Musibah Agama

Musibah Agama


Oleh KH Didin Hafidhuddin

Secara harfiah, musibah adalah segala sesuatu yang menyebabkan seseorang terkejut, kaget, merasa tidak nyaman, merasa sakit, dan merasa terluka ketika menerimanya. Tentu saja skala dan eskalasi musibah itu bervariasi, bisa kecil, sedang, besar, atau dahsyat yang luar biasa. Bisa pula menimpa seseorang, keluarga, masyarakat, dan bangsa, atau menimpa seluruh umat manusia.

Sebagai contoh, sakit adalah suatu musibah. Kehilangan benda berharga bisa merupakan suatu musibah. Banjir yang datang tiba-tiba yang menghanyutkan manusia dan benda-benda bisa merupakan musibah. Gunung meletus bisa merupakan musibah. Serta gempa bumi juga merupakan musibah.

Menghadapi musibah-musibah tersebut, orang-orang yang beriman diperintahkan bersabar, tabah, serta ikhlas menerimanya. Mengembalikan semua yang telah terjadi kepada Allah SWT dengan mengucapkan istirja (innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun), dengan lisan disertai dengan keyakinan dan kesadaran keimanan. Jika ini yang terjadi, ujung dari musibah itu adalah rahmat dan hidayah dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah 155-157: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Akan tetapi, ternyata yang dimaksud dengan musibah itu bukanlah semata-mata yang bersifat fisik material seperti tersebut di atas, melainkan terdapat pula musibah yang berkaitan dengan agama dan perilaku. Bahkan, musibah ini lebih dahsyat dan lebih buruk akibatnya. Rasulullah SAW selalu berdoa agar dijauhkan dari musibah agama ini. ''Janganlah Engkau jadikan musibah dalam agama kami dan jangan pula Kau jadikan kehidupan dunia yang paling tinggi tujuan hidup kami.''

Perilaku korupsi, menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan kenikmatan duniawi yang bersifat sesaat, mengorbankan akidah dan keyakinan serta integritas pribadi, bahkan menukarkan dan mengganti agama untuk mendapatkan materi, adalah contoh dari musibah agama tersebut.

Demikian pula orang yang mengaku Muslim tetapi tidak pernah beribadah, tidak kenal dengan Alquran, syirik kepada Allah SWT, mempermainkan ayat-ayat dan aturan-Nya adalah bagian dari musibah agama yang sangat buruk akibatnya.

Mari kita hindari seoptimal mungkin kedua jenis musibah tersebut dengan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan meningkatkan kesalehan sosial di tengah-tengah kehidupan masyarakat bangsa.


0 komentar:

Posting Komentar