Ciri-Ciri Penduduk Surga

Ciri-Ciri Penduduk Surga

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan surga bagi hamba-hamba yang beriman dan menciptakan neraka bagi orang-orang kafir. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada nabi dan rasul akhir zaman, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka. Amma ba'du.


Berikut ini adalah sebagian ciri-ciri dan karakter orang-orang yang dijanjikan oleh Allah mendapatkan surga beserta segala kenikmatan yang ada di dalamnya, yang sama sekali belum pernah terlihat oleh mata, belum terdengar oleh telinga, dan belum terlintas dalam benak manusia. Semoga Allah menjadikan kita termasuk di antara penduduk surga-Nya.

1. Beriman dan beramal salih

Allah ta'ala berfirman,

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

"Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan balasan berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai…" (Qs. al-Baqarah: 25)

Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah mengatakan,

وأنَّ الإيمانَ قَولٌ باللِّسانِ، وإخلاَصٌ بالقلب، وعَمَلٌ بالجوارِح، يَزيد بزيادَة الأعمالِ، ويَنقُصُ بنَقْصِها، فيكون فيها النَّقصُ وبها الزِّيادَة، ولا يَكْمُلُ قَولُ الإيمانِ إلاَّ بالعمل، ولا قَولٌ وعَمَلٌ إلاَّ بنِيَّة، ولا قولٌ وعَمَلٌ وَنِيَّةٌ إلاَّ بمُوَافَقَة السُّنَّة.

"Iman adalah ucapan dengan lisan, keikhlasan dengan hati, dan amal dengan anggota badan. Ia bertambah dengan bertambahnya amalan dan berkurang dengan berkurangnya amalan. Sehingga amal-amal bisa mengalami pengurangan dan ia juga merupakan penyebab pertambahan -iman-. Tidak sempurna ucapan iman apabila tidak disertai dengan amal. Ucapan dan amal juga tidak sempurna apabila tidak dilandasi oleh niat -yang benar-. Sementara ucapan, amal, dan niat pun tidak sempurna kecuali apabila sesuai dengan as-Sunnah/tuntunan." (Qathfu al-Jani ad-Dani karya Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, hal. 47)

al-Baghawi rahimahullah menyebutkan riwayat dari Utsman bin Affan radhiyallahu'anhuradhiyallahu'anhu mengatakan, "Amal salih adalah yang di dalamnya terdapat empat unsur: ilmu, niat yang benar, sabar, dan ikhlas." (Ma'alim at-Tanzil [1/73] as-Syamilah) bahwa yang dimaksud amal salih adalah mengikhlaskan amal. Maksudnya adalah bersih dari riya'. Mu'adz bin Jabal

2. Bertakwa

Allah ta'ala berfirman,

لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

"Bagi orang-orang yang bertakwa terdapat balasan di sisi Rabb mereka berupa surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, begitu pula mereka akan mendapatkan istri-istri yang suci serta keridhaan dari Allah. Allah Maha melihat hamba-hamba-Nya." (Qs. Ali Imran: 15)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menguraikan jati diri orang bertakwa. Mereka itu adalah orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka. Mereka menjaga diri dari siksa-Nya dengan cara melakukan apa saja yang diperintahkan Allah kepada mereka dalam rangka menaati-Nya dan karena mengharapkan balasan/pahala dari-Nya. Selain itu, mereka meninggalkan apa saja yang dilarang oleh-Nya juga demi menaati-Nya serta karena khawatir akan tertimpa hukuman-Nya (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 119 cet Dar al-'Aqidah 1423 H).

Termasuk dalam cakupan takwa, yaitu dengan membenarkan berbagai berita yang datang dari Allah dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan syari'at, bukan dengan tata cara yang diada-adakan (baca: bid'ah). Ketakwaan kepada Allah itu dituntut di setiap kondisi, di mana saja dan kapan saja. Maka hendaknya seorang insan selalu bertakwa kepada Allah, baik ketika dalam keadaan tersembunyi/sendirian atau ketika berada di tengah keramaian/di hadapan orang (lihat Fath al-Qawiy al-Matin karya Syaikh Abdul Muhsin al-'Abbad hafizhahullah, hal. 68 cet. Dar Ibnu 'Affan 1424 H)

an-Nawawi rahimahullah menjelaskan, salah satu faktor pendorong untuk bisa menumbuhkan ketakwaan kepada Allah adalah dengan senantiasa menghadirkan keyakinan bahwasanya Allah selalu mengawasi gerak-gerik hamba dalam segala keadaannya (Syarh al-Arba'in, yang dicetak dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 142 cet Markaz Fajr dan Ulin Nuha lil Intaj al-I'lami)

Syaikh as-Sa'di rahimahullah memaparkan bahwa keberuntungan manusia itu sangat bergantung pada ketakwaannya. Oleh sebab itu Allah memerintahkan (yang artinya), "Bertakwalah kepada Allah, mudah-mudahan kamu beruntung. Dan jagalah dirimu dari api neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir." (Qs. Ali Imron: 130-131). Cara menjaga diri dari api neraka adalah dengan meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkan terjerumus ke dalamnya, baik yang berupa kekafiran maupun kemaksiatan dengan berbagai macam tingkatannya. Karena sesungguhnya segala bentuk kemaksiatan -terutama yang tergolong dosa besar- akan menyeret kepada kekafiran, bahkan ia termasuk sifat-sifat kekafiran yang Allah telah menjanjikan akan menempatkan pelakunya di dalam neraka. Oleh sebab itu, meninggalkan kemaksiatan akan dapat menyelamatkan dari neraka dan melindunginya dari kemurkaan Allah al-Jabbar. Sebaliknya, berbagai perbuatan baik dan ketaatan akan menimbulkan keridhaan ar-Rahman, memasukkan ke dalam surga dan tercurahnya rahmat bagi mereka (Taisir al-Karim ar-Rahman [1/164] cet Jum'iyah Ihya' at-Turots al-Islami)

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengimbuhkan, bahwa tercakup dalam ketakwaan -bahkan merupakan derajat ketakwaan yang tertinggi- adalah dengan melakukan berbagai perkara yang disunnahkan (mustahab) dan meninggalkan berbagai perkara yang makruh, tentu saja apabila yang wajib telah ditunaikan dan haram ditinggalkan (Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, hal. 211 cet Dar al-Hadits 1418 H)

Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan riwayat dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu'anhu, Mu'adz ditanya tentang orang-orang yang bertakwa. Maka beliau menjawab, "Mereka adalah suatu kaum yang menjaga diri dari kemusyrikan, peribadahan kepada berhala, dan mengikhlaskan ibadah mereka hanya untuk Allah." al-Hasan mengatakan, "Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah kepada mereka dan menunaikan kewajiban yang diperintahkan kepada mereka." Umar bin Abdul Aziz rahimahullah juga menegaskan bahwa ketakwaan bukanlah menyibukkan diri dengan perkara yang sunnah namun melalaikan yang wajib. Beliau rahimahullah berkata, "Ketakwaan kepada Allah bukan sekedar dengan berpuasa di siang hari, sholat malam, dan menggabungkan antara keduanya. Akan tetapi hakikat ketakwaan kepada Allah adalah meninggalkan segala yang diharamkan Allah dan melaksanakan segala yang diwajibkan Allah. Barang siapa yang setelah menunaikan hal itu dikaruni amal kebaikan maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan." Thalq bin Habib rahimahullah berkata, "Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena mengharapkan pahala dari Allah, serta kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut hukuman Allah." (dinukil dari Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, hal. 211 cet Dar al-Hadits 1418 H)

Pokok dan akar ketakwaan itu tertancap di dalam hati. Ibnul Qayyim rahimahullah"Yang demikian itu dikarenakan barang siapa yang mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu semua muncul dari ketakwaan yang ada di dalam hati." (Qs. al-Hajj: 32). Allah juga berfirman (yang artinya), "Tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darah -hewan kurban itu-, akan tetapi yang akan sampai kepada Allah adalah ketakwaan dari kalian." (Qs. al-Hajj: 37). Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ketakwaan itu sumbernya di sini." Seraya beliau mengisyaratkan kepada dadanya (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu)." (al-Fawa'id, hal. 136 cet. Dar al-'Aqidah 1425 H) berkata, "Pada hakikatnya ketakwaan yang sebenarnya itu adalah ketakwaan dari dalam hati, bukan semata-mata ketakwaan anggota tubuh. Allah ta'ala berfirman (yang artinya),

Namun, perlu diingat bahwa hal itu bukan berarti kita boleh meremehkan amal-amal lahir, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Petunjuk yang paling sempurna adalah petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sementara itu, beliau adalah orang yang telah menunaikan kedua kewajiban itu -lahir maupun batin- dengan sebaik-baiknya. Meskipun beliau adalah orang yang memiliki kesempurnaan dan tekad serta keadaan yang begitu dekat dengan pertolongan Allah, namun beliau tetap saja menjadi orang yang senantiasa mengerjakan sholat malam sampai kedua kakinya bengkak. Bahkan beliau juga rajin berpuasa, sampai-sampai dikatakan oleh orang bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berjihad di jalan Allah. Beliau pun berinteraksi dengan para sahabatnya dan tidak menutup diri dari mereka. Beliau sama sekali tidak pernah meninggalkan amalan sunnah dan wirid-wirid di berbagai kesempatan yang seandainya orang-orang yang perkasa di antara manusia ini berupaya untuk melakukannya niscaya mereka tidak akan sanggup melakukan seperti yang beliau lakukan. Allah ta'ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menunaikan syari'at-syari'at Islam dengan perilaku lahiriyah mereka, sebagaimana Allah juga memerintahkan mereka untuk mewujudkan hakikat-hakikat keimanan dengan batin mereka. Salah satu dari keduanya tidak akan diterima, kecuali apabila disertai dengan 'teman' dan pasangannya…" (al-Fawa'id, hal. 137 cet. Dar al-'Aqidah 1425 H)

3. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya

Allah ta'ala berfirman,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيم

"Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang sangat besar." (Qs. an-Nisa': 13)

Allah ta'ala berfirman tentang mereka,

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman itu ketika diseru untuk patuh kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul itu memutuskan perkara di antara mereka maka jawaban mereka hanyalah, 'Kami dengar dan kami taati'. Hanya mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Qs. an-Nur: 51)

Allah ta'ala menyatakan,

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

"Barang siapa taat kepada Rasul itu maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah." (Qs. An-Nisaa' : 80)

Allah ta'ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, ketika menyeru kalian untuk sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya Allah yang menghalangi antara seseorang dengan hatinya. Dan sesungguhnya kalian akan dikumpulkan untuk bertemu dengan-Nya." (Qs. al-Anfal: 24)

Ketika menjelaskan kandungan pelajaran dari ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullahshallallahu 'alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya di dalam setiap ajaran yang beliau dakwahkan terkandung unsur kehidupan sejati. Barang siapa yang luput darinya sebagian darinya maka itu artinya dia telah kehilangan sebagian unsur kehidupan, dan di dalam dirinya mungkin masih terdapat kehidupan sekadar dengan besarnya istijabahnya terhadap Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam." (al-Fawa'id, hal. 85-86 cet. Dar al-'Aqidah) mengatakan, "Sesungguhnya kehidupan yang membawa manfaat hanyalah bisa digapai dengan memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang tidak muncul pada dirinya istijabah/sikap memenuhi dan mematuhi seruan tersebut maka tidak ada kehidupan sejati padanya. Meskipun sebenarnya dia masih memiliki kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dia dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Oleh sebab itu kehidupan yang hakiki dan baik adalah kehidupan pada diri orang yang memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya secara lahir dan batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, walaupun tubuh mereka telah mati. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang telah mati, meskipun badan mereka masih hidup. Oleh karena itulah maka orang yang paling sempurna kehidupannya adalah yang paling sempurna di antara mereka dalam memenuhi seruan dakwah Rasul

4. Cinta dan Benci karena Allah

Allah ta'ala berfirman,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Tidak akan kamu jumpai suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkasih sayang kepada orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya meskipun mereka itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, maupun sanak keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang ditetapkan Allah di dalam hati mereka dan Allah kuatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya, Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah, ketahuilah sesungguhnya hanya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung." (Qs. al-Mujadalah: 22)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ ».

"Barang siapa yang mencintai karena Allah. Membenci karena Allah. Memberi karena Allah. Dan tidak memberi juga karena Allah. Maka sungguh dia telah menyempurnakan imannya." (HR. Abu Dawud, disahihkan al-Albani dalam Shahih wa Dha'if Sunan Abu Dawud [10/181] as-Syamilah)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintainya daripada orang tua dan anak-anaknya." (HR. Bukhari)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ

"Ciri keimanan yaitu mencintai kaum Anshar, sedangkan ciri kemunafikan yaitu membenci kaum Anshar." (HR. Bukhari)

5. Berinfak di kala senang maupun susah

Allah ta'ala berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

"Bersegeralah menuju ampunan Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya di kala senang maupun di kala susah, orang-orang yang menahan amarah, yang suka memaafkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri maka mereka pun segera mengingat Allah lalu meminta ampunan bagi dosa-dosa mereka, dan siapakah yang mampu mengampuni dosa selain Allah. Dan mereka juga tidak terus menerus melakukan dosanya sementara mereka mengetahuinya." (Qs. Ali Imron: 133-135)

Membelanjakan harta di jalan Allah merupakan ciri orang-orang yang bertakwa. Allah ta'ala berfirman,

الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

"Alif lam mim. Ini adalah Kitab yang tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang beriman kepada perkara gaib, mendirikan sholat, dan membelanjakan sebagian harta yang Kami berikan kepada mereka." (Qs. al-Baqarah: 1-3)

Syaikh as-Sa'di memaparkan, infak yang dimaksud dalam ayat di atas mencakup berbagai infak yang hukumnya wajib seperti zakat, nafkah untuk istri dan kerabat, budak, dan lain sebagainya. Demikian juga ia meliputi infak yang hukumnya sunnah melalui berbagai jalan kebaikan. Di dalam ayat di atas Allah menggunakan kata min yang menunjukkan makna sebagian, demi menegaskan bahwa yang dituntut oleh Allah hanyalah sebagian kecil dari harta mereka, tidak akan menyulitkan dan memberatkan bagi mereka. Bahkan dengan infak itu mereka sendiri akan bisa memetik manfaat, demikian pula saudara-saudara mereka yang lain. Di dalam ayat tersebut Allah juga mengingatkan bahwa harta yang mereka miliki merupakan rezki yang dikaruniakan oleh Allah, bukan hasil dari kekuatan mereka semata. Oleh sebab itu Allah memerintahkan mereka untuk mensyukurinya dengan cara mengeluarkan sebagian kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka dan untuk berbagi rasa dengan saudara-saudara mereka yang lain (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [1/30] cet. Jum'iyah Ihya' at-Turots al-Islami)

6. Memiliki hati yang selamat

Allah ta'ala berfirman,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

"Pada hari itu -hari kiamat- tidak bermanfaat lagi harta dan keturunan, melainkan bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat." (Qs. as-Syu'ara: 88-89)

Abu Utsman an-Naisaburi rahimahullah mengatakan tentang hakikat hati yang selamat, "Yaitu hati yang terbebas dari bid'ah dan tenteram dengan Sunnah." (disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya [6/48] cet Maktabah Taufiqiyah)

Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa hakikat hati yang selamat itu adalah, "Hati yang bersih dari syirik dan keragu-raguan. Adapun dosa, maka tidak ada seorang pun yang bisa terbebas darinya. Ini adalah pendapat mayoritas ahli tafsir." (Ma'alim at-Tanzil [6/119], lihat juga Tafsir Ibnu Jarir at-Thabari [19/366] as-Syamilah)

Imam al-Alusi rahimahullah juga menyebutkan bahwa terdapat riwayat dari para ulama salaf seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Ibnu Sirin, dan lain-lain yang menafsirkan bahwa yang dimaksud hati yang selamat adalah, "Hati yang selamat dari penyakit kekafiran dan kemunafikan." (Ruh al-Ma'ani [14/260] as-Syamilah)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, "Pengertian paling lengkap tentang makna hati yang selamat itu adalah hati yang terselamatkan dari segala syahwat yang menyelisihi perintah Allah dan larangan-Nya. Hati yang bersih dari segala macam syubhat yang bertentangan dengan berita dari-Nya. Oleh sebab itu, hati semacam ini akan terbebas dari penghambaan kepada selain-Nya. Dan ia akan terbebas dari tekanan untuk berhukum kepada selain Rasul-Nya…" (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15 cet. Dar Thaibah)

Syaikh as-Sa'di rahimahullah mengatakan, "Hati yang selamat artinya yang bersih dari: kesyirikan, keragu-raguan, mencintai keburukan, dan terus menerus dalam bid'ah dan dosa-dosa. Konsekuensi bersihnya hati itu dari apa-apa yang disebutkan tadi adalah ia memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengannya. Berupa keikhlasan, ilmu, keyakinan, cinta kebaikan dan memandang indah kebaikan itu di dalam hati, dan juga kehendak dan kecintaannya pun mengikuti kecintaan Allah, hawa nafsunya tunduk mengikuti apa yang datang dari Allah." (Taisir al-Karim ar-Rahman hal. 592-593 cet. Mu'assasah ar-Risalah)

Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan karakter si pemilik hati yang selamat itu, "… apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah. Apabila dia membenci maka bencinya karena Allah. Apabila dia memberi maka juga karena Allah. Apabila dia mencegah/tidak memberi maka itupun karena Allah…" (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15 cet. Dar Thaibah)

Demikianlah sekelumit yang bisa kami tuangkan dalam lembaran ini. Semoga bermanfaat bagi yang menulis, membaca maupun yang menyebarkannya. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil 'alamin.

Yogyakarta, 21 Sya'ban 1430 H
Hamba yang sangat membutuhkan Rabbnya,,Abu Mushlih Ari Wahyudi

Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan

Kedatangan bulan Ramadhan setiap tahunnya tak henti menjadi penghibur hati orang mukmin. Bagaimana tidak, beribu keutamaan ditawarkan di bulan ini. Pahala diobral, ampunan Allah bertebaran memenuhi setiap ruang dan waktu. Seorang yang menyadari kurangnya bekal yang dimiliki untuk menghadapi hari penghitungan kelak, tak ada rasa kecuali sumringah menyambut Ramadhan. Insan yang menyadari betapa dosa melumuri dirinya, tidak ada rasa kecuali bahagia akan kedatangan bulan Ramadhan.


Mukmin Sejati Itu Dermawan

Salah satu pintu yang dibuka oleh Allah untuk meraih keuntungan besar dari bulan Ramadhan adalah melalui sedekah. Islam sering menganjurkan umatnya untuk banyak bersedekah. Dan bulan Ramadhan, amalan ini menjadi lebih dianjurkan lagi. Dan demikianlah sepatutnya akhlak seorang mukmin, yaitu dermawan. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan bahkan memberi contoh kepada umat Islam untuk menjadi orang yang dermawan serta pemurah. Ketahuilah bahwa kedermawanan adalah salah satu sifat Allah Ta'ala, sebagaimana hadits:

إن الله تعالى جواد يحب الجود ويحب معالي الأخلاق ويكره سفسافها

"Sesungguhnya Allah Ta'ala itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk." (HR. Al Baihaqi, di shahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami', 1744)

Dari hadits ini demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pelit dan bakhil adalah akhlak yang buruk dan bukanlah akhlak seorang mukmin sejati. Begitu juga, sifat suka meminta-minta, bukanlah ciri seorang mukmin. Bahkan sebaliknya seorang mukmin itu banyak memberi. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

اليد العليا خير من اليد السفلى واليد العليا هي المنفقة واليد السفلى هي السائلة

"Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan yang dibawah adalah orang yang meminta." (HR. Bukhari no.1429, Muslim no.1033)

Selain itu, sifat dermawan jika di dukung dengan tafaqquh fiddin, mengilmui agama dengan baik, sehingga terkumpul dua sifat yaitu alim dan juud (dermawan), akan dicapai kedudukan hamba Allah yang paling tinggi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إنَّما الدنيا لأربعة نفر: عبد رزقه الله مالاً وعلماً فهو يتقي فيه ربه ويصل فيه رحمه، ويعلم لله فيه حقاً فهذا بأفضل المنازل

"Dunia itu untuk 4 jenis hamba: Yang pertama, hamba yang diberikan rizqi oleh Allah serta kepahaman terhadap ilmu agama. Ia bertaqwa kepada Allah dalam menggunakan hartanya dan ia gunakan untuk menyambung silaturahim. Dan ia menyadari terdapat hak Allah pada hartanya. Maka inilah kedudukan hamba yang paling baik." (HR. Tirmidzi, no.2325, ia berkata: "Hasan shahih")

Keutamaan Bersedekah

Allah Subhanahu Wa Ta'ala benar-benar memuliakan orang-orang yang bersedekah. Ia menjanjikan banyak keutamaan dan balasan yang menakjubkan bagi orang-orang yang gemar bersedekah. Terdapat ratusan dalil yang menceritakan keberuntungan, keutamaan, kemuliaan orang-orang yang bersedekah. Ibnu Hajar Al Haitami mengumpulkan ratusan hadits mengenai keutamaan sedekah dalam sebuah kitab yang berjudul Al Inaafah Fimaa Ja'a Fis Shadaqah Wad Dhiyaafah, meskipun hampir sebagiannya perlu dicek keshahihannya. Banyak keutamaan ini seakan-akan seluruh kebaikan terkumpul dalam satu amalan ini, yaitu sedekah. Maka, sungguh mengherankan bagi orang-orang yang mengetahui dalil-dalil tersebut dan ia tidak terpanggil hatinya serta tidak tergerak tangannya untuk banyak bersedekah.

Diantara keutamaan bersedekah antara lain:

1. Sedekah dapat menghapus dosa.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار

"Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api." (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)

Diampuninya dosa dengan sebab sedekah di sini tentu saja harus disertai taubat atas dosa yang dilakukan. Tidak sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang sengaja bermaksiat, seperti korupsi, memakan riba, mencuri, berbuat curang, mengambil harta anak yatim, dan sebelum melakukan hal-hal ini ia sudah merencanakan untuk bersedekah setelahnya agar 'impas' tidak ada dosa. Yang demikian ini tidak dibenarkan karena termasuk dalam merasa aman dari makar Allah, yang merupakan dosa besar. Allah Ta'ala berfirman:

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

"Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (QS. Al A'raf: 99)

2. Orang yang bersedekah akan mendapatkan naungan di hari akhir.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu, hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, yaitu hari akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah:

رجل تصدق بصدقة فأخفاها، حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

"Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya." (HR. Bukhari no. 1421)

3. Sedekah memberi keberkahan pada harta.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ما نقصت صدقة من مال وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا

"Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya." (HR. Muslim, no. 2588)

Apa yang dimaksud hartanya tidak akan berkurang? Dalam Syarh Shahih Muslim, An Nawawi menjelaskan: "Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud disini mencakup 2 hal: Pertama, yaitu hartanya diberkahi dan dihindarkan dari bahaya. Maka pengurangan harta menjadi 'impas' tertutupi oleh berkah yang abstrak. Ini bisa dirasakan oleh indera dan kebiasaan. Kedua, jika secara dzatnya harta tersebut berkurang, maka pengurangan tersebut 'impas' tertutupi pahala yang didapat, dan pahala ini dilipatgandakan sampai berlipat-lipat banyaknya."

4. Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak." (Qs. Al Hadid: 18)

5. Terdapat pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah.

من أنفق زوجين في سبيل الله، نودي في الجنة يا عبد الله، هذا خير: فمن كان من أهل الصلاة دُعي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة

"Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: "Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan". Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah." (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)

6. Sedekah akan menjadi bukti keimanan seseorang.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

والصدقة برهان

"Sedekah adalah bukti." (HR. Muslim no.223)

An Nawawi menjelaskan: "Yaitu bukti kebenaran imannya. Oleh karena itu shadaqah dinamakan demikian karena merupakan bukti dari Shidqu Imanihi (kebenaran imannya)"

7. Sedekah dapat membebaskan dari siksa kubur.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إن الصدقة لتطفىء عن أهلها حر القبور

"Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur." (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873)

8. Sedekah dapat mencegah pedagang melakukan maksiat dalam jual-beli

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يا معشر التجار ! إن الشيطان والإثم يحضران البيع . فشوبوا بيعكم بالصدقة

"Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah." (HR. Tirmidzi no. 1208, ia berkata: "Hasan shahih")

9. Orang yang bersedekah merasakan dada yang lapang dan hati yang bahagia.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan permisalan yang bagus tentang orang yang dermawan dengan orang yang pelit:

مثل البخيل والمنفق ، كمثل رجلين ، عليهما جبتان من حديد ، من ثديهما إلى تراقيهما ، فأما المنفق : فلا ينفق إلا سبغت ، أو وفرت على جلده ، حتى تخفي بنانه ، وتعفو أثره . وأما البخيل : فلا يريد أن ينفق شيئا إلا لزقت كل حلقة مكانها ، فهو يوسعها ولا تتسع

"Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa." (HR. Bukhari no. 1443)

Dan hal ini tentu pernah kita buktikan sendiri bukan? Ada rasa senang, bangga, dada yang lapang setelah kita memberikan sedekah kepada orang lain yang membutuhkan.

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang mengabarkan tentang manfaat sedekah dan keutamaan orang yang bersedekah. Tidakkah hati kita terpanggil?

Kedermawanan Rasulullah di Bulan Ramadhan

Rasul kita shallallahu 'alaihi wa sallam, teladan terbaik bagi kita, beliau adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau lebih dahsyat lagi di bulan Ramadhan. Hal ini diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل ، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن ، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur'an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus." (HR. Bukhari, no.6)

Dari hadits di atas diketahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada dasarnya adalah seorang yang sangat dermawan. Ini juga ditegaskan oleh Anas bin Malik radhiallahu'anhu:

كان النبي صلى الله عليه وسلم أشجع الناس وأجود الناس

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling berani dan paling dermawan." (HR. Bukhari no.1033, Muslim no. 2307)

Namun bulan Ramadhan merupakan momen yang spesial sehingga beliau lebih dermawan lagi. Bahkan dalam hadits, kedermawanan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dikatakan melebihi angin yang berhembus. Diibaratkan demikian karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat ringan dan cepat dalam memberi, tanpa banyak berpikir, sebagaimana angin yang berhembus cepat. Dalam hadits juga angin diberi sifat 'mursalah' (berhembus), mengisyaratkan kedermawanan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki nilai manfaat yang besar, bukan asal memberi, serta terus-menerus sebagaimana angin yang baik dan bermanfaat adalah angin yang berhembus terus-menerus. Penjelasan ini disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari.

Oleh karena itu, kita yang mengaku meneladani beliau sudah selayaknya memiliki semangat yang sama. Yaitu semangat untuk bersedekah lebih sering, lebih banyak dan lebih bermanfaat di bulan Ramadhan, melebihi bulan-bulan lainnya.

Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan

Salah satu sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberi teladan untuk lebih bersemangat dalam bersedekah di bulan Ramadhan adalah karena bersedekah di bulan ini lebih dahsyat dibanding sedekah di bulan lainnya. Diantara keutamaan sedekah di bulan Ramadhan adalah:

1. Puasa digabungkan dengan sedekah dan shalat malam sama dengan jaminan surga.

Puasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang agung, bahkan pahala puasa tidak terbatas kelipatannya. Sebagaimana dikabarkan dalam sebuah hadits qudsi:

كل عمل ابن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف قال عز و جل : إلا الصيام فإنه لي و أنا الذي أجزي به

"Setiap amal manusia akan diganjar kebaikan semisalnya sampai 700 kali lipat. Allah Azza Wa Jalla berfirman: 'Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.'" (HR. Muslim no.1151)

Dan sedekah, telah kita ketahui keutamaannya. Kemudian shalat malam, juga merupakan ibadah yang agung, jika didirikan di bulan Ramadhan dapat menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه

"Orang yang shalat malam karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari no.37, 2009, Muslim, no. 759)

Ketiga amalan yang agung ini terkumpul di bulan Ramadhan dan jika semuanya dikerjakan balasannya adalah jaminan surga. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

إن في الجنة غرفا يرى ظاهرها من باطنها وباطنها من ظاهرها أعدها الله لمن ألان الكلام وأطعم الطعام وتابع الصيام وصلى بالليل والناس نيام

"Sesungguhnya di surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata baik, bersedekah makanan, berpuasa, dan shalat dikala kebanyakan manusia tidur." (HR. At Tirmidzi no.1984, Ibnu Hibban di Al Majruhin 1/317, dihasankan Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/47, dihasankan Al Albani di Shahih At Targhib, 946)

2. Mendapatkan tambahan pahala puasa dari orang lain.

Kita telah mengetahui betapa besarnya pahala puasa Ramadhan. Bayangkan jika kita bisa menambah pahala puasa kita dengan pahala puasa orang lain, maka pahala yang kita raih lebih berlipat lagi. Subhanallah! Dan ini bisa terjadi dengan sedekah, yaitu dengan memberikan hidangan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا

"Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya." (HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: "Hasan shahih")

Padahal hidangan berbuka puasa sudah cukup dengan tiga butir kurma atau bahkan hanya segelas air, sesuatu yang mudah dan murah untuk diberikan kepada orang lain.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفطر على رطبات قبل أن يصلي فإن لم تكن رطبات فعلى تمرات فإن لم تكن حسا حسوات من ماء

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma basah), jika tidak ada maka dengan beberapa tamr (kurma kering), jika tidak ada maka dengan beberapa teguk air." (HR. At Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi, 696)

Betapa Allah Ta'ala sangat pemurah kepada hamba-Nya dengan membuka kesempatan menuai pahala begitu lebarnya di bulan yang penuh berkah ini.

3. Bersedekah di bulan Ramadhan lebih dimudahkan.

Salah satu keutamaan bersedekah di bulan Ramadhan adalah bahwa di bulan mulia ini, setiap orang lebih dimudahkan untuk berbuat amalan kebaikan, termasuk sedekah. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya manusia mudah terpedaya godaan setan yang senantiasa mengajak manusia meninggalkan kebaikan, setan berkata:

فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

"Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus." (Qs. Al A'raf: 16)

Sehingga manusia enggan dan berat untuk beramal. Namun di bulan Ramadhan ini Allah mudahkan hamba-Nya untuk berbuat kebaikan, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة ، وغلقت أبواب النار ، وصفدت الشياطين

"Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu." (HR. Bukhari no.3277, Muslim no. 1079)

Dan pada realitanya kita melihat sendiri betapa suasana Ramadhan begitu berbedanya dengan bulan lain. Orang-orang bersemangat melakukan amalan kebaikan yang biasanya tidak ia lakukan di bulan-bulan lainnya. Subhanallah.

Adapun mengenai apa yang diyakini oleh sebagian orang, bahwa setiap amalan sunnah kebaikan di bulan Ramadhan diganjar pahala sebagaimana amalan wajib, dan amalan wajib diganjar dengan 70 kali lipat pahala ibadah wajib diluar bulan Ramadhan, keyakinan ini tidaklah benar. Karena yang mendasari keyakinan ini adalah hadits yang lemah, yaitu hadits:

يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ، جعل الله صيامه فريضة ، و قيام ليله تطوعا ، و من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ، و من أدى فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه ، و هو شهر الصبر و الصبر ثوابه الجنة ، و شهر المواساة ، و شهر يزاد فيه رزق المؤمن ، و من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ، و عتق رقبته من النار ، و كان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيء قالوا : يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر الصائم ، قال : يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على مذقة لبن ، أو تمرة ، أو شربة من ماء ، و من أشبع صائما سقاه الله من الحوض شربة لايظمأ حتى يدخل الجنة ، و هو شهر أوله رحمة و وسطه مغفرة و آخره عتق من النار ،

"Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (ibadah) di dalamnya lebih baik dari 1000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah (tathawwu'). Barangsiapa (pada bulan itu) mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran itu balasannya surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong, di mana di dalamnya rezki seorang Mukmin bertambah (ditambah). Barangsiapa (pada bulan itu) memberikan buka kepada seorang yang berpuasa, maka itu menjadi maghfirah (pengampunan) atas dosa-dosanya, penyelamatnya dari api neraka dan ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa (itu) sedikitpun." Kemudian para Sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan sebagai buka orang yang berpuasa." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan buka dari sebutir kurma, atau satu teguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka."

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Al Hakim, Ibnu Khuzaimah (no. 1887) dan Al Ash-habani dalam At Targhib (178). Hadits ini didhaifkan oleh para pakar hadits seperti Al Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib (2/115), juga oleh Dhiya Al Maqdisi di Sunan Al Hakim (3/400), bahkan dikatakan oleh Al Albani hadits ini Munkar, dalam Silsilah Adh Dhaifah (871).

Ringkasnya, walaupun tidak terdapat kelipatan pahala 70 kali lipat pahala ibadah wajib di luar bulan Ramadhan, pada asalnya setiap amal kebaikan, baik di luar maupun di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan oleh Allah 10 sampai 700 kali lipat. Berdasarkan hadits:

إن الله كتب الحسنات والسيئات ثم بين ذلك فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها فعملها كتبها الله له عنده عشر حسنات إلى سبع مائة ضعف إلى أضعاف كثيرة

"Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan." Kemudian Rasulullah menjelaskan: "Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna. Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya." (HR. Muslim no.1955)

Oleh karena itu, orang yang bersedekah di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya 10 sampai 700 kali lipat karena sedekah adalah amal kebaikan, kemudian berdasarkan Al A'raf ayat 16 khusus amalan sedekah dilipatkan-gandakan lagi sesuai kehendak Allah. Kemudian ditambah lagi mendapatkan berbagai keutamaan sedekah. Lalu jika ia mengiringi amalan sedekahnya dengan puasa dengan shalat malam, maka diberi baginya jaminan surga. Kemudian jika ia tidak terlupa untuk bersedekah memberi hidangan berbuka puasa bagi bagi orang yang berpuasa, maka pahala yang sudah dilipatgandakan tadi ditambah lagi dengan pahala orang yang diberi sedekah. Jika orang yang diberi hidangan berbuka puasa lebih dari satu maka pahala yang didapat lebih berlipat lagi. Subhanallah…

Ayo jangan tunda lagi…

Tingkatan Puasa

Tingkatan Puasa

Oleh Iffah Ismail

Di bulan suci ini, kaum Muslimin melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dengan menahan lapar serta haus dari berbagai macam makanan dan minuman yang ada di sekelilingnya. Seorang yang berpuasa juga wajib menahan diri dari hawa nafsu yang bisa membatalkan puasa.

Itulah jihad jasmani bagi Muslim yang sedang berpuasa. Di samping itu, ada pula jihad rohani, yakni meninggalkan semua bentuk maksiat. Maksiat yang berkaitan dengan mata, mulut, tangan, kaki, bahkan maksiat hati harus dihindari.Jika tidak, hanya kelaparan dan kehausan yang diperoleh selama berpuasa, tanpa mendapatkan pahala yang sangat agung. Orang yang berpuasa kemudian melakukan maksiat, ia harus meng->qadha-nya di lain hari.

Imam Al-Ghazali membagi puasa ke dalam tiga tingkatan. Pertama, puasa tingkat umum, yaitu menahan mulut dari berbagai makanan dan minuman serta menahan farji (kemaluan) dari berhubungan suami istri (jima').Kedua, puasa tingkat khusus, yakni menahan anggota tubuh dari segala macam maksiat. Kaki hendaknya tidak berjalan ke tempat maksiat, tangan dijaga agar tidak berbuat maksiat, menjaga mulut agar tidak mengucapkan kata-kata yang dilarang Allah SWT, baik dalam bentuk mengumpat, berbohong, menggunjing, atau lainnya.

Menjaga telinga dari mendengarkan hal-hal yang terlarang. Begitupun menjaga mata dari melihat hal-hal yang tidak baik.Ketiga, puasa tingkat khusus, yaitu menjaga hati dari berpikir selain Allah SWT dan hari akhir, menghindari hal-hal rendah di mata Allah SWT, termasuk tentang urusan dunia, kecuali yang berhubungan dengan akhirat.

Pada tingkatan puasa tertinggi ini, tidak hanya menjaga mulut dari makanan dan minuman atau menjaga farji dari berhubungan seksual. Tidak cukup pula hanya dengan menjaga organ tubuh dari perbuatan maksiat, tapi juga menjaga hati dan pikiran.Tidak banyak yang berhasil mencapai tingkatan puasa ini, hanya orang-orang tertentu yang memiliki derajat kesalehan yang tinggi.

Bila hanya mencapai tingkat puasa yang pertama, seseorang tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali rasa haus dan lapar. Orang yang berpuasa pada tingkat pertama, hanya menggugurkan kewajiban atau dosa akibat meninggalkan puasa. Walaupun berat melakukan puasa tingkat ketiga, tetapi itulah yang dapat meningkatkan kualitas puasa. Allah SWT mewajibkan umat-Nya untuk berpuasa agar menjadi orang-orang yang bertakwa, menjalankan perintah Allah SWT, dan meninggalkan larangan-Nya.

Sederhana Itu Indah

Sederhana Itu Indah

Oleh Toto Tasmara

Salah satu hikmah Ramadhan adalah melatih diri untuk hidup sederhana, menikmati hidup dengan empati atau merasakan derita orang lain. Sungguh kerinduan apa gerangan yang paling didamba, kecuali rindu mereguk uswatun hasanah , meneladani hidup sederhana sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

Dengan hati bergetar penuh empati, beliau penuhi undangan para dhuafa. Dengan getaran cinta, ia belai rambut anak-anak yatim. Sikapnya yang welas asih pada semua makhluk, telah diabadikan para penempuh jalan. Ketika Allah SWT menawarkan Gunung Uhud digubah menjadi emas permata, dengan hati lembut Rasulullah SAW bersabda, ''Allahumma Ya Allah , jadikanlah hamba lapar sehari dan kenyang sehari. Ketika lapar hamba dapat bersabar dan ketika kenyang hamba bersyukur kepada-Mu.''

Langit seakan bergetar, angin dan samudera terdiam bisu. Betapa manusia pilihan yang di tangan kanannya tergenggam kekuatan matahari, di tangan kirinya terpancar kelembutan rembulan, hanya merintihkan doa permohonan seperti itu? Walau kerajaan dunia beserta kemewahannya bersimpuh, ia tak peduli.

Al Qamah RA memberi kesaksian bahwa Rasulullah SAW tidur beralaskan tikar dari daun kurma kering. Ketika bangun, goresan tikar itu membekas di wajahnya. Kami berkata, ''Wahai Rasulullah, apabila engkau mau, kami akan membuatkan untukmu tempat peraduan.''Kemudian Rasulullah SAW bersabda, ''Ada apa dengan dunia? Di dunia ini aku bagai seorang pengembara atau musafir yang berteduh sejenak di bawah pohon, kemudian berlalu meninggalkannya.''

Jiwa merintih, mata nanar memandang sekitar. Betapa  uswah Nubuwah tak lagi menyentuh hati. Hidup hanya menghamba dunia, akalnya mati, di gelap buta mata hati. Terpenjara ambisi nafsu tirani. Terpuruk dalam bayangan pepohonan fana, bayangan popularitas, harta dan jabatan, enggan meneruskan perjalanan baka.

Masihkah terdengar pesan indah Rasulullah SAW, ''Sesungguhnya umatku akan selalu dalam kemenangan, selama mereka mau makan setelah lapar, berhenti sebelum kenyang.''
Sabda Rasulullah SAW mengingatkan agar pelatihan spiritual selama Ramadhan menjadikan kita mampu menguasai diri lahir dan batin. Hidup sederhana bukanlah miskin, belajar lapar bukanlah kelaparan.

Bagi orang yang merindukan Rasul SAW, ia merasakan kebahagiaan luar biasa bila mampu meneladani sikap hidup Rasulullah SAW. Menampilkan manusia istiqamah. Manusia tangguh memiliki  ghirah . Kaya pengalaman, tapi sederhana dalam penampilan. Ia jadikan sabar menjadi bentengnya. Takwa pakaiannya. Menyantuni kaum dhuafa syiarnya. Zikir hiasan hidupnya, dan menggapai ridha Ilahi tujuannya. Kita adalah umat raksasa yang pernah mengukir peradaban. Umat yang dicelup dengan  sibhgah Ilahi. Menebar iman dengan cinta. Mengukir amal penuh prestasi, menjadikan hidup sarat arti.

Nikmatnya Menolak Maksiat

Nikmatnya Menolak Maksiat

By D Zawawi Imron
Dipandang dari salah satu segi, barangkali tak enak jadi orang Islam karena banyaknya larangan. Berbuat ini haram, melakukan itu dosa, melangkah begini tidak boleh. Bukankah manusia punya aneka keinginan? Bukankah main perempuan itu enak, berjudi kalau menang membawa keuntungan berlimpah? Menang judi setengah malam bisa lebih banyak dari bekerja satu bulan. Korupsi hanya dengan membubuhkan sepuluh tanda tangan mungkin bisa merengkuh uang tiga kali gaji.

Tapi, kenapa ada larangan? Manusia, menurut Allah, adalah makhluk ciptaan-Nya yang sangat mulia (QS. 95:4). Kemuliaan ditentukan oleh ketakwaan dan akhlak. Jika takwa tidak dimiliki dan akhlak tidak dipunyai, tak akan pernah kemuliaan hinggap menjadi harkat dan predikat seseorang. Minusnya takwa dan akhlak akan membuat seseorang turun derajatnya menjadi hina (QS. 95:5).

Kalau kita renungkan, Allah membuat larangan haram karena kalau larangan itu dilanggar, itu akan merugikan manusia dan kemanusiaan. Atau setidak-tidaknya, apa yang dilarang Allah itu lebih banyak merugikan dari menguntungkan. Seandainya zina dibolehkan, ini memang enak bagi yang melakukan zina itu. Tapi, anak yang lahir nantinya tak 'kan jelas siapa bapaknya. Otomatis tidak akan ada tanggung jawab seorang bapak. Dengan pernikahan, anak yang lahir akan lebih terjamin hidup dan masa depannya. Begitu pula judi, mengundi nasib yang mengakibatkan ada yang untung mendadak dan ada yang rugi seketika. Ada yang tertawa dan ada yang hatinya gundah karena kalah. Merugikan orang lain jelas melukai kemanusiaan. Di samping dalam perjudian itu manusia menjadi kurang menghargai kerja keras dan kucuran keringat. Padahal, hidup adalah untuk berbuat, beramal. Kemudian, saya persilakan Anda merenungkan semua larangan Allah yang lain. Insya Allah lambat laun akan terasa bahwa semua yang dilarang Allah itu merugikan manusia.

Keinginan untuk melanggar larangan Allah tidak lain merupakan keinginan hawa nafsu, yang kalau dituruti tentu dirasakan enaknya. Tapi Allah tidak menutup mutlak seorang Muslim untuk merasakan enak. Jika Allah melarang zina, menyalurkan nafsu seksual tetap dibolehkan, tapi melalui jalur pernikahan. Dengan nikah, kepuasan seksual terpenuhi tanpa harus meruntuhkan kemuliaan. Itulah karunia Allah kepada manusia. Kiranya, kalau kita lanjutkan pemikiran kita, kalau Allah melarang berbohong, itu karena Allah sangat menghargai lisan (mulut) manusia; kalau Allah melarang memfitnah, itu karena fitnah bisa merusak tatanan kehidupan dan bisa menyulut permusuhan; jika Allah melarang korupsi, itu karena korupsi bisa merugikan negara dan bangsa.

Maka, sungguh beruntung orang yang hatinya diusahakan untuk selalu berzikir (ingat kepada Allah), dengan ibadah yang khusyuk, dengan persaudaraan (ukhuwah) yang tumbuh dari iman, dan dengan akhlak yang indah karena ingin selalu bertauladan kepada hidup Muhammad Rasulullah. Dengan pendekatan itu, menghindari larangan Allah akan menumbuhkan keindahan akhlak yang sangat terpuji. Menghindari larangan Allah seyogyanya disertai rasa taqarrub (pendekatan hati kepada Allah) agar ketika maksud memenuhi hawa nafsu tidak kesampaian, itu tidak menimbulkan rasa kecewa. Justru dengan taqarrub, menolak ajakan hawa nafsu untuk melanggar larangan Allah akan melahirkan nikmat rohani dan rasa bahagia yang tak terperi.

Berbisnis dengan Allah

Berbisnis dengan Allah

Oleh Fauzi Bahreisy

Seiring datangnya bulan Ramadhan, tiba saatnya bagi kaum Muslimin untuk meningkatkan dan mengoptimalkan transaksi bisnis dengan Allah SWT. Tentu transaksi itu bukan dalam bentuk jual beli benda atau barang, tapi amal saleh dan aktivitas ibadah.

''Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan bisnis yang tidak akan merugi.'' (QS Fathir [35]: 29).

Allah SWT memosisikan amal ibadah sebagai bentuk transaksi bisnis. Bahkan, digambarkan sebagai bisnis yang tak akan merugi. Jika berbisnis dengan manusia, adakalanya membawa keuntungan dan kerugian. Namun, berbisnis dengan Allah SWT selalu membawa keberuntungan.

Itu tak aneh, sebab Allah SWT adalah Zat Yang Mahapemurah, Mahakaya, Mahakasih, dan tak pernah ingkar janji. Ketika manusia bertransaksi dengan Allah SWT, tidak akan ada kecurangan dan penipuan, tapi balasan berlipat dan ganjaran tak terukur dengan harta dunia.Amal yang tidak seberapa dibalas surga yang tak terbeli dengan dunia dan seisinya. ''Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.'' (QS Attaubah [9]: 111).

Sungguh sebuah bisnis yang sangat menarik dan memikat. Manusia sebagai penjual dan Allah SWT sebagai 'pembeli'. Hanya saja, setiap pembeli tentu tak akan sembarang memilih barang yang akan dibeli.Di antara sekian banyak yang ditawarkan, hanyalah barang-barang yang berkualitas dan bermutu baik yang akan dibeli. Demikian pula dengan Allah SWT.

Tak semua amal ibadah secara otomatis diterima-Nya. Apalagi jika amal itu dikerjakan asal-asalan dan serampangan. ''Dia yang menjadikan mati dan hidup untuk menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.'' (QS Almulk [67]: 2).Jadi, di antara sekian banyak amal manusia, hanya amal berkualitas yang dipilih dan diterima Allah SWT. Standar penilaian dan penerimaan bukan sekadar banyaknya jumlah atau kuantitas, tapi yang lebih penting mutu dan kualitas.

Karenanya, tidak heran jika Rasulullah SAW bersabda, ''Bisa jadi orang yang berpuasa tidak mendapat apa-apa kecuali lapar saja. Serta bisa jadi orang yang melakukan qiyam

Dari sini Fudhayl ibn Iyadh memberikan satu rambu dan penjelasan. Agar amal ibadah manusia berkualitas dan diterima Allah SWT, amal itu harus dikerjakan dengan penuh keikhlasan dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Itulah dua syarat yang harus ada dalam seluruh amal.

Kuantitas vs Kualitas

Kuantitas vs Kualitas

Oleh:  Ahmad Syafii Maarif
Berapa jumlah umat Islam sejagat tahun 2009 ini? Data demografis berbeda dalam memberikan informasi. Selama ini kita membaca bahwa jumlah itu bergerak antara 1,2 s.d. 1,3 miliar. Tetapi, sumber Muslim yang terbaru menunjukkan bahwa jumlah umat Islam telah mencapai angka 1,82 miliar, sementara sumber CIA (Central Intelligence Agency) Amerika mencatat jumlah 1,634,948,648 dari total penduduk dunia 6,780,584,602. Dengan rata-rata pertumbuhan penduduk Muslim 2,9 persen dibandingkan angka rata-rata pertambahan penduduk dunia 2,3 persen per tahun, Islam adalah agama yang tercepat mendapatkan penganut baru akibat kelahiran plus pendatang baru yang juga tidak sedikit jumlahnya. Sekarang di hampir semua negara Uni Eropa, Islam sudah berada pada posisi kedua sesudah agama Kristen. Jika kecenderungan ini berjalan stabil, pada tahun 2020 satu dari 10 warga Eropa adalah Muslim.

Angka-angka pertumbuhan spektakuler ini bisa pula dilihat dalam perjalanan waktu sebagai berikut. Pada tahun 1900, perbandingan antara umat Kristen dan Muslim adalah 26.9 persen:12.4 persen; tahun 1980 30 persen:16.5 persen; tahun 2000 29.9 persen:19.2 persen; dan diproyeksikan di tahun 2030 akan berubah menjadi 25 persen Kristen dan 30 persen Muslim. Mereka bertebaran pada 183 negara (data tahun 2009). Sampai saat ini, rekor penduduk Muslim terbesar masih terpegang di tangan Indonesia, yaitu sekitar 88.22 persen dari total penduduk sekitar 235 juta. Yang ajaib adalah fenomena pasca-Tragedi 9/11/2001, di saat Islam diidentikkan orang dengan terorisme, keingintahuan warga Barat terhadap agama ini justru meningkat tajam. Salah satu indikatornya menurut catatan Karen Armstrong pada 2007 saja karyanya Understanding Islam telah terjual sebanyak 250 ribu kopi di kawasan Pantai Timur Amerika Serikat. Kita belum punya informasi di kawasan lain, baik di belahan bumi Barat ataupun di belahan bumi Timur.

Jika angka-angka di atas menunjukkan kebenaran, umat Islam yang bangga berpikir serbakuantitatif, apa lagi yang harus dirisaukan? Tidak ada! Jumlah umat semakin meng- garadak (Minang: banyak sekali). Dengan angka kelahiran yang cukup tinggi per tahun, pertambahan penduduk Muslim sedunia seperti sudah tidak dapat dibendung. Saat ini, ke negara mana pun anda mengembara, hampir dapat dipastikan bahwa di sana akan ada saudara seagama yang tinggal, menetap, atau sementara. Tetapi, jika kita mau berpikir jauh ke depan secara perhitungan, kebanggaan jumlah kuantitatif itu wajib secepatnya diiringi oleh kebanggaan kualitatif. Artinya, kualitas umat Islam, dalam posisi sekarang, dari sisi mana pun anda memandangnya, masih jauh di bawah standar. Kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan perpecahan adalah fenomena lain yang sesungguhnya lebih patut benar dicemaskan. Jumlah besar minus kualitas, jika mau dibanggakan juga, itu semua adalah kebanggaan semu yang membebani. Ayat-ayat ilmu dalam Alquran telah lama bernasib sebagai yatim piatu dalam kehidupan kita sampai batas-batas yang jauh.

Tengoklah kenyataan ini. Umat Islam yang katanya percaya pada lima ayat pertama dalam surat al-Alaq sebagai wahyu pertama yang diturunkan Allah via Jibril kepada Nabi Muhammad berupa perintah untuk membaca, akan terasa sangat ironis dan di luar nalar mengapa mereka telah tersungkur dan sempoyongan dalam bilangan abad dihimpit kebodohan dan kemiskinan? Kaum Muslimah yang jumlahnya mungkin melebihi kaum pria, di sebagian dunia Islam, jangankan diberi pendidikan agar menjadi cerdas, justru sampai hari ini masih ada yang dipasung di rumah di lingkungan 'rahmat' buta aksara, yang menghina martabat mereka. Bukankah lima ayat di atas yang diawali dengan perintah 'membaca' ditambah dengan puluhan ayat yang lain sebenarnya adalah deklarasi tentang mustahaknya penguasaan ilmu pengetahuan untuk seluruh umat Islam? Sudah berapa lama umat ini hidup dalam kultur buta huruf yang sangat memprihatinkan? Dari sisi moral pun, kita bukanlah yang terbaik di antara umat manusia sekarang. Berbilang musim sudah kita telantarkan Alquran, mungkin tanpa sadar, sedangkan pertambahan jumlah umat semakin berjibun juga dari detik ke detik, sebagaimana ditunjukkan angka-angka di atas. Membiarkan keadaan semacam ini berlangsung lama, sama artinya kita telah mengkhianati seluruh perintah suci Alquran yang secara formal kita agungkan

KIAT MERAIH PERCIKAN RAHMAT

KIAT MERAIH PERCIKAN RAHMAT
Bulan ramadhan adalah bulan dimana Allah menabur dan menebar rahmat-Nya buat mereka yang berpuasa. Bulan dimana Allah menitipkan pesan pesan cinta-Nya buat kemanusiaan. Sebagaimana sabda Nabi :

" Ramadhan adalan bulan yang pada awalnya Allah cucurkan rahmat, pada pertengahannya Allah limpahkan ampunan dan pada penghujungnya Allah berikan jaminan terbebas dari api neraka "
( HR. Ibnu Hibban ).

Kita sangat membutuhkan rahmat ini, kerena memang kehidupan ini berjalan dengan alur rahmat-Nya, dalam kehidupan pribadi kita butuh rahmat Allah berupa ni'mat ni'mat yang terhampar, kita butuh udara, kita butuh sehat badan, kita butuh rizki yang luas, kita ingin semua kebutuhan kita terpenuhi, itu semua akan terwujud hanya dengan rahmat-Nya semata. Sebagai keluarga, kita ingin rumah tangga yang sakinah, kita ingin pasangan hidup yang shaleh/hah, kita berharap punya keturunan yang qurrota a'yun (sejuk mata memandang), lalu dengan cara apa kita mewujudkannya ? kita sering mendengar istilah "mawaddah warrohmah", yaa kita rahmat untuk mewujudkan semua harapan itu. Sebagai anggota masyarakat dan warga negara kita butuh rahmat Allah untuk melimpahkan kesejahteraan kita sebagai anak bangsa, kita butuh stabiltas ekonomi, unsur unsur yang menunjangnya seperti pertanian, kita butuh tanah yang subur, petani butuh hujan, panen yang berhasil. Kita butuh stabilitas keamanan, kita butuh ketersediaan lapangan pekerjaan, penegakkan keadilan, suasana tenang dan damai, dll….. sahabatku, semua itu tidak akan terwujud jika tanpa adanya rahmat dari Allah swt. Bahkan di akhirat nanti untuk bisa masuk kedalam surganya Allah diperlukan tiket utama, apa itu ? RAHMAT ALLAH… sebagaimana Nabi menjelaskan kepada para sahabatnya : "kalian tidak akan masuk surga dengan banyaknya amal kalian…" sahabat bertanya : "engkau juga ya Rasuul ..? ", Nabi menjawab : " yaa, aku juga demikian. (kita semua tidak akan masuk surga) kecuali hanya dengan RAHMAT Allah swt."

Bulan Ramadhan inilah momentum yang sangat tepat untuk meraih percikan rahmat yang Allah turunkan berlimpah ruah ini. Lalu bagaimana jalan yang harus kita tempuh untuk meraih rahmat Allah itu…? Allah dan Rasul-Nya memberikan tuntunan tentang Kiat mencapai dan menggapai rahmat Allah itu, diantaranya :


1. jika ingin meraih cinta (rahmat Allah) maka terlebih cintailah sesama. Nabi bersabda :

" Allah yang maha penabur rahmat (Pengasih) itu akan mengasihi hamba hamba-Nya yang Kinasih, maka sayangilah makhluq yang ada dibumi agar yang dilangit
sayang pula kepadamu ".

2. kalau ingin mendapat rahmat maka sambung tali rahmat-Nya, apa itu tali rahmat ? " Shilaturrahim ". Sabda Nabi :

" (Rahim) Kasih sayang itu tergantung di 'arsy. ( seakan akan ia berkata ) barang siapa yang menyambungku maka Allah akan menyambungnya dan barangsiapa memutuskanku maka Allah akan memutuskannya "
( HR. Bukhory Muslim ).

3. kiat meraih rahmat adalah Kedermawanan. sikap kedermawanan merupakan langkah yang paling kongkrit untuk meraih cinta Allah, terlebih lagi dibulan Ramadhan ini. Allah sangat sangat dekat kepada mereka yang memiliki sifat pemurah ini :
َالسَّخِيُّ قرِيْبٌ مِن اللهِ قَرِيْبٌ مِنَ النَاسِ قَرِيْبٌ مِن الْجَنَّةِ وَ بعِيْدٌ مِنَ النَارِ
" Orang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga dan jauh dari neraka " ( HR. ATTirmidzi )

4. kiat lain untuk meraih cinta sang Kekasih adalah dengan seringnya membaca surat cinta-Nya. Adapun surat cinta yang Allah kirimkan buat kita adalah al quranul Kariim. Mu'jizat terbesar, panduan keselamatan, sistem nilai dan aturan hidup. Bulan Ramadhan juga disebut sebagai "SYAHRUL QURAAN" bulan diturunkannya alquraan. Jadi sudah sepatutnyalah jika ramadhan kita jadikan sebagai waktu untuk kita mendekat dan mencoba lebih berakrab diri dengan alquran, baik dengan caranya membacanya, bagi yang belum bisa membaca mari tumbuhkan kesadaran untuk mau belajar mengenal alquran, lalu mencoba memahami kandungannya, lantas menghayatinya dan untuk kemudian mengamalkannya… PETUNJUK HIDUP SUKSES itu sudah ada dirumah kita masing masing, tinggal kita sendiri yang menentukan pilihan mau memanfaatkannya atau tidak, atau kita malah lebih percaya dengan PETUNJUK HIDUP SUKSES karangan manusia lainnya…??? Wallahu a'lam.
5. TERUS BERDO'A agar kita termasuk hamba-Nya yang mendapatkan rahmat… ROBBIGHFIR LII WARHAMNII…. YA ARHAMHAMARROOHIMIIN IRHAMNAA…

Semoga catatan ringan ini membawa manfa'at buat kita memanfaatkan momentum ramadhan kali ini dengan sebaik baiknya… semoga Allah memberkahi dan merahmati kita semua… Aamiin yaa Mujiibas saa-iliin… Salaaam…

Melihat dan Menumpas Setan

Melihat dan Menumpas Setan

By La Ode Ahmad
Dalam sebuah kisah, seorang lelaki dari bani Israil berpuasa selama 70 tahun. Setiap tahun ia hanya berbuka tujuh hari. Selama berpuasa, dia selalu bermohon kepada Allah agar diberi kemampuan melihat setan yang senantiasa menggoda manusia. Meskipun doa itu dipanjatkan terus menerus, namun Allah tetap menangguhkannya. Karena merasa sudah terlalu lama permohonannya tidak dikabulkan, suatu ketika lelaki itu bergumam, ''seandainya aku dapat mengetahui berbagai kesalahan serta doa yang aku perbuat kepada Tuhanku, niscaya yang demikian itu lebih baik daripada perkara yang aku minta selama ini''.

Sesaat kemudian, atas perintah Allah, malaikat datang menemui lelaki itu dan berkata, ''sesungguhnya Allah telah mengutusku untuk menemui kamu. Dia (Allah) berkata bahwasannya pernyataan yang baru saja kamu ucapkan tadi lebih disenangi oleh-Nya daripada ibadah (puasa) yang telah lama kamu jalankan itu''. Si pembawa pesan itupun menghilang.

Tak lama setelah malaikat pergi, lelaki dari bani Israil tadi dianugerahi oleh Allah kemampuan melihat setan sehingga saat itu langsung dapat menyaksikan rombongan setan yang mengepung manusia di bumi. Itulah kisah yang bersumber dari Wahab bin Munabbih.

Setan memang tidak akan pernah berhenti mengepung dan menggoda manusia. Mereka datang dari berbagai penjuru; dari muka dan dari belakang, dari kanan dan dari kiri (QS. 7:17), dan itu akan berlangsung terus hingga kiamat tiba (QS. 17:62). Dalam memperkuat godaan mereka untuk menyesatkan manusia, para setan dibantu teman-temannya (orang-orang kafir dan fasik) tanpa kenal lelah (QS. 7:202).

Dalam konteks kekinian, wujud setan semakin beragam. Kekuatan godaannya pun makin dahsyat. Di era globalisasi informasi, setan bisa berupa paket-paket informasi tertentu, atau kemasan acara tertentu. Di tengah semaraknya produk-produk film, terutama film impor, setan bisa menyusup sebagai pemeran atau pemain. Setan juga dapat menyelinap dalam botol minuman-minuman tertentu. Dalam tataran organisatoris, kumpulan setan bisa bergabung dengan OTB (organisasi tanpa bentuk). Dan masih sangat banyak lagi yang lain, yang seluruhnya bisa disimpulkan, setan adalah tempatnya kesalahan, atau sebaliknya, kesalahan/kebatilan adalah tempatnya setan.

Memohon kepada Allah agar manusia diberi kemampuan ''melihat berbagai wujud setan'' terasa kian relevan di era ketika batas-batas antara ''setan'' dengan ''yang bukan setan'' kian pudar. Padahal batas tegas itu sangat diperlukan agar fokus sasaran perlawanan manusia tidak meleset. Sangat ironis bila yang dilawan justru hal-hal yang seharusnya didukung. Sebaliknya, tak kalah ironisnya jika yang didukung adalah perkara-perkara yang semestinya diprotes.

Yang menarik dari kisah di awal adalah, permohonan untuk dapat ''melihat setan'' dikabulkan setelah sang pemohon tergerak hatinya untuk mengetahui terlebih dahulu berbagai kesalahan atau dosa yang pernah diperbuatnya. Mampu melihat atau mengetahui kesalahan/dosa berarti mampu ''melihat setan''. Maka alangkah indahnya bila setiap orang mampu ''melihat setan''.

''Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya'' (QS. 7:201). Bila dengan bertakwa dan mengingat Allah, manusia bisa ''melihat setan'', maka hanya dengan bertakwa dan mengingat Allah itu pula satu-satunya cara untuk melawan segala macam bentuk setan yang dilihat, termasuk setan yang belum sempat dilihat. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Bulan ibadah

Bulan ibadah

By Republika

Ramadhan memang bulan ibadah. Porsi ibadah biasanya akan bertambah. Tetapi Ramadhan juga bulan segala kegiatan dan kerja keras. Tak ada alasan buat umat Islam untuk berleha-leha di siang hari karena berpuasa. Kesibukan kerja di siang hari malah membuat hari terasa pendek. Kita perlu menengok ke dalam sejarah, melihat bagaimana kesibukan Rasulullah saw pada bulan-bulan ini.

Dalam melaksanakan ibadah Rasulullah lebih mengkhususkan diri pada bulan puasa, sehingga seolah ia tak lagi mengenal dunia, dengan memperbanyak ibadah: melakukan salat, membaca Alquran, zikir, bersedekah, dan pada malam kesepuluh terakhir beri'tikaf di masjid, dan menganjurkan kita memperbanyak ibadah.

Sungguh pun begitu tidak berarti Nabi lalu bersantai-santai dan melalaikan tugas-tugas duniawi. Justru peristiwa-peristiwa besar banyak terjadi pada bulan Ramadhan, seperti ditulis Ali Hasani al-Kharbutli, al-Rasul fi Ramadhan. Juga dalam buku-buku sejarah, tafsir, dan hadis, dapat kita baca betapa sibuknya Rasulullah.

Bagi Rasulullah bulan puasa adalah bulan jihad, bulan perjuangan. Sejak tahun pertama Hijri dalam bulan puasa beberapa ekspedisi militer dikerahkan untuk menghadapi musuh, kaum musyrik Mekah yang selalu datang mengganggu dengan serangan kecil-kecilan pada mulanya, dan kemudian sampai di puncaknya pada bulan Ramadhan tahun ke-2 Hijri dengan pecahnya perang Badr. Tetapi justru inilah kemenangan Islam yang pertama menghadapi kaum musyrik Quraisy, ''Allah telah menolong kamu di Badr ketika kamu dalam keadaan lemah. Maka bertakwalah kepada Allah, dengan demikian kamu bersyukur'' (Q. S. 3: 123).

Setelah itu, pada tahun-tahun berikutnya, terjadi pula perang Uhud dan perang Parit, sedikit sebelum dan sesudah bulan puasa, sampai akhirnya pada Ramadhan tahun ke-8, Mekah sebagai markas besar musyrik Quraisy dapat dibebaskan, berhala-berhala dihancurkan dan tauhid ditegakkan. Dan pada Ramadhan tahun berikutnya Rasul kembali dari ekspedisi Tabuk dengan membawa kemenangan pula.

Itulah kemenangan-kemenangan Ramadhan yang terbesar, disusul dengan kedatangan utusan Banu Saqif dari Taif -- sebagai benteng terakhir kaum pagan yang paling keras -- ke Medinah, menyatakan pengakuan dan kesetiaan penduduk Taif kepada Rasulullah. Itulah jatuhnya benteng terakhir kaum penyembah berhala di jazirah Arab.

Dalam menghadapi peristiwa-peristiwa besar seperti perang Badr dan pembebasan Mekah dalam bulan puasa itu adakalanya Rasulullah dan sahabat-sahabat terpaksa membatalkan puasa.

Dalam bulan ini pula banyak peristiwa besar lain terjadi. Muhammad menerima tugas dan diutus Allah sebagai rasul-Nya terjadi pada bulan Ramadhan, yang dengan sendirinya juga turunnya wahyu pertama. Ramadhan, bulan penuh kegiatan, bulan kemenangan rohani dan jasmani.

Tujuan Puasa

Tujuan Puasa
Tujuan puasa adalah mencapai derajat takwa. Ini dikatakan dalam sebuah ayat Al-Quran yang memerintahkan orang yang beriman untuk berpuasa (Q., 2: 183).

Istilah takwa sering diartikan sebagai "takut kepada Allah". Penerjemahan ini tentu saja benar, tetapi ada segi lain yang sangat penting, yang juga termuat dalam makna terdalam kata takwa, yaitu segi kesadaran akan yang Ilahi (rabbanîyah), yaitu pengalaman dan perasaan akan kehadiran yang Ilahi, yang digambarkan dalam banyak ayat Al-Quran; di antaranya ada yang menegaskan bahwa Milik Allah timur dan barat: ke mana pun kamu berpaling, di situlah kehadiran Allah… (Q., 2: 115).

Pengalaman akan kehadiran Allah inilah yang menggambarkan fenomena mengenai orang beriman, yang …apabila disebut nama Allah, tergetar hatinya dan bila ayat-ayat-Nya dibacakan kepada mereka, bertambah kuat keimanannya…(Q., 8: 2).

Orang beriman adalah orang-orang yang konsisten berpegang teguh pada agama. Mereka dijanjikan oleh Allah kebahagiaan hidup…mereka yang berkata "Tuhan kami adalah Allah," kemudian tetap berpegang teguh (pada agama), mereka tak perlu khawatir, tak perlu sedih (Q., 46: 13). Al-Quran menyebut, inilah orang-orang yang menjadikan takwa–pengalaman akan kehadiran Yang Ilahi itu–dan keridaan Allah sebagai asas hidup mereka. Allah mengatakan, Manakah yang terbaik? Mereka yang mendirikan bangunannya atas dasar takwa dan keridlaan Allah, ataukah yang mendirikan bangunannya di atas tanah pasir di tepi jurang lalu runtuh bersamanya ke dalam api neraka… (Q., 9: 109).

Dalam jangka panjang tujuan puasa adalah menjadikan takwa ini sebagai asas dan pandangan hidup yang benar. Ayat di atas menegaskan bahwa asas hidup yang selain takwa dan keridaan Allah itu adalah salah, diibaratkan dengan orang yang "mendirikan bangunan di atas tanah pasir di tepi jurang lalu runtuh bersamanya ke dalam api neraka".

Tentang takwa ini, menarik melihat bahwa takwa adalah kesejajaran "iman" dan "tali hubungan dengan Allah"–yang merupakan dimensi vertikal hidup yang benar. Karena itu pengertian takwa bersifat ruhaniah, yang masih harus diterjemahkan dalam segi-segi konsekuensial yang mengikutinya (misalnya dalam kaitan iman dan amal-saleh, yang disimbolkan dalam "takbirat al-ihram" dalam shalat yang bersegi keruhanian, dan "salâm" yang bersegi komitmen sosial).

Dalam Al-Quran s. Al-Baqarah/2 ayat 2-4, digambarkan lima ciri dari orang yang bertakwa: yaitu (1) mereka yang beriman kepada yang gaib; (2) mendirikan shalat; (3) menafkahkan sebagian rezeki; (3) beriman kepada wahyu yang telah Allah sampaikan (Al-Quran) dan wahyu sebelum Al-Quran; dan (5) mereka yang yakin akan Hari Akhirat.

Kelima ciri takwa ini adalah an sich ciri dari orang yang beriman. Dari kelima unsur yang menjadi ciri ketakwaan itu, unsur pertama, beriman kepada yang gaib, mendapatkan peneguhan utama dalam ibadah puasa, karena puasa adalah ibadah yang paling pribadi, personal, private, tanpa kemung¬kinan bagi orang lain sepenuhnya melihat, mengetahui, apalagi menilainya. Seperti dikatakan dalam sebuah Hadis Qudsi, yang menuturkan firman Allah, "…Puasa adalah untuk-Ku semata, Akulah yang menanggung pahalanya". Jadi, seperti juga takwa yang bersifat ruhani, puasa itu harus diawali atau berpangkal pada ketulusan niat yang juga private, sehingga dikatakan oleh Sakandari dalam kitab Al-Hikâm, bahwa amal perbuatan adalah bentuk lahiriah yang tampak mata, dan ruhnya ialah adanya rahasia keikhlasan (yang amat private) di dalamnya.

Kembali ke takwa, maka pangkal takwa adalah keimanan yang mendalam kepada Allah dan kesadaran tanpa ragu sama sekali akan kehadiran-Nya dalam hidup dan segala kegiatan manusia. Puasa sebagai ibadah yang sangat private merupakan latihan dan sekaligus peragaan kesadaran ketuhanan: peragaan akan pengalaman kehadiran Yang Ilahi. Inilah tujuan pokok puasa yang kemudian melimpah kepada nilai-nilai hidup yang menjadi konsekuensinya, yang menjadikan adanya hikmah kemanusiaan dari ibadah puasa ini, sebuah hikmah yang dilatih dengan "menahan diri", makna literal dari shiyâm atau shaum atau puasa itu sendiri.

Maka dengan menanggung derita sementara ini (dengan menahan diri secara jasmani, nafsani dan ruhani) ada proses penyucian yang akan memperkuat segi-segi kelemahan manusiawi (apalagi "manusia adalah pembuat kesalahan" erare humanum est, begitu kata pepatah Latin). Kelemahan manusiawi yang amat mencolok adalah kecenderungannya mengambil hal-hal jangka pendek, karena daya tariknya, dan lengah terhadap akibat buruk jangka panjang (lihat Q., 75: 20). Terhadap kelemahan manusiawi ini, Tafsir Yusuf Ali mengatakan, "Manusia suka tergesa-gesa dan segala yang serba tergesa-gesa. Dengan alasan ini ia menyandarkan imannya pada hal-hal yang fana, yang datang dan pergi, dan mengabaikan segala yang sifatnya lebih abadi, yang datangnya perlahan-lahan, yang tujuan sebenarnya baru akan terlihat sepenuhnya di akhirat kelak".
sumber: ensiklopedi Nurcholish Madjid.

Keep Istiqomah, Sabar, Senyum, Semangat…

RYCAN FAHMI:
Assalamualaikum wr wb..

Keep Istiqomah, Sabar, Senyum, Semangat…

- Hikmah Hari ini ( 3 Ramadhan 1430 H ) -

"Hati yang bersih akan peka terhadap ilmu, apapun yang dilihat, didengar, dirasakan jadi samudera ilmu yang membuatnya kian bijak, arif dan tepat dalam menyikapi hidup ini".

"Hati manusia berubah-ubah, sekarang marah mungkin besok lusa sudah reda bahkan mungkin lebih sayang kepada kita, oleh karena itu jangan mendendam atau benci ber-kepanjangan."

"Akan ada saat hati menjadi sedih dan gelisah. Jangan biarkan larut dan mencuri hidup kita, bangkitlah, sibuklah, bergaulah dengan orang yang manfaat dan banyaklah berzikir."

(By : Aa Gym

01

Jangan Pelihara Rasa benci

Suatu hari, ketika Nabi saw sedang berkumpul dengan para sahabat di dekat ka’bah, seorang lelaki asing lewat di hadapan mereka. Setelah lelaki itu berlalu, Nabi berujar kepada para sahabat, ”Dialah ahli surga.” Dan hal itu dikatakannya sampai tiga kali.

Atas pernyataan Nabi tersebut, timbul penasaran di kalangan para sahabat, terutama Abdullah bin Umar yang memang dikenal sangat kritis. ”Ya, Rasulullah,” tanya Abdullah, ”Mengapa engkau katakan itu kepada kami, padahal selama ini kami tidak pernah mengenalnya sebagai sahabatmu? Sedang terhadap kami sendiri yang selalu mendampingimu engkau tidak pernah mengatakan hal itu?”

Lalu sebagai seorang uswah, Nabi memberikan jawaban diplomatis yang sangat bijak. ”Jika engkau ingin tahu tentang apa yang aku katakan, silakan engkau tanyakan sendiri kepadanya.” Karena rasa penasarannya sangat tinggi, suatu hari Abdullah bin Umar menyengajakan diri untuk berkunjung ke rumah orang asing itu.

Ya, akhie,” kata Abdullah, ”kemarin sewaktu engkau lewat di hadapan kami, Rasulullah mengatakan bahwa engkau seorang ahli surga. Apa gerangan yang menjadi rahasianya sehingga Rasulullah begitu memuliakanmu?”

Lelaki itu tersenyum, kemudian menjawab, ”Sesungguhnya aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak memiliki kekayaan apa-apa. Baik ilmu maupun harta yang bisa kusedekahkan. Yang kumiliki hanyalah kecintaan. Kecintaan kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada sesama manusia. Dan setiap malam menjelang tidur, aku selalu berusaha menguatkan rasa cinta itu, sekaligus berusaha menghilangkan perasaan benci yang ada kepada siapa saja. Bahkan terhadap orang-orang kafir sekalipun.”


Memelihara perasaan benci dan marah, berarti menyimpan egoisme. Adanya perasaan benci, berarti adanya
sikap untuk menyalahkan orang yang dibenci itu. Dan menyalahkan orang lain berarti membenarkan sikap dan tindakan sendiri.

Padahal sikap semacam itu sudah sejak awal diklaim syetan pada penciptaan Adam as. Kisah tersebut memberikan
gambaran kepada kita, bahwa perasaan benci, bukan hanya mengakibatkan fitnah dan permusuhan, tetapi juga dapat menimbulkan penyakit batin yang sangat fatal, sekaligus menjauhkan diri dari surga yang menjadi dambaan setiap mukmin.

Sehingga sikap yang paling bijaksana adalah, selalu berusaha untuk mengintrospeksi diri, sekaligus menjadi orang yang pemaaf. Sebab itulah yang selalu dilakukan Nabi sepanjang perjalanan hidupnya. Sedangkan hidup Nabi adalah contoh bagi setiap mukmin.