Haji Mabrur

By A Ilyas Ismail MA
Setiap jamaah tentu mendambakan haji mabrur yang, menurut hadis yang berasal dari Abu Hurairah, bakal mendapatkan balasan surga. Persoalannya, apa hakikat haji mabrur dan apa indikator-indikatornya? Kata mabrur, seperti diterangkan Ibn Mandhur dalam Lisan al-Arab, mengandung dua makna. Pertama, mabrur berarti baik, suci, dan bersih. Jadi, haji mabrur adalah yang tak terdapat di dalamnya noda dan dosa -- untuk jual beli berarti tak mengandung dusta dan penipuan. Kedua, mabrur berarti maqbul, artinya mendapat ridla Allah SWT.

Lalu, siapa-siapa saja yang berhasil meraih haji mabrur? Jawabannya agaknya menjadi rahasia Tuhan. Boleh jadi jumlah mereka tak terlalu banyak. Kisah perjalanan haji Ibnu Muwaffaq yang dikutip al-Ghazali dalam Ihya 'Ulum al-Din menunjukkan itu.

Diceritakan, ketika Ibnu Muwaffaq berada di suatu masjid di Mina, ia sempat tertidur sejenak. Dalam tidurnya, ia melihat dan mendengar dialog dua orang malaikat. Seorang bertanya kepada temannya, ''Berapa jumlah jamaah haji tahun ini?'' ''Enam ratus ribu orang,'' jawabnya. ''Berapa orang dari mereka yang hajinya maqbul?'' tanyanya lagi. ''Enam orang saja,'' kata temannya, singkat. Mendengar jawaban ini, Ibnu Muwaffaq terjaga. Gemetaran ia termenung sejenak, memikirkan betapa besarnya jumlah jamaah haji ketika itu, tetapi betapa sedikitnya jumlah mereka yang maqbul.

Meski orang yang meraih haji mabrur tak dapat diidentifikasi secara pasti, namun Rasulullah SAW pernah menunjukkan beberapa indikatornya. Ketika ditanya tentang kebaikan haji, beliau bersabda: Memberi makan dan bertutur kata yang baik.

Memberi makan di sini harus dipahami secara luas, yaitu kesediaan kita untuk berbagi rasa dengan sesama serta kesanggupan kita untuk menyumbangkan sebagian harga yang kita miliki untuk fakir miskin dan kaum dhu'afa. Sedang yang dimaksud bertutur kata yang baik, menurut Imam Ghazali, adalah berbudi luhur dan berakhlak mulia.

Setiap pelaku haji, demikian Ghazali, harus memperhatikan betul soal akhlak ini, baik sewaktu berada di Tanah Suci maupun setelah kembali ke kampung halamannya. Inilah makna yang dapat dipahami dari ayat 197 surah al-Baqarah.

Kedua indikator yang disebut Nabi SAW di atas, berdimensi sosial. Ini berarti, haji yang mabrur pada hakikatnya adalah haji yang dapat membuat pelakunya semakin peduli terhadap persoalan-persoalan sosial dan kemanusiaan. Ia dan masyarakat memperoleh kebaikan dari ibadah haji yang dilakukannya. Karena itu, surga Allah memang pantas dan layak baginya.

0 komentar:

Posting Komentar