Tujuan Puasa

Tujuan Puasa
Tujuan puasa adalah mencapai derajat takwa. Ini dikatakan dalam sebuah ayat Al-Quran yang memerintahkan orang yang beriman untuk berpuasa (Q., 2: 183).

Istilah takwa sering diartikan sebagai "takut kepada Allah". Penerjemahan ini tentu saja benar, tetapi ada segi lain yang sangat penting, yang juga termuat dalam makna terdalam kata takwa, yaitu segi kesadaran akan yang Ilahi (rabbanîyah), yaitu pengalaman dan perasaan akan kehadiran yang Ilahi, yang digambarkan dalam banyak ayat Al-Quran; di antaranya ada yang menegaskan bahwa Milik Allah timur dan barat: ke mana pun kamu berpaling, di situlah kehadiran Allah… (Q., 2: 115).

Pengalaman akan kehadiran Allah inilah yang menggambarkan fenomena mengenai orang beriman, yang …apabila disebut nama Allah, tergetar hatinya dan bila ayat-ayat-Nya dibacakan kepada mereka, bertambah kuat keimanannya…(Q., 8: 2).

Orang beriman adalah orang-orang yang konsisten berpegang teguh pada agama. Mereka dijanjikan oleh Allah kebahagiaan hidup…mereka yang berkata "Tuhan kami adalah Allah," kemudian tetap berpegang teguh (pada agama), mereka tak perlu khawatir, tak perlu sedih (Q., 46: 13). Al-Quran menyebut, inilah orang-orang yang menjadikan takwa–pengalaman akan kehadiran Yang Ilahi itu–dan keridaan Allah sebagai asas hidup mereka. Allah mengatakan, Manakah yang terbaik? Mereka yang mendirikan bangunannya atas dasar takwa dan keridlaan Allah, ataukah yang mendirikan bangunannya di atas tanah pasir di tepi jurang lalu runtuh bersamanya ke dalam api neraka… (Q., 9: 109).

Dalam jangka panjang tujuan puasa adalah menjadikan takwa ini sebagai asas dan pandangan hidup yang benar. Ayat di atas menegaskan bahwa asas hidup yang selain takwa dan keridaan Allah itu adalah salah, diibaratkan dengan orang yang "mendirikan bangunan di atas tanah pasir di tepi jurang lalu runtuh bersamanya ke dalam api neraka".

Tentang takwa ini, menarik melihat bahwa takwa adalah kesejajaran "iman" dan "tali hubungan dengan Allah"–yang merupakan dimensi vertikal hidup yang benar. Karena itu pengertian takwa bersifat ruhaniah, yang masih harus diterjemahkan dalam segi-segi konsekuensial yang mengikutinya (misalnya dalam kaitan iman dan amal-saleh, yang disimbolkan dalam "takbirat al-ihram" dalam shalat yang bersegi keruhanian, dan "salâm" yang bersegi komitmen sosial).

Dalam Al-Quran s. Al-Baqarah/2 ayat 2-4, digambarkan lima ciri dari orang yang bertakwa: yaitu (1) mereka yang beriman kepada yang gaib; (2) mendirikan shalat; (3) menafkahkan sebagian rezeki; (3) beriman kepada wahyu yang telah Allah sampaikan (Al-Quran) dan wahyu sebelum Al-Quran; dan (5) mereka yang yakin akan Hari Akhirat.

Kelima ciri takwa ini adalah an sich ciri dari orang yang beriman. Dari kelima unsur yang menjadi ciri ketakwaan itu, unsur pertama, beriman kepada yang gaib, mendapatkan peneguhan utama dalam ibadah puasa, karena puasa adalah ibadah yang paling pribadi, personal, private, tanpa kemung¬kinan bagi orang lain sepenuhnya melihat, mengetahui, apalagi menilainya. Seperti dikatakan dalam sebuah Hadis Qudsi, yang menuturkan firman Allah, "…Puasa adalah untuk-Ku semata, Akulah yang menanggung pahalanya". Jadi, seperti juga takwa yang bersifat ruhani, puasa itu harus diawali atau berpangkal pada ketulusan niat yang juga private, sehingga dikatakan oleh Sakandari dalam kitab Al-Hikâm, bahwa amal perbuatan adalah bentuk lahiriah yang tampak mata, dan ruhnya ialah adanya rahasia keikhlasan (yang amat private) di dalamnya.

Kembali ke takwa, maka pangkal takwa adalah keimanan yang mendalam kepada Allah dan kesadaran tanpa ragu sama sekali akan kehadiran-Nya dalam hidup dan segala kegiatan manusia. Puasa sebagai ibadah yang sangat private merupakan latihan dan sekaligus peragaan kesadaran ketuhanan: peragaan akan pengalaman kehadiran Yang Ilahi. Inilah tujuan pokok puasa yang kemudian melimpah kepada nilai-nilai hidup yang menjadi konsekuensinya, yang menjadikan adanya hikmah kemanusiaan dari ibadah puasa ini, sebuah hikmah yang dilatih dengan "menahan diri", makna literal dari shiyâm atau shaum atau puasa itu sendiri.

Maka dengan menanggung derita sementara ini (dengan menahan diri secara jasmani, nafsani dan ruhani) ada proses penyucian yang akan memperkuat segi-segi kelemahan manusiawi (apalagi "manusia adalah pembuat kesalahan" erare humanum est, begitu kata pepatah Latin). Kelemahan manusiawi yang amat mencolok adalah kecenderungannya mengambil hal-hal jangka pendek, karena daya tariknya, dan lengah terhadap akibat buruk jangka panjang (lihat Q., 75: 20). Terhadap kelemahan manusiawi ini, Tafsir Yusuf Ali mengatakan, "Manusia suka tergesa-gesa dan segala yang serba tergesa-gesa. Dengan alasan ini ia menyandarkan imannya pada hal-hal yang fana, yang datang dan pergi, dan mengabaikan segala yang sifatnya lebih abadi, yang datangnya perlahan-lahan, yang tujuan sebenarnya baru akan terlihat sepenuhnya di akhirat kelak".
sumber: ensiklopedi Nurcholish Madjid.

0 komentar:

Posting Komentar