: Di Mata Allah

Di mata Allah, semua hamba-Nya adalah sama. kecuali derajat keimanannya, dan amal soleh yang diperbuatnya. sama halnya seorang pelukis yang melihat lukisannya hanya sebagai karya.. benda tak bernyawa yang mungkin berharga, tapi tak berdaya. sama halnya seorang pemahat yang melihat patung pahatannya sebagai objek.. benda yang tak bicara. meskipun indah dipandang mata, tapi tak punya kuasa. jadi apalah kita ini? yang lemah segala-galanya di dalam pandangan-Nya. saya sering terheran-heran sama orang yang begitu pongahnya.. begitu angkuhnya.. merasa dirinya lebih dari yang lain hanya karena hal-hal berbau fisik dan materiil yang bersifat simbolis. kecantikan.. ketampanan.. kepintaran.. kekayaan.. kekuasaan.. padahal semua itu pun hanyalah titipan-Nya, bukan sebenar-benarnya milik kita. sama seperti jika kita memiliki boneka, atau miniatur orang. ketika mereka (dengan peran yang kita berikan, dan tangan kita pula yang menggerakan) memiliki sesutu (sebut saja rumah-rumahan atau mobil-mobilan), maka rumah atau mobil itu bukan sebenar-benarnya milik mereka (boneka atau orang-orangan itu. red). karena sesungguhnya rumah-rumahan dan mobil-mobilan itu adalah milik kita. kita yang membuatnya menjadi milik si orang-orangan tersebut. bahkan orang-orangan itu pun adalah milik kita. kita yang membuat ceritanya.. kita yang menentukan semuanya. tapi mungkin orang-orangan itu (jika ia bernyawa dan bisa berpikir) tidak menyadari bahwa ia hanyalah sesuatu yang tidak berdaya dan tak punya kuasa. bahwa segala sesuatu yang terjadi padanya hanyalah karena kita yang membuatnya seperti itu. seperti itulah jalan hidup kita.. selemah itu pulalah kita. kita cuma memainkan peran yang telah diberikan oleh-Nya. kita cuma menjalankan skenario yang telah ditentukan oleh-Nya. bahkan diri ini pun bukan sebenar-benarnya milik kita. kita sering merasa terlalu percaya diri atas apa yang kita punya dan atas apa yang kita bisa. padahal itu semua adalah Allah yang mengaturnya.

bedanya kita sama orang-orangan dan boneka tadi, kita dikasih kesempatan sama Allah. kesempatan untuk apa? kesempatan untuk mendapat reward dan privillage-Nya.reward dari-Nya berbentuk pahala, dan privillage dari-Nya berbentuk surga. di mana semua yang kita inginkan bisa terwujud nyata. bahkan hal-hal indah yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya (katanya) ada di sana. semua itu bisa kita dapat dengan menjalani hidup yang dianugerahkan dengan sebaik-baiknya. di mana dalam hidup, alam adalah sekolah kita. setiap hal yang kita temui adalah guru bagi kita. dan Allah adalah pemegang kekuasaan tertinggi atas kita. so.. bukan apa profesi kita, apa gelar kita, berapa banyak harta yang kita punya, seberapa cantik kita, seberapa tampan kita, kekuasaan apa yang kita punya, atau-apapun-itulah yang membuat kita berharga. yang membuat kita manusia seutuhnya.. tapi seberapa berhasil kita menjawab tantangan hidup yang diberikan Allah pada kita. semua orang memiliki kesempatan yang sama. pemulung, dokter, petani, presiden, guru, pengusaha, artis, model.. anak-anak, remaja, orang dewasa, orang tua.. perempuan, laki-laki.. lulusan sd, lulusan smp, lulusan smu, sarjana, master, doktor, profesor, hanya lulus tk, bahkan tidak sekolah sekali pun.. semua punya kesempatan yang sama pada bidangnya masing-masing. Allah tidak sedangkal itu menilai hamba-Nya. Dia memiliki sistem penilaian yang rumit yang berbeda-beda setiap orangnya. tidak sesederhana yang kita imajikan..dan hanya Dia yang tahu, juga berhak memberikan keputusan. tugas kita: belajar. dengan kehidupan sebagai sekolah dan guru terbaik yang harus kita jawab setiap tantangannya hingga kita lulus di dalam pandangan-Nya.mr

0 komentar:

Posting Komentar