Doa-Doa Orang Beriman yang Tercantum Dalam Al-Qur'an

Ya Rabb kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. (QS. 3:192)

***
Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): Berimanlah kamu kepada Rabbmu; maka kamipun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. (QS. 3:193)

***
Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Quran dan kenabian Muhammad saw). (QS. 5:83)

***
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. (QS. 17:24)

***
Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepadamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. 40:44)

***
Dan orang-orang yang berkata: Ya Rabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. (QS. 25:65)

***
kecuali (dengan menyebut): Insya Allah. Dan ingatlah kepada Rabbmu jika kamu lupa dan katakanlah: Mudah-mudahan Rabbku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini. (QS. 18:24)

***
Ya Rabb kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. (QS. 3:192)

***

Rangkuman Oleh Ayuna Kusuma Dari AL-QUR'AN yang Hak cipta hanya milik Allah swt.

: Jangan Lalai

Oleh Fajar Kurnianto

''Dan, tetaplah beri peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.'' (QS Adz-Dzariyat: 55).
Manusia adalah makhluk yang labil. Salah satu labilitas itu adalah sering lalai. Lalai terhadap dirinya, terhadap orang lain, terhadap lingkungan, dan terhadap Tuhannya. Lalai memang manusiawi, tapi jika lalainya berkali-kali dan disengaja, ini sudah di luar batas kemanusiaan. Inilah lalai yang dilarang, yakni lalai berulang kali dan disengaja.

Dalam Alquran, Allah mengecam orang-orang lalai yang seperti itu, ''Sungguh kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. Yakni, mereka yang melalaikannya.'' (QS Al-Ma'un: 4-5).

Manusia lalai berkali-kali dan sengaja setidaknya karena beberapa alasan. Pertama,

Kedua, berpikir pragmatis dan parsial (setengah hati). Manusia memandang bahwa apa yang dilakukan adalah untuk saat ini. Itu pun untuk sesuatu yang dianggapnya memiliki keuntungan. Orang yang berpikir demikian tidak memikirkan apa yang terjadi hari esok. Dengan kata lain, ia melalaikan hari esok, hanya ingat hari ini.

Allah berfirman, ''Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang akan dilakukannya untuk esok hari.'' (QS Al-Hasyr: 18).

Lalai membuat orang tidak produktif dan progresif. Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, ''Barang siapa menghisab dirinya, maka dia beruntung. Barang siapa lalai terhadap dirinya, dia merugi.'' (Kitab Biharul Anwar).

Orang lalai memang akan selalu merugi, karena ia tidak mendapatkan apa-apa selain kalalaian itu. Ayat di atas menegaskan kepada setiap orang untuk tidak lalai karena akibat lalai yang sangat tidak membawa manfaat.

Lalai yang sering-sering tidak lagi manusiawi, tetapi merupakan penyakit akut yang harus diobati dengan peringatan yang berkali-kali. Peringatan ini disebut membawa manfaat yang itu artinya bahwa ingat itu jauh lebih membawa manfaat daripada lalai.

Jika manusia sudah lalai terhadap dirinya sendiri, maka krisis kemanusiaan sedang mengintipnya dan kehancuran tengah merayap mendekatinya. Bangsa ini harus segera sadar dan ingat dengan kondisi krisis yang tengah dihadapi. Jika tidak ingin jatuh ke lubang krisis yang sama atau tetap dalam krisis akibat kelalaian dari para pejabatnya.Wallahu a'lam.
 menganggap sesuatu sebagai tidak ada gunanya, tidak bermanfaat, tidak menguntungkan dirinya. Anggapan ini jelas keliru jika dikaitkan dengan sesuatu yang memang merupakan suatu kebaikan seperti yang diajarkan oleh agama. Secara keseluruhan, agama selalu mengajarkan kebaikan dan menghindarkan diri dari keburukan. Karena itu, jika ada suatu tindakan buruk yang diklaim berlandaskan agama, tindakan itu harus dipertanyakan.

: Noda yang Menghancurkan Ibadah

Oleh: Abdullah Hakam Shah MA

Banyak orang beranggapan bahwa kualitas ibadah hanya ditentukan oleh syarat, rukun, dan kekhusyukan dalam pelaksanaannya. Misalnya, shalat yang berkualitas adalah yang didahului oleh wudlu yang benar, suci pakaian dan tempatnya, serta khusyuk dalam melakukan setiap rukunnya. Demikian pula dengan ibadah-ibadah yang lain.

Saad bin Abi Waqqash RA bertanya kepada Rasulullah SAW tentang rahasia agar ibadah dan doa-doanya cepat dikabulkan. Rasul SAW tidak mengajari Sa'ad tentang syarat, rukun, ataupun kekhusyukan. Rasul mengatakan, "Perbaikilah apa yang kamu makan, hai Sa'ad." (HR Thabrani).

Ada sindiran yang hendak disampaikan Rasulullah SAW lewat hadis di atas. Yaitu, bahwa kebanyakan manusia cenderung memperhatikan 'kulit luar', tapi lupa akan hal-hal yang lebih urgen dan fundamental.

Setiap Muslim pasti mengetahui bahwa shalat atau haji mesti dilakukan dengan pakaian yang suci. Pakaian yang kotor akan menyebabkan ibadah tersebut tidak sah alias ditolak. Namun, betapa banyak di antara kaum Muslim yang lupa dan lalai bahwa makanan yang diperoleh dari cara-cara yang kotor juga akan berujung pada ditolaknya ibadah dan munajat kita.

Rasul SAW telah mengingatkan, "Demi Zat Yang menguasai diriku, jika seseorang mengonsumsi harta yang haram, maka tidak akan diterima amal ibadahnya selama 40 hari." (HR Thabrani).

Dalam hadis lain yang dinukil Ibnu Rajab al-Hanbali, Rasul SAW bersabda, "Barangsiapa yang di dalam tubuhnya terdapat bagian yang tumbuh dari harta yang tidak halal, maka nerakalah tempat yang layak baginya."

Di sinilah terlihat dengan jelas, korelasi antara kualitas ibadah dan sumber penghasilan. Bahkan, karena ingin memastikan bahwa semua yang dikonsumsi berasal dari sumber yang halal, para Nabi dan Rasul menekuni suatu pekerjaan secara langsung untuk menghidupi diri dan keluarga mereka.

Nabi Dawud adalah seorang pandai besi dan penjahit, Nabi Zakaria seorang tukang kayu, Rasulullah SAW adalah seorang pedagang, dan seterusnya. Demikian pula dengan para sahabat yang mulia; mayoritas kaum Muhajirin berprofesi sebagai pedagang, sementara kaum Anshar mengandalkan hidupnya dari pertanian.

Lebih dari itu, ketika seseorang bergelimang harta haram, dan ia menafkahi keluarganya dengan harta tersebut, sebenarnya ia tidak hanya menodai ibadahnya sendiri. Tapi, juga menodai ibadah dan masa depan anak-istrinya.

Seperti komentar Syekh 'Athiyah dalam Syarh al-Arbain an-Nawawiyah, "Orang tua seperti itu secara sengaja membuat ibadah dan doa anak-anaknya tertolak. Sebab, ia menjadikan tubuh mereka tumbuh dari harta yang haram." Wa Allahu a'lam

: Allah Tdak Tidur

Oleh : Muhtadi Kadi

Alkisah, Abdullah bin Umar pergi ke sebuah desa. Di sana, Abdullah bertemu dengan teman-temannya. Kemudian, mereka sibuk mempersiapkan hidangan makan. Tiba-tiba, ada seorang penggembala sedang berlalu di hadapan mereka. Abdullah memanggilnya, ''Ya, akhi (saudaraku--Red), marilah ke sini ikut makan bersama kami.''

''Aku puasa,'' jawab penggembala itu. Abdullah menyahut, ''Pada hari yang begini panasnya kamu berpuasa? Kamu juga menggembala banyak kambing hingga sampai ke bukit-bukit dengan berpuasa?'' Dia menjawab, ''Selagi aku masih punya kesempatan untuk berpuasa, aku akan melakukannya.''

Abdullah kagum dengan jawaban penggembala itu. Kemudian, Abdullah bertanya lagi untuk menguji keimanannya. ''Apakah kamu berkenan untuk menjual satu ekor dari kambingmu kepadaku? Aku akan menyembelihnya dan aku akan memasak dagingnya untuk buka puasamu.''

Dia menjawab, ''Kambing-kambing itu bukan milikku. Ia milik tuanku.'' Abdullah membujuk, ''Jika tuanmu bertanya tentang kambingnya, bilang saja kalau dimakan oleh serigala.'' Mendengar hal itu, dia pergi dengan mengangkat jari telunjuknya ke langit sambil berkata, ''Allah tidak tidur.''

Indah nian sifat si penggembala ini. Andai saja semua orang yang diberi amanah memiliki kejujuran dan keimanan seperti pengembala itu, pasti negeri ini bersih dari wabah korupsi dan kezaliman.

Itulah sifat muraqabah. Orang yang memiliki sifat muraqabah senantiasa meyakini bahwa Allah selalu mengawasinya setiap saat. Orang yang memiliki sifat muraqabahakan mengantarkan pelakunya untuk selalu mengerjakan tugas-tugasnya dengan ikhlas dan menjauhkan dirinya dari kemaksiatan serta keharaman.

Sebab, ia yakin bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban dan akan membalas segala amal perbuatannya. Rasulullah SAW bersabda, ''Telapak kaki Bani Adam tidak akan bisa beranjak dari hadapan Tuhannya, kecuali setelah ditanya tentang empat perkara. Pertama, tentang umurnya, di manakah mereka menghabiskannya. Kedua, tentang waktu mudanya, bagaimana ia melewatkannya. Ketiga, tentang hartanya, bagaimana ia mendapatkannya dan menafkahkannya. Keempat, tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkan ilmu-ilmu yang diketahuinya." (HR at-Tirmidzi).

Sejatinya, muraqabah adalah cahaya keimanan yang menyeruak dari pemiliknya. Sifat ini akan membuahkan kedamaian dan kebahagiaan tiada terkira. Karena, dia sadar bahwa dirinya selalu diperhatikan dan diawasi oleh Zat yang Mahaindah dan Mahakasih sehingga dia malu bila melanggar ajaran-Nya. Dengan demikian, dia telah sampai pada dejarat pengabdian yang tertinggi, ihsan. ''Beribadahlah kamu seolah-olah kamu melihat Allah. Dan, jika kamu tidak melihat-nya, yakinlah bahwa Allah melihatmu.''

: Di Mata Allah

Di mata Allah, semua hamba-Nya adalah sama. kecuali derajat keimanannya, dan amal soleh yang diperbuatnya. sama halnya seorang pelukis yang melihat lukisannya hanya sebagai karya.. benda tak bernyawa yang mungkin berharga, tapi tak berdaya. sama halnya seorang pemahat yang melihat patung pahatannya sebagai objek.. benda yang tak bicara. meskipun indah dipandang mata, tapi tak punya kuasa. jadi apalah kita ini? yang lemah segala-galanya di dalam pandangan-Nya. saya sering terheran-heran sama orang yang begitu pongahnya.. begitu angkuhnya.. merasa dirinya lebih dari yang lain hanya karena hal-hal berbau fisik dan materiil yang bersifat simbolis. kecantikan.. ketampanan.. kepintaran.. kekayaan.. kekuasaan.. padahal semua itu pun hanyalah titipan-Nya, bukan sebenar-benarnya milik kita. sama seperti jika kita memiliki boneka, atau miniatur orang. ketika mereka (dengan peran yang kita berikan, dan tangan kita pula yang menggerakan) memiliki sesutu (sebut saja rumah-rumahan atau mobil-mobilan), maka rumah atau mobil itu bukan sebenar-benarnya milik mereka (boneka atau orang-orangan itu. red). karena sesungguhnya rumah-rumahan dan mobil-mobilan itu adalah milik kita. kita yang membuatnya menjadi milik si orang-orangan tersebut. bahkan orang-orangan itu pun adalah milik kita. kita yang membuat ceritanya.. kita yang menentukan semuanya. tapi mungkin orang-orangan itu (jika ia bernyawa dan bisa berpikir) tidak menyadari bahwa ia hanyalah sesuatu yang tidak berdaya dan tak punya kuasa. bahwa segala sesuatu yang terjadi padanya hanyalah karena kita yang membuatnya seperti itu. seperti itulah jalan hidup kita.. selemah itu pulalah kita. kita cuma memainkan peran yang telah diberikan oleh-Nya. kita cuma menjalankan skenario yang telah ditentukan oleh-Nya. bahkan diri ini pun bukan sebenar-benarnya milik kita. kita sering merasa terlalu percaya diri atas apa yang kita punya dan atas apa yang kita bisa. padahal itu semua adalah Allah yang mengaturnya.

bedanya kita sama orang-orangan dan boneka tadi, kita dikasih kesempatan sama Allah. kesempatan untuk apa? kesempatan untuk mendapat reward dan privillage-Nya.reward dari-Nya berbentuk pahala, dan privillage dari-Nya berbentuk surga. di mana semua yang kita inginkan bisa terwujud nyata. bahkan hal-hal indah yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya (katanya) ada di sana. semua itu bisa kita dapat dengan menjalani hidup yang dianugerahkan dengan sebaik-baiknya. di mana dalam hidup, alam adalah sekolah kita. setiap hal yang kita temui adalah guru bagi kita. dan Allah adalah pemegang kekuasaan tertinggi atas kita. so.. bukan apa profesi kita, apa gelar kita, berapa banyak harta yang kita punya, seberapa cantik kita, seberapa tampan kita, kekuasaan apa yang kita punya, atau-apapun-itulah yang membuat kita berharga. yang membuat kita manusia seutuhnya.. tapi seberapa berhasil kita menjawab tantangan hidup yang diberikan Allah pada kita. semua orang memiliki kesempatan yang sama. pemulung, dokter, petani, presiden, guru, pengusaha, artis, model.. anak-anak, remaja, orang dewasa, orang tua.. perempuan, laki-laki.. lulusan sd, lulusan smp, lulusan smu, sarjana, master, doktor, profesor, hanya lulus tk, bahkan tidak sekolah sekali pun.. semua punya kesempatan yang sama pada bidangnya masing-masing. Allah tidak sedangkal itu menilai hamba-Nya. Dia memiliki sistem penilaian yang rumit yang berbeda-beda setiap orangnya. tidak sesederhana yang kita imajikan..dan hanya Dia yang tahu, juga berhak memberikan keputusan. tugas kita: belajar. dengan kehidupan sebagai sekolah dan guru terbaik yang harus kita jawab setiap tantangannya hingga kita lulus di dalam pandangan-Nya.mr

: mualaf: Syekh Hamza Yusuf, Menemukan Islam Lewat Makna Kematian


Beberapa hari setelah serangan terhadap menara kembar World Trade Center (WTC) di New York, seorang agen Biro Penyelidik Federal (FBI) Amerika Serikat menelepon rumah Syekh Hamza Yusuf dengan alasan yang hingga kini belum jelas. "Dia tidak di rumah," kata sang istri. "Saat ini, dia sedang bersama Presiden George W Bush."

Tapi, agen FBI tadi tidak begitu saja percaya. Maka, dia segera menghubungi Gedung Putih untuk mengonfirmasi. "Benar. Beliau berada di sini (Gedung Putih)," jawab petugas keamanan kepresidenan di ujung telepon sana. Setelah itu, sang agen tidak pernah lagi menelepon kediaman Syekh Hamza.

Ya, Syekh Hamza Yusuf memang bersama presiden Bush saat itu. Dia datang ke Gedung Putih sebagai perwakilan dari masyakarat Muslim AS bersama sejumlah tokoh lintas agama untuk memberikan masukan serta pemikiran kepada presiden terkait penyikapan terhadap insiden yang terjadi.

Seperti dilaporkan situs The Guardian, Syekh Hamza sempat mengingatkan Presiden Bush bahwa respons Pemerintah AS dengan menggelar pengamanan bertajuk Operation Infinite Justice --yang berterminologi militer-- sangat menyakiti hati umat Muslim. Presiden Bush mendengarkan masukan ini.

Menurut Syekh Hamza, dirinya sangat menyayangkan bahwa Pentagon, sebagai pihak yang memilih tajuk operasi pengamanan itu, kurang memahami masalah ini karena tidak memiliki staf yang memahami isu-isu keagamaan. Atas keberatan tersebut, Pemerintah AS pun mengganti sebutan tadi.

Syekh Hamza Yusuf, yang juga dikenal dengan Imam Hamza Yusuf, bukanlah orang sembarangan. Di AS, dia merupakan salah seorang cendekiawan, ulama, dan tokoh Muslim AS yang sangat disegani. Kiprahnya tidak hanya pada bidang agama, namun juga pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Inilah yang membuat Pemerintah AS memilihnya untuk mewakili umat Muslim dan bertemu dengan presiden George W Bush.

Ketika gencar sorotan terhadap umat Islam usai kejadian 11 September 2001, Syekh Hamza berdiri di baris depan sebagai tokoh yang gencar menentang cara-cara kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Maka itu, pemikirannya kerap berseberangan dengan sebagian kalangan yang beraliran radikal.

Dalam berbagai kesempatan, Syekh Hamza senantiasa memperingatkan umat Muslim agar memahami Islam dengan baik, kembali kepada akidah yang murni, serta menjauhi jalan kekerasan, intoleransi, dan kebencian. "Ini harus menjadi perhatian umat Islam dan harus menjadi bagian hidupnya kendati dia tinggal di negara non-Muslim dan kerap mengalami diskriminasi. Tunjukkan bahwa Islam itu ramah dan toleran," tegasnya.

Pemikirannya ini tentu tidak bisa dilepaskan dari latar belakang keislamannya. Di sini, mungkin orang akan kaget ketika mengetahui bahwa sejatinya Syekh Hamza adalah mualaf. Pria kelahiran Wala-wala, negara bagian Washington, tahun 1960 itu bernama asli Mark Hanson.

Orang tuanya merupakan dua akademisi ternama di AS. Ayahnya adalah profesor bidang filosofi, sementara ibundanya adalah pakar bidang lingkungan. Tak heran bila jiwa kecendekiawanan sudah mengalir dalam darahnya.

Masa kecil Mark Hanson pun dilingkupi semangat pendidikan serta ilmu pengetahuan. Saat beranjak dewasa, dia dimasukkan ke sekolah Kristen. Hingga pada suatu hari, tahun 1977, usianya sekitar 17 tahun, Mark mengalami kecelakaan hebat. Kepalanya terbentur keras yang hampir saja merenggut nyawanya.

Mark tak pernah melupakan peristiwa itu. Dia merenung, yang pada akhirnya membawa dirinya tertambat pada satu pertanyaan krusial tentang kematian. "Saya merasa mengalami konfrontasi dengan kematian. Inilah yang membuat saya melakukan refleksi diri, introspeksi, dan menyelami lebih dalam tentang kematian. Apa dan bagaimana sesudah mati," kata Syekh Hamza dalam laman pribadinya.

Pergulatan itu yang terjadi pada diri Syekh Hamza. Introspeksinya lantas bersinggungan dengan unsur agama, yang dari pengakuannya, hal itu tidak bisa terhindarkan manakala dia pernah mendalami agama di sekolah seminari. Dari situlah, ayah lima anak ini memulai pencariannya akan makna kematian.

Mark Hanson menggali berbagai hal mengenai kematian dan kehidupan setelah mati dari Injil dan literaturliteratur Nasrani lainnya. Cukup lama waktu yang dihabiskannya, namun belum juga merasa tercerahkan dan menemukan jawaban dari keingintahuannya. Dia pun memutuskan mempelajari dari sumber agama lain, termasuk Islam, sebagai perbandingan.

Dan, Islam-lah yang membuatnya takjub. Syekh Hamza menguraikan, "Tidak ada penjelasan lebih detail dan mendalam menyangkut hal-hal yang terjadi setelah kematian seperti tercantum dalam literatur Islam. Ini sungguh menakjubkan.

"Islam sangat jelas menguraikan berbagai hal mengenai kematian dan setelahnya. Misalnya, di alam kubur manusia harus menghadapi pertanyaan dari malaikat, adanya hukuman atau pahala bagi tiap-tiap manusia sesuai amal perbuatan, hingga penghitungan di Padang Mahsyar. Sulit menemukan yang terperinci ini dalam agama lain. Islam telah memberikan jawaban yang sangat mencerahkan," papar Syekh Hamza.

Apa yang dia tangkap dari ajaran Islam tentang kematian adalah kehidupan di dunia hanya sementara. Adapun manusia akan mengalami momen yang lebih kekal di akhirat kelak. Jadi, dari perspektifnya, apa yang dilakukan semasa di dunia haruslah berorientasi pada pembekalan diri untuk bersiap memasuki alam akhirat.

Ketertarikannya terhadap Islam semakin besar. Namun, semakin dia belajar tentang Islam, semakin dia mengetahui ada aspek tertentu dari agama ini yang membuatnya harus merenung. Saat itu, pada akhir tahun 70-an, sedang timbul ketegangan di Iran usai tumbangnya rezim Shah hingga menyeret Islam pada stereotipe negatif di kalangan Barat.

Mark Hanson gundah gulana. Untuk satu waktu, dia mengaku tidak ingin menjadi Muslim. Akan tetapi, dia tidak bisa menelikung batinnya untuk terus mendalami agama Islam. "Alhamdulillah, saya telah berulang kali menemukan kebenaran dalam hidup dan kini saya harus memilih, meninggalkan atau menjadi seorang Muslim. Atas rahmat Allah, saya memilih Islam," ujar dia.

Usianya ketika itu belum genap 18 tahun. Namun, Mark sudah berketetapan hati. Dia mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmilah menjadi seorang Muslim. Apa yang dilakukannya setelah itu? Mark langsung mengambil Alquran terjemahan dan membacanya terus-menerus. "Sebelumnya, saya tidak pernah membaca Alquran. Begitu membaca beberapa ayat, saya semakin mantap dengan keyakinan saya," tegas Syekh Hamza.

Rasa hausnya akan ilmu agama semakin membuncah. Meski demikian, Mark merasa tidak akan banyak hal yang bisa diperoleh jika terus tinggal di Amerika. Oleh karena itu, dia memilih meneruskan studinya di Inggris.

Menimba ilmu Di negara Eropa tersebut, Mark bergabung dengan komunitas Muslim setempat dan menimba pengetahuan tentang ilmu dan tradisi Islam. Tapi, dia ingin memperoleh lebih, kali ini keinginannya adalah belajar bahasa Arab dan itu harus dicapainya di sumbernya langsung, yaitu dunia Arab.

Kesempatan langka didapat saat bertemu Syekh Abdullah Ali Mahmoud, seorang faqih dan alim sekaligus tokoh spiritual dari Uni Emirat Arab. Melihat semangat Mark yang meletup-letup untuk belajar bahasa Arab dan agama, Syekh Abdullah bersedia memfasilitasinya untuk belajar di UEA.

Sejumlah madrasah terkenal tercatat pernah menjadi tempatnya menekuni agama dan bahasa, seperti Ma'had al Islami, Islamic Institute di al-Ain, dan lainnya. Di samping itu, sederet ulama berpengaruh pun pernah menjadi gurunya, misalnya Syekh Ahmad Badawi untuk ilmu hadis, Syekh Hamid untuk bahasa Arab, Syekh Abdullah Ould Siddiq untuk bidang ilmu fikih, serta masih banyak lagi.
------------------------------------------------------------------------------------
Lucy Bushill-Matthews: Kegelisahan Hati Sang Putri Inggris
Ia tertarik dengan Islam karena sikap pemeluknya yang santun dan terbiasa dengan hidup sehat.

Menjadi mualaf di negara mayoritas non-Muslim, dibutuhkan perjuangan dan kesabaran ekstra untuk menghadapi setiap tantangan. Bila tak kuat, bukan tak mungkin, Islam hanya akan menjadi olok-olokan dan cemoohan banyak orang. Namun, bila berhasil menaklukkan tantangan itu, cahaya Islam akan senantiasa menyinari setiap sanubari manusia.
Situasi seperti inilah yang dialami Lucy Bushill-Matthews, perempuan asli Inggris yang telah menjadi Muslimah selama 16 tahun. Perkenalan Lucy dengan Islam terbilang sangat sederhana. Dalam buku memoirnya yang berjudul Welcome to Islam, ibu dari tiga orang anak ini menuturkan kisah perjalanan hidupnya dalam menemukan Islam.

Saat itu, usianya baru menginjak 16 tahun. Oleh kedua orang tuanya yang asli Inggris, ia dimasukkan ke sekolah berasrama (boarding school) tradisional Inggris.

Sebelumnya, Lucy selalu menempuh pendidikan di sekolah khusus perempuan yang siswanya beragama Kristen. Di sekolah baru ini siswanya campur, laki-laki dan perempuan.

Saat mengenyam pendidikan di sekolah barunya inilah, Lucy berkenalan dengan Julian, seorang pemuda Muslim berdarah campuran Inggris-Iran. Secara fisik, sosok Julian tak ada bedanya dengan pemuda Inggris lainnya.

Namun, perilaku dan kebiasaan Julian, membuat Lucy tertarik. Julian tidak pernah minum minuman yang mengandung alkohol. Bahkan, segelas anggur pun tak akan disentuhnya. Kebiasaan ini tentu saja berbeda dan terlihat aneh dengan kebiasaan remaja Inggris, yang senantiasa menghabiskan akhir pekan dengan minuman keras dan mabuk-mabukan.

Perilaku Julian yang dianggapnya 'tidak wajar' ini membuat Lucy ingin mengetahui lebih jauh tentang sikapnya. Maka itu, pertemanannya dengan Julian, ia manfaatkan untuk bertanya tentang sikapnya dan Islam. Dari penjelasan-penjelasan yang diberikan Julian, membuat Lucy makin tertarik dengan ajaran yang dianut Julian.

Perlahan-lahan, Lucy mempelajari Islam dari berbagai buku dan orang Muslim di Inggris. Di waktu luang, Lucy mulai berani berkunjung ke sebuah masjid dekat Regent's Park, London.

Penjaga masjid mengajaknya berkeliling masjid. Di akhir kunjungan, dia diberi buku berjudul What Everyone Should Know about Islam and Muslims. Buku tersebut, menurut Lucy, bisa menjawab beberapa pertanyaan yang selama ini berkecamuk di hatinya.

''Sebelum meninggalkan masjid, sekilas aku melihat tempat berdoa di dalam masjid. Tidak ada furniturnya, hanya ada karpet dari tembok ke tembok dan beberapa orang tampak sedang membaca doa dalam hati. Kulihat mereka tenang dan penuh pengharapan memanjatkan doa,'' papar Lucy mengenang pengalaman pertamanya mengunjungi masjid.

Ketertarikannya untuk mengenal tentang Islam lebih jauh semakin kuat, manakala ia dan seorang temannya mendapat undangan makan malam dari sebuah keluarga Muslim berkebangsaan Israel. Saat itu, Lucy tengah mengikuti program kerja remaja Inggris pada sebuah komunitas Yahudi (kibbutz) di bagian utara Galilee di Israel.

Keluarga Muslim yang mengundangnya makan malam, jelas Lucy, adalah sebuah keluarga sederhana bahkan bisa dibilang memiliki kehidupan yang tergolong miskin.

''Mereka hanya punya dua ekor ayam di pekarangan mereka. Dan, mereka memotong satu ayam itu untuk kami. Kami menyantap hidangan yang sangat lezat dan tidak memberi mereka apa pun,'' ujarnya.

Sekembalinya ke Inggris, ketertarikan Lucy terhadap Islam semakin kuat. Untuk menambah keyakinannya tentang Islam, Lucy memutuskan untuk bergabung dengan perkumpulan mahasiswa Muslim di lingkungan kampusnya, Universitas Cambridge. Padahal saat itu, ia belum memeluk Islam.

Lucy pun semakin giat mempelajari Islam dari berbagai buku bacaan, yang banyak mengulas ajaran Islam dan komunitas Muslim. Salah satu buku yang dibacanya adalah Islam: Beliefs and Teachings karya Sarwar G.

''Ibadah Muslim mulai sedikit masuk akal bagiku begitu aku tahu artinya dalam bahasa Inggris. Ikrar keimanan harus diucapkan berulang kali, setiap shalat lima waktu. Berpuasa satu bulan dalam setahun. Menyumbangkan hartanya sekali setiap tahun, dan mengunjungi Makkah sekali seumur hidup. Muslim boleh beribadah lebih dari semua itu, tetapi tak boleh mengurangi kewajiban pokok itu,'' papar Lucy mengenang perkenalannya dengan ajaran Islam.

Menjadi Muslimah
Puncak di cinta ulam pun tiba. Bila hati sudah semakin mantap, apa pun tak akan mungkin melepaskannya. Begitulah kata pepatah. Ungkapan ini layak disematkan pada Lucy.

Suatu malam di bulan November 1991, Lucy tak bisa tidur nyenyak. Dia merasa gelisah. Kegelisahannya karena memikirkan tentang Tuhan. Berkali-kali ia membolak-balikkan badan dan berusaha memejamkan mata, tetap saja ia tak bisa tidur. Seakan-akan ada yang mengawasinya.

''Aku terjaga semalaman dengan pikiran berkecamuk tak henti-hentinya dalam kepalaku. Aku percaya pada Tuhan. Tuhan yang Serbatahu dan Mahakuat. Jika Tuhan Mahakuat, Dia pasti ada di mana-mana, dan itu berarti Tuhan juga bersamaku, saat ini. Jadi, Tuhan bisa melihatku dan Tuhan bisa melihat pikiran terdalamku. Itu benar-benar kabar buruk,'' ujarnya menceritakan pengalaman yang terjadi di awal semester tahun keduanya di Cambridge.

Kegelisahannya itu membawanya untuk semakin dalam mempelajari Islam. Dan akhirnya, saat kemantapan hati itu semakin kuat, Lucy pun berikrar untuk menjadi seorang Muslim. Walau belum resmi, ia pelan-pelan mempelajari shalat.

Setelah benar-benar yakin, ia pun mengumumkan jati diri keislamannya seminggu kemudian. Bertempat di kamar asrama dan disaksikan sejumlah rekan-rekan sekampus, Lucy mengucapkan dua kalimat syahadat. ''Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah rasul Allah.''

Kabar keislamannya pun segera menyebar ke segenap kampus. Teman-temannya yang non-Muslim pun semakin banyak yang mengetahuinya. Maka, saat itu, Lucy resmi menyandang status Muslimah.

Orang tuanya baru mengetahui kabar keislamannya, ketika Lucy menyampaikan kepada mereka di saat liburan semester. Beruntung Lucy memiliki keluarga yang egaliter dan demokratis. Sang kakak, Julie, memberinya dukungan dan bersikap positif dengan keputusan Lucy menjadi Muslim.

Sementara itu, ayahnya berpikir bahwa apa yang terjadi pada Lucy hanyalah sebuah fase dalam kehidupan putrinya. Hanya sang ibu yang sempat kaget mengetahui anaknya memilih menjadi Muslimah. ''Bagaimana mungkin anaknya menjadi Muslimah?'' Mungkin begitulah bayangan yang ada dalam pikiran ibunya saat itu.

Lucy nyaris bimbang. Di satu sisi, ia tidak ingin menyakiti dan menghancurkan hati ibunya. Apalagi, di Alquran dalam surah Al-Ahqaf ayat 15 disebutkan bahwa manusia hendaknya senantiasa berbuat baik kepada ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya selama sembilan bulan, dan melahirkannya dengan susah payah. Namun, apa hendak dikata, Lucy tetap mantap memilih Islam sebagai agama barunya. Dan, ia tetap menjalin hubungan baik dengan kedua orang tuanya, termasuk ibu yang sangat dicintainya.
Baginya, ibu adalah orang yang wajib dikasihi. Namun, ia juga sudah jatuh cinta dengan Islam. Dan, Islam mengajarkan untuk senantiasa mengajarkan pemeluknya menghormati kedua orang tua, kendati mereka berbeda agama.ed: sya

Hari-hari yang Penuh Tantangan

Sebagai mualaf, Lucy sangat serius menekuni ajaran Islam. Dia belajar shalat, mengenakan kerudung (jilbab), dan meninggalkan semua hal yang tidak diperbolehkan (dilarang) dalam ajaran Islam. Seperti, tidak mengonsumsi daging babi, minuman beralkohol, dan menghindarkan diri berduaan dengan yang bukan muhrimnya.

Kebiasaan yang tak umum ini, awalnya sangat sulit ia lakukan. Pasalnya, hal itu sudah merupakan kebiasaan sehari-hari. Bahkan, menurut adat istiadat dan budaya Barat, kebiasaan mengonsumsi minuman keras dan makan daging babi adalah sesuatu yang biasa saja. Lucy pun harus berhadapan dengan kebiasaan yang tak lazim ini di tengah kehidupannya sehari-hari.

Seperti, ketika ia memutuskan untuk menikah dengan Julian, di usianya yang masih terbilang muda, 19 tahun. Sebagaimana layaknya setiap pesta dalam kultur Barat yang wajib ada alkohol, tapi kini harus dihindari. Begitu juga, dengan makanan yang tersedia hanya yang terbuat dari bahan-bahan yang halal.

Benturan juga terjadi manakala Lucy harus memilih busana pengantin. Model yag ditawarkan selalu dengan bagian dada dan punggung terbuka. Sementara itu, ia menginginkan sebuah busana pengantin yang serba tertutup dan dilengkapi dengan kerudung. Hal ini sempat menimbulkan pertentangan antara Lucy dan sang ibu. Namun, Lucy sudah mantap untuk meyakinkan ibunya bahwa baginya hal itu adalah yang terbaik dan sesuai dengan ajaran Islam, yang telah menjadi keyakinannya.

Berbagai benturan lainnya, banyak ditemui Lucy takkala ia memasuki dunia kerja selepas menamatkan pendidikan di Cambridge. Setelah lulus kuliah, Lucy diterima bekerja di sebuah perusahaan consumer goods multinasional sebagai analis keuangan. Sebagai penganut agama minoritas di Inggris, kantornya tak menyediakan tempat shalat. Lucy lalu menyiasatinya dengan menumpang di ruang kesehatan untuk melakukan shalat. Saat ada pasien, sebagai gantinya ia kerap menggunakan ruangan bosnya untuk tempat shalat.

Demikian juga, ketika jam makan siang tiba. Menu nonhalal yang banyak disediakan oleh pihak pengelola kantin kantor, membuatnya harus memesan makanan terpisah, tanpa babi. Belum lagi, berbagai pertanyaan aneh dari para rekan kerjanya yang bingung melihat Lucy berkerudung.

: Air Mata yang Diberkahi

Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Air mata yang menitik pelan melintasi kedua pipi kita ternyata tidak semata buliran air yang keluar dari kelopak mata, tapi ada rembesan makna yang penuh hikmah di mata Allah SWT. Bahkan, keluarnya air mata akan menjadi penyebab hidup seseorang dalam keberkahan.

Dalam sebuah sabdanya, Rasulullah SAW pernah menyampaikan bahwa ada dua tetesan ( qatrataani ) yang dibanggakan dan kelak akan menjadi saksi di Hari Pengadilan, yaitu tetesan darah syuhada yang wafat karena menegakkan agama Allah dan tetesan air mata karena bertobat. Dalam kesempatan ini, kita akan mengenali ternyata ada banyak air mata yang dapat mengundang keberkahan.

Pertama , air mata karena rasa cinta, takut, dan rindu kepada Allah. Air mata ini keluar disebabkan bercampurnya rasa haru dan bahagia karena telah mampu menemukan makna hakikat cinta sekaligus takut kepada Sang Khalik. 

Kedua , kerinduan yang mendalam terhadap Rasulullah SAW, keluarga, dan para sahabat  Radiyallahu Anhum . Seseorang yang larut dan terbuai saat bersenandung shalawat, karena berharap dikunjungi Rasulullah SAW dalam setiap mimpinya dan rindu dengan syafaatnya, kemudian air mata menetes maka sungguh air mata ini adalah air mata yang diberkahi. Pada saatnya nanti, air indera penglihatan ini akan ikut bersaksi di hadapan Allah SWT bahwa orang ini adalah benar umat Rasulullah SAW.

Ketiga , air mata bahagia karena bisa menunjukkan baktinya kepada orang tua. Saat mengenang dan menatap wajah orang tua, lalu menyeruak aura kebahagiaan, kemudian tidak terasa membulir air mata maka air mata ini akan turut berbicara, bahkan menjadi saksi di hadapan Allah SWT. Paling tidak, orang ini tercatat sebagai anak berbakti yang mendapatkan rida dari orang tua.

Keempat , air mata tobat, yaitu karena ingat akan dosa-dosa yang telah diperbuat. Baik teringat dengan dosa syirik, membunuh, zina, korupsi, atau ingat kepada orang-orang yang pernah disakiti. Seseorang yang menyesali semua perbuatannya ini lalu berdoa dan mengiba agar diampuni, kemudian dia menangis sejadi-jadinya maka insya Allah air matanya ini termasuk air mata yang diberkahi.

Kelima , air mata karena iba dan keprihatinan. Saat mendengar, melihat, dan menyaksikan mereka yang papa, seperti anak yatim yang ditinggal orang tua yang tak berpunya, orang-orang miskin yang berjuang untuk bertahan hidup, atau orang tua jompo yang ditelantarkan di jalanan oleh anak dan keluarganya, kemudian membuat terenyuh dan menitikkan air mata, insya Allah air mata ini adalah air mata yang diberkahi.

Terakhir, air mata yang diberkahi adalah air mata karena bahagia bisa khusyuk beribadah. Juga, haru dan senang karena bisa berkumpul dengan orang-orang saleh di majelis ilmu dan zikir.  Wa Allahu A'lam.

Ayuna Fajrin mengajak Anda untuk bergabung di Facebook

facebook
Halo Aakusuma.islam,
Orang berikut ini mengundang Anda untuk menjadi temannya di Facebook:
Ayuna FajrinAyuna Fajrin
Undangan terkirim:
Jan 16, 2010


Orang lain yang telah mengundang Anda untuk bergabung di Facebook:

Afandi KusumaAfandi Kusuma
Undangan terkirim:
Dec 9, 2009

Facebook ada adalah tempat terbaik untuk tetap berhubungan dengan teman-teman, bertukar foto, video dan membuat banyak acara. Anda harus bergabung di sini! Daftar hari ini juga untuk membuat profil dan temukan orang-orang yang Anda kenal.
Terima kasih,
Tim Facebook

Already have an account? Add this email address to your account here.
Facebook adalah situs gratis dan siapa saja dapat bergabung
Daftar
Untuk mendaftar ke Facebook, ikuti tautan berikut:
http://www.facebook.com/
Pesan ini ditujukan untuk kamu. Jika Anda tidak ingin lagi menerima email sejenis dari Facebook, silakan klik di sini untuk berhenti.
Kantor Facebook beralamat di 1601 S. California Ave., Palo Alto, CA 94304.

: Kembali ke Khitah yang Belum Selesai

Djohan Effendi

Muktamar Nahdlatul Ulama di Makassar yang baru berakhir cukup mencekam. Terutama tentang pemilihan Rais 'Am NU.

Posisi ini memang sangat penting. Rais 'Am bukan sekadar jabatan tertinggi dalam struktur kepengurusan jam'iah NU, tetapi juga sebagai simbol wibawa ulama di kalangan santri di lingkungan jamaah NU. Posisi dan wibawa Rais 'Am di lingkungan jemaah nahdliyin bagaikan seorang kiai di lingkungan pesantren. Oleh karena itu, tak terbayangkan apabila posisi Rais 'Am diperebutkan sebagaimana terjadi dalam organisasi politik yang biasanya tidak bebas dari trik dan intrik.

Memang, munculnya persaingan untuk menduduki jabatan Rais 'Am bukan kali ini saja terjadi, tetapi telah terjadi dalam muktamar NU sebelumnya ketika Gus Dur mencalonkan diri untuk posisi Rais 'Am. Akan tetapi, pemilihan Rais 'Am kali ini dihangatkan oleh sejumlah isu yang membuat banyak orang sesak dada dan merasa cemas. Syukurlah ketidakbersediaan KH Hasyim Muzadi untuk maju ke pemilihan Rais 'Am dengan melalui mekanisme voting memberi jalan bagi keterpilihan KH Sahal Mahfudz selaku Rais 'Am NU secara aklamasi dan membuat cuaca muktamar lebih sejuk.

Suasana sejuk setelah pemilihan Rais 'Am membuat pemilihan Ketua PB Tanfidziyah NU berlangsung lebih lancar dan tidak terlalu emosional. Keterpilihan Said Aqil Siradj sebagai sosok ulama NU yang dari segi keilmuan cukup mumpuni dan dari segi pemikiran cukup terbuka pada keragaman pendapat cukup memberikan harapan. Selaku pendamping, KH Sahal Mahfudz akan membuat pimpinan NU tidak akan terjebak dalam godaan politik dan terlibat dalam kontroversi antara generasi tua dan generasi muda.

Kembali ke khitah

Satu hal yang mungkin perlu direnungkan kalangan nahdliyin adalah munculnya kembali seruan untuk kembali kepada khitah. Tidak kurang dari Rais 'Am sendiri, KH Sahal Mahfudz, yang berulang kali menyuarakan ungkapan ini. Tekad untuk kembali ke Khitah dikumandangkan menjelang muktamar NU di Situbondo tahun 1984. Muktamar yang memilih KH Ahmad Siddiq selaku Rais 'Am dan Gus Dur selalu Ketua PB Tanfidziyah NU memutuskan bahwa NU kembali menjadi organisasi sosial keagamaan, tidak lagi melibatkan diri dalam kegiatan politik praktis.

Akan tetapi, ketersentuhan NU dengan politik tidak berlangsung mulus seperti dibayangkan sebelumnya. Kehadiran Orde Reformasi yang membuka ruang yang lebih luas bagi keterlibatan politik warga negara melahirkan euforia politik dengan segala plus-minusnya. Boleh jadi suasana seperti ini yang membuat proses kembali ke khitah tidak sampai tuntas.

Pada masa NU berkiprah sebagai organisasi sosial keagamaan, agaknya tidak terjadi saling rebut posisi kepemimpinan organisasi. Mereka tidak mengenal lembaga tim sukses ataupun baliho dan pamflet saling memuji diri dan merendahkan pihak lain. Apalagi praktik mirip-mirip politik uang. Apa yang terjadi sering kali justru saling menolak untuk maju dan saling menyilakan tokoh lain untuk memimpin organisasi.

Ke depan mungkin kepengurusan NU yang akan datang perlu memikirkan proses pemilihan Rais 'Am dan Ketua Umum PB Tanfidziyah NU yang lebih sesuai dengan posisinya sebagai jam'iyah keagamaan dan sebagai organisasi kemasyarakatan.

Menjaga martabat ulama

Sebagai jam'iyah keagamaan posisi Rais 'Am sangat sentral. Ia tidak hanya sekadar pucuk pimpinan kepengurusan, melainkan juga sebagai simbol perserikatan ulama. Segi senioritas dalam keilmuan dan pengalaman seharusnya melekat pada posisi Rais 'Am NU. Sangatlah tidak pada tempatnya apabila posisi Rais 'Am diperebutkan. Karena itu, sebaiknya pemilihan Rais 'Am tidak dilakukan terbuka dan para pemilihnya terbatas hanya oleh ketua-ketua Syuriah wilayah dan para Rais serta A'wan Syuriah Pusat. Untuk memelihara kerahasiaan pemilihan Rais 'Am, para ketua Syuriah dan Rais serta A'wan Pusat hendaknya dikarantina dalam suatu tempat sampai mereka berhasil memilih Rais 'Am.

Berbeda dengan pemilihan Rais 'Am, pemilihan Ketua Umum PB NU seyogianya dilakukan secara terbuka. Namun, mestinya perlu dibedakan dengan pemilihan ketua partai politik. Boleh jadi proses pemilihannya sudah dilakukan sejak sebelum Muktamar. Dilakukan penjaringan calon pengurus PB Tanfidziyah NU sebagai lembaga kolektif. Mungkin perlu dibakukan jumlah PB NU. Maka, yang dilakukan kemudian dalam muktamar adalah pemilihan sejumlah anggota PB NU dan Ketua Umum PB Tanfidziyah diambil calon yang memperoleh suara terbanyak calon-calon yang terpilih. Dengan menghindari pemilihan terbuka yang bersifat mengadu para calon Ketua Umum PB NU, solidaritas dan suasana kolegial para tokoh NU bisa terpelihara.

Melanjutkan terobosan

Keterpilihan KH Said Aqil mengingatkan saya kepada Gus Dur. Menjelang kepulangan KH Said Aqil dari studinya di Universitas Ummul-Qura, Mekah, Gus Dur sudah banyak bercerita tentang KH Said Aqil, bukan tentang pribadinya, melainkan tentang disertasinya. Gus Dur memang berharap banyak kepada KH Said Aqil. Dia mengajak saya ke Bandara Cengkareng menyambut kepulangan KH Said Aqil. Boleh jadi kita bisa berharap KH Said Aqil akan bisa menghidupkan kembali semangat Gus Dur untuk membangun NU yang dinamis dan kreatif, terbuka, tetapi tidak meninggalkan akarnya. Terutama dalam kegairahan menghidupkan tradisi keilmuan.

Salah satu langkah awal yang diambil Gus Dur ketika dia terpilih sebagai Ketua Umum PB NU adalah meminta KH Masdar Mas'udi menyelenggarakan telaah kembali kitab-kitab klasik. Gus Dur ingin memberi makna pada nama jam'iyah: Nahdlatul Ulama, kebangunan para ahli ilmu. Kegiatan itu tidak hanya menggairahkan kalangan kiai muda, tetapi juga meresahkan sementara kiai tua. Gus Dur pasang badan untuk melindungi kemunculan studi kritis yang dilakukan oleh para kiai muda.

Yang menarik adalah sikap KH Sahal Mahfudz yang mengambil posisi menjembatani antara yang bergairah dan yang resah. Karenanya pasangan KH Sahal Mahfudz dan KH Said Aqil Siradj cukup memberikan harapan apa yang pernah dirintis Gus Dur bisa dilanjutkan. Dan hal ini disadari benar oleh KH Aqil Siradj, seperti tersirat dalam bisikannya kepada saya bahwa ia akan membuka kembali apa yang tertutup setelah Gus Dur lengser dari jabatan Ketua Umum PB NU.

NU adalah sebuah organisasi besar. Potensinya sangat dahsyat. Generasi muda nahdliyin sangat potensial. Sangat kaya dan bervariasi. Generasi terdidik yang ada di dalamnya sangat majemuk latar belakang pendidikan dan pengalaman intelektualnya, dari yang sangat konservatif hingga yang sangat liberal. Yang diperlukan adalah pimpinan yang tidak saja pintar "ngomomg", tetapi juga harus pandai "ngemong", yang mampu mengarahkan dan bukan menghambat kegairahan pemikiran di kalangan generasi muda Nahdliyin.

Djohan Effendi Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace

: manusia yg menyukai neraka

Oleh: Prof Dr Ali Mustafa Yaqub

Ketua sebuah pengajian meminta maaf kepada penceramah karena jamaah yang hadir dalam pengajian tersebut tidak banyak. Ia semula mengharapkan agar jamaah yang datang dapat mencapai ribuan orang, tetapi ternyata hanya ratusan orang. Ia khawatir apabila penceramah kecewa dengan jumlah yang sedikit itu.

Apa komentar penceramah tersebut? Ia justru bersyukur dan tidak merasa kecewa. Katanya, ''Memang calon penghuni surga itu jumlahnya lebih sedikit dibandingkan calon penghuni neraka.'' Ia pernah membaca koran bahwa di Ancol diadakan pagelaran maksiat. Yang hadir dalam pesta kemungkaran itu mencapai 700 ribu orang. Kendati pesta itu dimulai jam delapan malam, pengunjung sudah mulai datang sejak jam satu siang.

Penceramah kemudian bertanya kepada para hadirin, ''Apakah ada pengajian yang dihadiri oleh 700 ribu orang?'' Hadirin pun serentak menjawab, ''Tidak ada.'' Ia kemudian bertanya lagi, ''Apakah ada pengajian yang dimulai jam delapan malam, tetapi jamaahnya sudah datang jam satu siang?'' Hadirin kembali serentak menjawab, ''Tidak ada.'' Penceramah kemudian berkata, ''Itulah maksiat, dan inilah pengajian. Kalau ada pengajian dihadiri oleh ratusan ribu orang, boleh jadi pengajian itu bermasalah.''

Ia juga mencontohkan dakwah Nabi Nuh AS. Beliau berdakwah selama hampir seribu tahun, tetapi pengikut beliau hanya 40 orang. ''Karena itu, kalau yang datang di pengajian ini mencapai ratusan orang, itu sungguh sudah bagus. Dan, begitulah calon-calon penghuni surga,'' tambahnya.

Lebih jauh, ustaz yang masih muda itu menyampaikan sebuah hadis tentang apa yang akan terjadi pada hari kiamat. Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa nanti pada hari kiamat, Nabi Adam AS akan dipanggil oleh Allah SWT. Beliau diperintahkan oleh Allah SWT untuk memisahkan anak-cucunya, mana yang akan masuk surga dan mana yang akan masuk neraka. ''Ternyata,'' kata Nabi Muhammad SAW selanjutnya, ''Dari seribu anak-cucu Adam, 999 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan) masuk neraka, dan hanya satu yang masuk surga.''

Ia kemudian mengajak jamaah untuk mengamati perilaku manusia setiap hari. ''Coba kita amati kehidupan manusia sehari-hari. Kita lihat mereka di pasar, pusat perbelanjaan modern atau mal, televisi, dan di mana saja. Ternyata lebih banyak yang senang bermaksiat daripada yang taat kepada Allah SWT. Orang bohong, penipu, ada di mana-mana, sementara yang shalat di masjid sepi-sepi saja. Ternyata manusia itu lebih menyukai neraka daripada surga.''