Ya Allah, Musibah Itu ....

Ya Allah, Musibah Itu ....

Siang itu hujan deras mengguyur Lembah Gunung Tigo, Padang Pariaman. Sebagian besar warga tiga dusun di lembah itu mengurung diri di rumah atau di tempat berteduh. Di Sekolah Dasar Negeri 14, puluhan murid mengikuti dengan tekun penjelasan gurunya sambil melihat hujan yang terus jatuh dari jendela. Sampai sore, hujan tidak juga reda. Dan, pukul 17:16 tiba-tiba bumi berguncang sangat keras. Tanah di atas bukit runtuh menimbun dusun-dusun yang damai itu.

Diperkirakan, lebih 200 tewas dalam waktu hampir bersamaan. Mereka tertimbun hidup-hidup tanpa sempat menangis dan tidak tahu apa yang terjadi. Mereka tidak sempat lari ketika maut menyergapnya dengan sangat cepat. Puluhan murid SD berbaju seragam dan buku-buku yang berserakan, tertimbun bersama gurunya yang mungkin ketika itu belum selesai menulis di papan tulis. Dan, itulah tulisan terakhir di papan tulis serta hujan terakhir yang mereka saksikan. Setelah itu, senyap.

Gempa 7,6 SR ini seperti kiamat mengguncang Sumatra Barat, Rabu (30/9). Korban yang diketahui tewas sudah 600 orang. Angka itu kemungkinan terus bertambah. Lebih dari seribu orang lainnya belum diketahui nasibnya. Setiap orang kini menghimpun kembali keluarganya dan beberapa di antaranya menjadi tanda tanya entah masih hidup atau tewas di bawah reruntuhan gedung dan tanah longsor. Empat hari setelah bencana itu, bau menyengat tercium di lokasi reruntuhan.

Ya Allah, tidak ada satu daun pun yang gugur tanpa sepengetahuan-Mu. Kau dapat dengan sangat mudah mengubah terbit matahari dan bulan, apalagi sekadar mengguncang bumi yang sangat kecil dibanding kekuasaan-Mu yang Mahabesar. Kekuasaan-Mu mutlak, sedangkan kami selalu terlambat bersyukur, ingkar, dan bahkan tidak sedikit dari kami merasa sangat berkuasa atas segala sesuatu.

Kami selalu merasa hidup berakhir ketika berusia tua, ketika penyakit menggerogoti tubuh, ingatan berkurang, dan sel-sel tubuh melemah. Kematian kami anggap seperti jalan panjang dan dapat dihitung jarak dan tikungannya; seperti atlet maraton yang tahu posisi garis finish dan hitungan waktu rekor yang harus dicapai.

Tidak. Manusia tidak bisa meramal kematiannya, tidak ada tawar-menawar sedetik pun. Kematian suatu yang pasti, datang secara tiba-tiba, lebih cepat dari kedipan mata, atau merayap mendekati tempat tidur di rumah sakit maupun ruangan lapis baja. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Munafiqun, 63:11)

Ya Allah, kami mengingat-Mu dari satu musibah ke musibah yang lain, dari satu cobaan ke cobaan yang lain, namun setelah itu kami tenggelam dalam pesona dunia. Kami sujud ketika terdesak, setelah itu bangkit dengan kesombongan. Kami membiarkan orang-orang miskin tidak makan, di saat bersamaan kami membuang makanan usai pesta. Kami membuang miliaran rupiah untuk suatu jabatan, di saat yang sama kami hardik anak yatim dan fakir miskin yang memerlukan ribuan rupiah.

Ya Allah, kami semestinya malu atas tangan yang Kau berikan, kaki untuk berjalan, mata untuk memandang, lidah untuk merasa, telinga untuk mendengar musik yang indah. Kau berikan kepada kami udara, air, matahari, bintang, dan rembulan. Kau limpahkan nikmat yang tidak mungkin kami dapatkan dari manapun. Kami telah tersesat dan menganggap dapat melakukan apa pun dengan harta dan kekuasaan, padahal kami tidak dapat membuat secuil kuku di kaki dan tangan, yang tumbuh lagi setelah dipotong.

Ya Allah, setiap kami sesungguhnya menunggu waktu; antara shalat Subuh ke Dzuhur, dari Dzuhur ke Ashar, dari Ashar ke Maghrib, dari Maghrib ke Isya, dari Isya ke shalat Subuh. Kematiaan datang di antara waktu itu, di antara celah kewajiban. Kami menyerah dengan kepala, kedua tangan, lutut, dan jemari kaki kami, merendahkan diri serendah-rendahnya, rebah di bumi-Mu.


0 komentar:

Posting Komentar