: Adab Bertetangga

TUNTUNAN
 Heri Ruslan


Bukanlah Mukmin orang yang kenyang, sementara tetangga di sampingnya kelaparan
.

Sebagai makhluk sosial, manusia butuh bersosialisasi. Di lingkungan terdekat, manusia hidup berdampingan dengan tetangganya. Dalam ajaran Islam, tetangga memiliki peran dan arti penting dalam kehidupan seorang Muslim. Islam mengajarkan, hak tetangga atas tetangga lainnya begitu agung.

Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat baik kepada tetangga dekat dan jauh. "… Dan, berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, serta tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh." (QS An-Nisaa [4]:36). 

Rasulullah SAW juga selalu mengingatkan umatnya untuk berbuat baik dengan tetangganya. Nabi SAW bersabda, "Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga hingga aku mengira dia akan mewariskannya." (HR Bukhari dan Muslim). 

Sayangnya, masih banyak umat Islam yang belum menjalankan perintah Allah dan Rasulullah tentang pentingnya berbuat baik kepada tetangga. Tak jarang, antartetangga ada yang bermusuhan, saling menjelekkan, dan saling mengumbar aib. Akibatnya, seorang yang bermusuhan dengan tetangganya tak akan pernah merasa tenang.

Agar setiap Muslim akur dan akrab dengan tetangganya, ajaran Islam melalui Alquran dan hadis telah menetapkan adab bertetangga (Al-Jiwaar). Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam Kitab Mausuu'atul Aadaab Al-Islaamiyah menjelaskan, adab-adab yang perlu diperhatikan seorang Muslim dalam bertetangga.

Memilih tetangga yang saleh

Menurut Syekh Sayyid Nada, sebelum memutuskan tinggal di suatu tempat, seharusnya seorang Muslim memilih tempat tinggal yang saleh tetangganya. Sebab, kata dia, tetangga yang tak saleh suka membuka rahasia rumah tangga orang lain.

"Ada kalanya seseorang membutuhkan bantuan tetangganya. Apabila tetangga itu orang yang saleh, tentu ia akan memberikan manfaat dan meringankan bebannya," ujar ulama terkemuka itu. Terkait masalah ini, Rasulullah SAW bersabda, "Empat perkara yang dapat mendatangkan kebahagiaan: wanita yang saleh, tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang bagus." (HR Ahmad).

Menyukai kebaikan bagi tetangganya

Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya adalah menyukai kebaikan bagi tetangganya, sebagaimana ia menyukai kebaikan itu bagi dirinya sendiri. Hal itu, dalam Islam, menjadi penyempurna keimanan. Rasulullah SAW bersabda, "Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak sempurna keimanan seseorang hingga ia menyukai tetangganya apa yang ia suka bagi dirinya." (HR Muslim).

Tak mengganggu baik dengan ucapan maupun perbuatan
"Mengganggu tetangga adalah perbuatan yang haram," ujar Syekh Sayyid Nada. Bahkan, Rasulullah SAW secara khusus telah mengingatkan masalah ini. Beliau bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya." (HR Bukhari).

Selalu berbuat baik kepada tetangga

Rasulullah SAW mengajarkan umatnya agar selalu berbuat baik kepada tetangganya. Beliau bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya …" (HR Muslim). Untuk itulah, kata Syekh Sayyid Nada, wajib hukumnya berbuat baik kepada tetangga dengan cara apa pun yang memungkinkan.

Bersabar terhadap gangguan tetangga
"Tetangga yang baik bukan hanya menahan tangannya untuk tidak mengganggu tetangganya. Akan tetapi, ia juga bersabar terhadap gangguannya," papar Syekh Sayyid Nada. Hendaknya ia membalas gangguan itu dengan kebaikan. Menurut dia, sesungguhnya sikap seperti itu akan menutup pintu bisikan setan.

Memberi makan kepada tetangga yang fakir

Rasulullah SAW selalu menekankan pentingnya umat Islam berbuat baik kepada tetangga. Beliau bersabda, "Bukanlah Mukmin orang yang kenyang, sementara tetangga di sampingnya kelaparan."

Saat ini, masih banyak orang yang tak memedulikan kondisi tetangganya. Padahal, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya berbagi dengan tetangga. Beliau bersabda, "Jika salah seorang dari kalian memasak, perbanyaklah kuahnya, kemudian berikan sebagian kepada tetangganya."

Rasulullah juga melarang umatnya meremehkan sesuatu yang akan diberikan kepada tetangganya. Nabi SAW bersabda, "Wahai, wanita Muslimah, janganlah kalian meremehkan pemberian kepada tetangga meskipun hanya kaki kambing."
Menurut Syekh Sayyid Nada, hendaknya adab yang agung ini diperhatikan dan jangan sampai diabaikan. 

Sumber:
 Ensiklopedia Adab Islam Menurut Alquran dan Sunnah terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i

: Indahnya Istri Salehah

Mohammad Shoelhi

Kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikan baginya tujuh tabir yang menjauhkannya dari neraka.

Rasulullah bersabda, "Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan salehah. Dan, perkara yang pertama kali ditanyakan kepada seorang perempuan pada hari perhitungan kelak adalah shalat lima waktu dan ketaatan kepada suaminya." (HR Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).

Seperti apa perempuan salehah itu? Suatu hari, Rasulullah memberi nasihat kepada putrinya, Fathimah, mengenai tanda-tanda istri salehah. Nasihat ini merupakan mutiara termahal sehingga selayaknya dilakukan setiap istri salehah. Nasihatnya sebagai berikut.  

"Ya, Fathimah, kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikan baginya tujuh tabir yang menjauhkannya dari neraka. Ya, Fathimah, kepada wanita yang membuat roti bagi suami dan anak-anaknya, Allah menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum dan Allah melebur kejelekannya serta mengangkat derajatnya."

"Ya, Fathimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya, lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan Allah menetapkan pahala baginya, seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang. Ya, Fathimah, tiadalah wanita yang meminyaki rambut kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman arak yang lezat kepadanya yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah mempermudah sakaratul maut baginya serta kuburnya menjadi bagian dari taman surga dan Allah menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal mustaqim dengan selamat." 

"Ya, Fathimah, apabila wanita mengandung, malaikat memohonkan ampunan baginya dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasa sakit akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para mujahid di jalan Allah. Jika dia melahirkan kandungannya, bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Bila meninggal ketika melahirkan, dia tidak akan membawa dosa sedikit pun. Di dalam kubur, ia akan mendapat pertamanan indah yang merupakan bagian dari taman surga dan Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah serta seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat." 

"Ya, Fathimah, tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian kepadanya pada hari kiamat berupa pakaian yang serbahijau dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Dan, Allah memberikan kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dan umrah." 

"Ya, Fathimah, tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih. Ya, Fathimah, tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para malaikat memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang."

"Ya, Fathimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan adalah keridhaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridha kepadamu, aku pun tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah, wahai, Fathimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah. Ya, Fathimah, tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahannya dari minum air Telaga Kautsar pada hari kiamat kelak."

Tentu saja, wasiat tersebut juga ditujukan untuk seluruh wanita Muslimah tanpa kecuali. Alangkah indahnya hidup seorang wanita Muslimah, khususnya mereka yang menjadi istri salehah bagi suaminya dan ibu salehah bagi anaknya. Rumah tangga menjadi ladang sangat subur yang menghasilkan pahala melimpah. Bisa dibayangkan betapa keindahan hidup akan bersinar dari istri salehah. Begitu indah menjadi wanita, dengan ketulusan, kelembutan, dan kasihnya dapat mengubah dunia. Ed; heri ruslan

: Semangat Berkurban Rakyat Kecil

Oleh Ahmad Syafii Maarif
 
Saat publik Indonesia merasa jijik membaca berita tentang kunjungan anggota Dewan Kehormatan DPR untuk belajar etika ke Yunani, sebuah negara yang hampir gagal dengan tingkat korupsi dan praktik upeti yang marak, cerita di bawah ini barangkali dapat sedikit menyentuh nurani kita tentang bagaimana tingginya semangat berkurban rakyat kecil. 

Cerita ini saya peroleh dari seorang sopir taksi Primkopad (Primer Koperasi Angkatan Darat) bernama Daliman (46) yang mengantarkan saya ke Bandara Adisutjipto, Jogjakarta, pada 23 Oktober 2010. Ini untuk kedua kalinya saya bersamanya. Sekitar 30 menit dalam perjalanan, Bung Daliman terus saja bercerita, sesekali saya sela dengan pertanyaan. Bagi saya info yang disampaikan dengan cara yang sangat lugu itu sungguh mengharukan, teramat dalam pesan moral yang disimpannya.

 Adalah Desa Pentung, Seloharjo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Jogjakarta, desa asal Daliman. Sebagian besar penduduknya terdiri atas buruh tani dengan tingkat pendapatan yang serbaminim. Istri Bung Daliman adalah salah seorang dari penduduk dalam kategori itu, sosok pekerja keras, sedangkan Daliman sendiri, mantan penarik becak selama delapan tahun, sekarang naik pangkat sebagai sopir taksi. 

Penghasilannya berkisar Rp 1.000.000 s/d Rp. 1.500.000 per bulan yang diterimanya dengan penuh kepasrahan. Itu jika ia selalu sehat sepanjang bulan. Coba bayangkan, seorang Daliman harus menyopir  selama 10 tahun untuk menandingi besarnya uang saku anggota DPR yang sedang perlisir ke Yunani, hanya dalam beberapa hari.

Tetapi, Anda jangan memandang enteng rakyat Desa Pentung ini. Laki-laki dan perempuan punya adat menabung melalui arisan dalam menghadapi Idul Qurban. Saat Daliman mengatakan bahwa kaum perempuannya menabung  hanya sebesar Rp 2000 per bulan, batin saya menjerit, sedangkan kaum bapak sebesar Rp 15.000, demi menyongsong Idul Qurban. Melalui undian dalam bentuk arisan, maka muncullah pemenang untuk dibelikan sapi dan kambing. 

Adat ini bergulir setiap tahun. Untuk Idul Qurban 1431 H yang jatuh pada 17 November tahun ini sudah tersedia seekor sapi seharga Rp 9.000.000, kambing menyusul, biasanya bergerak antara delapan sampai 12 ekor. Saya kehabisan kosakata untuk mengomentari jumlah sebesar ini di desa miskin itu. 

Di desa saya Sumpur Kudus (Sumatra Barat), kerelaan berkurban ini barulah gejala abad ke-21, sebelumnya tak terdengar, padahal penduduknya sebagian besar masih punya sawah, sebagian bahkan punya kebun karet, coklat, kopi, dan lain-lain. 

Menimbang fenomena kerelaan berkurban rakyat kecil ini, terasa bahwa tingkat keimanan saya berada di bawah mereka. Dalam kemiskinan mereka melaksanakan kurban dengan cara bergantian, entah berapa lama seseorang harus menanti giliran. Allah Mahatahu apa yang bergolak di hati rakyat kecil itu, saya merasa malu. 

Pengetahuan agama mereka tentu tidak jauh, tidak sampai belajar ke Chicago atau ke Kairo, tetapi dalam hal berkurban, saya bertekuk lutut. Saya tidak bertanya tentang siapa yang berinisiatif pertama kali merancang praktik keagamaan yang teramat mulia ini. 

Desa lain yang jumlahnya ribuan di seluruh nusantara mungkin dapat mencontoh sikap keberagamaan umat Islam Desa Pentung ini. Dan siapa tahu pula, uang saku anggota DPR Muslim yang sedang melakukan "studi banding" ke Yunani sebagian akan disalurkan ke desa-desa miskin dalam suasana 'Idul Qurban 1431 H yang sebentar lagi kita rayakan.

: Islam dan Peradaban Kota

Marwan Ja'far
(Ketua Fraksi PKB DPR RI)

Mengapa dewasa ini banyak kota-kota yang dihuni mayoritas Muslim di berbagai negeri Muslim terlihat semrawut dan kumuh? Di negeri kita yang mayoritas Muslim, tumpukan sampah yang menggunung di pinggir jalan sangat mudah ditemukan, bahkan di kota sebesar Jakarta. Inilah yang kerap menjadi lahan kritik berbagai kalangan yang arahnya bahwa kota-kota di negeri Muslim tidak atau kurang peduli terhadap lingkungan. 

Apalagi, saat ini telah tumbuh kesadaran lingkungan yang begitu tinggi ditengah gaung perubahan iklim. Sementara itu, kota-kota di negeri Barat, faktanya terlihat asri, nyaman, dan teratur. Amsterdam yang konon banyak warganya memilih ateis justru dikenal sebagai kota yang bersih dan indah. Ambil contoh Tokyo, sebuah kota megapolitan, tetapi dikenal dengan kebersihan dan keindahan kotanya. Masyarakat Barat dan Jepang tentu saja tak kenal konsep "kebersihan sebagian dari pada iman" sebagaimana dikenal dan dipahami oleh Muslim.
 
Dari sisi ajaran Islam, Nabi Muhammad dan para sahabat telah memberikan teladan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang begitu memesona dengan dasar tauhid dan keimanan. Tak heran, bila Sir Thomas Arnold pernah menyatakan bahwa Islam mengutamakan kebersihan sebagai standar lingkungan hidup.
 
Pusat peradaban
Dalam tinjauan sejarah, suasana perkotaan masyarakat Muslim tempo dulu pada masa kekhalifahan Islam ternyata begitu mencengangkan-indah, tertib, dan nyaman. Peradaban Islam dari masa Bani Abbasiyah hingga Dinasti Umayyah telah menyingkapkan betapa kota telah menjadi pusat peradaban sehingga kota harus ditata sedemikian rupa agar indah dan nyaman. Pada masa Dinasti Abbasiyah, kota yang terkenal adalah Baghdad. Kota ini-merujuk Ma'ruf Misbah (1996)-merupakan kota yang paling indah. Konstruksi kota ini dikerjakan oleh lebih dari 100 ribu pekerja. Di kota ini, terdapat istana di pusat kota, asrama pegawai, rumah kepala polisi, dan rumah keluarga khalifah. Di luar Kota Baghdad dibangun kota satelit, seperti Rushafah dan Karakh. Kedua kota tersebut dilengkapi dengan kantor, toko-toko, rumah, taman, kolam, dan sebagainya. Kala itu, kota Baghdad menjadi kota impian seluruh dunia.

Begitu pun kota Samarra yang letaknya di sebelah timur Sungai Tigris, kurang lebih 60 kilometer dari Baghdad. Kota tersebut sangat indah, nyaman, dan teratur. Nama Samarra diberikan oleh Khalifah Al-Manshur, dan berasal dari kata "Sarra Man Ra'a" yang berarti senang memandangnya. Banyak orang yang kesengsem dengan keindahannya. Kota ini menjadi contoh seni bangunan Islam di kota-kota lainnya.

Ada lagi Cordoba yang menjadi kota teladan di daratan Eropa. Saat itu, banyak kota, terutama di Eropa, yang masih sangat kotor dan gelap. Sementara itu, Cordoba sangat indah, terang-benderang, bersih, dan indah. Kebersihan dan keindahan Kota Cordoba menjadi standar pembangunan kota lain di Eropa.

Singkat kata, sejarah telah membuktikan bahwa pada masa keemasan Islam, kota-kota dibangun sedemikian indah, dengan jalan-jalan yang mulus dan bertaburkan cahaya. Kota-kota di negeri Muslim kala itu dikenal sangat bersih. Bahkan, hasil penelitian sejarah menunjukkan bahwa para insinyur Muslim waktu itu sudah mampu menciptakan sarana pengumpul sampah. 

Keterbukaan 
Berkembangnya Islam sejak 14 abad silam telah banyak diakui turut mewarnai sejarah peradaban dunia. Bahkan, pesatnya perkembangan agama Islam itu, baik di barat maupun timur, pada abad ke-8 sampai 13 Masehi, mampu menguasai berbagai peradaban yang ada sebelumnya.

Tak salah bila peradaban Islam dianggap sebagai salah satu peradaban yang paling besar pengaruhnya di dunia. Bahkan, hingga kini, berbagai jenis peradaban Islam itu masih dapat disaksikan di sejumlah negara bekas kekuasaan Islam dahulu, misalnya Baghdad (Irak), Andalusia (Spanyol), Fatimiyah (Mesir), Ottoman (Turki), Damaskus, Kufah, dan Syria. 

Perkembangan peradaban Islam yang dilandasi dengan semangat persatuan Islam telah ditanamkan Rasulullah sejak awal perkembangan Islam di Timur Tengah. Kemudian, dalam praktiknya, seiring dengan makin luasnya wilayah kekuasaan Islam, gesekan atau kebudayaan masyarakat setempat memengaruhi umat Islam untuk mengadopsi dan mewarnai peradaban lokal yang disesuaikan dengan ajaran Islam. Dari proses semacam inilah, peradaban Islam terus berkembang dari peradaban kebudayaan, bangunan, bahasa, adat istiadat, hingga pada ilmu pengetahuan. Jelaslah, peradaban Islam adalah peradaban ilmu.

Dari keyakinan itu pula, umat Islam mampu membentuk peradaban baru hingga menghasilkan berbagai macam peradaban di wilayah kekuasaan Islam tersebut. Penyebaran Islam ke berbagai wilayah telah terjadi pertukaran kebudayaan antara satu negeri dan negara lainnya.

Secara karakteristik, peradaban Islam sangat berbeda dengan Yunani, Romawi, dan Bizantium. Sebagai contoh, dalam hal memandang teknologi. Para cendekiawan Muslim di era kekhalifahan menganggap teknologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan yang sah. Di sini, tidak ada konflik antara sains dan agama, seperti yang terjadi pada negeri Barat di era Abad Pertengahan. Fakta tersebut terungkap berdasarkan pengamatan para sejarawan sains Barat di era modern terhadap sejarah sains pada masa emas peradaban Islam. "Para ilmuwan Muslim memberi perhatian pada semua jenis pengetahuan praktis dengan mengklasifikasi ilmu-ilmu terapan dan subyek-subyek teknologis berdampingan dengan telaah-telaah teoritis," ungkap Ahmad Y al-Hassan dan Donald R Hill dalam Islamic Technology: An Illustrated History.

Kini, tampaknya ghirah untuk itu terasa menipis dan yang menonjol justru umat Islam lebih menampilkan cara-cara berfikir dan bertindak yang sektarian, bahkan menumpu pada tindak puritan dan radikal hanya lantaran perbedaan faham yang sifatnya furu'iyyah. Padahal, Nabi Muhammad dalam membangun peradaban Islam senantiasa mengacukan pada persatuan. 

Ujung-ujungnya, dalam soal lingkungan hidup belum digarap serius sebagai bagian integral dari dakwah Islamiyah. Lingkungan hidup yang semakin rusak karena manusia telah gagal mengemban misinya sebagai khalifah di muka bumi untuk memelihara lingkungan hidup. Sebuah kenyataan dari no satiation rule yang telah merasuk dalam prinsip hidup sehari-hari. 

Karenanya, kini jangan heran bila kenyataan yang menyosok di negeri-negeri mayoritas Muslim terlihat semrawut dan warganya kurang disiplin. Apakah ini pertanda bahwa negara-negara masyarakat Muslim menjadi acuh terhadap proses perusakan lingkungan yang makin cepat dan meluas? Kita semua harus berkerja keras untuk menyelamatkan lingkungan kota, dan menjadikan kota bersih, asri, dan hijau untuk menjaga keberlangsungan kehidupan manusia dan melestarikan pesona peradaban. Wallahu a'lam.

: Menaklukkan Hawa Nafsu

Dikisahkan, sekembalinya dari sebuah pertempuran, Rasulullah SAW berkata, "Kita baru saja pulang dari jihad (perang) kecil menuju jihad terbesar (al-jihad al-akbar)." Sambil terperangah, para sahabat bertanya, "Apakah gerangan perang terbesar itu wahai Rasulullah?"  Nabi menjawab, ''Mujahadat al-Nafs" (perang menaklukkan diri sendiri). (HR Baihaqi dari Jabir).

Meskipun dipandang lemah oleh al-Albani dalam Silsilat al-Dha`if wa al-Maudhu`ah, hadis ini sesungguhnya dapat dipandang sahih ditilik dari segi maknanya (shahih fi al-ma`na). Ada beberapa hadis lain yang semakna dan derajat kualitasnya lebih tinggi. Di antaranya hadis yang menyatakan, "Petarung sejati (mujahid) adalah orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri. Orang yang hijrah adalah orang yang mampu meninggalkan keburukan.'' (HR Ahmad dan Baihaqi dari Fadhalah ibn `Ubaid).

Untuk keluar sebagai pemenang dalam perang terbesar ini, kita perlu mengetahui dan melakukan beberapa hal. Pertama, mengenali musuh utama kita sendiri, yaitu hawa nafsu. Dalam Alquran, kata hawa bermakna keinginan atau kecenderungan kepada sesuaatu yang buruk atau sesuatu yang melawan kebenaran dan kebaikan.

Disebut hawa, menurut pakar bahasa al-Ishfahani, karena keinginan itu membikin manusia lalai (wahiyah) di dunia dan menjerumuskannya ke dalam neraka (hawiyah) di akhirat. "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun." (QS Qashash (28): 50).

Kedua, mengelola dan mengendalikan nafsu dengan menggunakan kekuatan dan kecerdasan akal. Menurut filosof Muslim Ibnu Masykawaih, akal bukan hanya alat berpikir, melainkan juga alat kontrol dan pengendali (tadbir) kecederungan-kecenderungan yang bersifat destruktif dalam diri. Jadi, akal harus kendalikan nafsu.

Ketiga, melawan dan menolak kecenderungan nafsu, yakni tidak menuruti dan mengikuti kemauannya. Kalau Anda ingin menemukan kebenaran, demikian disarankan oleh orang bijak, maka perhatikanlah keinginan dan kecenderungan Anda, lalu ambillah sesuatu yang bertolak belakang dengan keinginan itu. Itulah kebenaran dan itulah yang dinamakan "Mukhalafat al-Hawa".

Keempat, menaklukkan nafsu dan menguasai sepenuh-penuhnya. Menurut Ghazali, perang dan pertarungan melawan nafsu berlangsung setiap saat. Dalam pertarungan ini, kita bisa menang pada suatu waktu, tetapi kalah pada waktu yang lain. Begitulah seterusnya, menang dan kalah silih berganti.

Namun, bagi orang-orang tertentu, yang terpelajar dan terlatih, serta mendapat pertolongan dari Allah, mereka mampu menaklukkannya dan keluar sebagai pemenang. Mereka itulah yang dinamakan petarung sejati. Allah SWT menjanjikan kemuliaan dan surga kepada mereka. "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal-(nya)." (QS al-Nazi`at (79):40-41). Wallahu a`lam

: Keutamaan Istighfar

Imam Nur Suharno MPdI


Muhammad Shalih Al-Khuzaim dalam bukunya Shifat Shalat Qiyamullail, menjelaskan bahwa istighfar merupakan penutup amal saleh, penutup shalat, haji, puasa, dan juga penutup majelis. Istighfar berfungsi untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang diperbuat selama melaksanakan ibadah tersebut. Selain itu, istighfar juga sebagai penyebab utama mendapatkan ampunan Allah SWT.

Karena itu, setiap Muslim hendaknya memperbanyak istighfar dalam berbagai kesempatan. Minimal mengucapkan: Astaghfirullah, Rabbighfirli, Allahummaghfirli, dan yang lainnya. Melalui istighfar tersebut seseorang akan memperoleh banyak keutamaan. 

Pertama, dihapus kejelekannya dan diangkat derajatnya. "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS An-Nisa' [4]: 110).

Kedua, dilapangkan rezeki, anak, harta, dan penyebab turunnya hujan. "Maka Aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?" (QS Nuh [71]: 10-13).

Ketiga, ditambah kekuatannya. "Dan (dia berkata): 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa'." (QS Hud [11]: 52).

Keempat, dilenyapkan dosanya. Setiap dosa meninggalkan noda hitam pada hati. Noda hitam bisa lenyap dengan melakukan istighfar. "Sesungguhnya bila seorang Mukmin melakukan satu dosa, pada hatinya timbul satu noda hitam. Bila dia bertobat, berhenti dari maksiat, dan beristighfar, niscaya mengilap hatinya." (HR Ahmad).

Kelima, dimudahkan segala urusannya. "Barangsiapa membiasakan diri untuk beristighfar, Allah akan memberikan jalan keluar baginya dari setiap kesulitan, akan memberikan kebahagiaan dari setiap kesusahan, dan akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).

Untuk itu, ketahuilah, dalam sebuah atsar disebutkan bahwa, "Sesungguhnya Iblis pernah berkata: 'Aku membinasakan manusia dengan dosa, dan mereka membinasakanku dengan La Ilaha Illallah dan istighfar'." Wallahu a'lam.

: Studi Alquran di Jerman

Oleh Dr Sahiron Syamsuddin
(Dosen di UIN Sunan Kalijaga)

Kajian kritis historis terhadap Alquran adalah kajian yang berupaya menunjukkan bagaimana teks Alquran dan sejarahnya dapat diketahui dengan bantuan pengetahuan rasional. Tujuan utama dari kajian ini adalah untuk menjelaskan asal-usul teks dan menggambarkan bentuk dan fungsinya yang paling awal (Kroop 2007:1). Model penelitian semacam ini telah dilakukan oleh sarjana-sarjana Barat sejak abad ke-19. Abraham Geiger (1810-1874) dianggap sebagai sarjana pertama yang menerapkan pendekatan kritik-historis ini terhadap Alquran. Pada tahun 1883, ia menerbitkan sebuah buku yang berjudul Was hat  Mohammed aus dem Judentum aufgenommen? (Dirk Hatwig 2009:241).

Dalam karya ini, ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad mengambil banyak bagian dari tradisi Yahudi dalam memproduksi Alquran. Pandangan semacam ini kemudian diikuti oleh banyak sarjana lainnya, seperti Günther Luling dan Christoph Luxemberg. Karya terbaru yang menghimpun beberapa hasil kajian historis-kritis ala Geiger ini adalah buku yang diedit oleh Tilman Nagel, yaitu Der Koran und sein religiöses und kulturelles Umfeld (2010). Para sarjana ini menganggap Alquran sebagai teks 'epigonik' dalam arti bahwa Alquran merupakan imitasi dari teks-teks pra-Islam. Pandangan ini tentu saja menjadi sangat kontroversial di kalangan sarjana Muslim.

Meskipun demikian, tidak semua sarjana Barat sepakat dengan pandangan tersebut di atas. Banyak sarjana Barat lainnya, seperti Anglika Neuwirth, Nicolai Sinai, Michael Marx, dan Dirk Hartwig mengkritik pandangan dan temuan di atas. Berdasarkan wawancara dengan mereka pada tanggal 2 Juli 2010 dan beberapa artikel, diketahui bahwa mereka tidak setuju dengan kesimpulan bahwa Alquran hanyalah salinan 'teks-teks pra-Islam'. Untuk mendukung posisi ini, mereka telah melakukan beberapa penelitian. Salah satunya adalah proyek yang mereka sebut dengan Corpus Coranicum, yang sedang dilakukan di Berlin-Brandenburgische Akademie der Wissenschaften di Jerman.

Dalam proyek ini, mereka menggunakan pendekatan yang sama seperti yang dilakukan oleh Abraham Geiger, tetapi dengan paradigma yang berbeda. Tidak seperti Geiger, mereka memandang Alquran sebagai 'teks polifonik' dan bukan mimesis (tiruan) dari teks-teks sebelumnya. Tren penelitian semacam ini bisa disebut dengan 'tren baru studi historis-kritis terhadap Alquran'. Proyek ini terdiri atas tiga kerja utama, sebagai berikut.

Pertama, para sarjana tersebut membuat dokumentasi tentang manuskrip-manuskrip Quran awal berikut variasi qira'at. Namun, pendokumentasian ini tidak bertujuan untuk membuat teks edisi kritis Alquran. Dalam hal manuskrip Alquran, mereka membuat data bank tentang lokasi, penanggalan, dan aspek-aspek paleografis dari setiap manuskrip. Saat ini, bank data terdiri atas 250 entri dan setiap entri memiliki sejumlah foto manuskrip. Jumlah foto yang telah digitalisasi dalam beberapa komputer saat ini 3.500. Adapun dalam bank data tentang variasi bacaan Alquran, seseorang dapat menemukan semua cara baca (qira'at) Alquran, baik qira'at yang dianggap sebagai qira'at mutawatirah (diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi), qira'at masyhurah (diriwayatkan oleh relatif banyak perawi), maupun qira'at syadzdzah (yang tidak termasuk kedua macam qira'at tersebut).

Kedua, para sarjana yang terlibat dalam proyek tersebut juga melakukan penelitian dan kajian serta membuat bank data terkait dengan apa yang mereka sebut dengan Texte aus der Welt des Quran (teks-teks di sekitar Alquran). Dalam hal ini, mereka berupaya mencari kemiripan teks Alquran dengan teks-teks lain pada masa turunnya wahyu Quran. Kajian semacam ini dikenal dengan istilah 'intertekstualitas' antara ayat-ayat Aquran dan teks-teks dari tradisi pra-Islam, seperti Alkitab, teks Yahudi pasca-biblikal, dan puisi Arab klasik. Intertekstualitas ini, menurut mereka, merupakan fondasi yang sangat berarti bagi upaya rekonstruksi teks-teks yang ada di sekitar Alquran (Marx 2008:51; Wawancara 2 Juli 2010).
 
Namun, berbeda dari orientalis-orientalis lain pada abad ke-19 yang berpandangan bahwa Alquran adalah imitasi/tiruan dari teks-teks pra-Islam, para sarjana ini telah melakukan riset seobjektif mungkin dan mereka sampai pada kesimpulan bahwa Alquran bukanlah 'teks epigonik' yang merupakan hasil imitasi beberapa teks lain dari tradisi pra-Islam. (Neuwirth 2008:16; Wawancara 1 Juli 2010). Mereka menegaskan, bahwa Alquran meskipun dalam beberapa kasus memiliki paralelitas dan kemiripan dengan teks-teks lain, tetapi ia merupakan teks 'independen' yang memiliki karakteristik sendiri dan dinamikanya sendiri, baik dari segi bahasa maupun isi.

Sebagai contoh, Neuwirth membandingkan antara surat al-Rahman dan Zabur dan membuktikan bahwa meskipun kedua teks ini memiliki paralelitas/interseksi, tetapi Alquran memiliki gaya sendiri dalam hal struktur sastra dan spirit yang spesifik dalam hal isi dan pesan (Neuwirth 2008:157-189). Kesimpulan yang sama juga dibuktikan oleh Nicolai Sinai ketika meneliti QS. An-Najm. Seiring dengan temuan ini, Dirk Hartwig,ketika diwawancarai tanggal 2 Juli, mengkritik Christoph Luxemberg yang mengatakan bahwa Alquran adalah salinan teks dari tradisi Kristen yang berbahasa Syro-Aramaik.

Ketiga, mereka telah dan sedang memproduksi apa yang mereka sebut der historisch-kritische literaturwissenschaftliche Kommentar des Quran (interpretasi historis-kritis dan sastrawi terhadap Alquran). Struktur interpretasi ini terdiri atas empat elemen. Unsur pertama adalah teks Alquran dan terjemahannya dalam bahasa Jerman. Teks Arab didasarkan pada qiara'at Hafsh dari 'Asim. Terjemahan Alquran sebagian besar berasal dari terjemahan Rudi Paret dengan beberapa penyesuaian tertentu. Studi tentang urutan kronologis wahyu merupakan elemen kedua interpretasi mereka. 

Mereka ingin merekonstruksi dinamika teks Alquran ber kaitan dengan aspek linguistik/sastranya. Juga, apa yang mereka sebut "kritik sastra" dalam arti mereka mem berikan penje lasan struk tur sastra Alquran dalam menyampaikan pesan tertentu.

: Puasa dan Keteladanan Pemimpin

Oleh Prof Nanat Fatah Nasir

Suatu hari, Khalifah Abu Bakar hendak berangkat berdagang. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Umar bin Khathab. "Mau berangkat ke mana engkau, wahai Abu Bakar?" tanya Umar. "Seperti biasa, aku mau berdagang ke pasar," jawab sang khalifah.

Umar kaget mendengar jawaban itu, lalu berkata, "Engkau sekarang sudah menjadi khalifah, karena itu berhentilah berdagang dan konsentrasilah mengurus kekhalifahan." Abu Bakar lalu bertanya, "Jika tak berdagang, bagaimana aku harus menafkahi anak dan istriku?" Lalu Umar mengajak Abu Bakar untuk menemui Abu Ubaidah. Kemudian, ditetapkanlah oleh Abu Ubaidah gaji untuk khalifah Abu Bakar yang diambil dari baitul mal.

Pada suatu hari, istri Abu Bakar meminta uang untuk membeli manisan. "Wahai istriku, aku tak punya uang," kata Abu Bakar. Istrinya lalu mengusulkan untuk menyisihkan uang gaji dari baitul mal untuk membeli manisan. Abu Bakar pun menyetujuinya.

Setelah beberapa lama, uang untuk membeli manisan pun terkumpul. "Wahai Abu Bakar belikan manisan dan ini uangnya," ungkap sang istri memohon. Betapa kagetnya Abu Bakar melihat uang yang disisihkan istrinya untuk membeli manisan. "Wahai istriku, uang ini ternyata cukup banyak. Aku akan serahkan uang ini ke baitul mal, dan mulai besok kita usulkan agar gaji khalifah supaya dikurangi sebesar jumlah uang manisan yang dikumpulkan setiap hari, karena kita telah menerima gaji melebihi kecukupan sehari-hari," tutur Abu Bakar.

Sebelum wafat, Abu Bakar berwasiat kepada putrinya Aisyah. "Kembalikanlah barang-barang keperluanku yang telah diterima dari baitul mal kepada khalifah penggantiku. Sebenarnya aku tidak mau menerima gaji dari baitul mal, tetapi karena Umar memaksa aku supaya berhenti berdagang dan berkonsentrasi mengurus kekhalifahan," ujarnya berwasiat.

Abu Bakar juga meminta agar kebun yang dimilikinya diserahkan kepada khalifah penggantinya. "Itu sebagai pengganti uang yang telah aku terima dari baitul mal," kata Abu Bakar. Setelah ayahnya wafat, Aisyah menyuruh orang untuk menyampaikan wasiat ayahnya kepada Umar. Umar pun berkata, "Semoga Allah SWT merahmati ayahmu."

Kisah yang tertulis kitab fadhailul 'amal itu sarat akan makna dan pesan. Di bulan Ramadhan ini, kita dapat mengambil pelajaran dari sikap dan keteladanan Abu Bakar yang tidak rakus terhadap harta kekayaan. Meski ia adalah seorang khalifah, namun tetap memilih hidup sederhana demi menjaga amanah.

Inilah sikap keteladanan dari seorang pemimpin sejati yang perlu ditiru oleh para pemimpin bangsa kita. Perilaku pemimpin, memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan masyarakat. Terlebih, bangsa Indonesia memiliki karakteristik masyarakat yang paternalistik yang rakyatnya berorientasi ke atas.

Apa yang dilakukan pemimpin akan ditiru oleh rakyatnya, baik perilaku yang baik maupun yang buruk. Dengan spirit Ramadhan, maka hendaknya para pemimpin memberi teladan untuk hidup secara wajar agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Wallahu 'alam

: Yang Mengurangi Nilai Puasa

Oleh KH Didin Hafidhuddin

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW menyatakan, banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak menghasilkan apa pun dari puasanya, selain lapar dan haus. (HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).

Hadis ini mengisyaratkan secara tegas bahwa hakikat shaum (puasa) itu, sesungguhnya, bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga. Akan tetapi, puasa adalah menahan diri dari ucapan dan perbuatan kotor yang merusak dan tidak bermanfaat. Termasuk juga kemampuan untuk mengendalikan diri terhadap cercaan dan makian orang lain. Itulah sebagian dari pesan Rasulullah SAW terhadap kaum Muslimin yang ingin puasanya diterima Allah SWT. 

Pada umumnya, orang yang berpuasa mampu menahan diri dari makan dan minum, dari terbit fajar sampai terbenam matahari, sehingga puasanya sah secara hukum syariah. Akan tetapi, banyak yang tidak mampu (mungkin juga kita) mengendalikan diri dari hal-hal yang mereduksi, bahkan merusak pahala puasa yang kita lakukan.

Pertama, ghibah, menyebarkan keburukan orang lain, tanpa bermaksud untuk memperbaikinya. Hanya agar orang lain tahu bahwa seseorang itu memiliki aib dan keburukan yang disebarkan di televisi dan ditulis dalam surat kabar dan majalah, lalu semua orang mengetahuinya. Penyebar keburukan orang lain pahalanya akan mereduksi sekalipun ia melaksanakan puasa, bahkan mungkin hilang akibat perbuatan ghibah yang dilakukannya.

Kedua, memiliki pikiran-pikiran buruk dan jahat, dan berusaha melakukannya, seperti ingin memanfaatkan jabatan dan kedudukan untuk memperkaya diri, terus-menerus melakukan korupsi, mengurangi takaran dan timbangan, mempersulit orang lain, dan melakukan suap-menyuap. Jika hal itu semua dilakukan, perbuatan tersebut pun dapat mereduksi pahala puasa, bahkan juga dapat menghilangkan pahala serta nilai-nilai puasa itu sendiri.

Ketiga, sama sekali tidak memilik empati dan simpati terhadap penderitaan orang lain yang sedang mengalami kelaparan atau penderitaan, miskin, dan tidak memiliki apa-apa. Orang yang berpuasa, akan tetapi tetap berlaku kikir dan bakhil, nilai puasanya akan direduksi atau dihilangkan oleh Allah SWT.

Oleh karena itu, marilah kita berpuasa dengan benar, baik secara lahiriah (tidak makan dan minum) maupun memuasakan hati dan pikiran kita dari hal-hal yang buruk. Latihlah pikiran dan hati kita untuk selalu lurus dan jernih, disertai dengan kepekaan sosial yang semakin tinggi. Berusahalah membantu orang-orang yang sedang mengalami kesulitan hidup. Wallahu a'lam bish-shawab.

: Nuzulul Quran

Nuzulul Quran bagi umat Islam adalah peristiwa spiritual yang agung. Saat itulah, Alquran diturunkan kepada Muhammad SAW untuk menjadi pedoman umat Islam dalam menjalani kehidupannya.
 
Alquran-sebagai pedoman hidup yang diturunkan sekitar 14 abad yang lalu-sesungguhnya tak hanya ditujukan untuk oang-orang yang bertakwa, tetapi juga bagi seluruh umat manusia, apa pun agama, kepercayaan, dan pandangan hidupnya. Karena, Alquran telah membawa pesan-pesan tentang perdamaian dan tuntunan hidup lahir batin, yakni rahmatal lil'alamiin.

Sayangnya, bagi bangsa kita yang mayoritas adalah umat Islam, Alquran hanya sebagai ritual keagamaan. Bukti maraknya korupsi, pencurian, penipuan, dan seabrek kejahatan lainnnya yang membuat Alquran hanyalah dipandang sebagai sebuah kitab suci yang dikeramatkan dan tidak diamalkan. Alquran telah diacuhkan nilai-nilainya sehingga banyak umat yang hanya memahaminya secara tekstual belaka.
 
Padahal, melalui Nabi Muhammad SAW, Allah SWT menurunkan Alquran saat manusia sedang mengalami kekosongan, kemunduran akhlak, serta kehancuran sosial politik dan ekonomi. Jika melihat kondisi umat Islam pada saat Alquran diturunkan, melalui momentum Nuzulul Quran, semua peristiwa masa lalu itu bisa menjadi bahan renungan. Hal tersebut ada relevansinya dengan kondisi bangsa kita sekarang ini yang secara sosial, politik, ekonomi, dan agama memang sedang mengalami kebobrokan dan membutuhkan pemecahannya. 

Ketika para pemimpin bangsa ini gagal merepresentasikan kepentingan masyarakat karena hanya memikirkan dirinya sendiri ataupun golongannya, bangsa ini pun mengalami kemunduran. Korupsi menjadi sebuah kejahatan yang struktural. 

Nasionalisme yang dibanggakan telah beralih kepada nasionalisme yang simbolistis. Lihatlah kejadian-kejadian yang meresahkan bangsa ini. Mulai dari ledakan gas yang justru memakan korban rakyat biasa, pengampunan para koruptor yang mencederai rasa keadilan masyarakat, hingga konflik berlarut-larut dengan negara tetangga. Hal ini menunjukkan, sikap sebagian para pemimpin bangsa ini jauh dibandingkan keteladanan Nabi Muhammad yang justru berlandaskan nilai-nilai kepemimpinan yang ada dalam Alquran.

Alquran sebagai Kalamullah secara komprehensif terbukti telah membuka eksistensi kebenaran dan moral manusia. Mukjizat dan wahyu yang menjadi kitab bagi umat Islam khususnya dan seluruh umat pada umumnya tidak habis-habisnya menguraikan substansi kebenaran. 

Sudah saatnya para pemimpin kembali mengkaji nilai-nilai kehidupan dalam Alquran, seperti yang pernah dilakukan Nabi Muhammad. Ini juga berlaku untuk semua kalangan, mulai dari ulama hingga umaro, sehingga umat Islam benar-benar menerapkan nilai-nilai kehidupan sesuai dengan Alquran.

Melalui Nuzulul Quran, mari kita bersama membangun Indonesia dengan spirit keimanan dan keislaman. Menjadikan akhlak Rasulullah sebagai dasar sumber daya manusia. Nuzulul Quran bisa membawa pesan yang sama pada masa kini dan akan selalu menjadi landasan struktural bagi bangsa ini di masa depan. 

: Meningkatkan Kualitas Diri

Oleh Dr A Ilyas Ismail MA

Ibadah puasa merupakan sarana latihan untuk pengembangan diri. Ulama besar dunia, Yusuf al-Qaradhawi, dalam bukunya Fiqh al-Shiyam, memandang puasa Ramadhan sebagai lembaga pendidikan par-excellent (madrasah mutamayyizah) yang dibuka oleh Allah SWT setiap tahun. Siapa yang mendaftar dan mengikuti "perkuliahan" dengan baik sesuai petunjuk Islam, ia akan lulus ujian dengan predikat "sukses besar". Karena, tak ada keuntungan yang lebih besar ketimbang meraih ampunan Tuhan dan bebas dari siksa neraka.

Di antara hikmah paling penting ibadah puasa, bagi al-Qaradhawi, adalah pencucian atau peningkatan kualitas diri (tazkiyyat al-nafs). Puasa diharapkan dapat meninggikan kualitas jiwa dan mentalitas manusia sehingga ia menjadi manusia yang benar-benar tunduk dan menghambakan diri hanya kepada Allah SWT. Inilah potret manusia bertakwa yang ingin dicapai melalui ibadah puasa.

Dalam pemikiran Islam, jiwa atau mental (al-nafs) memiliki empat tingkatan mulai dari yang paling rendah hingga paling tinggi. Pertama, mental tumbuh-tumbuhan (nafs al-nabat). Wilayah kerja (domain) mental tumbuh-tumbuhan adalah makan dan minum. Manusia dengan mental ini tentu tidak dapat menjalankan ibadah puasa.

Kedua, jiwa binatang (nafs al-hayawan). Domain jiwa binatang adalah gerak, harakah (motion), memangsa, dan seksualitas. Jiwa binatang tidak mengenal rambu-rambu hukum. Yang kuat memangsa dan menerkam yang lemah. Inilah yang dinamakan hukum rimba. Manusia dengan mental ini juga tak dapat melaksanakan ibadah puasa.

Ketiga, jiwa manusia (nafs al-insan). Domain jiwa manusia adalah berpikir dan berprestasi. Jiwa ini jauh lebih tinggi dari dua jiwa terdahulu. Tapi, bukan tanpa kelemahan. Dalam berpikir dan mencapai prestasi, jiwa manusia sering diliputi penyakit sombong (kibr), serakah (al-thama`), serta dengki (al-hasad), dan iri hati (al-hiqd wa al-hasad). 

Keempat, jiwa atau mental malaikat (nafs al-malakut). Domain mental ini adalah kebenaran dan kepatuhan yang tinggi kepada Allah SWT tanpa reserve. "Penjaganya ialah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS Al-Tahrim [66]: 6).

Mental malakut, seperti dipaparkan di atas, merupakan mental yang paling tinggi. Ibadah puasa sesungguhnya dimaksudkan agar manusia memiliki semangat dan jiwa malakut ini. Ini tidak bermakna bahwa manusia harus bertransformasi (merubah bentuknya) menjadi malaikat. Tidak. Tapi, transformasi dalam arti peningkatan kualitas diri dengan semangat kebenaran (tahaqquq) dan pengabdian (ta`abbud) yang tinggi kepada Allah SWT. Wallahu a`lam.

: Adab Bertobat

TUNTUNAN

Hendaknya, seseorang yang bertobat meninggalkan perbuatan maksiat dan tidak mengulanginya

Ramadhan merupakan bulan introspeksi diri. Bulan suci yang penuh kemuliaan dan keistimewaan ini sangat strategis untuk dijadikan sebagai waktu untuk bertobat atas segala kealfaan dan dosa yang telah diperbuat. Terlebih, tobat merupakan kewajiban setiap Muslim.

''Tobat tak boleh ditunda-tunda dan diulur-ulur,'' ungkap Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitabnya Mausuu'atul Aadaab al-Islamiyah,  Menurut Syekh Sayyid Nada, ada beberapa adab yang harus dijaga saat seorang Muslim bertobat. Berikut ini beberapa adab yang perlu diperhatikan saat bertobat:

Pertama, ikhlas.
''Hendaknya, seeorang bertaubat semata-mata ikhlas mengharapkan wajah Allah SWT,'' tutur Syekh Sayyid Nada. Bertobat hendaknya bukan didasari karena takut terhadap hukuman yang bersifat duniawi atau yang lainnya. 
Allah SWT berfirman, ''Hai orang-orang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukan kamu ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…'' (QS. At-Tahriim:8).

Kedua, bertobat dari segala dosa.
Syekh Sayyid Nada mengungkapkan, hendaknya seorang Muslim bertaubat dari segala dosa, bukan dari satu jenis dosa saja. ''Janganlah seorang Muslim bertobat dari sebagian dosa dan mempertahankan sebagian yang lainnya,'' ungkap ulama terkemuka itu.

Ketiga, hendaknya bertobat pada waktu diterimanya tobat.
Menurut Syekh Sayyid Nada, ada dua waktu penting yang disebutkan dalam Alquran untuk bertobat: Pertama, waktu yang khusus dalam umur setiap manusia, yakni sebelum nyawa sampai kerongkongan. Rasulullah SAW bersabda, ''Barang siapa bertobat kepada Allah SWT sebelum nyawa sampai di kerongkongan, niscaya Allah akan menerima tobatnya.'' (HR Ahmad).
Kedua, kata Syekh Sayyid Nada, waktu yang umum dalam umur zaman, yakni sebelum terbitnya matahari dari barat. Rasulullah SAW bersabda, ''Barang siapa bertobat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah akan menerima taubatnya.'' (HR Muslim).

Keempat, menyegerakan bertobat.
Menyegerakan bertobat termasuk kewajiban yang selalu ditekankan Rasulullah SAW kepada setiap Muslim. ''Sesungguhnya setan senantiasa menghiasi perbuatan  manusia untuk mengulur-ulur tobat, sampai ia mati dalam keadaan belum berobat. Karena itu, segeralah bertobat, karena kita tak tahu kapan ajal akan menjumput,'' ujar Syekh Sayyid Nada.

Kelima, menyesali dosa dan maksiat.
Wajib bagi setiap Muslim menyesali perbuatan maskiat yang telah dilakukannya. ''Hendaknya, seorang Muslim menyesal karena telah memperturutkan hawa nafsu dan mematuhi setan serta berbuat maksiat kepada Tuhannya.  Penyesalan merupakan salah satu syarat sahnya tobat,'' papar Syekh Sayyid Nada. Rasulullah SAW bersabda, ''Penyesalan adalah tobat.'' (HR Ahmad, Ibnu Majah, Al-Hakim).

Keenam, berazam (bertekad) untuk tak mengulangi perbuatan maksiat. Berazam, menurut Syekh Sayyid Nada, termasuk syarat sahnya tobat. Maksudnya, seorang bertekad untuk tak mengulangi perbuatan maksiat. Jika syarat itu dilanggar atau tak dipenuhi, maka tobatnya dianggap belum sah, Pelakunya dianggap masih mempertahankan maksiatnya.

Ketujuh, tunduk bersimpuh di hadapan Allah SWT.
Wajib atas seorang yang bertobat untuk menunjukkan ketundukan di hadapan Allah SWT.

Kedelapan, bertobat dengan hati, lisan, dan anggota badan.
Menurut Syekh Sayyid Nada,  hendaknya seseorang bertobat dengan hatinya, yakni menyesali dosa dan maskiat yang telah dilakukan dan berazam untuk tak mengulanginya. Bertobat dengan lisan dilakukan dengan memperbanyak istigfar dan tobat.
Rasulullah SAW bersabda, ''Wahai sekalian manusia, bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya seratus kali setiap hari.'' (HR Muslim).

Kesembilan, meninggalkan maksiat.
Hendaknya, seseorang yang bertobat meninggalkan perbuatan maksiat dan tidak mengulanginya. ''Tobat tidak sah tanpa hal ini,'' tutur Syekh Sayyid Nada.

Kesepuluh, mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi atau meminta dihalalkan.
Seorang yang bertobat wajib mengembalikan hak-hak orang yang terzalimi, jika maksiatnya itu berkaitan dengan hak-hak manusia. ''Maka ia wajib mengembalikan harta yang dicuri atau dirampas kepada pemiliknya atau meminta dihalalkan,'' ujar Syekh Sayyid Nada. Seorang yang bertobat juga harus meminta dihalalkan kepada orang yang telah dirusak kehormatannya, dibongkar aibnya dan lainnya. 
heri ruslan/sumber: Ensiklopedi Adab Islam menurut Alquran dan As-Sunah terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i

: 10 Hal sering diremehkan ketika Ramadhan

Pemandangan yang hampir pasti kita saksikan pada setiap bulan Ramadhan berupa sambutan kaum muslimin terhadapnya dengan berbagai kegiatan dan amalan, senantiasa mengiringi kegembiraan dan kebahagiaan mereka pada bulan mulia ini. Memang, bulan mulia yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan ini benar-benar patut untuk disyukuri.

Ya! Kita harus bersyukur kepada Allah atas anugerah-Nya kepada kita pada bulan mulia ini. Bersyukur kepada-Nya dengan berusaha memperbagus dan memperbanyak amal ibadah yang disyariatkan untuk dilakukan pada bulan ini.

Bulan Ramadhan senantiasa berulang pada setiap tahun. Kaum muslimin pun telah terbiasa dengan rutinitas amalan yang mereka lakukan padanya. Mulai dari amalan ibadah puasa, shalat Tarawih, memberi makan buka, membaca Al-Quran, dan lain sebagainya.

Namun sayang, rutinitas yang telah mereka "hafal" ini tidak sedikit darinya yang kurang bernilai ibadah. Atau, jikapun rutinitas itu bernilai ibadah, masih saja ada "kotoran-kotoran" yang merusak ketinggian nilai ibadah. Hal ini tidak jarang disebabkan karena banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan hal-hal penting yang harus diperhatikan pada bulan Ramadhan.

Di antara hal-hal penting yang harus diperhatikan itu:

1- Mengilmui ibadah di bulan Ramadhan.

Ilmu adalah pintu kebaikan. Siapa pun yang menghendaki kebaikan, dia harus memulai dengan ilmu. Maka seorang muslim yang ingin meraih kebaikan bulan Ramadhan, pastilah dia harus mengilmui ibadah yang dilakukan di bulan ini. Mengilmui tentang puasa, tentang tata cara shalat Tarawih, tentang membaca Al-Quran, i'tikaf, zakat dan ibadah-ibadah lainnya.

Sangat disayangkan banyak kaum muslimin yang meremehkan hal ini. Padahal, jika mereka melakukan ibadah tanpa ilmu, bisa jadi ibadah yang mereka lakukan akan menjadi sia-sia, tidak diterima oleh Allah — ta'ala –. Akhirnya, kita pun banyak melihat bermunculan berbagai perkara ibadah yang tidak dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya — shollallohu 'alaihi wa sallam — di bulan mulia ini. Sehingga apa yang mereka harapkan menjadi kebaikan, berbalik menjadi kerugian semata. Semoga Allah melindungi kita dari hal ini.

2- Niat ikhlas dalam puasa.

Puasa adalah ibadah yang sangat agung di bulan suci ini. Sampai-sampai Allah pun mengkhususkan ibadah ini hanya untuk-Nya. Rasulullah — shollallohu 'alaihi wa sallam— bersabda,

قَالَ اللهُ عز وجل كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام ، فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ

"Allah 'azza wa jalla berfirman, semua amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan membalasnya." (Muttafaq 'alaih)

Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu ibadah, selain harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah — shollallohu 'alaihi wa sallam –. Sehingga jika kita ingin puasa kita diterima, pertama kita harus mengikhlaskan puasa kita hanya karena Allah, bukan karena ikut-ikutan rutinitas manusia atau karena niat yang lain. Selain itu, puasa kita harus sesuai dengan tuntunan atau tata cara puasa Rasulullah — shollallohu 'alaihi wa sallam –. Dan ini, tentu menuntut kita untuk memperhatikan poin pertama yang kami sampaikan di atas, yaitu ilmu.

Sekadar mengingatkan, bahwa yang dimaksud dengan niat adalah kehendak dalam hati untuk melakukan sesuatu amalan. Sehingga dalam tuntunan Rasulullah – shollallohu 'alaihi wa sallam –, niat untuk ibadah tidak perlu diucapkan dengan lisan, termasuk di antaranya niat untuk berpuasa.

3- Yang wajib lebih utama dari yang sunah.

Semangat yang menggebu terkadang menjadikan seseorang lalai dengan skala prioritas yang harusnya diperhatikan. Inilah yang sering kita saksikan pada bulan ini. Kaum muslimin terkadang lebih memerhatikan yang sunah dengan melalaikan yang wajib. Padahal seharusnya yang wajib harus lebih diperhatikan dari yang sunah, sedangkan yang sunah diusahakan tidak ditinggalkan.

Sebagai contoh, kita lihat kaum muslimin berbondong-bondong shalat Tarawih berjamaah ke masjid sampai membuat masjid tak muat, padahal shalat Tarawih tidak termasuk dalam shalat wajib. Namun sayang, mereka lupa atau lalai shalat berjamaah di masjid untuk lima shalat waktu yang notabene adalah shalat wajib.

Akan lebih parah lagi, jika ada seorang muslim yang lebih memerhatikan hal yang mubah-mubah saja dari pada hal yang wajib. Atau bahkan lebih parah dari itu, memerhatikan hal yang makruh atau haram dengan melalaikan yang wajib. Na'udzu billah min dzalik.

4- Mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.

Yang ini, nampaknya banyak dianggap remeh oleh sebagian kaum muslimin. Di antara mereka ada yang makan sahur jauh sebelum waktu sahar (akhir waktu malam menjelang terbit fajar). Bahkan di antara mereka ada yang sama sekali tidak makan sahur. Lalu ketika berbuka pun di antara mereka ada yang mengakhirkannya sampai menjelang Isya. Semacam ini tentu saja bertentangan dengan tuntunan Nabi — shollallohu 'alaihi wa sallam –.

Rasulullah — shollallohu 'alaihi wa sallam — bersabda, "Makan sahurlah, karena ada berkah dalam makan sahur." (Muttafaq 'alaih)
Dan disebutkan pula dalam hadits Muttafaq 'alaih (Riwayat al-Bukhari dan Muslim) bahwa antara makan sahur Rasulullah — shollallohu 'alaihi wa sallam — dengan adzan shubuh berselang sekitar bacaan 50 ayat al-Quran.
Rasulullah — shollallohu 'alaihi wa sallam — juga bersabda, "Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahlul kitab adalah makan sahur." (Riwayat Muslim)

Adapun tentang menyegerakan berbuka, Rasulullah – shollallohu 'alaihi wa sallam – bersabda, "Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka masih menyegerakan berbuka." (Muttafaq 'alaih)
Dan yang dimaksud menyegerakan berbuka di sini, segera berbuka setelah terbenam matahari. Karena jika seseorang menyengaja berbuka sebelum terbenam matahari padahal dia tahu, maka puasanya tidak sah alias batal.

5- Mulianya waktu.

Keagungan waktu dan urgensi memerhatikannya, sudah tidak kita ragukan lagi. Sampai-sampai ada yang mengatakan, "waktu bagaikan pedang, jika tidak kau patahkan dia yang akan menebasmu." Maksudnya, jika waktu ini tidak kita manfaatkan untuk hal-hal yang baik, niscaya dia bisa menjadi bumerang yang mencelakakan kita.

Nah, di bulan mulia ini, kemuliaan waktu menjadi jauh lebih mulia dari biasanya. Namun sekali lagi sayang, banyak kaum muslimin yang lalai akan hal ini. Mereka menghabiskan waktunya di bulan Ramadhan untuk perkara kesenangan jiwa belaka. Dengan bercanda ria, berjalan-jalan, tidur, ngobrol, begadang, dan seterusnya. Padahal jika mereka mau memanfaatkannya untuk ibadah seperti membaca Al-Quran, berdzikir atau yang lain, maka sesungguhnya di bulan ini amal ibadah kita dilipatgandakan pahalanya.

6- Ramadhan bulan doa.

Di antara rahasia yang sering dilalaikan, bahwa Ramadhan adalah bulan doa. Dalam surat al-Baqarah ayat 186, Allah menyebutkan sebuah keterangan tentang doa. Bahwa Allah dekat dengan hamba-Nya, dan Dia mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya. Jika diperhatikan, ayat ini Allah sampaikan di tengah-tengah ayat tentang puasa. Hal ini menunjukkan –sebagaimana dijelaskan para ulama – bahwa Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk berdoa.

Terlebih lagi Rasulullah — shollallohu 'alaihi wa sallam — telah bersabda, "Tiga doa yang tidak akan ditolak; doa seorang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, doa orang yang bersafar." (Dihasankan al-Albani dalam Shahihul Jami' no. 3032)

7- Antara hemat dan sedekah.

Di antara keistimewaan amalan Nabi – shollallohu 'alaihi wa sallam – di bulan Ramadhan, beliau – shollallohu 'alaihi wa sallam – lebih banyak bersedekah dibandingkan bulan-bulan lainnya. Padahal beliau adalah orang yang paling dermawan di bulan-bulan yang lain. Nah, tentunya ini menjadi dorongan bagi kita sebagai umat beliau — shollallohu 'alaihi wa sallam –, untuk lebih banyak bersedekah di bulan Ramadhan.

Anjuran untuk bersedekah ini tentu menuntut kita untuk lebih berhemat dalam menggunakan harta untuk keperluan duniawi. Inilah hal yang mungkin banyak dilalaikan. Yang sering terjadi malah sebaliknya, pengeluaran untuk urusan duniawi; untuk membeli makanan sahur dan buka, dan juga untuk membeli perlengkapan menyambut lebaran, lebih diperhatikan dari pada pengeluaran untuk sedekah.

8- Keagungan malam-malam terakhir.

Ada fenomena yang perlu dikoreksi. di awal-awal Ramadhan mereka bersemangat melaksanakan ibadah seperti shalat Tarawih, membaca Al-Quran dan sebagainya. Namun semakin mendekati akhir Ramadhan, mereka mulai "lemas" dalam ibadah. Masjid-masjid yang tadinya penuh dengan jamaah, kini tinggal dua atau tiga shaf saja. Padahal Allah lebih mengagungkan malam-malam terakhir Ramadhan dibandingkan sebelumnya. Dan Rasulullah — shollallohu 'alaihi wa sallam — pun bertambah giat dalam beribadah jika telah memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

9- I'tikaf.

Di antara sunnah (ajaran) Nabi — shollallohu 'alaihi wa sallam — yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin adalah i'tikaf. Berdiam di masjid dan tidak keluar darinya, dalam rangka mengkhususkan diri untuk ibadah kepada Allah — ta'ala –. Ibadah ini merupakan kebiasaan yang dilakukan Nabi — shollallohu 'alaihi wa sallam — pada 10 hari terakhir Ramadhan. Ibadah yang mulia ini sering tidak bisa dilakukan oleh kaum muslimin, karena mereka sibuk dengan persiapan menyambut hari raya. Seolah-olah, mereka sangat gembira dengan hampir selesainya bulan Ramadhan. Padahal para pendahulu kita yang shalih, merasa sedih ketika harus berpisah dengan bulan mulia ini. Lalu di manakah posisi kita dibandingkan mereka?

10- Jangan lupakan tujuan puasa.

Kita semua tentu tahu tujuan agung ibadah puasa. Namun, apakah kita sadar ketika Ramadhan telah berlalu, sudahkan kita mencapai tujuan itu? Ketakwaan, sebagai tujuan dari ibadah puasa, tidak hanya dituntut pada bulan Ramadhan saja. Bahkan ketakwaan harus senantiasa diusahakan mengiringi kita di mana pun dan kapan pun. Rasulullah —shollallohu 'alaihi wa sallam — bersabda, "Bertakwalah kamu di mana atau kapan pun kamu berada." (Riwayat at-Tirmidzi)

Semoga, Ramadhan kali ini benar-benar menjadikan kita orang yang bertakwa di mana pun dan kapan pun kita berada, sampai Allah mewafatkan kita. Wallahul muwaffiq.

: Cinta, Rindu, dan Cemburu

Banyak orang berbicara tentang masalah ini tapi tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Atau tidak menjelaskan batasan-batasan dan maknanya secara syari. Dan kapan seseorang itu keluar dari batasan-batasan tadi. Dan seakan-akan yang menghalangi untuk membahas masalah ini adalah salahnya ¬pemahaman bahwa pembahasan masalah ini berkaitan dengan akhlaq yang rendah dan berkaitan dengan perzinahan, perkataan yang keji. Dan hal in adalah salah. Tiga perkara ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan manusia yang memotivasi untuk menjaga dan mendorong kehormatan dan kemuliaannya.

Aku memandang pembicaraan ini yang terpenting adalah batasannya, penyimpangannya, kebaikannya, dan kejelekannya. Tiga kalimat ini ada dalam setiap hati manusia, dan mereka memberi makna dari tiga hal ini sesuai dengan apa yang mereka maknai.

1. Cinta (AI-Hubb)

Cinta yaitu Al-Widaad yakni kecenderungan hati pada yang dicintai, dan itu termasuk amalan hati, bukan amalan anggota badan/dhahir. Pernikahan itu tidak akan bahagia dan berfaedah kecuali jika ada cinta dan kasih sayang diantara suami-isteri. Dan kuncinya kecintaan adalah pandangan. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, menganjurkan pada orang yang meminang untuk melihat pada yang dipinang agar sampai pada kata sepakat dan cinta, seperti telah kami jelaskan dalam bab Kedua.

Sungguh telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Nasa'i dari Mughirah bin Su'bah Radhiyallahu 'anhu berkata ;"Aku telah meminang seorang wanita", lalu Rasulullah
shalallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepadaku :'Apakah kamu telah melihatnya ?" Aku berkata :"Belum", maka beliau bersabda : 'Maka lihatlah dia, karena sesungguhnya hal itu pada akhimya akan lebih menambah kecocokan dan kasih sayang antara kalian berdua'

Sesungguhnya kami tahu bahwa kebanyakan dari orang-orang, lebih-lebih pemuda dan pemudi, mereka takut membicarakan masalah "cinta", bahkan umumnya mereka mengira pembahasan cinta adalah perkara-perkara yang haram, karena itu mereka merasa menghadapi cinta itu dengan keyakinan dosa dan mereka mengira diri mereka bermaksiat, bahkan salah seorang diantara mereka memandang, bila hatinya condong pada seseorang berarti dia telah berbuat dosa.

Kenyataannya, bahwa di sini banyak sekali kerancuan-kerancuan dalam pemahaman mereka tentang "cinta" dan apa-apa yang tumbuh dari cinta itu, dari hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dimana mereka beranggapan bahwa cinta itu suatu maksiat, karena sesungguhnya dia memahami cinta itu dari apa-apa yang dia lihat dari lelaki-lelaki rusak dan perempuan-perempuan rusak yang diantara mereka menegakkan hubungan yang tidak disyariatkan. Mereka saling duduk, bermalam, saling bercanda, saling menari, dan minum-minum, bahkan sampai mereka berzina di bawah semboyan cinta. Mereka mengira bahwa 'cinta' tidak ada lain kecuali yang demikian itu. Padahal sebenarnya tidak begitu, tetapi justru sebaliknya.

Sesungguhnya kecenderungan seorang lelaki pada wanita dan kecenderungan wanita pada lelaki itu merupakan syahwat dari syahwat¬-syahwat yang telah Allah hiaskan pada manusia dalam masalah cinta, Artinya Allah menjadikan di dalam syahwat apa-apa yang menyebabkan hati laki-laki itu cenderung pada wanita, sebagaimana firman Allah Ta'ala (yang artinya) :

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak,… ",
(Q.S Ali¬-Imran : 14)

Andaikan tidak ada rasa cinta lelaki pada wanita atau sebaliknya, maka tidak ada pernikahan, tidak ada keturunan dan tidak ada keluarga. Namun, Allah Ta'ala tidaklah menjadikan lelaki cinta pada wanita atau sebaliknya supaya menumbuhkan diantara keduanya hubungan yang diharamkan, tetapi untuk menegakkan hukum-hukum yang disyari'atkan dalam bersuami isteri, sebagaimana tercantum dalam hadits Ibnu Majah, dari Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma berkata : telah bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam :

"Tidak terlihat dua orang yang saling mencintai, seperti pemikahan .�?

Dan agar orang-orang Islam menjauhi jalan-jalan yang rusak atau keji, maka Allah telah menyuruh yang pertama kali agar menundukan pandangan, karena pandangan' itu kuncinya hati, dan Allah telah haramkan semua sebab-sebab yang mengantarkan pada Fitnah, dan kekejian, seperti berduaan dengan orang yang bukan mahramya, bersenggolan, bersalaman, berciuman antara lelaki dan wanita, karena perkara ini dapat menyebabkan condongnya hati. Maka bila hati telah condong, dia akan sulit sekali menahan jiwa setelah itu, kecuali yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta'ala.

Allah lah yang menghiasi bagi manusia untuk cinta pada syahwat ini, maka manusia mencintainya dengan cinta yang besar, dan sungguh telah tersebut dalam hadits bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Diberi rasa cinta padaku dari dunia kalian ; wanita dan wangi¬-wangian dan dijadikan penyejuk mataku dalam sholat�?
( HR Ahmad, Nasa'i, Hakim dan Baihaqi)

Bahwa Allah tidak akan menyiksa manusia dalam kecenderungan hatinya. Akan tetapi manusia akan disiksa dengan sebab jika kecenderungan itu diikuti dengan amalan-amalan yang diharamkan. Contohnya : apabila lelaki dan wanita saling pandang memandang atau berduaan atau duduk cerita panjang lebar, lalu cenderunglah hati keduanya dan satu sama lainnya saling mencinta, maka kecondongan ini tidak akan menyebabkan keduanya disiksanya, karena hal itu berkaitan dengan hati, sedang manusia tidak bisa untuk menguasai hatinya. Akan tetapi, keduanya diazab karena yang dia lakukan. Dan karena keduanya melakukan sebab yang menyampaikan pada 'cinta', seperti telah kami sebutkan. Dan keduanya akan dimintai tanggungjawab dan akan disiksa juga dari setiap keharaman yang dia perbuat setelah itu.

Adapun cinta yang murni yang dijaga kehormatannya, maka tidak ada dosa padanya, bahkan telah disebutkan oleh sebagian ulama seperti Imam Suyuthi, bahwa orang yang mencintai seseorang lalu menjaga kehormatan dirinya dan dia menyembunyikan cintanya maka dia diberi pahala, sebagaimana akan dijelaskan dalam ucapan kami dalam bab 'Rindu'. Dan dalam keadaan yang mutlak, sesungguhnya yang paling selamat yaitu menjauhi semua sebab-sebab yang menjerumuskan hati dalam persekutuan cinta, dan mengantarkan pada bahaya-bahaya yang banyak, namun sangat sedikit mereka yang selamat.

2. Rindu (Al-'Isyq)

Rindu itu ialah cinta yang berlebihan, dan ada rindu yang disertai dengan menjaga diri dan ada juga yang diikuti dengan kerendahan. Maka rindu tersebut bukanlah hal yang tercela dan keji secara mutlak. Tetapi bisa jadi orang yang rindu itu, rindunya disertai dengan menjaga diri dan kesucian, dan kadang-kadang ada rindu itu disertai kerendahan dan kehinaan.

Sebagaimana telah disebutkan, dalam ucapan kami tentang cinta maka rindu juga seperti itu, termasuk amalan hati, yang orang tidak mampu menguasainya. Tapi manusia akan dihisab atas sebab-sebab yang diharamkan dan atas hasil-hasilnya yang haram. Adapun rindu yang disertai dengan menjaga diri padanya dan menyembunyikannya dari orang-orang, maka padanya pahala, bahkan Ath-Thohawi menukil dalam kitab Haasyi'ah Marakil Falah dari Imam Suyuthi yang mengatakan bahwa termasuk dari golongan syuhada di akhirat ialah orang-orang yang mati dalam kerinduan dengan tetap menjaga kehormatan diri dan disembunyikan dari orang-orang meskipun kerinduan itu timbul dari perkara yang haram sebagaimana pembahasan dalam masalah cinta.

Makna ucapan Suyuthi adalah orang-orang yang memendam kerinduan baik laki-laki maupun perempuan, dengan tetap menjaga kehormatan dan menyembunyikan kerinduannya sebab dia tidak mampu untuk mendapatkan apa yang dirindukannya dan bersabar atasnya sampai mati karena kerinduan tersebut maka dia mendapatkan pahala syahid di akhirat.

Hal ini tidak aneh jika fahami kesabaran orang ini dalam kerinduan bukan dalam kefajiran yang mengikuti syahwat dan dia bukan orang yang rendah yang melecehkan kehormatan manusia bahkan dia adalah seorang yang sabar, menjaga diri meskipun dalam hatinya ada kekuatan dan ada keterkaitan dengan yang dirindui, dia tahan kekerasan jiwanya, dia ikat anggota badannya sebab ini di bawah kekuasaannya. Adapun hatinya dia tidak bisa menguasai maka dia bersabar atasnya dengan sikap afaf (menjaga diri) dan menyembunyikan kerinduannya sehingga dengan itu dia mendapa pahala.

3. Cemburu (Al-Ghairah)

Cemburu ialah kebencian seseorang untuk disamai dengan orang lain dalam hak-haknya, dan itu merupakan salah satu akibat dari buah cinta. Maka tidak ada cemburu kecuali bagi orang yang mencintai. Dan cemburu itu ternasuk sifat yang baik dan bagian yang mulia, baik pada laki-laki atau wanita.

Ketika seorang wanita cemburu maka dia akan sangat marah ketik~asuaminya berniat kawin dan ini fitrah padanya. Sebab perempuan tidak akan menerima madunya karena kecemburuannya pada suami, dia senang bila diutamakan, sebab dia mencintai suaminya. Jika dia tidak mencintai suaminya, dia tidak akan peduli (lihat pada bab 1). Kita tekankan lagi disini bahwa seorang wanita akan menolak madunya, tetapi tidak boleh menolak hukum syar'i tentang bolehnya poligami. Penolakan wanita terhadap madunya karena gejolak kecemburuan, adapun penolakan dan pengingkaran terhadap hukum syar'i tidak akan terjadi kecuali karena kelalaian dan kesesatan.

Adapun wanita yang shalihah, dia akan menerima hukum-hukum syariat dengan tanpa ragu¬-ragu, dan dia yakin bahwa padanya ada semua kebaikan dan hikmah. Dia tetap memiliki kecemburuan terhadap suaminya serta ketidaksenangan terhadap madunya.
Kami katakan kepada wanita-wanita muslimah khususnya, bahwa ada bidadari yang jelita matanya yang Allah Ta'ala jadikan mereka untuk orang mukmin di sorga. Maka wanita muslimat tidak boleh mengingkari adanya 'bidadari' ini untuk orang mukmin atau mengingkari hai-hal tersebut, karena dorongan cemburu.

Maka kami katakan padanya :
1. Dia tidak tahu apakah dia akan berada bersama suaminya di surga kelak atau tidak.
2. Bahwa cemburu tidak ada di surga, seperti yang ada di dunia.
3. Bahwasanya Allah Subhanahu wa ta'ala telah mengkhususkan juga bagi wanita dengan kenikmatan-kenikmatan yang mereka ridlai, meski klta tidak mengetahui secara rinci.
4. Surqa merupakan tempat yang kenikmatannya belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terbetik dalam hati manusia, seperti firman Allah Ta'ala :
"Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaltu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata scbagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan�?
(Q.S As-Sajdah : 17)

Oleh karena itu, tak seorang pun mengetahui apa yang tcrsembunyi bagi mereka dari bidadari-bidadari penyejuk mata sebagai balasan pada apa-apa yang mereka lakukan. Dan di sorga diperoleh kenikmatan-kenikmatan bagi mukmin dan mukminat dari apa-apa yang mereka inginkan, dan juga didapatkan hidangan-hidangan, dan akan menjadi saling ridho di antara keduanya sepenuhnya. Maka wajib bagi keduanya (suami-isteri) di dunia ini untuk beramal sholeh agar memperoleh kebahagiaan di sorga dengan penuh kenikmatan dan rahmat Allah Ta'ala yang sangat mulia lagi pemberi rahmat.

Adapun kecemburuan seorang laki-laki pada keluarganya dan kehormatannya, maka hal tersebut 'dituntut dan wajib' baginya karena termasuk kewajiban seorang laki-laki untuk cemburu pada kehormatannya dan kemuliaannya. Dan dengan adanya kecemburuan ini, akan menolak adanya kemungkaran di keluarganya. Adapun contoh kecemburuan dia pada isteri dan anak-anaknya, yaitu dengan cara tidak rela kalau meraka telanjang dan membuka tabir di depan laki-laki yang bukan mahramnya, bercanda bersama mereka, hingga seolah-olah laki-laki itu saudaranya atau anak-anaknya.

Anehnya bahwa kecemburuan seperti ini, di jaman kita sekarang dianggap ekstrim-fanatik, dan lain-lain. Akan tetapi akan hilang keheranan itu ketika kita sebutkan bahwa manusia di jaman kita sekarang ini telah hidup dengan adat barat yang jelek. Dan maklum bahwa masyarakat barat umumnya tidak mengenal makna aib, kehormatan dan tidak kenal kemuliaan, karena serba boleh (permisivisme), mengumbar hawa nafsu kebebasan saja. Maka orang¬orang yang mengagumi pada akhlaq-akhlaq barat ini tidak mau memperhatikan pada akhlaq Islam yang dibangun atas dasar penjagaan kehormatan, kemuliaan clan keutamaan.

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam telah mensifati seorang laki-laki yang tidak cemburu pada keluarganya dengan sifat-¬sifat yang jelek, yaitu Dayyuuts: Sungguh ada dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabraani dari Amar bin Yasir ; serta dari Al-Hakim, Ahmad dan Baihaqi dan Abdullah bin Amr , dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bahwa ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga yaitu peminum khomr, pendurhaka orang tua dan dayyuts. Kemudian Nabi menjelaskan tentang dayyuts, yaitu orang yang membiarkan keluarganya dalam kekejian atau kerusakan, dan keharaman.

(Dikutip darikitab Ushulul Mu'asyarotil Zaujiyah, Penulis: Al-Qodhi Asy-Syaikh Muhammad Ahmad Kan'an, Edisi Indonesia "Tata Pergaulan Suami Istri Jilid I? Penerbit Maktabah Al-Jihad, Jog)

Disalin langsung dari situs www.darussalaf.or.id

: Puasa dan Kemerdekaan

Fajar Kurnianto
penulis buku


Ramadhan menurut bahasa artinya panas membakar. Ia disebut demikian karena bulan ini dosa-dosa dan kesalahan orang yang berpuasa di masa sebelum Ramadhan dibakar habis. Rasulullah mengatakan, 'Siapa yang berpuasa Ramadhan semata-mata karena keimanan serta mengharap rahmat dan pahala dari Allah, maka dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya akan diampuni oleh Allah.' 
(HR Bukhari dari Abu Hurairah)

Akan tetapi, lebih daripada sekadar membakar dosa, Ramadhan juga bisa dimaknai sebagai membakar spirit dan semangat juang dalam ketaatan kepada Allah. Bahkan, Ramadhan adalah api semangat itu sendiri. Dalam 'sirah' (biografi) Rasulullah, perang Badar, pada tahun kedua hijrah, terjadi pada bulan Ramadhan. Inilah perjuangan pertama mengangkat senjata yang dilakukan oleh kaum Muslimin melawan kaum Quraisy Makkah yang menindas mereka sehingga harus hengkang berhijrah ke Madinah, meninggalkan tanah airnya. Dan, pada perang ini, kaum Muslimin memperoleh kemenangan meyakinkan meskipun jumlah personelnya hanya tiga ratusan orang.

Perang Badar yang terjadi di bulan Ramadhan ini memberikan pesan perjuangan yang luar biasa. Baik itu perjuangan fisik maupun mental. Perjuangan fisiknya bahkan lebih berat, karena selain berperang juga harus berpuasa. Dan, kaum Muslimin ketika itu mampu melewatinya, bahkan meraih kemenangan gemilang. Maka itu, Ramadhan sesungguhnya adalah bulan perjuangan di jalan Allah. Berjuang menahan lapar dan haus karena menaati Allah dan Rasulullah, serta berjuang menahan keinginan hawa nafsu yang ingin bebas terumbar. Ramadhan sesungguhnya bukan bulan santai-santai, istirahat, dan tanpa aktivitas bermanfaat. Atau, bulan glamor dan hura-hura yang menghabis-habiskan dana.

Kaum Muslimin Indonesia masuk dalam bulan Ramadhan tidak dalam suasana perang seperti halnya Rasulullah dan kaum Muslimin. Maka itu, spirit perjuangannya lebih pada perjuangan mengekang hawa nafsu, selain menahan diri untuk tidak makan dan minum hingga sore hari. Perjuangan melawan hawa nafsu tidak kalah hebatnya dengan perjuangan secara fisik. Manusia mungkin bisa menahan lapar dan haus, tetapi tidak banyak yang berhasil menahan hawa nafsu. Itulah yang Rasulullah sitir dalam salah satu hadisnya, "Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi yang ia dapat hanya lapar dan haus." (HR Ahmad dari Abu Hurairah)

Menuju kemerdekaan

Perjuangan melalui puasa di bulan Ramadhan memiliki tujuan atau target yang ingin dicapai. Allah menyebutkan bahwa tujuan itu adalah menjadikan orang-orang yang berpuasa itu menjadi orang-orang yang bertakwa, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS Albaqarah: 183).

Takwa berasal dari kata 'wiqayah' yang secara bahasa salah satu maknanya adalah menjaga atau memelihara diri. Dalam Alquran, misalnya, disebutkan, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu (quu anfusakum) dan keluargamu dari api neraka." (QS At-Tahrim: 6). Ini selaras dengan puasa yang disebut oleh Rasulullah sebagai tameng yang menjaga atau memelihara pelakunya agar tidak melakukan hal-hal buruk, "Puasa adalah tameng. Karena itu, janganlah berkata-kata kotor dan bertindak bodoh. Jika ada orang yang mengajaknya untuk bertarung atau bertengkar, katakanlah, 'Aku sedang berpuasa'." (HR Bukhari dari Abu Hurairah)

Jadi, puasa mengerem hawa nafsu yang mengarah pada hal-hal negatif, dan pada saat yang sama melepas sebanyak-banyaknya dorongan diri untuk melakukan kebaikan-kebaikan atau hal-hal yang bermanfaat. Ketika ada orang yang memprovokasi untuk melakukan tindak kekerasan atau memprovokasi untuk bertengkar, mengumpat, dan mencaci maki, Rasulullah mengimbau orang yang berpuasa untuk menahan diri dan mengatakan bahwa dirinya sedang berpuasa.

Puasa melindungi orang yang berpuasa sehingga tidak termakan hasutan. Justru, dengan jawaban bahwa ia sedang berpuasa secara implisit menunjukkan sikap bijaksana dan tidak reaktif secara berlebihan dalam menghadapi provokasi itu. Ketika segala keinginan hawa nafsu terkekang, saat itulah ia menjadi orang yang merdeka, lepas dari belenggu hawa nafsu. Menjadi manusia yang selalu meniti jalan Allah, jalan kebenaran, yang membuat dirinya hidup dalam kebahagiaan dan kegembiraan, setelah melalui perjuangan panjang melawan hawa nafsu. Rasulullah menyebut hal ini sebagai sebagai kegembiraan, "Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan; gembira saat ia menjadi fitri, dan gembira saat ia bertemu dengan Tuhannya." (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Idul Fitri menjadi puncak seleberasi kemerdekaan ini. Bukan merdeka karena sudah tidak lagi berpuasa, tapi merdeka karena lepas dari penjajahan dan kendali hawa nafsu. Kemerdekaan ini juga tidak berarti bahwa perjuangan telah usai. Justru, selepas Ramadhan, perjuangan itu terus berlanjut. Yakni, perjuangan menjaga dan mempertahankan kemerdekaan secara konsisten. Bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan kaum kolonial bertepatan dengan bulan Ramadhan. Tetapi, setelah itu perjuangan baru dimulai, yakni konsisten mempertahankan dan membangun bangsa ke arah yang lebih baik. Maka secara individual, Ramadhan menjadi ajang perjuangan manusia untuk menjadi manusia yang berkarakter merdeka dari segala penjajahan hawa nafsunya.

Dalam konteks bangsa Indonesia saat ini, puasa menjadi ajang perjuangan mengerem ambisi kotor atau kepentingan sesaat yang mengorbankan kepentingan umum, yakni kepentingan bangsa dan negara. Rasulullah pasca pembebasan Makkah (Fathu Makkah) mengatakan, "Setelah pembebasan ini, tidak ada lagi hijrah kecuali jihad dan niat." (HR Bukhari dari Ibnu Abbas). Hijrah adalah perjuangan berat meninggalkan kampung halaman demi kebenaran dan lepas dari penindasan dan penjajahan. Setelah Makkah dibebaskan, hijrah seperti itu tidak ada. Yang ada adalah jihad dan niat. Jihad menurut bahasa adalah sikap sungguh-sungguh, konsisten, dan penuh komitmen dalam berusaha. Sedangkan niat adalah keinginan, harapan, dan cita-cita ke depan (visi) perubahan ke arah yang lebih baik. 

Saat ini, bangsa terjajah oleh kemiskinan, kebodohan, komunalisme, eksklusivisme minus toleransi, serta pragmatisme dan ketidakpedulian sebagian elite penguasa dan elite politik, membuat bangsa ini berjalan pelan ala keong. Ramadhan kali ini yang bertepatan dengan bulan kemerdekaan bangsa Indonesia, menjadi momen reflektif memaknai lagi arti perjuangan menuju kemerdekaan sejati. Wallahu a'lam.