: Kisah Habil dan Qabil

Allah Berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آَدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآَخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (27) لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ (28) إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ (29) فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ (30) فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ (31)
Artinya: "Ceritakanlah kepada mereka kisah tentang dua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya , ketika keduanya mempersembahkan korban , maka di terima dari salah seorang dari mereka berdua (habil) dan tidak di terima dari yang lain (Qabil) . Ia berkata (Qabil): "Aku pasti akan membunuhmu!". Berkata Habil: "Seungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa"."Sungguh kalau kamu menggerakan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan mengerakan tanganku untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam". "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim."Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah dia diantara orang-orang yang merugi.Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak mengali-gali dibumi untuk memperlihatka kepada (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya . Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagk ini, lalu aku dapat menguburkan mayat suaraku ini ?" karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang yang menyesal. (QS.Al-Maidah:27-31).

Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir: "Sungguh kami telah membahas kisah ini di dalam surat al-Maidah didalam kitab Tafsir dengan pembahasan yang cukup padat dan seegala puji bagi Allah. Adapun perkatanya (Habil) kepadanya (Qabil) tatkalah dia mengancam untuk membunuhnya, ("Sungguh kalau kamu menggerakan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan mengerakan tanganku untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam". ) Ini menunjukan atas kebaikan akhlaknya dan takut serta khasyahnya dia kepada Allah, dan dia bersikap hati-hati dari membalas perlakuan sudaranya denaga kejelakan yang semisal sebagaimana yang dilakukan seudaranya terhadapnya.

Oleh karena ini telah tap di dalam shahihain dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bahwasanya beliau bersabda:


« إِذَا تَوَاجَهَ الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِى النَّارِ ». قَالَ فَقُلْتُ أَوْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ قَالَ « إِنَّهُ قَدْ أَرَادَ قَتْلَ صَاحِبِهِ
"Apabila dua orang muslim saling berhadapan dengan kedua pedangnya maka si pembunuh dan yang dibunuh sama-sama dineraka . Dia (Bakrah) berkata, "Saya bertanya atu dikatakan ; Yang demilian Itu (balasan) bagi pembunuh maka bagaimana (bisa) yang dibuhuh (juga seperti itu) beliau bersabda: "Sesungguhnya dia (yang terbunuh) juga bermaksud untuk membunuh kawannya juga ( Hadist Ini dikeluarkan al-Bukhari dalam shahihnya dari al Ahnaf bin Qais juga Muslim bab Idza tawaajahal Muslimani,darinya juga).

Dan perkataannya :( "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim.") maksudnya yaitu: Sesungguhnya aku hendak meninggalkan perlawanan kepadamu walaupun sebenarnya akui lebih kuat dari padamu, karena memang engkau telah bertekad untuk melakukan apa yang engkau inginkan, (maka) engkau akan membawa dosa membunuhku dan dosa-dosamu sebelumnya, sebagaima dikatakan Mujahid dan As-Suddi dan Ibnu Jarir dan selainya. Ini tidak berarti dosa-dosa yang terbunuh berpindah kepada sipembunuh hanya karena sebab membunuhnyasebagaimana sebagian orang salah memahaminya, maka sesugguhnya ibnu Jarir menceritakan Ijma' yng menyelisihi keyakinan yang salah tersebut.
Adapun hadist yang dibawakan sebagian orang yang tidak mengetahui dari Nabi shallallahu 'alaihi wa salam bahwasanya dia bersabda:


ما ترك القاتل على المقتول من ذ نب
Artimya:Tidaklah pembunuh meninggalkan dari suatu dosa pun atas yang di bunuh. Hadits ini tidak ada asal usulnya tidak di kenal sedikitpun baik dengan sanad yang shahih, tidak pula hasan dan tidak pula haif di dalam kitab-kitab hadits. Berkata Sholah Fathi Hilal, "(Hadits) dha'if :"Rujuk kembali kedalam kitab Kasyful Khafa oleh al-'Ajluni (2200).
Namun kadang kadang terjadi suatu kasus yang bersamaan pada sebagian orang pada hari kiamat sipembunuh menuntut haknya kepada sipembunuh sedangkan dia tidak bisa membayar kezhalimananya tersebut kepadanya, maka kejelekan orang yang terbunuh berpindah kepada orang yang membunuh, Sebagaimana telah ditetapkan hal tersebut didalam hadits yang shahih didalam seluruh masalah kezhaliman dan pembunuhan termasuk yang paling besar dari padanya wallahu a'lam.
Dari Ibnu Mas'ud Nabi shallallahu 'laihi wasalam bersabda:

لا تقتل نفس ظلما إلا كان على ابن آدم الأول كفل من دمها لأنه أول من سن القتل

Artinya:Tidaklah suatu jiwa terbunuh secara zhalim melainkan anaka adam yang pertama mendapatkan dosa dari tertumpahnya darah tersebut karena dia adalah orang yang pertama kali melakukan pembunuhan."(HR. al-Bukhari)
Dan di gunuh Qasiyun sebaelah kiri Damasykus ada magharah (tempat ditumpahkannya darah) disebut magaharatuddam, tempat tersebut masyhur terkenal bahwasanya disanalah tempat terjadi nya pembuhuhan Habil oleh Qabil, berita tersebut termasuk berita yang di ambil dari Ahli Kitab maka Allahlah yang lebih mengetahui tentang kebenaranya.
Sungguh Alhi sejarah telah menyebutkan bahwa Adam 'alahi salam belum wafat sampai dia meliahat dari keturunannya dari anak-anaknya dan anak-anak dari anak-anaknya dampai empat puluh ribu keturunan wallahu a'lam.
Berkata Sholah Fathi hilal, "sebagian manuskrip mengakatakan empat ratus ribu keturunan " tidak ada landasan bagi pendapat ini dan sebelumnya baik dari Kitab maupun Sunnah, Allahlah yang lebih Tahu tentang kebenarnya.

Sumber:
-Al-Qur'an dan terjemahnya, Hadiah dari Khadim Haramain.
-Shahih al-Bukhari , Ismail bin Ibrahim al-Bukhari (Syamilah)
-Shahih muslim, Muslim bin Hajjaj (Syamilah)
-As-Shahih al-Muntaqa Min Qishahil Anbiya Libni Katsir, oleh Sholah Fathi Hilal(www.alsofwah.or.id)

: Mencermati Larangan Riba

Oleh Hilman Hakiem MEI

Allah SWT mewajibkan atau melarang segala sesuatu kepada umat manusia melalui proses atau tahapan-tahapan. Itu bertujuan agar perintah tersebut dapat dipahami secara baik dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran. Pada akhirnya, suatu perintah atau larangan tidak hanya dipandang sebagai kewajiban, tetapi juga kebutuhan. 

Contoh larangan agama yang turun secara bertahap adalah praktik memakan riba. Allah tidak melarang praktik riba dalam sekali perintah, melainkan melalui empat tahapan.

Pada tahap pertama, Allah membandingkan riba dengan zakat. Difirmankan oleh Allah dalam Alquran bahwa harta dalam riba, meskipun seolah-olah bertambah di mata manusia, ia tidak bertambah di sisi-Nya. Sedangkan, zakat, meskipun seolah-olah berkurang di hadapan manusia, sesungguhnya ia bertambah di sisi-Nya. (QS Arruum [30]: 39).

Tahap kedua, Allah menggambarkan perilaku orang-orang Yahudi yang suka memakan riba dan mengambil harta orang lain dengan cara-cara yang batil (tidak halal). Sehingga, sebagai balasannya, Allah menimpakan azab dan siksa yang sangat pedih kepada mereka (QS Annisa [4]: 161).

Tahap ketiga, Allah mengharamkan umat Islam untuk memakan harta riba yang jumlahnya berlipat ganda. Dalam perspektif hukum Islam, pengharaman semacam ini disebut haram  al juz'i , yaitu haram untuk sebagian saja, terutama bagian yang paling merusak (QS Ali Imran [3]: 130).

Tahap terakhir, Allah secara tegas mengharamkan riba dan menghalalkan jual beli. Firman Allah tentang pengharaman tersebut terdapat dalam surah Albaqarah [2] ayat 275-276.  

Implikasi logis dari pengharaman ini adalah orang-orang yang beriman diperintahkan untuk meninggalkan segala bentuk riba meskipun kecil persentasenya. Allah dan rasul-Nya bahkan mengajak untuk berperang melawan siapa saja yang masih menggunakan instrumen riba dalam kegiatan ekonominya. 

Firman-Nya, "Maka, jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan riba), Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan, jika kamu bertobat, bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya, dan tidak pula dianiaya." (QS Albaqarah [2]: 278).

Dengan diturunkannya ayat ini, status haramnya riba bersifat final dan  kulli atau menyeluruh, baik itu dalam jumlah kecil maupun besar.

Kriteria Bahagia oleh Saidah Hanum Ma

Sungguh sebuah kenikmatan yg tiada terhingga bahwa kita diberi kekuatan jiwa dan raga untuk senantiasa iltizam dalam Islam.tatanan hidup ilahiyah tak meninggalkan satu bagian pun dalam kehidupan sehari-hari, dari persoalan yg kecil hingga persoalan besar. 
Dari masalah pribadi, keluarga, masyarakat, negara hingga hubungan internasioanl, taiad satu pun yg luput dari perhatian Islam. Berbagai aturan islam dalam kehidupan sehari-hari tidaklah bermaksud memenjarakan manusia dalam dinding kejumudan dan keterbelakangan. Bahkan sebaliknya, hal itu dinmaksudkan sebagai penjagaan yg amat kokoh terhadap hak-hak jiwa, kehidupan, keturunan, harta benda dan kehormatan. Perhatikanlah bagaimana Rasulullah saw memberikan pengarahan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.
Rasulullah saw bersabda:"Faktor yang membahagiakan anak adam itu ada tiga perkara, dan faktor yang mencelakakannya juga ada tiga perkara. di antara faktor yang membehagiakannya ialah; wanita (istri/pasangan) shalikhah, tempat tinggal yang baik, dan kendaraan yang baik.sedangkan yang mencelakan anak adam adalah wanita(istri/pasangan) yang buruk perangainya, tempat tinggal yang buruk, dan kendaraan yang buruk.(HR Ahmad, Thabrani, al-Bazzar dan al-Hakim)" 
Dalam riwayat yang lain Rasulullah bersabda:"Empat perkara yang dapat membahagiakan amanusia yaitu; wanita (istri/pasangan) yang shalikhah, tempat tinggal yang lapang, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman.Empat perkara yang menyengsarakan adalah tetangga yang buruk perangainya, istri (pasangan)yang buruk akhlaqnya, kendaraan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit (HR ibnu Hibban)".

: Mari, Sebarkan Kedamaian

Oleh Andri Rosadi MA

Negara kita pernah dilanda konflik bernuansa agama yang berakibat jatuhnya korban jiwa, hancurnya sejumlah rumah ibadah, serta rusaknya infrastruktur dan tatanan sosial budaya. Dalam beberapa minggu terakhir, suasana yang hampir sama juga terjadi di negara tetangga kita yang menyebabkan rusaknya beberapa gereja. 

Untungnya, tidak ada korban jiwa. Ada satu persamaan mendasar antara kita dan tetangga, yaitu sama-sama mayoritas Muslim. Karena itu, kasus-kasus yang melibatkan kaum Muslim di kedua negara seyogianya kita renungkan bersama untuk dijadikan pelajaran. 

Sebagai umat mayoritas, ada kewajiban moral kaum Muslim untuk melindungi umat lainnya. Jika terjadi kesalahpahaman, kaum Muslim hendaknya menghindari cara-cara yang anarkis. Karena, hal itu bertentangan dengan semangat Islam yang menekankan kedamaian. Menjadikan agama sebagai landasan untuk melakukan perusakan terhadap rumah ibadah agama lain sama saja dengan mengingkari inti sari ajaran Islam yang sangat menekankan keharmonisan.

Berkaitan dengan kasus-kasus di atas, ada dua pelajaran penting yang perlu kita renungkan. Pelajaran pertama terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Saat itu, Umar mengirim pasukan untuk merebut Yerusalem dari tangan pasukan Romawi. Setelah melalui peperangan yang sengit, pasukan Islam akhirnya berhasil merebut Yerusalem. 

Namun, patriark tertinggi yang memegang kunci tembok Yerusalem menolak menyerahkan kunci, kecuali langsung kepada Umar. Untuk kepentingan ini, Umar pun datang ke Yerusalem. Di tanah yang baru direbut itu, belum ada masjid, yang ada hanya gereja-gereja. Ketika Umar hendak melaksanakan shalat, ia dipersilakan oleh sang pendeta agar shalat di dalam gereja saja, namun Umar menolaknya. 

Ia lebih memilih shalat di atas tanah berpasir. Mengapa? Ternyata, ia takut kalau gereja tersebut suatu ketika diambil alih oleh penerusnya hanya karena Umar pernah shalat di situ. Suatu pikiran yang sangat jauh ke depan, yang didasarkan pada penghormatan yang tinggi pada eksistensi penganut agama lain di wilayahnya.

Dalam kasus lain, Rasulullah selalu berpesan kepada pasukannya sebelum berangkat ke medan perang agar tidak membunuh perempuan, orang tua, anak-anak, dan tidak merusak rumah ibadah penganut agama lain. 

Dalam kondisi perang saja, Rasulullah masih sangat menghormati semua rumah ibadah. Mengapa kita yang dalam kondisi damai saat ini justru merusaknya? Mari, kita renungkan kembali perilaku dan ajaran Rasulullah kita yang agung. Islam sebagai rahmat bagi semesta alam hanya bisa terwujud jika perilaku umatnya mengedepankan kedamaian dan keharmonisan, bukan sebaliknya.


: KOMPONEN KEBAHAGIAAN HIDUP

Catatan 'Milady Ahmad


Hidup Bahagia adalah dambaan, hidup bahagia adalah harapan, hidup bahagia adalah pimta dan panjatan doa setiap insan... bukankah do'a sapu jagad mengisyaratkan itu... Sa'aadah ad daaroyn... bahagia dunia akhirat... Suatu hari Ibnu Abbas ra ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan itu. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :


1. Hati yang pandai bersyukur/Qalbun syakirun. Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, iri dengki terhindarkan, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu : "Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap "bandel" dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur...

2. Al azwaaju shaalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh. Pasangan hidup yang baik akan menciptakan atmosfer rumah dan keluarga yang baik pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholehah, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholehah.

3. al aulaaduL abroor, yaitu anak yang soleh. Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?" Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

4. albii'atus shoolihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

5. al maalul halaal, atau harta yang halal. Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan". Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
6. Keenam, Tafaqquh fid dien (semangat memperdalam agama). Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng "hidup" kan hatinya, hati yang "hidup" adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam. 

7. Ketujuh, yaitu umur yang baroKah. artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat "hidup" orang-orang yang barokah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya barokah. 

Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.
 (Aam Aminudin.)

: Cerdas dan Humanis

Leila Mona Ganiem
(Doktor Ilmu Komunikasi dan Konsultan Pengembangan Pribadi)

Sebuah tulisan berjudul 'Pendidikan Budaya dan Karakter Menurun'  (Republika, 18 Januari 2010) mengusik perasaan saya. Nilai-nilai budaya, seperti tata krama, etika, kreativitas, keteguhan hati, tangguh, pantang menyerah, bangga terhadap budaya sendiri, berjuang dan berprestasi dengan optimal, serta nilai-nilai luhur lainnya, kian langka kita temukan. Urgensi yang muncul dari realitas ini adalah kebutuhan akan pribadi manusia Indonesia yang berbudaya dan berkarakter tangguh.

Sebagai acuan dasar, kita dapat menggunakan konsep brain, behaviour, beauty (3B). Konsep 3B kerap dipakai sebagai tolok ukur kepribadian yang baik diranah profesional ataupun sosial. Kontes pemilihan putri/jejaka juga biasa mengukur indikator ini. Mari, kita elaborasi  tiga kekuatan tadi. 

Brain, behavior, and beauty
Brain atau pikiran merefleksikan pengetahuan yang diperlukan dalam hidup. Brain juga berkaitan dengan pilihan keahlian yang didalami. Keahlian tersebut membawa seseorang pada perannya saat ini. Penggalian keahlian yang mumpuni mendukung peran signifikan seseorang. Brain lebih bermakna tidak single, melainkan multibidang. Misalnya, seorang guru profesional perlu memiliki pengetahuan subbidang materi ajarnya, penyampaian materi ajar, psikologi anak, strategi memotivasi agar anak berminat mengelaborasi kreatif potensinya, bahasa Inggris,  menulis, tahu teknologi informasi, etika, dan masih banyak lagi. Analogi yang kira-kira sama dapat digunakan bagi pekerjaan lain, seperti jurnalis, dokter, petani, pedagang, direktur perusahaan, dan berbagai peran lainnya. 

Behavior atau perilaku. Dalam kehidupan, keahlian atau pengetahuan saja tidak cukup. Menurut David Goleman, perlu perilaku yang disebut kecerdasan emosional. Menurutnya, ada empat kompetensi penting yang selayaknya digunakan seseorang. Pertama, mampu membaca emosi diri dan dampaknya terhadap orang lain. Kedua, mampu mengontrol emosi serta beradaptasi pada perubahan lingkungan. Ketiga, mampu memahami emosi orang lain dan dampaknya terhadap organisasi. Keempat, mampu menginspirasi, memengaruhi, mengembangkan orang lain, serta mengatasi konflik. 

Refleksi dari kecerdasan emosional tercermin dari sikap yang diambilnya. Mampukah seorang pejabat yang telah bersusah payah dan penuh biaya dalam memperoleh posisi menolak tawaran uang yang dihaturkan dengan sangat sopan dan tampak bebas risiko? Apakah seseorang memiliki kekuatan menahan diri dari narkoba yang ada di tangannya? Apakah seorang siswa bisa menahan diri dari menyontek yang saat itu bisa dilakukannya?  Kesanggupan memenangkan nilai-nilai luhur merefleksikan kecerdasan emosional seseorang.

Konsep ketiga, beauty, atau kemenarikan personal. Tanpa menafikan kodrat, penerimaan diri adalah refleksi damai diri atas berkah Ilahi. Optimalisasi potensi diri secara personal dapat meningkatkan kualitas interaksi. Kemenarikan personal dapat digali dengan berbagai cara. Misalnya, penggunaan ekspresi wajah; gerak tubuh yang meliputi cara duduk, berjalan, dan bersalaman; pengaturan jarak; penggunaan suara yang tepat; serta kemenarikan fisik, seperti kebersihan tubuh dan penampilan  sesuai konteks.

Ketiga konsep tersebut menarik. Namun, realitasnya, sistem pendidikan formal di Indonesia cenderung kurang mewadahi ketiga konsep itu secara komprehensif. Pendidikan formal cenderung membahas brain dan sedikit bahasan behavior

Di pendidikan informal semacam training, pengembangan pribadi lebih menekankanbeautybehavior. Mengacu pada tingginya kebutuhan merekonstruksi kurikulum yang menjembatani terciptanya manusia Indonesia yang mengerti budayanya dan memiliki karakter tangguh, melalui tulisan ini, saya bermaksud mengajukan dua konsep tambahan. 

Berkarakter tangguh
Indonesia merupakan negara multikultur, memiliki ratusan etnis, ratusan bahasa, ribuan pulau, ratusan bahasa, seni, tata krama, dan aneka keragaman lainnya. Namun, apakah kita dan anak-anak kita memahami, menguasai, dan mengaplikasikan nilai-nilai luhur bangsa dalam pola pikir, tindakan, dan perilaku? 

Masihkah nilai-nilai luhur, seperti kerja sama, menghargai orang lain, sopan santun, pantang menyerah, keuletan, dan menghormati orang tua, digunakan dalam keseharian perilaku? Apakah kita lebih tahu disko daripada tarian daerah? Apakah kita tidak lagi menggunakan bahasa daerah karena menganggap kurang bermanfaat? Sekali lagi, pemahaman dan pengaplikasian budaya dan nilai-nilai luhur bangsa adalah imperatif. Hal itu juga perlu menjadi gerakan bersama. Tanpa mempersenjatai diri dengan pemahaman budaya dan nilai-nilai luhur bangsa, kita akan sangat sulit mempertahankan warna budaya sendiri di tengah derasnya bombardir informasi dan budaya asing. 

Dengan pemahaman dan penguasaan budaya dan nilai-nilai luhur bangsa,  kita harapkan adanya manusia Indonesia yang berkarakter tangguh. Namun, itu tidak cukup karena Indonesia adalah negara dengan pluralitas sangat tinggi. Selain itu, kita adalah warga dunia yang hidup di desa global (Mc Luhan). 

Di dunia ini, terdapat ratusan negara, lima ribuan etnis,  6900 bahasa, ribuan agama dan kepercayaan, berbagai cara bersalaman, kekerabatan, pemilihan pendekatan bisnis, dan masih banyak keberagaman lainnya. Hingga, mampu berkomunikasi dengan orang berbeda budaya, beda etnis, dan beda bangsa menjadi kian penting.

Kemajuan teknologi informasi, alat transportasi, bisnis, kerja sama militer, peluang pendidikan, kerja sama media massa, atau perjalanan wisata membuat keterbukaan akses kian sempurna. 

Peluang dan tantangan yang ada membuat kita sebaiknya dapat menangkap kesempatan itu. Namun, secara harmoni mampu berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki perbedaan yang sangat nyata tersebut. Karena itu, perlunya kita menjadi manusia antarbudaya. 

Manusia antarbudaya adalah manusia humanis yang memiliki kemampuan berkomunikasi efektif dengan orang berbeda budaya, beda etnis, dan beda bangsa.
 

: Alquranku Inspirasiku

Oleh Yodi Indrayadi

Hampir bisa dipastikan, di setiap rumah keluarga Muslim, ada satu mushaf Alquran yang disimpan di rak buku atau lemari kecil di tempat shalat bersama sajadah, sarung, dan mukena. Tapi, seberapa sering kita membacanya? 

Membaca Alquran tidak cukup hanya pada bulan Ramadhan. Membacanya harus selalu dilakukan setiap hari, bahkan di setiap kesempatan. Bukan semata karena besarnya pahala membaca kitab suci itu, tapi juga karena ia merupakan pedoman hidup kita, inspirasi kita. 

Allah berfirman, "Dan, Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri." (QS Annahl [16]: 89).

Dalam kerangka inilah, Rasulullah SAW kerap mendorong umatnya agar rajin membaca Alquran. Tidak sedikit hadis yang menjelaskan keutamaan membaca Alquran. Salah satunya, yang paling masyhur, adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Ibnu Mas'ud.
 
Rasulullah bersabda, "Siapa yang membaca satu huruf Alquran, baginya satu kebaikan. Dan, satu kebaikan itu dikali sepuluh. Aku tidak mengatakan 'alif lam mim' sebagai satu huruf. Tapi, 'alif' satu huruf, 'lam' satu huruf, dan 'mim' satu huruf."

Dalam kesempatan lain, Rasulullah bersabda, "Bacalah Alquran! Karena, pada hari kiamat, ia akan datang menjadi penolong bagi yang membacanya." (HR Muslim dan Ahmad). 

Tentu, bukan sekadar membaca biasa yang dimaksud oleh Rasulullah dalam hadis tersebut, tapi membaca sekaligus memahami dan kemudian mengamalkannya. Oleh karena itu, sudah saatnya kita meningkatkan kualitas bacaan Alquran kita dari level "membaca biasa" ke level yang lebih tinggi, yakni "membaca sekaligus memahami dan mengamalkannya". 

Memang, itu tidak mudah dilakukan. Tapi, dengan pembiasaan, itu bukanlah hal yang mustahil. Alquran sendiri telah menjamin bahwa ayat-ayatnya sangat mudah dipahami bagi siapa saja yang mau memahaminya. "Dan, sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?" (QS Alqamar [54]: 17).

Dengan demikian, Alquran pun akan menjadi inspirasi bagi kita dalam bertutur, bertingkah laku, bersikap, dan menyelesaikan setiap persoalan hidup. Setidaknya, bisa menjadi penolong kita di hari kiamat kelak, seperti yang digambarkan hadis Nabi SAW di atas.


: Karena Diampuni, Ia Bertobat

Oleh KH A Hasyim Muzadi

Syahdan, seseorang mendatangi majelis pengajian Rabi'ah Al-Adawiyah. Kepada salah seorang wanita sufi terbesar dalam Islam itu, ia membuat testimoni seputar kehidupannya. Ia akui betapa sudah terlalu jauh meninggalkan Allah SWT dan sudah tak terhitung lagi dosa yang dia perbuat, baik dosa-dosa kabaair (dosa-dosa besar) maupun dosa soghooir

Di ujung kelelahan pengembaraannya itu, ia merasakan bukannya kesadaran positif yang muncul, melainkan malah merasa semakin jauh dari ketidaktaatan kepada Allah SWT. Lalu, dia bertanya, apakah kalau pada akhirnya ia bertobat Allah SWT akan mengampuninya. ''Tidak!'' jawab Rabi'ah. Ia tercekat. Serasa palu godam menerjang dadanya. ''Tetapi, apabila Dia mengampunimu, engkau akan bertobat,'' ujar Rabi'ah.

Jawaban Rabi'ah ini sungguh membuat nurani siapa saja akan bergetar. Jawaban itu merombak seluruh sendi kesadaran kita tentang pertobatan dan pengampunan. Selama ini, kita selalu menutup pintu bagi pemaknaan tunggal atas pertobatan dan pengampunan. Biasanya, kita beranggapan bahwa kalau kita bertobat atas dosa-dosa, lalu Allah SWT akan serta-merta mengampuni kita.

Padahal, menurut perspektif Rabi'ah, seseorang memerlukan kualifikasi tertentu untuk bisa melakukan pertobatan sehingga memperoleh pengampunan. Dalam pandangan Rabi'ah, pertobatan datang setelah turunnya pengampunan dan bukan sebaliknya. Jadi, kalau Allah SWT telah mengampuni kita, demikian konstatasi Rabi'ah, kita akan dianugerahkan kesempatan untuk menyampaikan pengakuan akan dosa dalam bentuk pertobatan.

Maknanya pula, pertobatan yang tulus baru akan muncul setelah kita mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Karena itu pulalah, dunia eskatologi Islam nyaris pada satu kata tentang maqam tobat. Tobat berada pada maqam paling awal bagi mereka yang ingin pulang kembali kepada Tuhannya. Kalau maqam ini didapat, seseorang bertobat bukan lagi atas dosa yang dilakukan, melainkan atas kelalaian dan kealpaan yang membuat pengabdiannya kepada Allah SWT terganggu.

InnalLaaha yuhibbut tawwaabinna wa yuhibul mutathohhirin. ''Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.'' (QS al-Baqarah [2]:222]. 

At-Taa-ib minadz dzanbi kaman la dzanba lahuu. ''Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa.'' (HR Ibnu Hibban). Begitulah seharusnya kita menikmati pertobatan sebagai sebuah jalan pulang terbaik bagi kita kepada Allah SWT.

: Mengembangkan Islam 'Tinta'

Husein Ja'far Al Hadar
(Peminat Studi Agama dan Filsafat)

Konon, sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Marhabi mengisahkan bahwa nanti di hari kiamat, darah syuhada (orang-orang yang mati syahid di 'jalan' Tuhannya) dan tinta ulama (orang-orang berilmu) akan ditimbang. Saat momen itu tiba, akan ada episode yang mencengangkan, yaitu tinta ulama lebih 'berat' (lebih mulia) daripada darah syuhada.

Di sini, darah dan tinta bukan perkara sederhana. Namun, keduanya patut dipahami secara kontekstual dan mendalam. Darah dan tinta bukan sekadar gambaran tentang posisi syuhada vis a vis ulama. Namun, keduanya merupakan sebuah simbol tentang sebuah manajemen dakwah dan syiar Islam. Bahkan, lebih dalam lagi, keduanya adalah simbol corak keberislaman. 

Darah merupakan simbol dari corak keberislaman yang cenderung berbasis ekstremis-militan yang ditopang oleh pemahaman keislaman yang bersifat eksklusif-tekstualis. Corak keberislaman 'darah' ini biasanya menjadikan pedang--simbol anarkisme--sebagai media dakwah dan syiarnya. Corak keberislaman seperti itu banyak berkembang di kawasan Timur Tengah, khususnya Afghanistan, Pakistan, dan Yaman. 

Adapun tinta merupakan simbol dari corak keberislaman berbasis moderat-pluralis yang berfondasikan pemahaman keislaman yang bersifat inklusif-kontekstualis. Corak keberislaman 'tinta' ini biasanya menjadikan pena--simbol dialog dan toleransi--sebagai media dakwah dan syiarnya. Islam bercorak 'tinta' inilah yang berkembang di Indonesia. Pasalnya, sejak awal penyebarannya di Indonesia, Islam memang disyiarkan dengan manajemen 'tinta', khususnya oleh Wali Songo.

Pada dasarnya, Islam cenderung lebih mendorong umatnya untuk mengembangkan corak keberislaman berbasis 'tinta'. Hadis dan kisah yang diriwayatkan oleh Al-Marhabi di atas setidaknya merupakan indikasi kuat dan signifikan atas hal itu. Selain itu, Alquran pun selalu menjunjung tinggi dan memuliakan kalangan ulama dibandingkan kalangan Muslim yang telah berpredikat Mukmin sekalipun. 

Bertolak dari sini, sejatinya terlihat bahwa Islam cenderung menekankan umatnya untuk mengembangkan corak keberislaman yang moderat, toleran, serta pluralis. Selain itu, hal tersebut juga mengindikasikan bahwa sejatinya Islam cenderung mengarahkan umatnya untuk berpikir dan memahami Islam secara kontekstualis yang menjadi ciri khas kalangan ulama. Dalam artian, berbagai teks dan doktrin Islam tidak dibaca dan dipraktikkan secara gegabah dan apa adanya. Namun, sebagaimana ciri kalangan ulama, teks dan doktrin-doktrin Islam itu dipahami dan direnungkan secara mendalam dan komprehensif serta dikontekstualisasikan dengan konteks diri ataupun umat Islam saat ini.
 
Dalam upaya menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, Islam menganjurkan umatnya untuk lebih memilih dan mengedepankan manajemen 'tinta'. Islam menganjurkan umatnya untuk menasihati dan berdialog dalam ber-amar ma'ruf-nahi munkar. Adapun manajemen 'darah' hanya direstui untuk dipilih dalam ber-amar ma'ruf-nahi munkarketika manajemen 'tinta' telah dilalui dan benar-benar tak berhasil. Oleh karena itu, dalam pandangan penulis, sejatinya Islam lebih menekankan umatnya untuk mensyiarkan Islamnya secara toleran, moderat, serta damai berbasis dialog.

Namun, tulisan ini tidak hendak menarik garis pemisah yang bersifat paradoks antara syuhada vis a vis ulama. Tulisan ini juga tidak hendak menciptakan dualisme corak keberislaman yang paradoks, yang kemudian menuntut umat Islam untuk memilih salah satunya. Begitu pula dengan hadis di atas. Bagi penulis, dua corak keberislaman--baik 'tinta' maupun 'darah'--tersebut dipahami sebagai salah satu bentuk kekayaan dan keragaman khazanah keberislaman. Oleh karena itu, ketika umat Islam memilih corak keberislaman berbasis 'tinta', bukan berarti ia kemudian mustahil menjadi bagian dari bahtera syuhada. Umat Islam tidak dituntut untuk memilih salah satunya. 

Namun, menurut penulis, umat Islam justru dituntut untuk mengakomodasi keduanya secara apik. Dalam artian, ia tak mesti mengangkat pedang dan menjadi militan untuk menjadi syuhada. Seorang Muslim dituntut untuk menjadi ulama (orang yang berilmu) atau setidaknya ber-Islam secara pandai. Sebab, dengan begitu, ketika mati pun ia akan mati dan dikenang sebagai seorang syahid. Ia akan menjadi ulama yang berlayar dengan bahtera syuhada menuju Tuhannya. Sehingga, ia ternilai telah mengakomodasi keduanya dengan apik, tanpa harus mengesampingkan salah satunya. 

Upaya mengakomodasi keduanya secara apik itu telah ditunjukkan dan diteladankan oleh berbagai pemikir Islam, mulai dari Suhrawardi, Al-Hallaj, Syekh Siti Jenar, Murtadha Muthahhari, hingga Ali Syari'ati. Mereka adalah ulama yang juga mati dan dikenang sebagai seorang syahid, tanpa harus mengangkat pedang. Begitu pula dengan ulama-ulama Muslim lainnya, seperti Ibn Sina, Al-Ghazali, Mulla Shadra, Khomaeni, dan juga Gus Dur.

Dalam pandangan penulis, itulah yang membuat Islam dalam Alquran dan hadis cenderung lebih mengarahkan dan mendidik umatnya untuk menjadi ulama (Muslim yang pandai) dengan corak dan manajemen keberislaman berbasis 'tinta'. Hal itu bukan untuk menciptakan dualisme. 

Namun, karena seorang ulama, tanpa harus mengangkat pedang, ia niscaya akan mati dan dikenang sebagai seorang syahid. Selain itu, juga karena dengan corak dan manajemen keberislaman berbasis 'tinta', Islam akan tampak lebih 'cerah' dan mencerahkan umat manusia dengan berbagai kreasi pena umatnya, sebagaimana terjadi dan berkembang di masa Abbasiyah. Sehingga, dengan begitu, Islam akan benar-benar menjadi rahmatan lil alamin. Wallahualam

: Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta

oleh : Ustd. M.Fauzil Adhim
di copy dari notes seorang teman.

Bila malam sudah beranjak mendapati subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri anda yang sedang terbaring letih menemani bayi anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirah barang sekejap. Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Disaat anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letih istri anda barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri anda pula yang harus mencucinya.

Disaat seperti itu, apakah yang anda pikirkan tentang dia?

Masihkan anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara disaat yang sama anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam berbicara, lulus dalam memilih setiap kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, masihkan anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak anda membiarkan istri membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara suami tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tak sabar.

Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.

Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada anda.

Sementara gejolak-gejolak jiwa memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan utuk mendengar, atau ia tak pernah anda akui keberadaannya, maka kangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak.

Jangankan istri anda yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi SAW tak mau mendengarkan melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi SAW hanya diam mengjadapi 'Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.

Ketika menginginkan ibu anak-anak anda selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu anda berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu anda berikan agar hatinya tidak dingin,apalagi beku, dalam menghadapu anak-anak setiap hari. Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih sayang.

Ada ketulusan yang harus anda usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap mememilki energi untuk tersenyum kepada anak-anak anda, sepenat apapun ia.

Ada lagi yang lain : PENGAKUAN. Meski ia tak pernah menuntut, tetapi mestikah anda menunggu sampai mukanya berkerut-kerut.

Karenanya, anda kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu melewati tengah malam, pandanglah istri anda yang terbaring letih itu, lalu pikirkanlah sejenak, tak adakah yang bisa anda lakukan sekedar mengucapkan terima kasih atau menyatakan sayang bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.

Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka,"ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan intuk itu?"


Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya meyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau anda terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah, sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang anda lakukan.

Anda tidak akan mendapati amal-amal anda saat berjumpa dengan Allah di yaumil-qiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin anda lakukan, terserah anda. Yang jelas, ada pengakuan untukknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan anda untuk menyatakan terima kasih, tak ada airmata duka yang menetes baginya, tak adal lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karema merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang anda berikan lepadanya, kelak istri anda akan berkata tentang anda sebagaimana Bunda 'Aisyah RA berucap tentang suaminya, Rasulullah SAW,"Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku".

Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya.

Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan. Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.

Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah anda ingat kembali ketika Rasulullah SAW berpesan tentang istri. "wahai manusia, sensungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah."kata Rasulullah SAW melanjutkan." kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan merreka dengan kitan Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurusi istri kalian. Aku wasiatklan atas kalian intuk selalu berbuat baik."

Anda telah mengambil istri anda sebagai amanah dari Allah. Kelak anda harus melaporkan kepada Allah Ta'ala bagaimana anda menunaikan amanah dari-Nya. Apakah anda mengabaikannya sehingga guratan-guratan dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, anda sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri.

SEPUTAR RIZKI

Rizki yang baik adalah rizki yang diridhai Allah dan didalamnya ada keberkahan yang sangat berpengaruh sekali terhadap kesejahteraan maupun kebahagiaan penerima rizki. Namun jika kita cermati, ciptaan Allah selalu dibuatnya bertingkat tingkat, jika Allah mencipta sesuatu yang baik selalu diikuti ciptaanNya yang lebih baik dan seterusnya. Sehingga lahir ungkapan pepatah yg sangat populer; "diatas langit masih ada langit". Demikian pula dengan rizki, dia disediakan Allah untuk hamba hamba-Nya dengan banyak variasi kelas, sesuai dengan posisi langitnya yang telah berhasil diraih hambanya ( posisi kerohaniannya). Jika kita cermati penjelasan yang ada dalam Alkitab, rezki itu dibedakan menjadi 5 tingkatan :

1. Rizqun Thoyib ( rizki yang baik ). Orang mukmin secara umum dikaruniai rizki yg baik oleh Allah. Rizki yang baik adalah rizki yang perolehannya melalui suatu proses memilih, baik dari pilihan jenisnya, yaitu yang tidak dilarang oleh Allah dan Rasulnya untuk kita manfaatkan, maupun pilihan cara memperolehnya, yaitu tidak menggunakan jalan atau cara yang tidak dibenarkan oleh ajaran agama Allah. Rizki yang halal terdapat ridha Allah dan berkahnya serta sangat bermanfaat bagi kehidupan jasadiyah dan rohaniyah kita. Sebaliknya , yang haram terdapat ghadhab Allah dan kemadharatan yang akan berpengaruh buruk bagi kehidupan jasadiyah maupun rohaniyah kita.
"Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah".( Q.S. Al Hajj ayat 50)

2. Rizqun Kariim ( rizki yang karomah ). Maksudnya adalah karunia rizki dari Allah yang jalan perolehannya diluar jangkauan logika, atau kalau kita meminjam istilah orang jawa; "rezki keramat". Sebagai suatu bentuk pemulyaan Allah kepada hambanya yang beriman dan beramal shaleh dengan sebenarnya. Hal ini sudah banyak sekali terjadi, baik di masa masa umat terdahulu maupun umat sekarang. Terjadinya, limpahan rizki yang demikian banyak tanpa dia sendiri menempuh jalan sebagaimana kebanyakan orang melakukannya, yaitu bekerja secara manual. Rizki keramat ini deberikan kepada siapa saja hambaNya yang bisa memenuhi dua kriteria persyaratan, yaitu iman dan amal shaleh.

3. Rizqun min haitsu laa yahtasib ( rizqi diluar perhitungan atau perkiraan ). Lazimnya, orang memperoleh rizki itu dari sesuatu yang sudah diperhitungkan dan di perkirakannya. Seperti dari hasil usahanya atau gajinya yang biasa dia terima setiap harinya, setiap minggunya maupun setiap bulannya. Dan yang demikian ini sangat berguna untuk memperhitungkan budget belanja rumah tangganya. Namun begitu bagi orang orang yang bertaqwa (sesuai konsep Qur'an), disamping akses rizki konvensional seperti tersebut di atas, disediakan oleh Allah akses rizki sepesial 'Rizqun min haitsu yahtasib', rizki yang di datangkan dari arah yang tidak diduganya. "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya" (Q.S. Ath Thalaaq ayat 2-3)

4. Rizqun ma'luum ( rizki yg terfikir ). Rizki ma'lum adalah merupakan peringkat rezki tertinggi yang diberikan Allah kepada hambanya yang mukhlis. Orang yang mukhlis disediakan rizki ma'lum oleh Allah yang Maha Kuasa, yaitu suatu rezki yang pro aktif, terlintas saja dalam fikiran atau keinginan kita, maka fikiran atau keinginan itu diwujudkan oleh Allah dengan melalui banyak media cara yang Allah punya. Kita ingin , dapat. Kita memikirnya, kita dapat. Orang orang yang seperti inilah yang kemudian di era sekarang ini kita mengenalnya sebagai 'waliyullah'. Tetapi hamba-hamba Allah yang Mukhlis. Mereka itu memperoleh rezki yang tertentu (ma'lum). (Q.S. Ash Shoffat ayat 40-41)


SEBAB SEBAB TURUN DAN TERHALANGNYA REZKI

Kita semua mengerti bahwa terjadinya segala sesuatu selalu disertai adanya tata aturan yang ditetapkan oleh Allah SWT, yg lazim kita kenal dengan hukum alam atau istilah santrinya 'Sunnatullah'. Demikian pula dengan rezki , dia memiliki sebab sebab turunnya dan demikian pula mempunyai penghalang turunnya, sebagai pasangannya. 
Ada beberapa factor yg memicu turunnya rezki. 

1. Taqdir. Allah berfirman ; 'Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, Sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti Perkataan yang kamu ucapkan. (Q.S. Adz Dzaariyaat ayat 22-23 ). Namun demikian suratan taqdir itu bukanlah harga mati, Allah Maha Pemurah memberi peluang bagi kita untuk menawarnya, menawar untuk mengubah suratan itu menuju kepada yang lebih baik, yaitu dengan doa kita. 
Rasulullah bersabda, "Tidaklah menambah dalam umur kecuali kebaikan, dan tidaklah bisa menolak takdir kecuali doa dan sesungguhnya seseorang benar-benar dicegah rizkinya dengan sebab dosa yang ia lakukan. '( HR. Ahmad & Ibnu Majah)

2. Karena kemu'minan seseorang. Rasulullah bersabda, "Tidaklah diantara orang mukmin melainkan baginya dua pintu : "Pintu yang darinya amal naik dan pintu yang darinya rezki turun", jika dia mati keduanya menangisinya.' ( HR. Tirmidzi)

3. Karena menuntut ilmu ( tholabul ilmi ). 
"Barangsiapa menuntut ilmu, Allah menanggung rezki untuknya". (HR. Khatib dari Ziyad bin Harta Ash Shadai, dikutip dari Kitab Al Jami'us Shagier V, Hal. 266)

4. Silaturrahim dan berbuat baik kepada kedua orang tua ( birrul walidaini ). 
Nabi saw bersabda, "Barangsiapa (ingin) dilapangkan rezkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah menyambung silaturahmi. dalam ahmad 12922 Baqi Musnad Al Mukatsirin disebutkan … hendaklah berbuat baik kepada orang tuanya dan menyambung silaturahmi' ( Bukhari, Muslim, Abu dawud & Ahmad)

5. Kunjungan tamu. 
"Tamu itu datang dengan rezkinya dan pergi membawa dosa-dosa kamu, menghapus dosa-dosa mereka". (HR. Abu Syekh dari Abu Darda, dikutip dari Kitab al Jami'us Shagier )

Adapun factor yang bisa menjadi penghambat turunnya rizki yaitu :

1. Perbuatan dosa. Ilustrasi yang barangkali bisa membantu pemahaman kita tentang melaksanakan dosa itu yaitu manakala malaikat Mikail atau pasukannya hendak mendistribusikan nur rezki itu kepada kita, dan pada saat itu kita sedang berjudi, berzina atau sedang mencuri atau amal dosa lainnya, niscaya dibatalkanlah jatah rezki itu yg mestinya merupakan jatah kita saat itu. Rasulullah bersabda, "Tidaklah menambah dalam umur kecuali kebaikan, dan tidaklah bisa menolak takdir kecuali doa dan sesungguhnya seorang laki-laki benar-benar dicegah rezkinya dengan dosa yang dia lakukan. (Ahmad & Ibnu Majah)

2. Bermalas2an. sesungguhnya rezki itu terdistribusikan dalam bentuk nur, disebut 'nururrizqie', dan biasanya dilakukannya dipagi hari, awal manusia melakukan aktifitas hidupnya. Manakala orang yang hendak menerima nururrizqie tersebut sedang tidur pagi, maka menjadi batal. Rasulullah bersabda, "Ash Shubhat (tidur pagi) mencegah rezki. (HR. Abu Nu'aim, Kitab Al Jami'us Shagier, dan Ahmad )

3. berbuat curang . Kecurangan yang kita lakukan dalam mengais rizki sesungguhnya tidaklah sedikitpun bisa menambah kuantitas rizki yang kita peroleh, justru bisa jadi keberkahan yang mestinya menyertai rizki itu jadi menguap, lebih lebih ridha Allah, sangatlah bisa kita pastikan tidak akan kita diperolehnya. Sunnatullahnya; berharap ridha Allah haruslah bisa melakukan apa yang disukai Allah. Dan kita tahu, Allah menyukai kejujuran dan sangat murka terhadap kebohongan. Dan curang dalam bekerja adalah manifestasi dari kebohongan itu. Rasulallah SAW bersabda : Dan tidaklah suatu kaum mengurangi timbangan dan ukuran, melainkan diputus rizki pada mereka. (Malik dari Abdullah bin Abbas – Al Jihad-maa jaa'a fil ghulul) (Sulung)

Menahan Marah

Oleh Imam Nur Suharno M.PdI

Marah adalah gejolak jiwa yang mengarah kepada tindak kekerasan, yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Karenanya, kemampuan menahan marah menjadi faktor penting dalam menciptakan suasana damai dan tenteram dalam kehidupan bermasyarakat.

Kemarahan adalah kelemahan, sedangkan kesabaran adalah kekuatan. Sabda Rasulullah SAW, ''Orang yang kuat bukanlah yang kuat dalam gulat. Orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Kemampuan menahan marah merupakan karakteristik orang bertakwa yang dijanjikan oleh Allah SWT sebagai penghuni surga. Orang yang mampu menahan marah berarti telah mampu meleburkan dirinya ke dalam diri orang lain dan membuang jauh-jauh sifat egois.

Allah SWT berfirman, ''Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya baik dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan marah dan memberi maaf kepada manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.'' (QS Ali Imran [3]:133-134).

Islam telah memberikan panduan praktis untuk mengatasi kebiasaan marah. Pertama, berusaha untuk berhenti bicara. Sebab, bila tetap bicara kemarahan akan semakin bertambah. Rasulullah SAW bersabda, ''Jika salah seorang di antara kamu marah maka diamlah. Nabi mengucapkannya sampai tiga kali.'' (HR Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Daud).

Kedua, membaca ta'awudz. Pada hakikatnya, marah yang tidak terkendalikan adalah dorongan setan. Dikisahkan, ada dua orang laki-laki yang saling mencaci di samping Rasulullah SAW. Salah satunya mencaci saudaranya sambil marah, hingga wajahnya memerah. 

Maka Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat, andai ia ucapkan tentu kemarahan mereka akan hilang, yaitu a'udzu billahi minasysyaithanirrajim

Dan ketiga, berwudhu. Sebab, pada dasarnya kemarahan adalah api yang membara, maka airlah yang akan memadamkan api tersebut. Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api. Jika seseorang di antara kamu marah maka berwudhulah.'' (HR Ahmad dan Abu Daud).
 

Sujud Tilawah

Oleh M Sinwani

''Wajahku bersujud kepada Zat yang telah menciptakannya, membentuknya, dan membuka pendengaran dan penglihatannya dengan daya upaya dan kekuatan-Nya. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling bagus.''

Demikian arti dari doa yang dibaca dalam sujud tilawah, sujud yang dilaksanakan manakala terbaca atau terdengar ayat-ayat yang bertanda khusus dalam Alquran, yaitu ayat-ayat sajadah. Aktivitas sujud, selain untuk mengingat eksistensi diri yang tercipta dari tanah dan akan kembali ke tanah, juga merefleksikan seluruh organ tubuh pada bentuk kesyukuran yang hakiki.

Ayat-ayat sajadah terdiri atas 15 ayat yang tersebar di beberapa surat dalam Alquran. Makna yang terkandung di dalamnya sangatlah esensial. Ia menunjukkan apa yang di langit maupun di bumi seluruhnya bersujud ke haribaan Allah. Begitu pula manusia, merupakan kelaziman baginya untuk tunduk patuh mengabdikan diri kepada-Nya. (QS Ar-Ra'd [13]:15).

Manusia terkadang merasa dirinya paling besar dan hebat saat segala kebutuhannya terpenuhi, kemauannya tercapai, dan omongannya didengar oleh banyak orang. Padahal, telah diingatkan oleh Allah akan jati diri manusia melalui takbir, rukuk, dan sujud dalam shalat. Itu pula yang berlaku pada sujud tilawah. Sujud ini diawali dengan takbir yang menyimbolkan pengakuan akan kebesaran-Nya; diiringi pujian untuk-Nya; dan diakhiri dengan salam. Ibnu Umar RA berkata, ''Adalah Nabi Muhammad SAW yang membacakan Alquran kepada kami. Maka, apabila melewati ayat sajadah, ia bertakbir dan sujud, dan kami pun sujud bersamanya.'' (HR Abu Dawud).

Sujud tilawah hukumnya sunah, tidak dibebankan kewajiban atas pelaksanaannya. Pahala terkandung di dalamnya saat dikerjakan, dan tiada berdosa saat ditinggalkan. Berkata Umar bin Khathab RA, ''Hai manusia, kita melewati ayat sujud. Barang siapa bersujud, ia mendapat pahala, dan barang siapa tidak bersujud, ia tidak berdosa.''

Hanya saja, saat esensi sujud tilawah dipahami dengan baik, maka akan muncul keterpanggilan untuk sujud. Pemahaman merupakan tolok ukur dari seluruh pekerjaan. Baik tidaknya pekerjaan maupun ibadah seseorang tergantung seberapa dalam ia memahaminya. Pemahaman pula yang menumbuhkan keyakinan dan optimisme dalam sujud.

Sujud adalah manifestasi penyerahan diri kepada sang Khalik secara totalitas tanpa tendensi apa pun; sarana mengingat kekuasaan-Nya; pelebur segala macam penyakit hati: riya', sombong, dan dengki; penghapus segala hal pembeda dalam diri manusia: gelar, pangkat, dan keturunan. Seluruhnya sama, hanya takwa yang menjadikan seseorang istimewa di hadapan Allah SWT.

Ketika Suami tak Lagi Menafkahi

Fikih Muslimah

Oleh 
Yusuf Assidiq

Seorang suami wajib menafkahi istrinya dengan cara yang ma'ruf (baik). 

Hidup berumah tangga ibarat mengarungi samudera.  Terkadang tenang, namun sesekali datang ombak besar yang akan menguji ketangguhan biduk rumah tangga. Kehidupan pasangan suami-istri dalam berumah tangga pun banyak dihadapkan pada kerikil-kerikil serta pernik-pernik hidup. 

''Rumah tangga adalah mempersatukan dua keunikan, keunikan suami dan keunikan istri,'' papar Guru Besar Psikologi Islam, Prof Ahmad Mubarok dalam bukunya bertajuk Psikologi Keluarga. Menurut dia, jika keunikan suami dan istri bersinergi, maka rumah tangga yang sakinah bisa tercapai.

Selain mampu mempersatukan dua keunikan, pasangan suami-istri pun harus memahami hak dan kewajiban masing-masing.  Salah satu ketentuan yang paling mendasar dalam sebuah rumah tangga,  seorang suami wajib memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya dengan cara yang halal dan baik.

Secara harfiah, nafkah berarti harta atau semacamnya yang diinfakkan atau dibelanjakan oleh seseorang. Sedangkan secara istilah, nafkah merupakan kewajiban suami atas istri dan anak-anaknya berupa uang, sandang, pangan, tempat tinggal dan sebagainya. 

Alquran surat  al-Baqarah ayat 233 menyebutkan, ''Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf.'' Ibnu Katsir  dalam tafsirnya menjelaskan, kewajiban memberikan nafkah dengan ma'ruf adalah berdasarkan kemampuan dan kebiasaan yang berlaku, dengan tanpa berlebihan, serta tanpa bakhil (menyempitkan). 

''Juga disesuaikan dengan kemampuannya di dalam kemudahannya, pertengahannya dan kesempitannya,'' ungkap Ibnu Katsir.  Terkait nafkah, baik Alquran maupun hadis memang tidak menyebutkan  kadar atau ukuran tertentu yang semestinya diberikan. Alquran hanya menggariskan nafkah yang diberikan seorang suami untuk istri dan anaknya haruslah ma'ruf.

Sedangkan Rasulullah  SAW menetapkan nafkah harus bisa mencukupi istri dan anaknya. Menurut Ibnu Taimiyah, syariat memang tidak menetapkan berapa jumlah nafkah yang wajib diberikan suami kepada istri dan anak-anaknya. Akan tetapi, ketentuannya berdasarkan tiap-tiap wilayah, keadaan ekonomi suami istri dan kebiasaan keduanya. 

Lalau bagaimana jika suami tidak memberikan nafkah kepada istri dan anaknya? Para ulama dan fukaha memandang masalah ini sebagai salah satu pemicu keretakan biduk rumah tangga.  Ulama terkemuka Syekh Yusuf al-Qardhawi sangat menyesalkan jika ada suami yang enggan melaksanakan kewajibannya menafkahi istri dan anaknya.

Ketua Persatuan Ulama Internasional itu  mengidentikkan tindakan suami yang tak menafkahi istrinya sebagai tindakan membelenggu leher istri.  ''Dia tidak memberinya belanja yang mencukupi dan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang logis,'' paparnya. 

Adapun Syekh Ibrahim Muhammad al-Jamal berpendapat jika suami tak memenuhi kewajibannya itu sebuah biduk rumah tangga akan rentan karam. Menurutnya, istri bisa menuntut cerai kepada suaminya apabila tidak lagi tak menafkahi. Hal itu, sambung dia, merupakan bagian dari hak istri atas suaminya. 

''Istri bisa mengajukan gugatan cerai kepada hakim apabila mengalami penderitaan terus menerus. Maka itu, dia boleh menuntut cerai,'' paparnya dalam buku /Fiqih Wanita/. Sejatinya, pendapat itu merujuk kepadapada Imam Malik, Imam Asyafi'i, serta Imam Ahmad yang membolehkan perceraian lewat keputusan hakim jika suami tidak lagi memberi nafkah. 

Dalam pandangan mereka, tidak memberi nafkah berarti tidak dapat mempertahankan istri dengan cara yang ma'ruf.  Meski begitu, lanjut Syekh Ibrahim Muhammad, dalam Islam perceraian adalah sesuatu yang boleh dilakukan, tapi sangat dibenci Allah. Sehingga, pada masalah ini hendaknya diketahui dulu penyebab suami tidak lagi memberikan nafkah. 

Syekh al Qardhawi melihat ada tipe suami yang kikir dan pelit terhadap istrinya. ''Tidak selayaknya suami bersifat kikir dalam memberi belanja kepada istri,'' urai Syekh al Qardhawi mengutip pendapat Imam Ghazali dalam buku /Fatwa Kontemporer/. 

Adapun Syaikh Umar Sulaiman al Asyqar menambahkan ada kalanya ketiadaan pemberian nafkah itu lantaran suami memang tidak mampu, baik akibat dipecat dari pekerjaannya, atau karena menderita sakit.   Mengenai hal ini, Abu Malik Kamal bin as Sayid Salim menyarankan supaya istri bisa bersabar terhadap kesusahan suaminya. 

Ia juga hendaknya terus mendampingi bahkan membantu semampunya.  Sebuah pasangan yang mampu mempersatukan dua keunikan akan dapat bertahan dalam gelombang besar dan badai sekalipun. Menurut Prof Mubarok, sesungguhnya, Tuhan telah menjamin rezeki hambanya.  Rezeki yang diberikan lewat suami atau pun istri haruslah dipandang sebagai rezeki bersama sekeluarga.

Doa untuk Almarhum

Oleh KH Didin Hafidhuddin

Salah satu perilaku yang dianjurkan oleh ajaran Islam untuk dibiasakan oleh seorang mukmin adalah mendoakan saudaranya sesama mukmin yang sudah meninggal dunia. Allah SWT berfirman, ''Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: 'Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu daripada kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang'.'' (QS Al-Hasyr [59]:10).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa ciri kaum mukmin yang baik adalah mereka yang suka mendoakan sesama saudaranya yang mukmin (Muslim) yang telah meninggal dunia terlebih dahulu. Iman dan Islam telah mempertemukan doa seorang Muslim dengan saudaranya yang sudah meninggal, walaupun di dunia ini tidak saling mengenal karena perbedaan tempat tinggal atau perbedaan masa hidupnya.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda, ''Ruh-ruh itu adalah ibarat kumpulan orang-orang yang bisa bertemu dan bisa berpisah. Apabila mereka saling mengenal (karena persamaan agama), mereka akan menyatu (secara otomatis). Dan apabila tidak saling mengenal (karena berbeda agama), maka mereka akan berpisah dengan sendirinya,'' (HR Imam Bukhari dari Siti Aisyah).

Karena itu, dengan alasan apa pun, seorang Muslim seharusnya tidak mendoakan seseorang yang sudah meninggal dunia dalam keadaan non-Muslim, meskipun itu sahabat, handai taulan, atau keluarganya sendiri.

Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat At-Taubah [9]:84, ''Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.''

Akan tetapi, dibolehkan bagi seorang Muslim untuk mendoakan orang non-Muslim yang masih hidup agar mendapat hidayah Allah SWT, seperti yang pernah dilakukan Rasulullah SAW yang mendoakan kaum Tha'if yang kafir yang melukainya. ''Ya Allah, limpahkan hidayah kepada mereka, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.''

Karena itu, upaya untuk memperkuat toleransi antarsesama umat beragama di negara kita haruslah diartikan untuk saling menghormati dan menghargai agama dan keyakinan masing-masing, serta saling bekerja sama dalam pembangunan bidang sosial kemasyarakatan. Bukannya diartikan untuk mencampuradukkan akidah dan ibadah yang satu dengan yang lain. Semoga Allah selalu menjaga bangsa dan umat Islam dari kerusakan akidah dan ibadah.

Lihat profil Facebook saya

facebook
Ayuna Fajrin
Ayuna Fajrin memiliki:
6 teman
0 foto
0 catatan
1 pesan dinding
0 grup

Lihat profil Facebook saya


Hai Kawan,

Saya membuat profil Facebook yang dapat saya kirimi foto, video, dan acara saya dan saya ingin menambahkan Anda sebagai teman sehingga Anda dapat melihatnya. Sebelumnya, Anda perlu bergabung dengan Facebook! Setelah bergabung, Anda dapat juga membuat profil Anda sendiri.

Terima kasih,
Ayuna

Untuk mendaftar ke Facebook, ikuti tautan berikut:
http://www.facebook.com/p.php?i=100000646675156&k=Z6E3Y5Q6SXYB5GBJPB63QTTQQQJEV34NUWFREKPDU2&r

Already have an account? Add this email address to your account here.
Lihat siapa lagi yang telah mengundang Anda ke Facebook:
Afandi Kusuma
Afandi Kusuma
2851 teman
35 foto
Kamu diundang untuk bergabung di Facebook oleh Ayuna Fajrin. Jika Anda tidak ingin lagi menerima email sejenis dari Facebook, silakan klik di sini untuk berhenti.
Kantor Facebook beralamat di 1601 S. California Ave., Palo Alto, CA 94304.

Ruh Ibadah

Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya Akhlak Seorang Muslim (1983: 5-6) menyatakan bahwa meskipun ibadah-ibadah yang diperintahkan ajaran Islam sangat bervariasi cara dan bentuknya, seperti misalnya shalat yang menekankan pada aspek ucapan dan perbuatan; ibadah zakat tekanannya pada pengeluaran sebagian harta yang dimiliki; ibadah shaum (puasa) pada upaya untuk menahan diri (imsak) dari makan, minum, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari selama satu bulan penuh; ibadah umrah dan haji tekanannya pada kekuatan fisik dan kekuatan harta (isthitha'ah), namun ibadah-ibadah tersebut memiliki ruh dan napas yang sama. Yakni, terbentuknya akhlak yang mulia dalam kehidupan seorang Muslim. Akhlak mulia itu tercermin terutama setelah yang bersangkutan melakukan kegiatan-kegiatan ibadah tersebut.

Seorang Muslim yang shalatnya khusyuk, di samping ketika melaksanakannya tepat dan benar, juga setelah shalat orang tersebut berusaha menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar. Yaitu, perbuatan yang merusak diri, keluarga, dan kehidupan bermasyarakat. Seperti misalnya menjauhkan diri dari memfitnah, mengadu domba, mengkorup (korupsi) harta negara, memutuskan tali silaturahmi, hanya pandai menghujat tetapi tidak pernah menginstrospeksi diri, kikir, hasad dan dengki, serta perbuatan-perbuatan buruk lainnya.

Allah SWT berfirman: Bacakan apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Alkitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan, sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain). Dan, Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS 29: 45).

Zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan, sesungguhnya mengantarkan pada kesucian jiwa dan harta (QS 9: 103) serta tanggung jawab sosial yang tinggi. Bahwa, pada setiap harta yang dimiliki terdapat hak orang lain.

Allah SWT berfirman tentang sifat-sifat orang mukmin yang akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan: Dan sesungguhnya pada harta mereka terdapat bagian tertentu bagi orang yang meminta ataupun yang tidak meminta.'' (QS 70: 24-25).

Shaum yang dilakukan dengan benar akan mengantarkan pelakunya pada perilaku takwa dan kemampuan mengendalikan diri yang sangat tinggi (QS 2: 183). Demikian pula ibadah haji dan umrah, akan menumbuhkan ruh dan napas pengorbanan yang tinggi, persamaan, ukhuwah, dan persaudaraan antara sesama Muslim, dan mujahadah (kesungguhan) dalam melakukan berbagai tugas pengabdian kepada Allah SWT dan kepada sesama manusia.

Atas dasar itu semua, maka ruh dan napas ibadah inilah yang harus senantiasa kita tumbuh kembangkan agar di tengah-tengah berbagai kerusakan dan degradasi moral yang terjadi sekarang ini, kaum Muslimin tetap memiliki integritas pribadi dan moral yang tinggi yang mampu meredam berbagai perilaku yang merusak. Wallahu a'lam bis shawab.

Pintu Surga

Terjemah Daqoiqul Akhbar

*** 

Ibnu Abbas ra. berkata: Surga mempunyai 8 pintu yang terbuat dari emas, yang dihiasi dengan jauhar (sejenis mutiara) dan pada pintu yang pertama tertulis kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH MUHAMMADUR RASUULULLAH, yaitu pintu bagi para Nabi dan Rasul, syuhada' dan juga pintunya orang-orang yang dermawan. Pintu yang kedua yaitu pintu bagi orang-orang yang mendirikan shalat, orang yang menyempurnakan wudhunya dan orang yang menyempurnakan rukun-rukun shalatnya. Pintu yang ketiga yaitu pintu bagi orang-orang yang memberikan zakatnya dengan senang hati dan ikhlas.Pintu yang keempat yaitu pintu bagi orang-orang yang memerintahkan kepada kebajikan dan mencegah terhadap perbuatan munkar. Pintu yang kelima yaitu pintu bagi orang-orang yang dapat memelihara syahwatnya dan mencegah dari nafsu yang buruk. Pintu yang keenam yaitu pintu bagi orang-orang yang melaksanakan haji dan umrah. Pintu yang ketujuh yaitu pintu bagi orang-orang yang berjihad (dijalan Allah). Dan pintu yang kedelapan yaitu pintu bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang yang memejamkan matanya dari perbuatan dan sesuatu yang haram, orang-orang yang melakukan kebaikan, diantaranya: berbuat baik kepada orang tua, mempererat tali persaudaraan (silaturrahim) dan lain sebagainya.

Surga ada 8 (delapan)macam:

  1. Darul Jalal yaitu surga yang terbuat dari mutiara putih.
  2. Darus Salam yaitu surga yang terbuat dari yaqut merah.
  3. Jannatul Ma'wa yaitu surga yang terbuat dari zabarjud hijau.
  4. Jannatul Khuldi yaitu surga yang terbuat dari marjan yang berwarna merah dan kuning.
  5. Jannatun Na'im yaitu surga yang terbuat dari perak putih.
  6. Jannatul Firdaus yaitu surga yang terbuat dari emas merah.
  7. Jannatul 'Adn yaitu surga yang terbuat dari intan putih.
  8. Darul Qarar yaitu surga yang terbuat dari emas merah.

 

Darul Qarar adalah surga yang paling utama dibandingkan dengan surga yang lain. Surga ini mempunyai dua pintu dan dua daun pintu, satu daun pintu terbuat dari emas, dan yang satunya terbuat dari perak. Jarak setiap pintu adalah sebagaimana jarak antara bumi dan langit. Adapun bangunan yang ada didalamnya terbuat dari bata emas dan bata perak, tanahnya dari misik, debunya dari anbar, rumputnya dari za'faran, istana-istananya terbuat dari mutiara, punggungnya dari yaqut dan pintunya dari jauhar.

Didalam surga ini terdapat sungai yang namanya sungai Rahmat yaitu sungai yang mengalir keseluruh surga, kerikil-kerikilnya dari mutiara yang sangat putih, lebih putih dari embun dan lebih manis dari madu.

Didalam surga terdapat sungai yang bernama Sungai Kautsar yaitu sungai Nabi kita Muhammad Saw. pohon-poinnya terbuat dari intan dan yaqut. Didalam surga juga terdapat sungai Kafur, sungai Tasnim, sungai Salsabil, sungai Rahiqul Makhtum dan dibelakang sungai-sungai ini terdapat sungai-sungai lain yang tidak terhitung jumlahnya.

Diriwayat Nabi Saw. beliau bersabda: "Pada malam aku dijalankan (isra') ke langit, telah diperlihatkan kepadaku seluruh surga, maka aku melihat empat sungai, yang pertama sungai dari air yang tidak berubah warnanya, kedua sungai dari susu yang tidak pernah berubah rasanya, dan ketiga sungai dari arak dan yang keempat sungai dari madu yang sangat bening." Sebagaimana firman Allah Swt.:

"Yang didalamnya terdapat sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamer yang lezat rasanya bagi orang yang meminumnya dan sungai-sungai dari madu yang bersih dan jernih." (Qs. muhammad: 15).

Maka aku tanyakan keada Malaikat Jibril as.: "Darimanakah datangnya sungai-sungai ini dan kemana mengalirnya? " Maka Malaikat Jibril as. menjawab: "Sungai itu mengalir ke telaga kautsar dan aku tidak tau dari mana asalnya, maka tanyakanlah kepada Allah agar Dia memberi tau dan memperlihatkan kepadamu." Maka berdoalah Nabi Muhammad kepada Allah Swt. Kemudian datanglah seorang malaikat kepada beliau dan memberi salam, seraya berkata:"Wahai Muhammad, pejamkanlah kedua matamu" Maka aku pejamkan mataku, lalu ia berkata:"Bukalah kedua matamu" maka aku buka kedua mataku, tiba-tiba aku berada dibawah pohon dan aku melihat kubah dari intan putih yang memiliki pintu-pintu dari yaqut hijau dan kunci-kuncinya dari emas merah. Andaikata semua makhluk yang ada didunia baik jin atau manusia berhenti diatas kubah itu, sungguh mereka hanya seperti burung yang hinggap diatas gunung. Maka aku melihat empat sungai itu mengalir dari kubah itu. Ketika aku ingin kembali malaikat tadi berkata kepadaku: "Kenapa engkau tidak masuk kedalam kubah itu?" aku menjawab:"Bagaimana aku bisa memasukinya, sedangkan pintu-pintunya tertutup." Dia berkata:"Bukalah dia" Aku bertanya:"Bagaimana aku harus membukanya?" Lalu dia berkata:"Kuncinya berada ditanganmu" Aku berkata:"Apa kuncinya?" Dia menjawab:"Yaitu lafazh BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIM" maka terbukalah pintu itu lalu aku masuk kedalamnya. Maka aku melihat sungai-sungai itu mengalir dari empat tiang kubah. Ketika aku hendak keluar, maka malaikat itu berkata kepadaku:"Apakah engkau telah melihat dan mengetahuinya? " Aku menjawab:"Ya" Malaikat itu berkata kepadaku: "Lihatlah sekali lagi." Ketika aku melihatnya, maka tertulis diatas empat kubah tersebut lafazh BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIM Aku melihat sungai air itu keluar dari huruf Mim-nya lafazh BISMI, sungai susu keluar dari huruf Ha'-nya lafazh Allah, sungai arak (khamer) keluar dari Mim-nya lafazh RAHMAN, dan sungai madu keluar dari Mim-nya lafazh RAHIM. Maka aku baru mengerti bahwa asalnya sungai-sungai tersebut adalah dari lafazh Basmalah. Kemudian Allah Swt. berfirman: "Wahai Muhammad, barang siapa yang mengingat-Ku dengan nama ini dari golongan umatmu dengan hati tulus (ikhlas) lafazh BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM maka aku beri dia minum dari empat sungai ini."

Kemudian Allah memberi minum kepada ahli-ahli surga itu dengan air surga pada hari sabtu, memberi minum dengan madu surga pada hari ahad, memberi minum dengan susu surga pada hari senin, dan memberi minum dengan arak pada hari selasa. Disaat mereka minum, mabuklah mereka lalu terbanglah ahli surga itu selama seribu tahun hingga mereka berhenti pada suatu gunung yang besar yang terbuat dari kasturi yang harum semerbak baunya dan sungai Salsabil mengalir dibawahnya. Maka minumlah mereka pada sungai itu tepat pada hari rabu.

Kemudian terbanglah mereka selama seribu tahun hingga berhenti pada suatu istana yang indah, didalamnya terdapat ranjang-ranjang yang tinggi, dan beberapa gelas yang sudah disediakan sebagaimana yang sudah diterangkan dalam Al-Quran. Maka duduklah setiap orang dari mereka diatas ranjang, lalu datanglah pada mereka minuman Zanzabil kemudian mereka meminumnya tepat pada hari kamis.

Setelah itu mereka dihujani oleh awan yang putih selama seribu tahun, sehingga mereka sampai ketempat duduknya orang yang benar, pada hari itu tepat pada hari jumat, mereka duduk diatas hidangan yang kekal abadi dan turunlah pada mereka minuman Rahiqul Makhtum, yang ditutupi dengan misik. Kemudian mereka membuka tutup tersebut dan mereka meminumnya.

Nabi Saw. bersabda: "Mereka itulah orang-orang yang melakukan kebaikan dan menjauhi perbuatan maksiat"

 

FASAL: Pepohonan Di Surga

Ka'ab ra.: Aku bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang pohon-pohonan di surga. Maka beliau menjawab:"Tidak pernah kering dahan-dahannya dan daun-daunnya tidak pernah berguguran dan tidak rusak buahnya. Sesungguhnya pohon yang paling besar di surga adalah pohon Thuba, yang akarnya terbuat dari intan, batangnya dari yaqut, dahannya dari zabarjud dan daun-daunnya dari sutra yang halus. Pohon ini memiliki 70.000 cabang, setiap cabang itu menyentuh Arasy dan lebih rendah-rendahnya cabang itu berada di langit dunia."

Tidak ada didalam surga sebuah kamar, tidak ada sebuah kubah dan tidak ada bilik kecuali didalamnya terdapat cabang pohon itu, yang bisa mengayomi diatas surga. Pada pohon itu mengeluarkan buah-buahan menurut apa yang dikehendaki oleh hati. Bandingan dari pohon itu di dunia adalah matahari, asalnya matahari berada di langit tetapi sinarnya sampai kesegala tempat.

Ali ra. berkata: "Aku menyatakan dari beberapa hadits, sesungguhnya pohon-pohon di surga itu berasal dari perak, sedangkan daun-daunnya sebagian dari perak dan sebagian (yang lain) dari emas. Kalau sekiranya batang pohon itu dari perak, maka akar-akarnya dari emas. Pohon-pohon didunia akarnya di bumi dan cabang-cabangnya berada di udara, karena sesungguhnya dunia itu tempat yang fana (rusak). Akan tetapi pohon-pohonan yang terdapat di surga tidaklah demikian halnya, akarnya di udara dan cabang-cabangnya di bumi. Sebagaimana firman Allah Swt.:

"Buah-buahnya dekat. Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu." (Qs. Al-Haqqah: 23-24).

Dan debu-debu di surga itu dari misik, anbar dan kafur, dan sungai-sungainya terdiri dari susu, madu, arak dan air yang sangat jernih. Apabila angin bertiup menerpa dedaunan, maka bersentuhlah antara daun yang satu dengan daun yang lainnya hingga menimbulkan suara yang sangat indah (merdu), dan suara seindah itu belum pernah didengar.

Dengan sanad dari Ali ra. Sesungguhnya ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda:"Sesungguhnya didalam surga terdapat suatu pohon , yang dibagian atasnya keluar perhiasan dan pada bagian bawahnya keluar kuda yang memiliki sayap yang diberi pelana, yang dikendalikan, yang ditaburi dengan intan dan yaqut. Kuda tersebut tidak pernah mengeluarkan kotoran dan tidak pernah buang air kecil. Adapun yang menaiki kuda itu adalah para wali Allah Swt. dan kuda ini akan membawa terbang para wali Allah tersebut ke surga. Lalu berkatalah orang-orang yang berada dibawah mereka:"Wahai Tuhanku, lantaran apa hamba-hamba- Mu itu mencapai kemulian semcam itu?" Maka Allah Swt. berfirman kepada mereka: "Mereka itulah orang-orang yang mengerjakan shalat ketika kalian semua masih tidur, mereka melakukan puasa sedangkan kalian tidak, mereka berjihad membela agama Allah sedangkan kalian semua duduk disisi istri kalian, dan mereka bersedekah dengan harta mereka dijalan Allah, sedangkan kalian semua bakhil (kikir)."

Dari Abu Hurairah ra. beliau berkata: Sesungguhnya didalam surga itu terdapat sebuah pohon, orang yang menaiki bisa berjalan dibawah naungannya selama 100 tahun dan naungan itu tidak akan putus. Sebagaimana firman Allah Swt.:

"Dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak. Yang buah-buahnya tidak berhenti dan tidak terlarang mengambilnya." (Qs. Al-Waqi'ah: 30-33).

Diibaratkan waktu didunia adalah waktu sebelum matahari terbit dan sudah terbenamnya matahari, sampai hilangnya mega dan gelap malam yang menutupi di dunia. Maka sesungguhnya waktu itu adalah naungan yang terbentang luas. Sebagaimana firman Allah Swt.:

"Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang. " (Qs. Al-Furqan: 45).

Maksudnya adalah waktu sebelum terbitnya matahari dan sesudah terbenamnya, sampai masuk pada kegelapan malam.

Diriwayatkan dari Nabi Saw. sesungguhnya beliau bersabda: "Apakah aku tidak pernah menceritakan kepadamu tentang waktu(saat), yaitu waktu yang serupa dengan waktu yang ada di surga. Dia adalah waktu dimana sebelum matahari terbit, bayang-bayangnya itu memanjang, rahmatnya saat itu merata dan berkahnya saat itu banyak."

~ oleh erva kurniawan di/pada 1 Februari 2009.