Fitrah Perbuatan Baik

Oleh Afthonul Afif

Banyak publikasi ilmiah menjelaskan bahwa salah satu sumber kebahagiaan manusia adalah berbuat baik kepada orang lain. Kebahagiaan itu bukan sekedar efek samping dari perbuatan tersebut, melainkan secara intrinsik sudah merupakan bagian darinya.

Mungkin kita masih sering berpikir bahwa setiap pertolongan kita untuk orang lain semata-mata demi kebaikan mereka. Padahal, tidak demikian. Perbuatan itu pada hakikatnya adalah untuk diri kita sendiri, untuk kebahagiaan kita. Kebahagiaan itu muncul karena secara emosional kita merasa lapang, berkecukupan, dan berpengharapan. Kita juga akan mampu melihat dunia secara lapang, karena kita memiliki jiwa yang lapang.

Dalam sebuah firman, Allah menjanjikan kelapangan bagi hambanya yang gemar berbuat baik. ''Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas.'' (QS al-Zumar [39]: 10) Jadi, sesungguhnya perbuatan baik itu adalah sumber harapan dan kesentosaan bagi kehidupan kita.

Mengapa kebahagiaan hakiki hanya bisa diraih melalui perbuatan baik? Sebab, kebahagiaan dan perbuatan baik itu sama-sama bersumber dari hati nurani (nurani, bersifat nur atau terang). Jadi, secara alamiah keduanya memang saling mensyaratkan. Jika kita ingin bahagia, kita harus berbuat baik. Jika kita berbuat baik, kita akan bahagia.

Dengan demikian, jika Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik, Dia sebenarnya hanya mengingatkan kita bahwa pada hakikatnya kita ditakdirkan sebagai makhluk yang baik. Dengan kata lain, berbuat baik adalah sesuatu yang manusiawi yang sejalan dengan sifat dasar manusia sehingga perbuatan jahat dengan sendirinya merupakan hal yang bertentangan dengan fitrah manusia itu sendiri.

Dari sudut pandang tersebut, maka perintah Allah kepada kita untuk berbuat baik bukanlah untuk kepentingan-Nya, melainkan untuk kepentingan kita sendiri. Hal ini merupakan manifestasi dari sifat-Nya sebagai al-Ghaniy (Yang Mahakaya), yang sedikit pun tidak membutuhkan sesuatu dari makhluk-Nya, termasuk dari manusia.

Dengan demikian, setiap perbuatan baik yang kita lakukan adalah semata-mata untuk kepentingan kita sendiri, demi kebahagiaan kita sendiri. Dan sebaliknya, atas setiap perbuatan jahat yang kita lakukan, maka kita sendirilah yang akan menuai dampak buruknya. Dalam sebuah firman Allah menjelaskan, ''Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barang siapa berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri.'' (QS Fushilat [41]:46) n

0 komentar:

Posting Komentar