: Allah Tdak Tidur

Oleh : Muhtadi Kadi

Alkisah, Abdullah bin Umar pergi ke sebuah desa. Di sana, Abdullah bertemu dengan teman-temannya. Kemudian, mereka sibuk mempersiapkan hidangan makan. Tiba-tiba, ada seorang penggembala sedang berlalu di hadapan mereka. Abdullah memanggilnya, ''Ya, akhi (saudaraku--Red), marilah ke sini ikut makan bersama kami.''

''Aku puasa,'' jawab penggembala itu. Abdullah menyahut, ''Pada hari yang begini panasnya kamu berpuasa? Kamu juga menggembala banyak kambing hingga sampai ke bukit-bukit dengan berpuasa?'' Dia menjawab, ''Selagi aku masih punya kesempatan untuk berpuasa, aku akan melakukannya.''

Abdullah kagum dengan jawaban penggembala itu. Kemudian, Abdullah bertanya lagi untuk menguji keimanannya. ''Apakah kamu berkenan untuk menjual satu ekor dari kambingmu kepadaku? Aku akan menyembelihnya dan aku akan memasak dagingnya untuk buka puasamu.''

Dia menjawab, ''Kambing-kambing itu bukan milikku. Ia milik tuanku.'' Abdullah membujuk, ''Jika tuanmu bertanya tentang kambingnya, bilang saja kalau dimakan oleh serigala.'' Mendengar hal itu, dia pergi dengan mengangkat jari telunjuknya ke langit sambil berkata, ''Allah tidak tidur.''

Indah nian sifat si penggembala ini. Andai saja semua orang yang diberi amanah memiliki kejujuran dan keimanan seperti pengembala itu, pasti negeri ini bersih dari wabah korupsi dan kezaliman.

Itulah sifat muraqabah. Orang yang memiliki sifat muraqabah senantiasa meyakini bahwa Allah selalu mengawasinya setiap saat. Orang yang memiliki sifat muraqabahakan mengantarkan pelakunya untuk selalu mengerjakan tugas-tugasnya dengan ikhlas dan menjauhkan dirinya dari kemaksiatan serta keharaman.

Sebab, ia yakin bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban dan akan membalas segala amal perbuatannya. Rasulullah SAW bersabda, ''Telapak kaki Bani Adam tidak akan bisa beranjak dari hadapan Tuhannya, kecuali setelah ditanya tentang empat perkara. Pertama, tentang umurnya, di manakah mereka menghabiskannya. Kedua, tentang waktu mudanya, bagaimana ia melewatkannya. Ketiga, tentang hartanya, bagaimana ia mendapatkannya dan menafkahkannya. Keempat, tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkan ilmu-ilmu yang diketahuinya." (HR at-Tirmidzi).

Sejatinya, muraqabah adalah cahaya keimanan yang menyeruak dari pemiliknya. Sifat ini akan membuahkan kedamaian dan kebahagiaan tiada terkira. Karena, dia sadar bahwa dirinya selalu diperhatikan dan diawasi oleh Zat yang Mahaindah dan Mahakasih sehingga dia malu bila melanggar ajaran-Nya. Dengan demikian, dia telah sampai pada dejarat pengabdian yang tertinggi, ihsan. ''Beribadahlah kamu seolah-olah kamu melihat Allah. Dan, jika kamu tidak melihat-nya, yakinlah bahwa Allah melihatmu.''

0 komentar:

Posting Komentar