Berbisnis dengan Allah

Berbisnis dengan Allah

Oleh Fauzi Bahreisy

Seiring datangnya bulan Ramadhan, tiba saatnya bagi kaum Muslimin untuk meningkatkan dan mengoptimalkan transaksi bisnis dengan Allah SWT. Tentu transaksi itu bukan dalam bentuk jual beli benda atau barang, tapi amal saleh dan aktivitas ibadah.

''Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan bisnis yang tidak akan merugi.'' (QS Fathir [35]: 29).

Allah SWT memosisikan amal ibadah sebagai bentuk transaksi bisnis. Bahkan, digambarkan sebagai bisnis yang tak akan merugi. Jika berbisnis dengan manusia, adakalanya membawa keuntungan dan kerugian. Namun, berbisnis dengan Allah SWT selalu membawa keberuntungan.

Itu tak aneh, sebab Allah SWT adalah Zat Yang Mahapemurah, Mahakaya, Mahakasih, dan tak pernah ingkar janji. Ketika manusia bertransaksi dengan Allah SWT, tidak akan ada kecurangan dan penipuan, tapi balasan berlipat dan ganjaran tak terukur dengan harta dunia.Amal yang tidak seberapa dibalas surga yang tak terbeli dengan dunia dan seisinya. ''Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.'' (QS Attaubah [9]: 111).

Sungguh sebuah bisnis yang sangat menarik dan memikat. Manusia sebagai penjual dan Allah SWT sebagai 'pembeli'. Hanya saja, setiap pembeli tentu tak akan sembarang memilih barang yang akan dibeli.Di antara sekian banyak yang ditawarkan, hanyalah barang-barang yang berkualitas dan bermutu baik yang akan dibeli. Demikian pula dengan Allah SWT.

Tak semua amal ibadah secara otomatis diterima-Nya. Apalagi jika amal itu dikerjakan asal-asalan dan serampangan. ''Dia yang menjadikan mati dan hidup untuk menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.'' (QS Almulk [67]: 2).Jadi, di antara sekian banyak amal manusia, hanya amal berkualitas yang dipilih dan diterima Allah SWT. Standar penilaian dan penerimaan bukan sekadar banyaknya jumlah atau kuantitas, tapi yang lebih penting mutu dan kualitas.

Karenanya, tidak heran jika Rasulullah SAW bersabda, ''Bisa jadi orang yang berpuasa tidak mendapat apa-apa kecuali lapar saja. Serta bisa jadi orang yang melakukan qiyam

Dari sini Fudhayl ibn Iyadh memberikan satu rambu dan penjelasan. Agar amal ibadah manusia berkualitas dan diterima Allah SWT, amal itu harus dikerjakan dengan penuh keikhlasan dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Itulah dua syarat yang harus ada dalam seluruh amal.


0 komentar:

Posting Komentar