Bolehkah Zakat Pendapatan untuk Bangun Jembatan?

> Assalamu’alaikum,
>
> Kita tahu bahwa ada 8 mustahiq zakat dan antum semua sudah tahu kedelapan
> tersebut.
>
> Pertanyaannya:
>
> Bolehkah zakat pendapatan bulanan kita (2.5%) digunakan untuk bangun
> sebuah Jembatan di suatu Kampung?
>
> Kalau dihubungkan dari kedelapan mustahiq tersebut ada pada point yang
> mana? mohon pencerahannya dan attachkan juga hadist atau dalil syar’inya.
>
> Jazakallah khoiron..
>
> A. Fitriadhy

Alhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala rasulillah wa ba’du:
Sebelum menjawab pertanyaan antum, perlu diperjelas dulu apa itu zakat
pendapatan. Umumnya masyarakat menyamakan zakat pendapatan dengan zakat
profesi, yaitu zakat yang dikeluarkan 2,5% dari gaji atau pendapatan
bulanannya (take home pay), baik dihitung setelah dikurangi biaya hidup
sehari-hari (net profit) ataupun sebelum dikurangi biaya2 (gross profit).
Mereka tidak memperhatikan aturan nishab dan haul dalam syariat Islam.

Contoh:
Fulan gajinya Rp 10 juta/bln. Tiap bulan ia keluarkan zakat sebesar 2,5% x
Rp 10 juta = Rp 250.000,- Fulan tsb tidak peduli apakah pendapatannya (yg Rp
10 juta) itu sudah mencapai nishab/belum dan dia tidak menunggu sampai genap
1 tahun (haul) utk dikeluarkan zakatnya.

Nah, zakat pendapatan/profesi seperti ini tidak ada contohnya dari Nabi
shallallahu alaihi wasallam dan generasi as-Salafus Shalih radhiyallahu
anhum. Padahal beliau bersabda: *”Man ahdatsa fi amrina hadza ma laisa minhu
fahuwa raddun”* (barangsiapa yang melakukan hal yang baru dalam urusan
(agama) kami yang tidak ada dasar darinya maka tertolak) HR al-Bukhari &
Muslim. Juga sabda beliau: *”Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amruna fahuwa
raddun”* (barangsiapa yang melakukan satu amalan (ibadah) yang tidak ada
(syariatnya) dari kami maka tertolak) HR Muslim.

Maka dari itu, MUI sampai saat ini tidak pernah mengeluarkan fatwa tentang
bolehnya zakat profesi berdasarkan dalil diatas.

Lantas bagaimana solusinya? Antum bisa dengan cara berinfaq atau shadaqah
yang besarannya tidak diatur dalam syariat Islam. Mau infaq Rp 100rb,
500rb, atau Rp 1 juta dst… tidak masalah alias boleh. Waktunya pun tidak
harus menunggu haul. Dan gak perlu repot2 memikirkan mau dimasukkan di
kategori mana dari delapan ashnaf. Disamping itu, para ulama/masyayikh
membolehkan harta dari hasil riba disumbangkan untuk pembangunan jalan,
jembatan dan infrastruktur lainnya yang sifatnya tidak dikonsumsi oleh
manusia karena memakan harta ribawi hukumnya haram. [lihat -misalnya- Fatawa
Lajnah Daimah Ulama Arab Saudi]. Jadi, kalau antum -baarakallahu fiikum-
masih punya rekening di bank ribawi [baca: bank konvensional] bunganya dapat
antum ambil asalkan untuk digunakan pada hal2 tsb diatas.
Wallahul muwaffiq

waalaikumus salam wr wb:
1. Pertama, zakat itu yang wajib menerimanya (mustahiq)nya semuanya adalah manusia, bukan yang lain: fakir, miskin, amil, muallaf, budak, gharim, mujahid fii sabilillah, dan ibnu sabil. Tidak ada mustahiq yang bukan manusia. jadi pertanyaan antum sudah terjawab.

2. Zakat penghasilan itu dikeluarkan setahun sekali bukan sebulan sekali. (Gajian anda yang anda tabungkan lalu anda hitung dalam kurun 12 bulan atau 1 tahun, jika mencapai nishab 85 gram emas 99%, maka tunaikan zakatnya 2.5%-nya). Tentang ini, silakan lihat fatawa syaikh bin Baaz, fatawa bin Utsaimin, dan juga kitab Fiqh Al-Zakah Yusuf Qaradhawy. Sekali lagi, Yusuf Qaradhawy pun mewajibkan haul (putaran 1 tahun) dalam zakat penghasilan.
Demikian. Wallahu a’lam

Dikutip dari assunnah@yahoogroups.com


0 komentar:

Posting Komentar