Cinta Haji

By Hidayat Nur Wahid
Demikianlah (perintah Allah SWT) dan siapa pun yang senantiasa mengagungkan syiar-syiar Allah (berupa segala amalan dan aktivitas yang dilakukan dalam rangka ibadah haji, beserta tempat-tempat dilaksanakannya ibadah tersebut), maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati. (QS Al Haj: 32). Dalam bulan Februari ini, ketika sebagian kalangan ikut-ikutan meramaikan hari kecintaan material dengan Valentine Days-nya, umat Islam mempunyai kecintaan yang jauh lebih bermakna dan bermaslahat, itulah kecintaan kepada ibadah haji. Sebab, bulan Februari kali ini bersesuaian dengan bulan Dzul Qo'dah, saat umat Islam berbondong-bondong ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji.

Ada berbagai alasan, mengapa umat Islam khususnya bahkan umat manusia umumnya, begitu cinta dan responsif terhadap haji (perhatikan QS Al Haj: 27). Pertama: Prosesi berhaji, ia menyambungkan dengan cepat antara kita dan nilai-nilai di balik peristiwa-peristiwa sejarah yang berkaitan dengan Nabi Ibrahim as dan Nabi Muhammad saw. Kedua nabi (Ibrahim dan Muhammad saw) yang secara khusus memerintahkan kita untuk mengikutinya sebagai suri teladan dalam mengisi kehidupan (perhatikan QS Al Mumtahanah: 4, Al Ahzab: 21). Jamaah haji pun dapat meresapinya berlama-lama di sana, dan di zaman serba krisis seperti ini, suri teladan bagi kehidupan adalah makhluk langka, yang justru sangat diperlukan.

Kedua: Haji, seperti disimpulkan oleh Prof Dr Wahbah Zuhaili adalah rukun Islam yang paling afdhal, pada hajilah tergabung sekaligus bentuk-bentuk ibadah murni spiritual, fisikal, serta material. Demonstrasi praktek berhaji, sejak kain ihrom nan putih dikenakan, sejak gemuruh talbiyah dilantunkan, kemudian thawaf, sa'i, wukuf, mabit, melontar jumrah, dan kemudian tahallul, yang secara khusuk dan tekun dilaksanakan oleh jamaah haji, itu semua menyegarkan kembali tentang makna ketaatan dan ketundukpatuhan manusia untuk merealisasi salah satu tugas utamanya di dunia, yaitu beribadah kepada Allah semata.

Tunduk dan patuh itu pun semakin bermakna, sebab kini di awal milenium baru, ia dilakukan secara terbuka oleh jutaan orang dari kalangan yang terpelajar ataupun berstatus sosial ekonomi yang memadai. Apalagi ketundukan itu pun dilakukan dalam semangat ittiba' (mencontoh) Rasulullah saw, sebagaimana pernah beliau wasiatkan dalam Haji Wada' (HR Muslim). Dan, inilah kunci meraih kecintaah Allah dengan segala efek keberkahannya (QS Ali Imron: 31).

Dengan cara pandang semacam ini, keberangkatan 180-an ribu jamaah haji Indonesia untuk bergabung dengan jutaan jamaah haji lainnya, pastilah berdampak positif bagi mereka sendiri yang akan meluber kepada kita, yang belum atau tidak berangkat haji (QS Al Haj: 23). Jamaah haji itu pun akan menjadi darah segar pembawa harapan baru untuk kehidupan yang lebih berarti dan bermanfaat. Dan adanya harapan semacam itu, seperti dinyatakan Ibnu Khaldun, jelas sangat diperlukan oleh masyarakat yang dilanda krisis seperti masyarakat Indonesia.

Semoga mereka mendapatkan haji mabrur, dan doanya untuk kebaikan sesama dikabulkan Allah SWT. Amin.

Memuliakan Syiar Allah

Oleh KH Didin Hafidhuddin

Pengalaman dan pemandangan menyalurkan zakat beberapa waktu lalu di beberapa daerah, yang telah menimbulkan korban, terulang kembali terlihat pada waktu menyalurkan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha 1430 H. Sungguh suatu pemandangan yang menyayat hati, ribuan orang yang datang dari tempat yang cukup jauh, menunggu berjam-jam, berdesak-desakan, bahkan ada yang pingsan dan terjepit, hanya untuk mendapatkan satu kg daging hewan kurban atau mungkin lebih sedikit.

Kita berharap, pemandangan semacam ini tidak berulang kembali pada tahun-tahun yang akan datang. Karena sesungguhnya, watak dan karakter orang yang beriman, sebagaimana dinyatakan Rasulullah SAW, tidak akan pernah terpatuk ular dua kali berturut-turut pada lubang atau tempat yang sama.

Karena itu, hanyalah orang-orang Islam yang tidak mau berpikir yang akan mengulangi kesalahan yang sama. Apalagi pensyariatan penyembelihan hewan kurban pada setiap Hari Raya Idul Adha adalah untuk memuliakan orang-orang fakir miskin yang mungkin tidak pernah atau jarang mengonsumsi daging segar pada hidup kesehariannya.

Penyembelihan hewan kurban merupakan salah satu syiar utama dari syiar-syiar agama Allah. Sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-Hajj (22): 36 ''Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). 

Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu (dan binatang lain) kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.''

Oleh karena itu, sudah selayaknya, apabila syiar Allah ini dimuliakan oleh kaum Muslimin, dengan cara melakukannya dengan sebaik-baiknya, misalnya, panitia mendatangi rumah-rumah fakir miskin yang memang berhak menerimanya. Hal inipun juga untuk menghindari adanya fakir miskin dadakan hanya karena ingin mendapatkan daging hewan kurban (gratis), padahal sesungguhnya mereka tidak berhak menerimanya.

Islam adalah ajaran yang selalu mendorong umatnya untuk mengorganisir semua kegiatannya dengan sebaik-baiknya, dengan perencanaan dan program yang matang, agar hasilnya maksimal dan sesuai dengan yang diharapkan, serta tidak menimbulkan korban atau dampak negatif. Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya Allah SWT sangat mencintai jika hamba-Nya melakukan suatu amal dengan itqon (persiapan dan perencanaan yang matang),'' (HR Thabrani).

Selamat Idul Adha 1430 H (Idul Qurban 2009)

Selamat Idul Adha 1430 H

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Kami, saya dan teman-teman semua Mengucapkan :

"SELAMAT IDUL ADHA 1430H"

Meneladani Nabi Ibrahim As dalam pengorbanan yang beliau lakukan atas perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 
Semoga semakin memperkuat ukhuwah kita sebagai Mukmin. 
Memohon maaf atas segala info yang mungkin bisa salah dalam menyampaikan kepada rekan-rekan semua. 
Harap dimaafkan dan dimaklumkan.
Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Hikmah Misteri Kiamat

Oleh Yusuf Burhanudin

Kiamat dalam tradisi Arab disebut dengan al-qiyamah atau as-sa'ah. Secara bahasa, kiamat adalah bagian waktu dari siang, malam, atau bisa berarti waktu dua puluh empat jam sehari semalam. Sedangkan, menurut syariat, kiamat adalah peristiwa dahsyat hari akhir kehidupan dunia yang mengagetkan semua makhluk karena terjadi secara tiba-tiba dalam satu waktu dan serentak sehingga mampu membinasakan semua makhluk yang ada di langit dan bumi.

Dalam akidah seorang Muslim, peristiwa kiamat termasuk rukun keimanan yang wajib diyakini. Namun, kapan terjadinya tidak ada seorang pun yang tahu, baik manusia biasa, nabi, rasul, maupun malaikat, selain Allah SWT. Bahkan, Rasulullah SAW sebagai orang yang paling dekat dengan Allah dan dibimbing melalui wahyu-Nya tidak tahu kapan kiamat terjadi. Ketika ditanya, beliau menjawab, "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya."

Allah berfirman, "Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat, 'Kapan terjadi?' Katakanlah, 'Sesungguhnya, pengetahuan kiamat ada di sisi Tuhanku. Tidak seorang pun dapat menjelaskan waktu tibanya, selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) di langit dan di bumi. Kiamat tidak akan datang kepadamu, melainkan secara tiba-tiba.' Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, 'Sesungguhnya, pengetahuan hari kiamat ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui'." (QS Al-A'raf [7]: 187). 

Dirahasiakannya hari kiamat bukan tanpa hikmah. Menurut Yusuf bin Abdullah Al-Wabil, salah satu hikmah terbesar misteri kiamat adalah munculnya rasa mawas diri dalam hidup seseorang karena meyakini bahwa setiap amal perbuatan, baik dan jahat atau besar dan kecil, akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah di akhirat kelak. Bahwa, kehidupan manusia tidak hanya berlangsung di dunia, melainkan berlanjut abadi hingga akhirat (Asyrath As-Sa'ah, hlm 28).

Firman-Nya, "Pada hari ketika setiap diri mendapati segala kebaikan dihadapkannya, begitu juga kejahatan yang telah dikerjakan, ia ingin kalau kiranya antara ia dan hari itu ada masa yang jauh. Dan, Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-Nya." (QS Ali Imran [3]: 30). 

Dengan demikian, dalam akidah Islam, prediksi terjadinya kiamat pada 2012 yang marak dipergunjingkan bahkan menjadi kontroversi publik akhir-akhir ini jelas tidak sesuai dengan ajaran dasar Islam karena mendahului wahyu dan ilmu Allah. Wilayah kiamat adalah domain keimanan, bukan sekadar hiburan dan ramalan.

Hak dan Kewajiban Seorang Istri

FIQIHMUSLIMAH
Oleh: Yusuf Assidiq
Suami dan istri sama-sama dimuliakan.


Keluarga sakinah merupakan idaman setiap pasangan suami-istri. Ajaran Islam telah memberi jalan bagi setiap pasangan untuk mewujudkan keluarga impian itu. Keluarga sakinah hanya akan tercipta apabila setiap pasangan baik suami maupun istri menunaikan hak dan kewajibannya secara baik.

''Jika akad nikah yang sah telah dilaksanakan, maka hal-hal yang berkaitan dengannya telah berlaku dan hak-hak dalam hubungan suami-istri pun telah diberlakukan,'' ujar Syekh Sayyid Sabiq, seorang ulama terkemuka asal Mesir, dalam kitabnya yang populer Fikih Sunah.

Ada tiga macam hak dalam hubungan suami-istri. Pertama, hak-hak istri yang wajib ditunaikan suami. Kedua,  hak-hak suami yang wajib ditunaikan istri. Ketiga, hak-hak bersama antara suami dan istri.  Dr Abd al-Qadr Manshur, mengungkapkan, hak dan kewajiban  suami-istri itu merupakan ketentuan agung dari Allah SWT, dan selaras dengan tabiat dan kodrat keduanya. 

Penulis buku  Fikih Wanita itu, menguraikan, kaum wanita tidak memiliki tabiat atau kemampuan seperti yang dimiliki laki-laki. Maka itu, istri mesti diberikan hak-hak tertentu yang menjadi milik mereka.  Sejatinya,  kehidupan rumah tangga menjadi tanggung jawab bersama. 

Hanya saja, suami tetap berperan sebagai kepala rumah tangga, yang dalam Alquran disebut al-qiwamah (kepemimpinan dalam rumah tangga). Al-Thabari dalam tafsirnya menyatakan, Allah berfirman, "Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian lain (wanita)".

Menurut al-Thabari, hak-hak istri yang wajib ditunaikan suami antara lain: wajib membayar mahar, memberi nafkah serta mencukupi kebutuhan istri maupun anak-anaknya. Selain hak-hak secara materi, menurut Syekh Sayyid Sabiq, seorang istri juga memiliki hak yang tak berkaitan dengan materi. Hak istri itu berupa perlakuan yang baik dan perlidungan dari suaminya.

Hak istri atas suami yang lain dijelaskan oleh Nabi SAW. "Memberi makan, memberi pakaian, tidak memukul wanita, tidak menjelek-jelekkan dan tidak tidur terpisah darinya kecuali masih berada dalam satu rumah."  

Seorang istri pun memiliki kewajiban atau tugas dalam perannya sebagai istri maupun ibu. Adapun tugas istri dalam kaidah yang universal, seperti tertuang pada kitab  al-Zhilal antara lain;  mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat anak-anaknya.  Sebuah tugas yang cukup berat serta penting.

Untuk memikul beban ini, Allah membekali perempuan dengan perasaan lemah lembut dan kasih sayang. Dua faktor inilah yang membuat mereka sanggup merespons dengan cepat keinginan dan kebutuhan putra putrinya.  Maka itu, dinilai adil jika kemudian suami kebagian tugas untuk menjaga, mengayomi serta membimbing istri dan anak-anak. Inilah pula bagian dari hak istri dari suami, yakni merasa terlindungi.

Kitab yang sama sekaligus menggariskan apa saja kewajiban seorang istri. Antara lain menjaga diri saat suaminya tidak ada di rumah, taat kepada suami, dan tidak melakukan perbuatan nusyuz (pembangkangan dan kemaksiatan terhadap suami). 

Selain itu, menurut Ustaz Aam Amirudin dalam laman  percikaniman.org ,  seorang istri juga berkewajiban untuk menjaga amanah. Amanah yang harus dipegang itu berupa harta, anak, dan kehormatan. Istri wajib mengatur harta yang diterima dari suaminya agar bisa digunakan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan keluarga. Sikap boros merupakan cerminan dari istri yang tidak bisa menjaga amanah (harta suami).

Istri pun  mencurahkan tenaga, pikiran, dan perasaan dalam mendidik anak agar menjadi shaleh, karena dia merupakan amanah Allah. ''Istri yang kurang memperhatikan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya merupakan gambaran istri yang tidak mampu menjaga amanah (anak),'' ungkap Ustaz Aam. Istri juga  wajib menjaga kehormatan dirinya, ia tidak dibenarkan menjalin "keakraban" dengan lelaki lain.

"...sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah, lagi memelihara diri di balik suaminya (saat suami tidak ada) oleh karena Allah telah memelihara (mereka)". (Q.S. An-Nisa : 34) Ayat ini menegaskan bahwa istri yang shaleh itu taat kepada perintah-perintah Allah dan menjaga amanah suaminya berupa anak, harta, dan kehormatan.

Seorang istri juga wajib menjaga penampilan agar tetap menarik. Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik istri ialah bila engkau pandang menyenangkan, bila engkau perintah ia taat kepadamu, dan bila engkau tidak ada di sisinya, ia bisa menjaga kehormatan dan harta." Seorang istri pun berkewajiban untuk mensyukuri segala sesuatu yang diberikan suami. 

''Istri wajib menghargai kelebihan suami dan menerima segala kekurangannya. Oleh sebab itu, kalau suatu saat suami melakukan kekeliruan atau kealfaan, istri tidak boleh melupakan segala kebaikan suami,'' paparnya.

Menurut Zaitunah Subhan, dalam bukunya bertajuk  Fikih Pemberdayaan Perempuan,suami dan istri sama-sama dimuliakan. Keduanya   disebutkan sama-sama memiliki hak dan kewajiban. "Alquran secara tegas menyatakan bahwa suami memiliki hak atas istri, dan istri pun memiliki hak atas suami," paparnya.
 
Dalam sebuah hadis, Sahabat Abdillah bin Umar, dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Setiap lelaki (suami) adalah penanggung jawab keluarganya dan dia akan dimintakan pertanggungjawabannya; setiap perempuan (istri) adalah penanggung jawab (pemimpin) di rumah suaminya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu."

Hajar Aswad

Hajar Aswad adalah "batu hitam" yang terletak di sudut sebelah Tenggara Ka'bah, yaitu sudut darimana Tawaf dimulai. Hajar Aswad merupakan jenis batu 'RUBY' yang diturunkan Allah dari surga melalui malaikat Jibril.

Hajar Aswad terdiri dari delapan keping yang terkumpul dan diikat dengan lingkaran perak. Batu hitam itu sudah licin karena terus menerus di kecup, dicium dan diusap-usap oleh jutaan bahkan milyaran manusia sejak Nabi Adam, yaitu jamaah yang datang ke Baitullah, baik untuk haji maupun untuk tujuan Umrah. Harap dicatat bahwa panggilan Haji telah berlangsung sejak lama yaitu sejak Nabi Adam AS. Bahkan masyarakat Jahilliah yang musyrik dan menyembah berhala pun masih secara setia melayani jemaah haji yang datang tiap tahun dari berbagai belahan dunia.

Nenek moyang Rasulullah, termasuk kakeknya Abdul Muthalib adalah para ahli waris dan pengurus Ka'bah. Atau secara spesifik adalah penanggung jawab air zamzam yang selalu menjadi primadona dan incaran para jemaah haji dan para penziarah. Hadist Sahih riwayat Tarmizi dan Abdullah bin Amir bin Ash mengatakan bahwa Rasul SAW bersabda :

Satu riwayat Sahih lainnya menyatakan:
" Rukun (HajarAswad) dan makam (Batu/Makam Ibrahim) berasal dari batu-batu ruby surga yang kalau tidak karena sentuhan dosa-dosa manusia akan dapat menyinari antara timur dan barat. Setiap orang sakit yang memegangnya akan sembuh dari sakitnya"

Hadist Sahih riwayat Imam Bathaqie dan Ibnu 'Abas RA, bahwa Rasul SAW bersabda:
"Allah akan membangkitkan Al-Hajar (Hajar Aswad) pada hari kiamat. Ia dapat melihat dan dapat berkata. Ia akan menjadi saksi terhadap orang yang pernah memegangnya dengan ikhlas dan benar".

Hadis Siti Aisyah RA mengatakan bahwa Rasul SAW bersabda:
"Nikmatilah (peganglah) Hajar Aswad ini sebelum diangkat (dari bumi). Ia berasal dari surga dan setiap sesuatu yang keluar dari surga akan kembali ke surga sebelum kiamat".

Berdasarkan bunyi Hadist itulah antara lain maka setiap jamaah haji baik yang mengerti maupun tidak mengerti akan senantiasa menjadikan Hajar Aswad sebagai 'target' berburu …. saya harus menciumnya. Mencium Hajar Aswad!!!.
Tapi apa bisa? Dua juta jemaah, datang dimusim haji secara bersamaan dan antri untuk keperluan dan target yang sama. Begitu padatnya, maka anda harus rela dan ikhlas untuk hanya bisa memberii 'kecupan' jarak jauh sembari melafaskan basmalah dan takbir: Bismillah Wallahu Akbar.

Hadis tersebut mengatakan bahwa disunatkan membaca do'a ketika hendak istilam (mengusap) atau melambainya pada permulaan thawaf atau pada setiap putaran, sebagai mana, diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA. Artinya:
"Bahwa Nabi Muhammad SAW datang ke Ka'bah lalu diusapnya Hajar Aswad sambil membaca Bismillah Wallahu Akbar".

Lanjutannya dikisahkan bahwa batu hitam tersebut pernah terkubur pasir selama beberapa waktu.

RIWAYATNYA
Dalam riwayat lanjutannya bahwa batu hitam  tersebut  pernah terkubur pasir selama beberapa lama dan secara ajaib ditemukan kembali oleh Nabi Ismail AS ketika ia berusaha mendapatkan batu tambahan untuk menutupi dinding Ka'bah yang masih sedikit kurang. Batu yang ditemukan inilah rupanya yang sedang dicari oleh Nabi Ibrahim AS, yang serta merta sangat gembira dan tak henti-hantinya menciumi batu tersebut. Bahkan, ketika sudah tiba dekat ka'bah, batu itu tak segera diletakan di tempatnya. Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS menggotong batu itu sambil memutari Ka'bah tujuh putaran.

DIANGKUT DENGAN SORBAN MUHAMMAD
Diantara peristiwa penting yang berkenaan dengan batu ini adalah yang terjadi pada tahun 16 sebelum Hijrah (606 M) yaitu ketika suku Quraisy melakukan pemugaran Ka'bah. Pada saat itu hampir saja terjadi pertumpahan darah yang hebat karena sudah lima hari lima malam mereka dalam situasi gawat, karena keempat kabilah dalam suku Quraisy itu terus bersitegang ngotot pada pendapat dan kehendak masing-masing siapa yang mengangkat dan meletakkan kembali  batu ini ketempat semula karena pemugaran Ka'bah sudah selesai.

Akhirnya muncul usul dari Abu Umayyah bin Mughirah Al-Mukhzumi yang mengatakan
"Alangkah baiknya kalau keputusan ini kita serahkan kepada orang yang pertama kali masuk masjid pada hari ini."

Pendapat sesepuh Quraisy Abu Umayyah ini disepakati. Dan ternyata orang pertama masuk pada hari itu adalah Muhammad bin Abdullah yang waktu itu masih berusia 35 tahun. Menjadi rahasia umum pada masa itu bahwa akhlak dan budi pekerti Muhammad telah terkenal jujur dan bersih sehingga dijuluki Al-Amin (orang yang terpercaya).

Muhammad muda yang organ tubuhnya yaitu HATI-nya pernah dibersihkan lewat operasi oleh Malaikat, memang sudah dikenal luas tidak pernah bohong dan tidak pernah ingkar janji. Lalu apa jawaban dan tindakan Muhammad terhadap usul itu?

Muhammad menuju tempat pernyimpanan Hajar Aswad itu lalu membentangkan sorbannya dan meletakkan batu mulia itu ditengah-tengah sorban kemudian meminta satu  orang wakil dari masing-masing kabilah yang sedang bertengkar untuk memegang sudut sorban itu dan bersama-sama menggotongnya kesudut dimana batu itu hendak diletakkan. Supaya adil, Muhammad pulalah yang memasang batu itu ketempat semula.

RAHASIA HAJAR AL-ASWAD

Kita semua tahu bahwa Hajar Aswad hanyalah batu yang tidak memberikan mudorat atau manfaat, begitu juga dengan Ka'bah, ia hanyalah bangunan yang terbuat dari batu. Akan tetapi apa yang kita lakukan dalam prosesi ibadah haji tersebut adalah sekedar mengikuti ajaran dan sunnah Nabi SAW. Jadi apa yang kita lakukan bukanlah menyembah Batu, dan tidak juga menyembah Ka'bah.

Umar bin Khatab berkata "Aku tahu bahwa kau hanyalah batu, kalaulah bukan karena aku melihat kekasihku Nabi SAW menciummu dan menyentuhmu, maka aku tidak akan menyentuhmu atau menciummu"

Allah memerintahkan kita untuk Thawaf mengelilingi Ka'bah dan Dia pula yang telah memerintahkan untuk mencium Hajar Aswad. Rasulullah juga melakukan itu semua, dan tentu saja apa yang dilakukan oleh beliau pastilah berasal dari Allah, sebagaimana yang terdapat dalam firmanNya : "Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (QS. An-Najm : 53 ) ".

Hajar Aswad berasal dari surga. Batu ini pula yang menjadi fondasi pertama bangunan Ka'bah, dan ia menghitam akibat banyaknya dosa manusia yang melekat disana pada saat mereka melakukan pertaubatan. Tidakkah orang yang beriman merasa malu, jika hati mereka menghitam akibat dosa yang telah dilakukan. Rasulullah bersabda "Ketika Hajar Aswad turun, keadaannya masih putih, lebih putih dari susu, lalu ia menjadi hitam akibat dosa-dosa anak Adam (HR Tirmidzi).

sumber artikel : At-tiin Tour

Antara Islam dan Politik

Fatwa
Oleh: Yusuf Assidiq
Dalam ritual ibadah, umat sejatinya telah pula menyelami lautan politik.

Istilah 'Islam politik' (al-Islam al-Siyasi ) sempat membuat gusar Syekh Yusuf al-Qardhawi. Cendekiawan asal Mesir itu menuding istilah tersebut sengaja dirancang oleh musuh-musuh Islam dengan tujuan memecah belah dan membagi-bagi Islam menjadi beberapa bagian yang berbeda-beda.

Sebelum ini, memang telah muncul beragam istilah, semisal Islam konservatif, Islam radikal, Islam fundamentalis, Islam klasik, Islam kanan, dan Islam kiri. Ada lagi yang menyebut Islam rohani, Islam temporal serta Islam teologis. 

Bagi Syekh al-Qardhawi, istilah-istilah itu, termasuk juga Islam politik tadi, sangat bertolak menurut pandangan Islam. ''Di dunia ini, hanya ada satu Islam, yang tidak bersekutu dan tidak mengakui yang lain,'' katanya. 

Inilah Islam yang sebenarnya, yang menurut Syekh al Qardhawi, tidak mungkin tidak politis. ''Islam adalah politik, dan Anda tidak akan dapat melucuti Islam dari poltik,'' seru ulama al Azhar itu dalam buku  Fatwa-fatwa Kontemporer . 

Dari penjelasannya, ketua Persatuan Ulama Internasional itu ingin menyatakan bahwa Islam memiliki sikap yang jelas dan hukum yang terang benderang mengenai beragam masalah yang dianggap sebagai pilar politik. 

Dengan kata lain, Islam bukan melulu mengurusi akidah teologis atau syiar ibadah. Lebih dari itu, Islam merupakan tatanan yang sempurna bagi kehidupan, lengkap dengan pengaturan tata kemasyarakatan dan negara. 

Karenanya, Islam memiliki kaidah-kaidah, koridor hukum dan seperangkat aturan dalam politik pendidikan, politik informasi, politik perundangan, politik hukum, politik peperangan dan sebagainya. Maka, sangat tidak bisa diterima jika Islam lantas dianggap nihil dan pasif, bahkan menjadi pelayan bagi ideologi lain. 

Aspek kepribadian Muslim juga erat kaitannya dengan muatan politik. Di sini, akidah, syariat, ibadah dan pendidikan memegang peran kunci dalam proses pembentukan watak seorang Muslim. Kecuali jika pemahamannya yang buruk terhadap Islam atau penerapannya yang keliru. 

Pun ketika melaksanakan ritual ibadah, shalat misalnya, secara sadar atau tidak sadar, umat telah menyelami lautan politik. Dicontohkan Syech al Qardhawi, banyaknya ayat Alquran yang berhubungan dengan masalah politik. 

Jangan lupakan pula, Nabi SAW adalah politikus ulung. Begitu pula para khalifah sepeninggal beliau merupakan politikus-politikus yang mengikuti manhaj serta sunah Rasul. ''Mereka memimpin umat dengan adil dan ihsan, serta membimbing mereka dengan ilmu dan iman,''  tutut Syekh al-Qardhawi menegaskan. 

Imam Ibnul Qayyim, mengutip Imam Abul Wafa' Ibnu 'Aqil al Hambali, menyatakan,  siyasah adalah tindakan atau perbuatan yang dengannya seseorang bisa lebih dekat dengan kebaikan, dan lebih jauh dari kerusakan selama politik itu tidak bertentangan dengan  syara' . 

Mendustakan agama
Singkatnya, tutur Syekh al-Qardhawi, Islam memandang  siyasah (politik) sebagai ilmu yang penting dan memiliki kedudukan tersendiri. Akan halnya dari segi praktis, politik dianggap sebagai aktivitas mulia dan bermanfaat, sebab ia berhubungan dengan pengorganisasian urusan mahluk dalam bentuk yang terbaik. 

Akan tetapi, dalam perkembangannya, wajah politik justru menjadi lebam lantaran tindakan orang-orang di dalamnya yang jauh dari nilai-nilai akhlak dan moral. Muncul misalnya, politik penjajahan, politik penguasa zalim dan khianat dan lainnya. 

Itulah yang akhirnya membuat sebagian masyarakat membenci politik. ''Terlebih setelah filsafat Machiavelli, yang membolehkan segala cara untuk mencapai tujuan, mendominasi ranah politik bahkan mengarahkannya,''  paparnya. 

Puncaknya adalah ketika sebagian orang menganggap bahwa  din (agama) tidak ada kaitannya dengan politik. Klaim seperti ini, dalam pandangan Syekh al-Qardhawi, sama saja dengan mendustakan agama, dan bertentangan dengan Alquran surat al Ahzab [33] ayat 39. '' Yaitu orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya, dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah.'' 

Pandangan yang sama disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang tertuang dalam Keputusan Ijtima' Ulama MUI se-Indonesia tahun 2009. MUI menyebutkan, Islam sebagai ajaran  rahmatan lil alamin dan  shalihun likulli zamanin wa makanin , harus menjadi sumber dalam penataan sistem kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

''Sehingga, para ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim berkewajiban menyusun, mengelaborasi konsep-konsep pemikiran Islam meliputi aspek politik, ekonomi, sosial, budaya dan lainya,''

Babi haram? kucing

Istilah halal-haram sebenarnya sudah lekat dengan keseharian kita. Kedua istilah tersebut bahkan telah jelas dideskripsikan dalam ajaran agama, khususnya agama islam seperti yg penulis anut. Dalam ajaran muslim bahwa teminologi halal adalah segala sesuatu yang diperbolehkan dan memiliki kaidah manfaat didalmnya. Pengertian sebaliknya berlaku bahwa sesuatu yg tidak diperbolehkan disebut dengan istilah haram.

Hal menarik lain dalam ajaran agama islam, salah satu perintah yang diharamkan adalah semacam darah, daging babi, anjing dsb.

Pernyataan mengapa darah diharamkan adalah analisis kimia dari darah menunjukkan adanya kandungan yang tinggi dari uric acid (asam urat) yaitu suatu senyawa kimia yang bisa berbahaya bagi kesehatan manusia.

Kemudian, mengapa dilarang pula pengkonsumsian daging babi, atau ham (*bukan HAM ) ) Sebenarnya, diluar dari larangan Al-Qur'an dalam pengkonsumsian babi, bacon; pada kenyataannya dalam Bible juga yaitu pada Leviticus bab 11, ayat 8,mengenai babi, dikatakan, "Dari daging mereka (dari "swine", nama lain buat "babi") janganlah kalian makan, dan dari bangkai mereka, janganlah kalian sentuh; mereka itu kotor buatmu."

Apakah pelarangan itu semata-mata karena babi kotor ? Ternyata tidak hanya itu. Karena kalau kita teliti lebih lanjut lagi, apakah anda tahu kalau babi tidak dapat disembelih di leher karena mereka tidak memiliki leher sesuai dengan anatomi alamiahnya? Muslim beranggapan kalau babi memang harus disembelih dan layak bagi konsumsi manusia, tentu Sang Pencipta akan merancang hewan dengan memiliki leher. Jadi sangat sulit sekali untuk menyembelih babi sebagaimana layaknya Muslim menyembelih hewan di lehernya yang memungkinkan semua darah keluar dengan sempurna.

Namun diluar itu semua, kita yakin betul mengenai efek-efek berbahaya dari konsumsi babi dalam bentuk apapun, baik itu pork chops, ham, atau bacon. Ilmu kedokteran mengetahui bahwa ada resiko besar atas banyak macam penyakit. Babi diketahui sebagai inang dari banyak macam parasit dan penyakit berbahaya, termasuk sebagai inang berkembangnya virus H5N1, virus flu burung yang sangat berbahaya, kemudian babi menularkannya kepada manusia. Informasi lanjut yang berkenaan dengan kandungan uric acid dalam darah sangat penting untuk diperhatikan yaitu bahwa sistem biokimia babi mengeluarkan hanya 2% dari seluruh kandungan uric acidnya, sedangkan 98% sisanya tersimpan dalam tubuhnya. Jadi, memang babi sangat berbahaya untuk dikonsumsi manusia.

Ada yang berpendapat kejadian yang berlangsung ketika Imam Muhammad Abduh mengunjungi Perancis. Mereka bertanya kepadanya mengenai rahasia diharamkannya babi dalam Islam. Mereka bertanya kepada Imam, "Kalian (umat Islam) mengatakan bahwa babi haram, karena ia memakan sampah yang mengandung cacing pita, mikroba-mikroba dan bakteri-bakteri lainnya. Hal itu sekarang ini sudah tidak ada. Karena babi diternak dalam peternakan modern, dengan kebersihan terjamin, dan proses sterilisasi yang mencukupi. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba lainnya.?"

Imam Muhammad Abduh tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dan dengan kecerdikannya beliau meminta mereka untuk menghadirkan dua ekor ayam jantan beserta satu ayam betina, dan dua ekor babi jantan beserta satu babi betina. Mengetahui hal itu, mereka bertanya, "Untuk apa semua ini?" Beliau menjawab, "Penuhi apa yang saya pinta, maka akan saya perlihatkan suatu rahasia."

Mereka memenuhi apa yang beliau pinta. Kemudian beliau memerintahkan agar melepas dua ekor ayam jantan bersama satu ekor ayam betina dalam satu kandang. Kedua ayam jantan itu berkelahi dan saling membunuh, untuk mendapatkan ayam betina bagi dirinya sendiri, hingga salah satu dari keduanya hampir tewas. Beliau lalu memerintahkan agar mengurung kedua ayam tersebut.

Kemudian beliau memerintahkan mereka untuk melepas dua ekor babi jantan bersama dengan satu babi betina. Kali ini mereka menyaksikan keanehan. Babi jantan yang satu membantu temannya sesama jantan untuk melaksanakan hajat seksualnya, tanpa rasa cemburu, tanpa harga diri atau keinginan untuk menjaga babi betina dari temannya.

Selanjutnya beliau berkata, "Saudara-saudara, daging babi membunuh 'ghirah' orang yang memakannya. Itulah yang terjadi pada kalian. Seorang lelaki dari kalian melihat isterinya bersama lelaki lain, dan membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan seorang bapak di antara kalian melihat anak perempuannya bersama lelaki asing, dan kalian membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan was-was, karena daging babi itu menularkan sifat-sifatnya pada orang yang memakannya."

Kemudian beliau memberikan contoh yang baik sekali dalam syariat Islam. Yaitu Islam mengharamkan beberapa jenis ternak dan unggas yang berkeliaran di sekitar kita, yang memakan kotorannya sendiri. Syariah memerintahkan bagi orang yang ingin enyembelih ayam, bebek atau angsa yang memakan kotorannya sendiri agar mengurungnya selama tiga hari, memberinya makan dan memperhatikan apa yang dikonsumsi oleh hewan itu. Hingga perutnya bersih dari kotoran-kotoran yang mengandung bakteri dan mikroba. Karena penyakit ini akan berpindah kepada manusia, tanpa diketahui dan dirasakan oleh orang yang memakannya.

 

Itulah hukum Allah, seperti itulah hikmah Allah.

Ilmu pengetahuan modern telah mengungkapkan banyak penyakit yang disebabkan mengkonsumsi daging babi. Sebagian darinya disebutkan oleh Dr. Murad Hoffman, seorang Muslim Jerman, dalam bukunya "Pergolakan Pemikiran: Catatan Harian Muslim Jerman", halaman 130-131 :

"Memakan daging babi yang terjangkiti cacing babi tidak hanya berbahaya, tetapi juga dapat menyebabkan meningkatnya kandungan kolestrol dan memperlambat proses penguraian protein dalam tubuh, yang mengakibatkan kemungkinan terserang kanker usus, iritasi kulit, eksim, dan rematik. Bukankah sudah kita ketahui, virus-virus influenza yang berbahaya hidup dan berkembang pada musim panas karena medium babi?"

Dr. Muhammad Abdul Khair, dalam bukunya Ijtihâdât fi at Tafsîr al Qur'an al Karîm, halaman 112, menyebutkan beberapa penyakit yang disebabkan oleh daging babi: "Daging babi mengandung benih-benih cacing pita dan cacing trachenea lolipia. Cacing-cacing ini akan berpindah kepada manusia yang mengkonsumsi daging babi tersebut. Patut dicatat, hingga saat ini, generasi babi belum terbebaskan dari cacing-cacing ini.

Penyakit lain yang ditularkan oleh daging babi banyak sekali, di antaranya 

  1. Kolera babi. Yaitu penyakit berbahaya yang disebabkan oleh virus
  1. Keguguran nanah, yang disebabkan oleh bakteri prosillia babi.
  1. Kulit kemerahan, yang ganas dan menahun. Yang pertama bisa menyebabkan kematian dalam beberapa kasus, dan yang kedua menyebabkan gangguan persendian.
  1. Penyakit pengelupasan kulit.
  1. Benalu eskares, yang berbahaya bagi manusia.

 

Fakta-fakta berikut cukup membuat seseorang untuk segera menjauhi babi :

  1. Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan lain. Ia makan semua makanan di depannya. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Ia tidak akan pernah kenyang, bahkan memakan muntahannya sendiri.
  1. Ia memakan semua yang bisa dimakan di hadapannya. Memakan kotoran apa pun di depannya, entah kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada lagi yang bisa dimakan di hadapannya.
  1. Ia mengencingi kotoranya dan memakannya jika berada di hadapannya, kemudian memakannya kembali.
  1. Ia memakan sampah, busuk-busukan, dan kotoran hewan.
  1. Ia adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar dan dalam waktu lama, jika dibiarkan.
  1. Kulit orang yang memakan babi akan mengeluarkan bau yang tidak sedap.
  1. Penelitian ilmiah modern di dua negara Timur dan Barat, yaitu Cina dan Swedia–Cina mayoritas penduduknya penyembah berhala, sedangkan Swedia mayoritas penduduknya sekular menyatakan : daging babi merupakan merupakan penyebab utama kanker anus dan kolon. Persentase penderita penyakit ini di negara-negara yang penduduknya memakan babi, meningkat secara drastis. Terutama di negara-negara Eropa, dan Amerika, serta di negara-negara Asia (seperti Cina dan India). Sementara di negara-negara Islam, persentasenya amat rendah, sekitar 1/1000. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 1986, dalam Konferensi Tahunan Sedunia tentang Penyakit Alat Pencernaan, yang diadakan di Sao Paulo.

Kini kita tahu betapa besar hikmah Allah mengharamkan daging dan lemak babi. Untuk diketahui bersama, pengharaman tersebut tidak hanya daging babi saja, namun juga semua makanan yang diproses dengan lemak babi, seperti beberapa jenis permen dan coklat, juga beberapa jenis roti yang bagian atasnya disiram dengan lemak babi. Kesimpulannya, semua hal yang menggunakan lemak hewan hendaknya diperhatikan sebelum disantap. Kita tidak memakannya kecuali setelah yakin bahwa makanan itu tidak mengandung lemak atau minyak babi, sehingga kita tidak terjatuh ke dalam kemaksiatan terhadap Allah SWT, dan tidak terkena bahaya-bahaya yang melatar belakangi Allah SWT mengharamkan daging dan lemak babi.

Menegakkan Keadilan

Oleh A Ilyas Ismail

Adil atau keadilan merupakan ajaran dasar Islam dalam lingkup sosial. Adil dapat dipandang sebagai proses perjuangan, tetapi dapat pula dimaknai sebagai cita-cita seperti makna yang dapat dipahami dalam ungkapan, 'Masyarakat adil dan makmur di bawah lindungan Allah SWT.'

Adil memiliki makna dan spektrum yang luas. Menurut pakar bahasa, al-Ishfahani, kata adil memiliki makna dasar, antara lain, kesamaan. Dari makna ini, orang yang adil adalah orang yang melihat dan menetapkan sesuatu dengan ukuran yang sama, bukan ukuran yang berbeda-beda atau ukuran ganda.

Imam al-Ghazali memahami adil dalam arti meletakkan sesuatu pada tempatnya yang layak. Dalam arti ini, meletakkan kaki di kepala atau sebaliknya, adalah tindakan zalim (tidak adil). Begitu juga, kegiatan penguasa memberikan harta kepada hartawan, senjata kepada ulama, dan buku-buku referensi kepada prajurit, adalah zalim karena tidak proporsional. Sementara memberi pil pahit kepada orang sakit, meski dengan sedikit memaksa, justru dipandang adil lantaran proporsional dan sesuai kebutuhan.

Adil dapat pula dipahami sebagai moderasi, yaitu sikap tengah dan seimbang. Keseimbangan ini terutama antara hak dan kewajiban. Sebab, orang yang hanya melaksanakan kewajiban, tanpa memperoleh apa yang menjadi haknya, berarti ia budak. Sebaliknya, orang yang hanya menuntut hak, tanpa melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya, berarti ia pemeras (preman).

Keseimbangan ini bisa bermakna pula sikap tidak memihak kepada para pihak yang sedang beperkara. Di sini, keadilan menuntut kejujuran dan objektivitas dalam arti tidak berpihak kecuali pada kebenaran dan rasa keadilan itu sendiri.

Firman-Nya, ''Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.'' (QS al-Maidah [5]: 8).

Akhirnya, keadilan yang berintikan keseimbangan itu merupakan hukum kosmik, yakni hukum alam jagat raya ini. Alquran menyebutnya al-mizan, timbangan (QS al-Rahman [55]: 7-8). Sebagai hukum kosmik, keadilan tak boleh dilawan, apalagi dilemahkan, karena hal demikian akan menimbulkan kekacauan sosial yang amat berbahaya bagi kelangsungan hidup suatu masyarakat.

Kita menjadi mengerti, mengapa Islam sejak dini mewanti-wanti agar manusia bersikap dan berlaku adil, baik kepada dirinya sendiri, keluarga, bapak-ibu (QS al-Nisa [4]: 135), bahkan kepada pihak musuh sekalipun (QS al-Maidah [5]: 8).

Arofah

Pada umumnya orang yang mendengar Afarah atau padang Arafah, bayangan yang timbul kemudian adalah sebuah tempat, atau semacam padang pasir, gurun  yang kering dan tandus. Di sanalah jama'ah haji akan melakukan wukuf, merenungkan diri, mengintrospeksi diri akan perbuatan yang pernah dilakukannya seraya memohon ampunan kepada Allah SWT. Mereka tidak ada apa-apanya dihadapan Allah, semua kecil, lemah, dan tidak berdaya, hanya Allah yang maha agung, maha kuasa. Bahkan diisyaratkan bahwa padang mahsyar nanti seprti padang Arafah di dunia, tempat dimana manusia akan menerima seluruh amal perbuatannya. Apakah catatan perbuatan baiknya yang lebih banyak atau sebaliknya perbiatan buruknya yang malah lebih banyak, di sana mereka akan menerima kitab, seluruh catatan perbuatannya selama di bumi. Seluruh perbuatannya akan di timbang, akan masuk surgea atau malah neraka arah dari hasil timbangan perbuatannya.

Dengan gambaran sementara itu, sehingga Arafah dibayangkan seperti padang pasir yang gersang dan tandus. Namun sebetulnya tidak demikian, mungkin itu pada masa lalu, Arafah sekarang telah menjadi hijau, di sana sini dinaungi dengan tanaman yang cukup rindang. Sehingga jama'ah tidak merasa terlalu kepanasan meskipun panas cukup terik. Konon pohon tersebut katanya ditanam atas usulan presiden Indonesia Soekarno. Sehingga pohon tersebut dikenal dengan sebutan pohon Soekarno, Karenanya hubungan Indonesia dengan Arab Saudi cukup baik, di samping hubungan ibadah haji dimana jama'ah dari Indonesia yang terbanyak disbanding dengan dari Negara lainnya.

Arafah  terletak di sebelah timur kota suci Makkah Al-Mukarromah, disinilah umatIslam menunaikan rukun wukuf sebagai salah satu rukun haji Tempat  peristiwa di mana Nabi Adam a.s. dan Hawa telah diturunkan ke bumi dari surga atas sebab mengingkari perintah Allah dan terpedaya oleh tipu daya Iblis, tepatnya di Jabar Rahmah, ditandai dengan tugu oleh pemerintah sebagai  pengenang tempat bertemunya nenek moyang manusia Nabi Adam dan Siti Hawa di muka bumi. Di sinilah bertahun-tahun mereka memohon ampun pada Allah, dan akhirnya permohonan mereka diterima. Mr-feb2008

Matinya Hati Nurani

Oleh KH Ahmad Mukri Aji

Hati nurani merupakan karunia Allah SWT yang sangat mahal dan terpenting dalam jiwa manusia. Dan, ia tidak akan terlepas dari pertanggungjawaban di akhirat kelak. ''Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.'' (QS Al-Isra' [17]: 36).

Dalam tubuh manusia, kedudukan hati dengan anggota yang lainnya ibarat raja dengan seluruh bala tentara dan rakyatnya, yang semuanya tunduk di bawah kekuasaan dan perintahnya serta bekerja sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

''Ketahuilah bahwa dalam jasad ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Hati nurani adalah amanah yang wajib dijaga, sebagaimana amanah untuk menjaga mata, telinga, mulut, kaki, tangan dari perbuatan dosa dan maksiat. Bila seseorang melakukan perbuatan dosa dan maksiat, pada dasarnya ia telah menorehkan setitik noda hitam pada hatinya.

Sabda Nabi SAW, ''Siapa yang melakukan satu dosa, maka akan tumbuh pada hatinya setitik hitam, sekiranya dia bertaubat akan terkikislah titik hitam itu dari hatinya. Jika dia tidak bertaubat, maka titik hitam itu akan terus merebak hingga seluruh hatinya menjadi mati dan hitam.'' (HR Ibn Majah).

Hati nurani yang dibiarkan mati dan hitam karena dosa dan maksiat, akan mengeras seperti batu, bahkan lebih keras lagi (QS Al-Baqarah [2]: 74), sampai-sampai tidak dapat ditembus oleh cahaya Ilahi dan nasihat dari siapa pun.

Kehidupan duniawi dengan berbagai godaan, jebakan, dan rayuannya, kerap menjadikan manusia terpesona dan terlena, sehingga terkadang digapai dengan tindakan yang tidak sewajarnya dilakukan. Ada yang menghalalkan segala cara, menyembunyikan kebenaran, bahkan tak jarang tega menjatuhkan sesamanya untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. ''Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu malah menutupi hati mereka.'' (QS Al-Muthaffifin [83]: 14).

Hendaknya setiap Muslim menjaga, memelihara, dan merawat hati dengan sebaik-baiknya, agar tidak kotor, hitam, keras, sakit, buta, dan akhirnya mati. Matinya hati nurani adalah bencana dan malapetaka besar yang bakal menghitamkan seluruh sisi kehidupan.

Kelak setiap hamba-Nya akan dibangkitkan kembali, di saat harta dan simbol-simbol kehidupan duniawi tidak berguna dan tidak bermakna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (QS Asy-Syu'ara [26]: 88-89).


IKLAN