

Menurut Syekh Hamza, dirinya sangat menyayangkan bahwa Pentagon, sebagai pihak yang memilih tajuk operasi pengamanan itu, kurang memahami masalah ini karena tidak memiliki staf yang memahami isu-isu keagamaan. Atas keberatan tersebut, Pemerintah AS pun mengganti sebutan tadi.

Syekh Hamza Yusuf, yang juga dikenal dengan Imam Hamza Yusuf, bukanlah orang sembarangan. Di AS, dia merupakan salah seorang cendekiawan, ulama, dan tokoh Muslim AS yang sangat disegani. Kiprahnya tidak hanya pada bidang agama, namun juga pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Inilah yang membuat Pemerintah AS memilihnya untuk mewakili umat Muslim dan bertemu dengan presiden George W Bush.

Ketika gencar sorotan terhadap umat Islam usai kejadian 11 September 2001, Syekh Hamza berdiri di baris depan sebagai tokoh yang gencar menentang cara-cara kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Maka itu, pemikirannya kerap berseberangan dengan sebagian kalangan yang beraliran radikal.

Dalam berbagai kesempatan, Syekh Hamza senantiasa memperingatkan umat Muslim agar memahami Islam dengan baik, kembali kepada akidah yang murni, serta menjauhi jalan kekerasan, intoleransi, dan kebencian. "Ini harus menjadi perhatian umat Islam dan harus menjadi bagian hidupnya kendati dia tinggal di negara non-Muslim dan kerap mengalami diskriminasi. Tunjukkan bahwa Islam itu ramah dan toleran," tegasnya.

Pemikirannya ini tentu tidak bisa dilepaskan dari latar belakang keislamannya. Di sini, mungkin orang akan kaget ketika mengetahui bahwa sejatinya Syekh Hamza adalah mualaf. Pria kelahiran Wala-wala, negara bagian Washington, tahun 1960 itu bernama asli Mark Hanson.

Orang tuanya merupakan dua akademisi ternama di AS. Ayahnya adalah profesor bidang filosofi, sementara ibundanya adalah pakar bidang lingkungan. Tak heran bila jiwa kecendekiawanan sudah mengalir dalam darahnya.

Masa kecil Mark Hanson pun dilingkupi semangat pendidikan serta ilmu pengetahuan. Saat beranjak dewasa, dia dimasukkan ke sekolah Kristen. Hingga pada suatu hari, tahun 1977, usianya sekitar 17 tahun, Mark mengalami kecelakaan hebat. Kepalanya terbentur keras yang hampir saja merenggut nyawanya.

Mark tak pernah melupakan peristiwa itu. Dia merenung, yang pada akhirnya membawa dirinya tertambat pada satu pertanyaan krusial tentang kematian. "Saya merasa mengalami konfrontasi dengan kematian. Inilah yang membuat saya melakukan refleksi diri, introspeksi, dan menyelami lebih dalam tentang kematian. Apa dan bagaimana sesudah mati," kata Syekh Hamza dalam laman pribadinya.

Pergulatan itu yang terjadi pada diri Syekh Hamza. Introspeksinya lantas bersinggungan dengan unsur agama, yang dari pengakuannya, hal itu tidak bisa terhindarkan manakala dia pernah mendalami agama di sekolah seminari. Dari situlah, ayah lima anak ini memulai pencariannya akan makna kematian.

Mark Hanson menggali berbagai hal mengenai kematian dan kehidupan setelah mati dari Injil dan literaturliteratur Nasrani lainnya. Cukup lama waktu yang dihabiskannya, namun belum juga merasa tercerahkan dan menemukan jawaban dari keingintahuannya. Dia pun memutuskan mempelajari dari sumber agama lain, termasuk Islam, sebagai perbandingan.

Dan, Islam-lah yang membuatnya takjub. Syekh Hamza menguraikan, "Tidak ada penjelasan lebih detail dan mendalam menyangkut hal-hal yang terjadi setelah kematian seperti tercantum dalam literatur Islam. Ini sungguh menakjubkan.

"Islam sangat jelas menguraikan berbagai hal mengenai kematian dan setelahnya. Misalnya, di alam kubur manusia harus menghadapi pertanyaan dari malaikat, adanya hukuman atau pahala bagi tiap-tiap manusia sesuai amal perbuatan, hingga penghitungan di Padang Mahsyar. Sulit menemukan yang terperinci ini dalam agama lain. Islam telah memberikan jawaban yang sangat mencerahkan," papar Syekh Hamza.

Apa yang dia tangkap dari ajaran Islam tentang kematian adalah kehidupan di dunia hanya sementara. Adapun manusia akan mengalami momen yang lebih kekal di akhirat kelak. Jadi, dari perspektifnya, apa yang dilakukan semasa di dunia haruslah berorientasi pada pembekalan diri untuk bersiap memasuki alam akhirat.

Ketertarikannya terhadap Islam semakin besar. Namun, semakin dia belajar tentang Islam, semakin dia mengetahui ada aspek tertentu dari agama ini yang membuatnya harus merenung. Saat itu, pada akhir tahun 70-an, sedang timbul ketegangan di Iran usai tumbangnya rezim Shah hingga menyeret Islam pada stereotipe negatif di kalangan Barat.

Mark Hanson gundah gulana. Untuk satu waktu, dia mengaku tidak ingin menjadi Muslim. Akan tetapi, dia tidak bisa menelikung batinnya untuk terus mendalami agama Islam. "Alhamdulillah, saya telah berulang kali menemukan kebenaran dalam hidup dan kini saya harus memilih, meninggalkan atau menjadi seorang Muslim. Atas rahmat Allah, saya memilih Islam," ujar dia.

Usianya ketika itu belum genap 18 tahun. Namun, Mark sudah berketetapan hati. Dia mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmilah menjadi seorang Muslim. Apa yang dilakukannya setelah itu? Mark langsung mengambil Alquran terjemahan dan membacanya terus-menerus. "Sebelumnya, saya tidak pernah membaca Alquran. Begitu membaca beberapa ayat, saya semakin mantap dengan keyakinan saya," tegas Syekh Hamza.

Rasa hausnya akan ilmu agama semakin membuncah. Meski demikian, Mark merasa tidak akan banyak hal yang bisa diperoleh jika terus tinggal di Amerika. Oleh karena itu, dia memilih meneruskan studinya di Inggris.

Menimba ilmu Di negara Eropa tersebut, Mark bergabung dengan komunitas Muslim setempat dan menimba pengetahuan tentang ilmu dan tradisi Islam. Tapi, dia ingin memperoleh lebih, kali ini keinginannya adalah belajar bahasa Arab dan itu harus dicapainya di sumbernya langsung, yaitu dunia Arab.

Kesempatan langka didapat saat bertemu Syekh Abdullah Ali Mahmoud, seorang faqih dan alim sekaligus tokoh spiritual dari Uni Emirat Arab. Melihat semangat Mark yang meletup-letup untuk belajar bahasa Arab dan agama, Syekh Abdullah bersedia memfasilitasinya untuk belajar di UEA.

Sejumlah madrasah terkenal tercatat pernah menjadi tempatnya menekuni agama dan bahasa, seperti Ma'had al Islami, Islamic Institute di al-Ain, dan lainnya. Di samping itu, sederet ulama berpengaruh pun pernah menjadi gurunya, misalnya Syekh Ahmad Badawi untuk ilmu hadis, Syekh Hamid untuk bahasa Arab, Syekh Abdullah Ould Siddiq untuk bidang ilmu fikih, serta masih banyak lagi.
------------------------------------------------------------------------------------
Lucy Bushill-Matthews: Kegelisahan Hati Sang Putri Inggris
Ia tertarik dengan Islam karena sikap pemeluknya yang santun dan terbiasa dengan hidup sehat.

Menjadi mualaf di negara mayoritas non-Muslim, dibutuhkan perjuangan dan kesabaran ekstra untuk menghadapi setiap tantangan. Bila tak kuat, bukan tak mungkin, Islam hanya akan menjadi olok-olokan dan cemoohan banyak orang. Namun, bila berhasil menaklukkan tantangan itu, cahaya Islam akan senantiasa menyinari setiap sanubari manusia.
Situasi seperti inilah yang dialami Lucy Bushill-Matthews, perempuan asli Inggris yang telah menjadi Muslimah selama 16 tahun. Perkenalan Lucy dengan Islam terbilang sangat sederhana. Dalam buku memoirnya yang berjudul Welcome to Islam, ibu dari tiga orang anak ini menuturkan kisah perjalanan hidupnya dalam menemukan Islam.

Saat itu, usianya baru menginjak 16 tahun. Oleh kedua orang tuanya yang asli Inggris, ia dimasukkan ke sekolah berasrama (boarding school) tradisional Inggris.

Sebelumnya, Lucy selalu menempuh pendidikan di sekolah khusus perempuan yang siswanya beragama Kristen. Di sekolah baru ini siswanya campur, laki-laki dan perempuan.

Saat mengenyam pendidikan di sekolah barunya inilah, Lucy berkenalan dengan Julian, seorang pemuda Muslim berdarah campuran Inggris-Iran. Secara fisik, sosok Julian tak ada bedanya dengan pemuda Inggris lainnya.

Namun, perilaku dan kebiasaan Julian, membuat Lucy tertarik. Julian tidak pernah minum minuman yang mengandung alkohol. Bahkan, segelas anggur pun tak akan disentuhnya. Kebiasaan ini tentu saja berbeda dan terlihat aneh dengan kebiasaan remaja Inggris, yang senantiasa menghabiskan akhir pekan dengan minuman keras dan mabuk-mabukan.

Perilaku Julian yang dianggapnya 'tidak wajar' ini membuat Lucy ingin mengetahui lebih jauh tentang sikapnya. Maka itu, pertemanannya dengan Julian, ia manfaatkan untuk bertanya tentang sikapnya dan Islam. Dari penjelasan-penjelasan yang diberikan Julian, membuat Lucy makin tertarik dengan ajaran yang dianut Julian.

Perlahan-lahan, Lucy mempelajari Islam dari berbagai buku dan orang Muslim di Inggris. Di waktu luang, Lucy mulai berani berkunjung ke sebuah masjid dekat Regent's Park, London.

Penjaga masjid mengajaknya berkeliling masjid. Di akhir kunjungan, dia diberi buku berjudul What Everyone Should Know about Islam and Muslims. Buku tersebut, menurut Lucy, bisa menjawab beberapa pertanyaan yang selama ini berkecamuk di hatinya.

''Sebelum meninggalkan masjid, sekilas aku melihat tempat berdoa di dalam masjid. Tidak ada furniturnya, hanya ada karpet dari tembok ke tembok dan beberapa orang tampak sedang membaca doa dalam hati. Kulihat mereka tenang dan penuh pengharapan memanjatkan doa,'' papar Lucy mengenang pengalaman pertamanya mengunjungi masjid.

Ketertarikannya untuk mengenal tentang Islam lebih jauh semakin kuat, manakala ia dan seorang temannya mendapat undangan makan malam dari sebuah keluarga Muslim berkebangsaan Israel. Saat itu, Lucy tengah mengikuti program kerja remaja Inggris pada sebuah komunitas Yahudi (kibbutz) di bagian utara Galilee di Israel.

Keluarga Muslim yang mengundangnya makan malam, jelas Lucy, adalah sebuah keluarga sederhana bahkan bisa dibilang memiliki kehidupan yang tergolong miskin.

''Mereka hanya punya dua ekor ayam di pekarangan mereka. Dan, mereka memotong satu ayam itu untuk kami. Kami menyantap hidangan yang sangat lezat dan tidak memberi mereka apa pun,'' ujarnya.

Sekembalinya ke Inggris, ketertarikan Lucy terhadap Islam semakin kuat. Untuk menambah keyakinannya tentang Islam, Lucy memutuskan untuk bergabung dengan perkumpulan mahasiswa Muslim di lingkungan kampusnya, Universitas Cambridge. Padahal saat itu, ia belum memeluk Islam.

Lucy pun semakin giat mempelajari Islam dari berbagai buku bacaan, yang banyak mengulas ajaran Islam dan komunitas Muslim. Salah satu buku yang dibacanya adalah Islam: Beliefs and Teachings karya Sarwar G.

''Ibadah Muslim mulai sedikit masuk akal bagiku begitu aku tahu artinya dalam bahasa Inggris. Ikrar keimanan harus diucapkan berulang kali, setiap shalat lima waktu. Berpuasa satu bulan dalam setahun. Menyumbangkan hartanya sekali setiap tahun, dan mengunjungi Makkah sekali seumur hidup. Muslim boleh beribadah lebih dari semua itu, tetapi tak boleh mengurangi kewajiban pokok itu,'' papar Lucy mengenang perkenalannya dengan ajaran Islam.

Menjadi Muslimah
Puncak di cinta ulam pun tiba. Bila hati sudah semakin mantap, apa pun tak akan mungkin melepaskannya. Begitulah kata pepatah. Ungkapan ini layak disematkan pada Lucy.

Suatu malam di bulan November 1991, Lucy tak bisa tidur nyenyak. Dia merasa gelisah. Kegelisahannya karena memikirkan tentang Tuhan. Berkali-kali ia membolak-balikkan badan dan berusaha memejamkan mata, tetap saja ia tak bisa tidur. Seakan-akan ada yang mengawasinya.

''Aku terjaga semalaman dengan pikiran berkecamuk tak henti-hentinya dalam kepalaku. Aku percaya pada Tuhan. Tuhan yang Serbatahu dan Mahakuat. Jika Tuhan Mahakuat, Dia pasti ada di mana-mana, dan itu berarti Tuhan juga bersamaku, saat ini. Jadi, Tuhan bisa melihatku dan Tuhan bisa melihat pikiran terdalamku. Itu benar-benar kabar buruk,'' ujarnya menceritakan pengalaman yang terjadi di awal semester tahun keduanya di Cambridge.

Kegelisahannya itu membawanya untuk semakin dalam mempelajari Islam. Dan akhirnya, saat kemantapan hati itu semakin kuat, Lucy pun berikrar untuk menjadi seorang Muslim. Walau belum resmi, ia pelan-pelan mempelajari shalat.

Setelah benar-benar yakin, ia pun mengumumkan jati diri keislamannya seminggu kemudian. Bertempat di kamar asrama dan disaksikan sejumlah rekan-rekan sekampus, Lucy mengucapkan dua kalimat syahadat. ''Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah rasul Allah.''

Kabar keislamannya pun segera menyebar ke segenap kampus. Teman-temannya yang non-Muslim pun semakin banyak yang mengetahuinya. Maka, saat itu, Lucy resmi menyandang status Muslimah.

Orang tuanya baru mengetahui kabar keislamannya, ketika Lucy menyampaikan kepada mereka di saat liburan semester. Beruntung Lucy memiliki keluarga yang egaliter dan demokratis. Sang kakak, Julie, memberinya dukungan dan bersikap positif dengan keputusan Lucy menjadi Muslim.

Sementara itu, ayahnya berpikir bahwa apa yang terjadi pada Lucy hanyalah sebuah fase dalam kehidupan putrinya. Hanya sang ibu yang sempat kaget mengetahui anaknya memilih menjadi Muslimah. ''Bagaimana mungkin anaknya menjadi Muslimah?'' Mungkin begitulah bayangan yang ada dalam pikiran ibunya saat itu.

Lucy nyaris bimbang. Di satu sisi, ia tidak ingin menyakiti dan menghancurkan hati ibunya. Apalagi, di Alquran dalam surah Al-Ahqaf ayat 15 disebutkan bahwa manusia hendaknya senantiasa berbuat baik kepada ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya selama sembilan bulan, dan melahirkannya dengan susah payah. Namun, apa hendak dikata, Lucy tetap mantap memilih Islam sebagai agama barunya. Dan, ia tetap menjalin hubungan baik dengan kedua orang tuanya, termasuk ibu yang sangat dicintainya.
Baginya, ibu adalah orang yang wajib dikasihi. Namun, ia juga sudah jatuh cinta dengan Islam. Dan, Islam mengajarkan untuk senantiasa mengajarkan pemeluknya menghormati kedua orang tua, kendati mereka berbeda agama.ed: sya

Hari-hari yang Penuh Tantangan

Sebagai mualaf, Lucy sangat serius menekuni ajaran Islam. Dia belajar shalat, mengenakan kerudung (jilbab), dan meninggalkan semua hal yang tidak diperbolehkan (dilarang) dalam ajaran Islam. Seperti, tidak mengonsumsi daging babi, minuman beralkohol, dan menghindarkan diri berduaan dengan yang bukan muhrimnya.

Kebiasaan yang tak umum ini, awalnya sangat sulit ia lakukan. Pasalnya, hal itu sudah merupakan kebiasaan sehari-hari. Bahkan, menurut adat istiadat dan budaya Barat, kebiasaan mengonsumsi minuman keras dan makan daging babi adalah sesuatu yang biasa saja. Lucy pun harus berhadapan dengan kebiasaan yang tak lazim ini di tengah kehidupannya sehari-hari.

Seperti, ketika ia memutuskan untuk menikah dengan Julian, di usianya yang masih terbilang muda, 19 tahun. Sebagaimana layaknya setiap pesta dalam kultur Barat yang wajib ada alkohol, tapi kini harus dihindari. Begitu juga, dengan makanan yang tersedia hanya yang terbuat dari bahan-bahan yang halal.

Benturan juga terjadi manakala Lucy harus memilih busana pengantin. Model yag ditawarkan selalu dengan bagian dada dan punggung terbuka. Sementara itu, ia menginginkan sebuah busana pengantin yang serba tertutup dan dilengkapi dengan kerudung. Hal ini sempat menimbulkan pertentangan antara Lucy dan sang ibu. Namun, Lucy sudah mantap untuk meyakinkan ibunya bahwa baginya hal itu adalah yang terbaik dan sesuai dengan ajaran Islam, yang telah menjadi keyakinannya.

Berbagai benturan lainnya, banyak ditemui Lucy takkala ia memasuki dunia kerja selepas menamatkan pendidikan di Cambridge. Setelah lulus kuliah, Lucy diterima bekerja di sebuah perusahaan consumer goods multinasional sebagai analis keuangan. Sebagai penganut agama minoritas di Inggris, kantornya tak menyediakan tempat shalat. Lucy lalu menyiasatinya dengan menumpang di ruang kesehatan untuk melakukan shalat. Saat ada pasien, sebagai gantinya ia kerap menggunakan ruangan bosnya untuk tempat shalat.

Demikian juga, ketika jam makan siang tiba. Menu nonhalal yang banyak disediakan oleh pihak pengelola kantin kantor, membuatnya harus memesan makanan terpisah, tanpa babi. Belum lagi, berbagai pertanyaan aneh dari para rekan kerjanya yang bingung melihat Lucy berkerudung.

0 komentar:

Posting Komentar