Memperteguh Ukhuwah

Memperteguh Ukhuwah

Oleh Afthonul Afif

Manusia adalah makhluk individual sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individual, seseorang memiliki karakter unik yang berbeda dengan orang lain. Sementara sebagai makhluk sosial, ia membutuhkan orang lain untuk hidup bersama dan tolong-menolong.

Kebutuhan hidup berkelompok merupakan naluri alamiah setiap orang. Kebutuhan ini kemudian membentuk berbagai macam ikatan sosial yang kita kenal, dari lingkup yang paling kecil hingga yang paling besar. Kita mengenal ada ikatan keluarga, kesukuan, profesi, agama, negara, bangsa, hingga peradaban.

Islam sebagai suatu peradaban dan agama menganjurkan penganutnya untuk selalu menjaga ikatan, baik itu ikatan yang didasarkan pada kesamaan akidah maupun yang didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan. Ikatan yang didasarkan pada persamaan akidah kita kenal sebagai ukhuwah Islamiah.

Dalam Wawasan Alquran, Dr Quraish Shihab menulis bahwa ukhuwah (ukhuwwah) yang biasa diartikan sebagai 'persaudaraan', berasal dari akar kata yang pada mulanya berarti 'memperhatikan'. Dengan demikian, dalam semangat persaudaraan itu kita dituntut untuk memberi perhatian kepada sesama Muslim dan kepada manusia secara keseluruhan.

Namun, umat Islam hendaknya berhati-hati menyikapi ikatan sosial yang terlalu formal, karena seringkali mengaburkan hakikat ukhuwah itu sendiri. Terlebih lagi dalam iklim kehidupan yang semakin pragmatis akhir-akhir ini. Kita cenderung melihat orang lain bukan dari sisi kemanusiaannya, melainkan dari atribut-atribut yang bisa dipertukarkan, misalnya, sebagai dokter, politikus, artis, dosen, dan pengusaha.

Jika kecenderungan itu semakin kuat, orang modern akan semakin sulit menemukan ikatan sosial yang bebas kepentingan, yaitu ikatan yang semata-mata didasarkan pada kesadaran sebagai sesama hamba Allah SWT. Untuk itu, sudah saatnya kita kembali pada prinsip-prinsip pergaulan sosial yang dikehendaki oleh-Nya, agar ketulusan dan keikhlasan menemukan kembali momentumnya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, ketika Nabi Muhammad meninggal, Abu Bakar mendatangi Aisyah dan bertanya, ''Amalan apa yang sudah dilakukan Nabi, tapi belum kulakukan?'' Aisyah bercerita, setiap hari Nabi selalu menyantuni seorang nenek buta keturunan Yahudi. Nenek itu mengemis di ujung jalan. Nabi selalu menyisihkan makanan untuknya, tanpa si nenek tahu siapa yang memberinya makanan.

Nabi menggugah kesadaran kita, agar membangun relasi antarsesama manusia karena ridha Allah semata. Jalinan persaudaraan yang dimaksud tidak hanya terbatas pada sesama Muslim, tapi juga sesama hamba Allah yang berbeda suku dan agamanya.


0 komentar:

Posting Komentar