Lailatul Qadar

Lailatul Qadar

Mashudi Umar
(Redaktur Majalah Risalah NU Jakarta)

Sang waktu terus bergulir, tak terasa bahwa puasa kita telah memasuki lebih dari sepuluh hari pada bulan ini, di mana kaum Muslimin di seluruh dunia, akan segera berada di bagian akhir bulan Ramadhan yang penuh rahmat, berkah, dan ampunan Allah SWT. Pada sepertiga bulan terakhir, yaitu sepuluh terakhir bulan suci ini, ada satu malam yang selalu di tunggu umat Muslim, yaitu lailatul qadar, adalah suatu malam yang menurut Alquran 'lebih baik dari seribu bulan' (lailatul qadr khair min alfi syahr).

Kaum Muslimin pada malam-malam terakhir Ramadhan ini, harus lebih memperdalam penghayatan spiritual keislaman, di samping juga menyucikan harta dengan amal sosial berupa zakat. Sehingga, tujuan shiyam (puasa) sebagai instrumen pengembangan kesadaran menemukan tujuannya, yaitu 'takwa', sebagaimana firman Allah, la'allakum tattaqun (agar supaya menjadi orang yang bertakwa).

Takwa sering diartikan dan dipahami secara peyoratif (lebih rendah), yaitu takut kepada Tuhan. Fazlur Rahman, guru besar asal Pakistan, meluruskan makna hakiki dari kata takwa sebagai hadirnya kapasitas melindungi diri dari konsekuensi perbuatan jahat atau berbahaya (QS 52:27, 40:9, 76:11). Dalam tingkatan tertinggi, takwa menggambarkan seluruh kepribadian manusia yang terpadu, sejenis stabilitas karakter yang terbentuk setelah elemen positif mengkristal dalam jiwa seseorang.

Pada hari kesepuluh ke atas pada bulan Ramadhan ini, Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa-doa kita dan berjanji akan membebaskan kita dari dosa-dosa dan api neraka. Berarti ini merupakan kesempatan baik untuk berlomba-lomba meningkatkan ibadah kita (fastabiqul khairat) di tengah kemelut perekonomian dan politik bangsa ini yang sedang karut-marut. Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi Muhammad SAW: ''Bulan Ramadhan adalah bulan yang awalnya penuh rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah kebebasan dari neraka. (HR Ibnu Huzaimah)
Pada titik krusial ini, Allah mengirim 'bonus istimewa' bagi orang-orang yang giat berpuasa dan bermunajat kepada-Nya. Kita tahu, konstruksi puasa pada bulan suci ini adalah pengejawantahan artikulasi kesalehan dalam Islam yang bercabang dua; Pertama, puasa mengandung kesalehan individual yang mewajibkan pelaku puasa untuk melakukan sikap empati terhadap derita kaum papa, yakni dengan menahan nafsu makan dan minum serta seks dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya sang surya. Kedua, artikulasi sikap aktif orang berpuasa mewujud dalam bentuk sedekah wajib (zakat mal maupun fitrah) maupun sunah yang diseyogiakan mengisi hari-hari bulan Ramadhan.

Lailatul qadar adalah malam yang agung di antara sekian malam pada bulan suci Ramadhan. Tidak disebutkan kapankah malam itu terjadi, sebagaimana Allah berfirman, Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan (lailatul qadar) itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS Al-Qadar 97: 1-5).

Di mana para malaikat dan roh suci dan Malaikat Jibril turun ke bumi menyampaikan keberkahan dari Allah untuk umat manusia yang dikehendaki-Nya. Lailatul qadar bagi bangsa ini menjadi santunan rahmat sehingga kita mampu bangkit kembali di tengah keputusasaan, perpecahan, dan kekerasan antarumat. Belum lagi soal ekonomi dan politik yang tidak pernah menguntungkan rakyat kecil, saatnya kita untuk berbenah diri dan berlomba-lomba berbuat kebajikan untuk mendapatkan malam kemuliaan itu. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Alquran, serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih.

Itu sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan ini adalah bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia diduga oleh Rasul datang pada sepuluh malam terakhir. Karena itu, diharapkan jiwa manusia yang berpuasa selama 20 hari sebelumnya telah mencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian yang memungkinkan malam mulia itu berkenan mampir menemuinya, dan itu pula sebabnya Rasul SAW menganjurkan sekaligus mempraktikkan iktikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Diriwayatkan dari Abu Dawud, Nabi Muhammad SAW pernah ditanya tentang lailatul qadar, lalu beliau menjawab, lailatul qadar ada pada setiap bulan Ramadhan.

Hadis tersebut diperkuat oleh Ibnu Umar, Rasulullah bersabda: Siapa mencari malam lailatul qadar, carilah pada hari ke-27.

Di Indonesia, oleh para jamaah Thareqat Mu'tabarah menjadikan malam 27 ini sebagai malam paling istimewa untuk bertobat, berzikir, bersedekah, dan istighatsah. Istilah ini, umum dikenal dengan 'malam pitulikuran' sebagai malam paling istimewa.

Namun, ada banyak penjelasan mengenai tanda-tanda datangnya lailatul qadar itu. Di antara tanda-tandanya adalah, pertama, pada hari itu matahari bersinar tidak terlalu panas dengan cuaca sangat sejuk, sebagaimana hadis Riwayat Muslim.
Kedua, pada malam harinya langit tampak bersih, tidak tampak awan sedikit pun, suasana tenang dan sunyi, tidak dingin dan tidak panas. Hal ini berdasarkan riwayat Imam Ahmad dalam Kitab Mu'jam at-Thabari al-Kabir disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: Malam lailatul qadar itu langit bersih, udara tidak dingin atau panas, langit tidak berawan, tidak ada hujan, bintang tidak tampak, dan pada siang harinya matahari bersinar tidak begitu panas.

Dengan tidak diketahuinya secara pasti kapan malam istimewa itu turun, diharapkan justru makin memotivasi kita untuk meraihnya tidak sekadar pada sepuluh hari terakhir, tapi sebulan penuh lamanya kita gunakan untuk berbakti kepada Tuhan. Sehingga pada bulan-bulan yang lain (selain bulan Ramadhan), sifat kebajikan sosial, berkata jujur, dan tidak melakukan korupsi mampu diimplementasikan pada aktivitas kita sehari-hari, baik terhadap diri sendiri, keluarga, kolega, saudara, kawan maupun lawan, dan antarumat yang lain.

Sehingga, kita dapat berkata bahwa tanda yang paling jelas tentang kehadiran lailatul qadar bagi seseorang (abdullah) adalah kedamaian, ketenangan, dan kesejahteraan jiwa.

Dengan demikian, meraih lailatul qadar bukanlah sesuatu yang mustahil karena ia tak menunjuk kepada peristiwa masa depan. Lailatul qadar juga tak menunjuk pada even masa lalu yang hanya terjadi sekali pada masa Rasul menerima wahyu Ilahi. Ia akan menyertai umat manusia yang haus pencerahan rohani pada hari-hari akhir bulan suci. Semoga malam mulia itu berkenan mampir menemui kita untuk bangkit menemukan Indonesia baru sekaligus memberikan tanda-tanda bahwa rakyat akan segera sejahtera, makmur, dan bermartabat, sebagaimana cita-cita dalam Alquran, baldatun thayyibatun warabbul ghafur. Mudah-mudahan. Wallahu a'lam bis shawab


0 komentar:

Poskan Komentar