Lebaran

Lebaran
LEBARAN! Tradisi itu memang khas In­donesia. Seturut catatan J.J. Rizal (Tempo, 5 Nov 2006), istilah Lebaran pada mu­lanya diperkenalkan orang Betawi pada 1927. Sebagai sebuah tradisi, Lebaran tak sekadar dihikmati dengan kekhusyukan spi­ritualitas personal. Lebih dari itu, Le­baran dalam bentangan sejarah negeri ini selalu sarat nilai-nilai sosial yang terus meng­alami reproduksi makna.

Senyampang tamsil, Java Bode me­man­faat­kan Lebaran sebagai momentum po­litik. Kali pertama kali dalam perhelatan se­jarah, Lebaran disuguhkan dengan me­nga­dakan sembahyang akbar di lapangan ter­buka Konengslein (sekarang Gambir), Jakarta, pada 1929. Turut dalam prosesi ku­dus itu hampir seluruh tokoh pergerakan nasional. Lebaran tempo itu menjadi sum­bu pemantik semangat juang sekaligus ajang penghayatan terhadap penderitaan rakyat.

Spirit yang sama tergandakan pula di awal masa revolusi kemerdekaan saat Be­landa hendak kembali menjajah negeri ini. Sementara itu, Indonesia yang baru seranum jagung nyaris terperosok dalam kon­flik internal dan tengah tercabik dalam upa­ya merangkai identitas kebangsaan. Je­las, keadaan genting. Rakyat terjepit dan terimpit. Dan, Lebaran pun menemukan kem­bali momentumnya.

Beberapa tokoh menghadap Soekarno pa­da Ramadan 1946. Mereka meminta sang Penyambung Lidah Rakyat itu mera­yakan Lebaran yang jatuh pada Agustus se­bagai media introspeksi nasionalisme ke­bangsaan. Karena itu, seluruh tokoh re­volusi kemerdekaan yang tengah berseteru di­undang agar menginsyafi kembali ha­ki­kat keindonesiaan dan pentingnya menghalau kolonialisme. Duduk sama rendah, ber­diri sama tinggi. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Lebaran lantas menja­di ajang saling memaafkan, memaklumi, se­kaligus menerima fakta keragaman.

Konsumtif

Spirit Lebaran itu di era kapitalisme in­dus­tri saat ini, tampaknya, mengalami per­gerseran. Lebaran acapkali dimaknai sebagai ajang unjuk kekuatan dengan berbagai motifnya -ekonomi, sosial, dan citra diri, misalnya. Betapa tidak, melampaui per­tengahan Ramadan, pusat-pusat perbelanjaan modern dan tradisional mulai diranjingi pengunjung. Untuk menarik pembeli, diskon pun diobral setinggi-ting­ginya. Hatta, pengunjung pun meluber, ber­tumpah ruah.

Dalam kondisi demikian, masyarakat di­giring dan dirangsang untuk mengabdi pa­da keinginan pasar: memenuhi hasrat mem­beli di bawah umbul-umbul budaya kon­sumtif. Dengan demikian, terjadi pen­dang­kalan dalam memaknai Lebaran sebatas paradigma kebaruan yang berorientasi pa­da citra diri. Tentu saja, nuansa kebaruan yang dicitrakan dengan kondisi jasmani ujung-ujungnya bakal menimbulkan ke­sen­jangan, bahkan tragedi sosial.

Tengoklah, beberapa waktu sebelum Le­baran ini, terjadi sejumlah tragika yang amat menyesakkan dada. Di Kediri, seorang ibu bernama Utami mengajak serta anak semata wayangnya, Danang Wahyu Pra­tama, merapal kematian dengan me­neng­gak racun babi hutan merek Timex. Aksi nekat itu dilakukan pada Kamis pe­tang (10/9) karena tak punya uang untuk Lebaran.

Sugianta, warga Purbalingga, pun setali tiga uang. Pada Senin (14/9) dia mengakhi­ri hidup dengan cara tragis: gantung diri di pohon nangka di sebuah kebun dekat ru­mah­nya. Setelah diusut, keputusan pilu itu diambil karena dia stres gara-gara tak meng­antongi uang untuk Lebaran.

Di Palembang, ada kisah histeria Yusmaheri. Gara-gara di-PHK dari tempatnya be­kerja akhir Agustus silam, dia didera be­ban hidup yang serbakalut. Hidup ini su­sah, maka hanya bunuh diri yang dapat me­nyelesaikannya. Barangkali dengan asum­si tersebut, dia menjemput maut dengan terjun bebas dari gedung Papa Ron's Pizza. Astaga!

Secuplik tragika itu tentu sekadar fenome­na gunung es. Masih banyak tragika yang mengiringi datangnya Lebaran kali ini. Ka­rena itu, mereka yang dirundung duka acap­kali menikmati Lebaran dalam ke­terba­tasan, dengan air mata berderai, seraya mengelus dada merabai luka hati yang terasa memerih.

Bersahaja

Paradigma kebaruan dan konsumerisme Le­baran adalah semata-mata produk buda­ya yang sarat nilai-nilai lokal. Agama me­mang sama sekali tidak mengatur hal itu. Yang ada malah seruan kesahajaan da­lam berlebaran. Sebuah maqalah Arab men­jelaskan, laisal'id liman labisal jadid walakinnal 'id liman tho'atuhu tazid. Sejatinya Lebaran tidaklah bagi mereka yang mengantongi atribut fisik serbabaru, akan tetapi Lebaran adalah bagi mereka yang ke­taatannya terus bertambah.

Dari sinilah kita perlu menyerap kembali hakikat Lebaran. Kisah bersahaja Na­bi Muhammad yang langkahnya terhen­ti oleh isak tangis gadis kecil di tengah ke­gembiraan kawan sebaya kiranya pen­ting diteladani. Gadis kecil itu memendam lara dalam penderitaan dan keterbatasannya. Lantas Muhammad berujar, ''Bagai­mana seandainya Fatimah az-Zahra jadi kakakmu, Ali bin Abi Thalib jadi abangmu, dan Hasan-Husein jadi saudaramu, sedang­kan aku jadi ayahmu, apakah engkau mau?"

Kisah tersebut mengirim pesan kemanusiaan yang begitu dahsyat. Bahwa menik­mati Lebaran tentu saja tak bisa dengan mengabaikan kepedulian terhadap sesama. Istilah Lebaran dalam kosakata Jawa berasal dari kata lèbar (huruf e dibaca sebagai­mana kata fase). Artinya, selesai, usai, dan tamat. Dalam kosakata Indonesia, istilah Lebaran bisa pula dirunut dari kata lébar (huruf e dibaca sebagaimana kata sate). Artinya, luas, lapang, dan lempang.

Bila penelusuran gramatika itu dirangkum bisa diurai makna: Lebaran seharusnya menjadi energi positif untuk menamatkan penderitaan sesama seraya melempang­luaskan jalan kebahagiaan secara menyeluruh. Kebahagiaan Lebaran hakikatnya adalah amanat yang patut disebarkan. Ma­ka, menjadi niscaya bagi kita untuk terus menggandakan bahagia itu kepada sesama manusia.

Manusia, setutur Emha Ainun Nadjib da­lam Sedang Tuhan pun Cemburu (1994), ha­kikatnya berasal dari satu akar kehidupan: komunitas etnik, keluarga, sanak fa­mili, bapak-ibu, alam semesta, berpangkal (atau berujung) di Allah melalui runtutan akar historisitasnya. Mereka dipersatukan nurani kemanusiaan universal. Dengan demikian, saat Lebaran tiba, muncul keinginan untuk berkumpul dan bersilaturah­mi dalam suasana yang guyub.

Inilah saatnya membuat Tuhan cemburu dengan menempa kesadaran berbagi pe­duli di hari yang fitri. Selamat berlebaran. Mari meren­da maaf atas segala khilaf

0 komentar:

Posting Komentar